
Dua minggu kemudiaan.
Masa penyembuhan Ardella dilakukan secara perlahan, dokter Andre mulai melakukan pendekatan dengan Ardella, menjadi teman untuk Ardella mungkin akan lebih mudah untuk mengetahui isi hati Ardella. Tidak sampai disitu saja,.dokter Andre juga mencari Informasi tentang kehidupan Ardella selama didesa, Robin adalah informan bagi dokter Andre.
"Aku main-main kerumah ya Lis." Kata dokter Andre lewat sebrang telepon.
"Ok Ndre." Ucap Lisa senang dengan kunjungan Andre.
Ketika mendengar Andre kerumahnya, Lisa memberitahukan kepada suaminya atas kedatangan Andre kerumahnya. Lisa, Batara dan Robin menunggu kedatangan dokter Andre.
Tinnn,,,.
Suara bunyi klakson dari Luar rumah, dokter Andre turun dari mobil, pakaiannya sangat kasual dan santai, dia mengenakan kaos abu-abu dan mengenakan sandal, aura dokter Andre berbeda ketika berada dirumah sakit.
"Akhirnya yang ditunggu datang juga." Ucap Lisa setelah membukakan pintu untuk Andre temannya yang baru turun dari mobil.
"Haii."Seru Andre dari kejahuan melambaikan tangan sambil memasukka kunci mobil kesakunya.
"Hari ini aku ingin makan malam disini." Ucapnya kembali setelah berada dipintu.
"Baik Ndre aku akan masak makanan kesukaanmu." Ucap Lisa mengenal makanan kesukaan temannya.
"Masuk dulu Ndre." Ucap Batara sekarang santai memanggil nama dokter Andre langsung.
Berjalan masuk mereka berada diruang tamu, Robin juga ikut serta dalam perbincangan mereka, sedangkan Lisa sibuk memasak didapur.
"Ardella mana." Melihat sekeliling rumah.
"Dikamar, sekarang Ardella sedikit susah berjalan karena masa kandungannya memasuki 7 bulan, kalau mau melihatnya kamu aja yang mendatanginya kekamar." Ucap Batara.
Andre berjalan keatas, menaiki tangga dia tiba didepan pintu kamar, dia bingung kamar Ardella yang mana. " Kamar Ardella yang mana." Teriaknya keras bertanya pada Batara dan Robin.
"Sebelah kanan." Ucap Batara dari kejahuan.
"Ardella." Suara Andre memanggil sambil mengetuk pintu kamar Ardella.
"Tunggu sebentar." Sahut Ardella dari dalam sambil berjalan pelan memegang pinggangnya.
"Kak Andre." Panggil Ardella ketika membukakan pintu, karena dokter Andre adalah teman kakaknya maka Ardella memanggil Andre sebagai kakak.
"Aduhh,,, kita duduk aja." Dilihatnya Ardella berdiri memegang pinggangnya. Andre melihat Ardella langsung memapahnya duduk.
"Uhh(helaan nafas Ardella), makasi kak Andre." Duduk di kasur sambil menyentuh perutnya dan memegang pinggangnya.
"Sama-sam." Senyumnya lebar. "Bagaimana keadaan kamu sekarang, apa masih sering bermimpi buruk." Tanya Andre sambil mengambil kursi didekat meja dan meletakkannya dihadapan Ardella, kemudiaan duduk.
"Berkat kak Andre aku sudah baikan, hanya terkadang aku masih suka bermimpi buruk. Tapi itupun sudah jarang kak." Ucapnya dengan senyum lebar.
"Syukurlah, besok bagaimana kalau kita rileksasi dirumah sakit, biar Ardella lebih merasa tenang. "Berusaha mengajak Ardella melakukan terapi lagi.
"Ardella tidak janji besok bisa ya kak." Senyum Ardella merasa bersalah.
"Ini tidak dipaksa kok jadi jangan merasa bersalah seperti itu." Melihat ekpresi Ardella yang menunjukkan bersalah atas penolakannya.
"Sepertinya kakak iparmu sudah selesai menyiapkan makan malam, ayo kita keluar takutnya ditungguin." Berdiri kembali meletakkan kursinya ketempat awal.
__ADS_1
"Iyah kak." Berusaha berdiri.
Makan malam dokter Andre dirumah Lisa dan Batara tujuannya melihat perkembangan kondisi Ardella.
***
Esok harinya.
"Kak Batara semalam kak Andre mengajakku untuk melakukan terapi dirumah sakit kak." Ardella yang melihat kakaknya tengah duduk membaca koran dimeja makan.
"Bagus dong dek, siap sarapan kita datang aja ke rumah sakit Andre." Meletakkan koran dan berdiri menarik kursi untuk Ardella.
Kali ini terapi untuk Ardella sedikit lebih ingin mengetahui masa yang paling sulit baginya, kali ini Batara dan Robin yang menamani Ardella , Lisa yang sedang mengandung tidak dapat ikut serta menemani Ardella kerumah sakit.
"Kami sekarang menuju kerumah sakit Ndre, kamu gk sibuk kan hari ini." Bicara lewat ponsel sambil menyetir.
"Tidak kemarin aku yang mengundang Ardella, setelah sampai dirumah sakit langsung aja keruanganku, aku tunggu diruangan." Jawabnya balik.
"Apa kita tidak terlalu merepotkan kak." Tanya Ardella duduk dibelakang.
"Andre itu teman kakak paling baik dek, jadi jangan khwatir." Melirik dari kaca spion mobil.
Akhirnya dengan segala perjalanan mereka sampai ditempat tujuan, Andre yang dipanggil dokter tengah duduk membaca dan memperhatikan catatan kondisi Ardella.
"Kita bicara dulu sebentar." Mengajak Batara ke ruangan lain.
"Apa ada masalah dengan kondisi Ardella." Tanya Batara sopan.
"Selama ini kita sudah melakukan penyembuhan dengan rileksasi, karena itulah kondisi Ardella sedikit membaik beberapa bulan ini, tapi tetap saja dia belum sembuh." Memegang catatan kondisi Ardella.
"Yang kucemaskan keaadan Ardella setelah melakukan terapi ini." Terapi yang memaksa Ardella mengingat kejadian yang paling menyakitinya.
"Aku sebagai kakaknya akan menjaganya, yang terpenting dia sembuh dari traumanya bagaimanapun caranya." Meyakinkan dokter.
"Baiklah kalau kamu memang setuju."
"Ardella berbaringlah disini seperti biasa." Kata dokter Andre yang telah kembali dari ruangan lain.
Ardella menuju ke kursi terapi, seperti biasanya Ardella mulai terbawa kealam bawah sadarnya, matanya terpejam dan pikirannya masih kosong sebelum dokter mengatakan sesuatu.
"Nama kamu siapa." Tanya masih diawal terapi.
"Ardella Dyandi Putri."
"Ardella bisa kamu melihat dirimu yang sedang sedih karena sesuatu hal yang terjadi." Duduk berada disamping Ardella.
Ardella mulai menelusuri ingatannya, ingatan masa kecil yang membuat hatinya sedih mulai terlintas di benak Ardella.
"Aku berada didepan pintu kemudiaan ayah membawa dua wanita kerumah yang satu wanita dewasa dan yang satu seumuranku."
"Siapa mereka." Tanya dokter.
"Leli dan ibu tiriku."
"Kenapa kamu merasa sedih dengan kedatangan mereka."
__ADS_1
"Semenjak mereka datang ayah tidak pernah lagi memperhatikanku, boneka barbie yang dibelikan kak Batara dirampas dan dibuang kedalam tungku pembakaran, waktu itu aku menangis saat aku katakan pada ayah dia memarahiku balik." Suara Ardella sedikit bergetar.
"Terus apa lagi." Tanya dokter kembali.
"Hiks,,,aku berada ditempat gelap, aku sangat takut, aku berteriak minta tolong tapi tak ada satupun yang datang menolongku, sepanjang hari aku menangis ditempat gelap itu." Ardella terbawa suasana dan menangis.
"Tempat gelap dimana itu."
"Gudang. Ibu tiriku dan Leli mengurungku saat ayah tak dirumah, mereka selalu memperlakukanku buruk, karena tak ingin dimarahi oleh ayah aku selalu berusaha untuk patuh, namun saat itu aku semakin kesal dengan ayah yang terus mengabaikanku sehingga membuat kami bertengkar, semenjak itu aku harus mencari uang untuk menghidupi diri sendiri, aku bekerja disetiap perkebunan, waktu itu sangat melelahkan." Air mata Ardella yang mengalir mengingat kejadian masa lalunya.
"Awas saja jika aku kembali akan kubuat mereka merasakan apa yang dirasakan Ardella. " Tangan Batara mengepal dengan penuh kemarahan mendengar semua perlakuan yang terjadi pada Ardella.
"Tenanglah kak." Robin yang duduk disampingnya menenangkan Batara.
"Setelah itu apa ada hal lain."
Ingatan Ardella yang saat ini berada saat Aoran meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain.
"Huhuhuhu aku membencimu." Tangisan Ardella semakin kuat, tubuhnya juga mulai gelisah, kebenciaanya terhadap Aoran meninggalkan luka dihatinya.
Semakin lama ingatannya memunjak pada masa dia dicela oleh warga desa.
"Pergi kalian." Ardella meronta-ronta tubuhnya tak terkendali.
"Ardella semua yang terjadi itu hanya halusinasi saja, itu tak pernah terjadi." Ucap dokter memegang tubuh Ardella bersama Robin dan Batara.
Ucapan dari dokter tidak mempengaruhi Ardella dia masih dalam keadaan meronta-ronta, kepanikan diantara mereka sangat terlihat, kondisi Ardella tak dapat lagi dekendalikan oleh dokter Andre.
"Bangunlah saat kamu mendengar bunyi Lonceng. " Tangan dokter meraih loncenganya dan mendekatkan ketelinga Aredella.
Ardella terbangun dalam keadaan cemas, pandangannya terlihat seperti orang ketakutan, tangannya ikut gemetar, Batara yang melihat langsung memeluknya dengan erat.
✳️✳️✳️
Malam harinya Ardella kembali mengejutkan seisi rumah.
"Jika kalian masih datang, akan kuakhiri semuanya." Berlari keluar kamar menuju dapur kemudian mengambil pisau dapur dan diletakkanya dilehernya.
"Ardella itu berbahaya." Batara yang telah berada didapur dan melihat Ardella melakukan hal berbahaya.
"Dek berbahaya." Ucap Lisa berusaha menenangkan Ardella.
"Tante kenapa Bu." Aldo yang ikut menyaksikan.
"Ella tenang ya." Robin yang mulai mendekati Ardella berusaha mengambil pisau dari tangan Ardella.
"Kalian jangan mendekat, mereka menyuruhku untuk mati." Meletakkan pisau dilehernya.
Mereka sangat hati-hati saat mendekati Ardella, perlahan Batara maju mendekat pada Ardella, semakin dekat Batara semakin tak tenang Ardella.
"Tidakkk." Teriak mereka sama-sama sambil berlari menuju Ardella.
💔💔💔
Bersambung
__ADS_1