
Melihat kakaknya yang tak ada lagi disampingnya Ardella bangun dan mencari keberadaan kakaknya. Tepat berada diruang tengah Ardella mendengar semua kejadiaan yang tak pernah diketahuinya. Selama ini kepergiaan ibunya hanyalah semata-mata karena sakit, pernikahan ayahnya dikarenakan ayahnya masih membutuhkan pendamping. Tapi hari ini Ardella tau rasa sakit ibunya tidak dicintai lagi oleh ayahnya sendiri.
"Kakak, aku ingin pergi dari disini." Ucap Ardella berdiri dibelakang Batara.
Batara yang mendengar suara Ardella menoleh dan melihat adiknya tengah berdiri dibelakangnya.
"Besok kita akan segera pergi dari sini." Mendekati adiknya dan menenangkan hatinya.
"Kamu harus istirahat dulu, biar kakak mengantarmu kekamar." Ucap Batara kembali sambil mengarah kan Ardella kekamar.
"Kakak jangan tinggalkan aku." Menahan tangan kakaknya untuk pergi.
"Kakak tidak akan pergi lagi. Tidurlah. Kakak akan menemanimu tidur disini." Mengambil tikar sebagai alas tidur dilantai.
Batara yang melihat Ardella tertidur memikirkan sesuatu.
Kakak janji setelah ini kakak tidak akan pernah meninggalkanmu. Batara membatin.
***
Keesokan paginya.
Batara dan Ardella bersiap-siap untuk pergi dari desa. Ardella tidak membawa satupun barangnya, dia hanya mengenakan dress yang dibelikan oleh kakaknya.
Ayah Ardella, ibu tirinya, Leli sudah berdiri diluar rumah menunggu mereka. Ketika Ardella dan Batara keluar dari rumah, tak sepatah kata mereka ucapkan. Bahkan Ardella tidak melihat wajah ayahnya. Mereka hanya pergi begitu saja. Ayahnya yang melihat sedih atas kepergiaan kedua anaknya, tapi menahan untuk tidak pergi bukan lagi haknya.
***
Dipelabuhan terlihat sebuah kapal, tiket juga telah dipesan oleh Batara. Ketika ingin menaiki kapal. Ardella tiba-tiba berhenti dan melihat kearah jalan dan desa.
Tes,,,.
Air matanya terjatuh, kenangan selama berada didesa terlintas dibenaknya. Hatinya sedih, namun Ardella juga merasa ingin pergi dari desa.
"Ardella tunggu." Panggil Robin dan Ririn dari kejahuan sambil berlari.
Ardella yang melihat Robin dan Ririn berlari membuat langkahnya terhenti. Dia menoleh ke arah kakaknya, seakan meminta izin kepada kakaknya untuk berpamitan kepada kedua sahabatnya.
"Tidak apa pergi lah, kapal nya juga belum berangkat." Ucap Batara mengerti.
"Iya Kak." Saut Ardella.
Semakin dekat dengan Ririn semakin jelas suara Ririn memanggil Ardella. "Ella." Ririn langsung memeluk sahabatnya.
"Hiks,,, . Apa kamu akan pergi jauh." Ucap Ririn kembali.
"Iya."
"Apa kamu tidak akan kembali kesini." Ririn dalam keadaan menangis melihat kepergiaan Ardella.
"Maaf Rin." Hanya kata itu yang bisa diucapkan Ardella.
Ririn dan Ardella yang saat ini dalam suasana sedih karena akan berpisah, sedangkan Robin yang dari tadi berusaha untuk berbicara pada Batara bahwa dia juga ingin ikut pergi bersama.
"Kak Batara bolehkah aku ikut dengan kalian." Robin yang memegang tas ranselnya berbicara dengan ragu-ragu.
"Kamu laki-laki semalam." Ucap Batara mengingat Robin.
__ADS_1
"Ah, iya kak. Namaku Robin temannya Ardella."
"Jika kamu pergi dengan kami, apa orang tuamu mengizinkan." Tanya Batara.
"Orangtuaku sudah mengizinkan, merekalah yang menyuruhku untuk ikut pergi bersama kalian. Didesa ini mungkin aku juga sekarang bukan penduduk yang baik disini, lagian Ardella pasti butuh teman, aku akan menemaninya kak. Kumohon izinkan aku ikut." Robin yang berbicara lesu memelas memohon.
"Kamu boleh ikut tapi ingat jangan sampai menyusahkan." Ucap Batara memasang wajah amat serius hanya untuk menakuti Robin.
"Terima kasih kak, aku tidak akan menyusahkan kak Batara."
Prummm,,,.
Suara bunyi kapal yang menandakan diharapkan semua penumpang segera masuk kedalam kapal, karena dalam waktu 15 menit kapal akan siap berangkat.
"Ella jaga dirimu kuharap kamu selalu bahagia . Robin jaga Ella. " Memegang tangan kedua sahabatnya.
"Makasih Rin sudah menjadi sahabatku selama ini." Ucap Ardella memberikan senyum.
"Sekarang waktunya kita berangkat." Ucap Batara.
Robin dan Ardella meninggalkan Ririn dan naik kekapal. Kini kapal menjauh dari tepian, tapi Ririn masih tetap berdiri dan melihat kapal yang telah jauh ketengah danau.
Dibenaknya Ririn:
Ardella kuharap kamu bahagia dan melupakan kesedihanmu selama disini dan bertemu dengan orang yang akan mencintaimu.
***
3 hari selama pẹrjalanan ke kota Jakarta cukup melelah kan bagi mereka.
Robin yang melihat suasana kota metropolitan membuatnya tercengang. Mereka keluar dari bandara dan mencari taxi.
Ardella yang melihat dengan pandangan kosong, selama 3 hari duperjalan Ardella tidak banyak bicara, dia hanya kebanyakan melamun.
"Taxi." Panggil Batara.
"Ayo naik." Membukakan pintu taxi untuk Ardella dan Robin.
Sepanjang jalan Robin asik melihat pemandangan kota, sesekali Robin memgajak Ardella untuk bicara dan menunjuk-nunjuk pemandangan kota yang menurutnya bagus. Batara juga melirik adiknya yang dari kemarin tidak terlihat senang. Saat Ardella hanya diam dengan segala perkataan Robin membuat suasana didalam taxi sedikit hening.
"Pak tolong berhenti di simpang." Ucap Batara Mengambil selembar uang.
Mereka turun dari taxi, kemudiaan Batara memandu Ardella dan Robin menuju jalan ke rumahnya.
"Ini rumah kakak, mulai sekarang kita akan tinggal disini."
"Rumah kak Batara bagus ya." Ucap Robin tersenyum.
Tok,,,tok,,, tok.
Batara memanggil istrinya, waktu kedatangan mereka tepat istirinya sudah pulang dari tempat kerjanya.
"Iya,,, tunggu sebentar." Teriak istri Batara dari dalam rumah.
Cekrek,,, pintu terbuka.
"Mas udah pulang." Menyambut Batara dengan senyum senang.
__ADS_1
Lisa istrinya Batara melirik kearah Ardella, kemudian Batara yang memberikan kode bahwasanya itu adalah adiknya.
"Kamu pasti Ardella." Mendekat kearah Ardella dan memberikan sebuah pelukan hangat.
"Iya kak." Ucap Ardella.
"Yang cowok siapa mas." Tanya Lisa.
"Saya Robin kak, temannya Ardella."
"Masuklah kalian pasti lelah selama perjalanan, biar kubuatkan beberapa makan untuk kalian.
"Terima kasih kak." Ucap Ardella.
Melihat rumah kakaknya Ardella masih merasa asing, Ardella sedikit canggung berbicara dengan istri kakaknya.
"Kakak antar kamu melihat kamarmu, kakak sudah persiapkan kamar yang cocok untukmu." Membawa Ardella memperlihatkan kamarnya.
Kamar yang sudah lama dipersiapkan Batara untuk Ardella, kamar yang bercorakkan warna pink, terdapat sebuah meja belajar, tempat tidur yang telah dipenuhi dengan boneka dan lemari pakaian penuh dengan pakaian wanita untuk Ardella.
Ardella yang melihat itu tidak berekspresi, Ardella menunjukkan sedikit senyum diwajahnya, tapi senyuman itu bahkan tidak menandakan apa-apa.
"Istirahatlah sebentar atau kamu mau mandi?. Jika butuh sesuatu cukup panggil kakak." Kata Batara.
"Kenapa kakak tidak bertanya apa yang terjadi." Tanya Ardella menundukkan kepalanya.
"Kamu adik kakak satu-satunya, tidak perlu apa yang terjadi padamu, kasih sayang kakak tidak akan berkurang." Mengelus kepala Ardella.
"Tapi kak, aku bukan adik yang baik, aku telah berbuat hal yang memalukan." Ardella merasa bersalah, dia merasa membuat kakaknya malu.
"Apa yang terjadi itu semua salah kakak. Seandainya dulu kakak membawamu semua tidak akan terjadi." Kata-kata yang tidak menyalahkan Ardella.
"Kakak." Matanya mulai berkaca-kaca melihat kakanya.
"Kakak keluar sebentar." Takut menangis, Batara langsung beranjak keluar.
Robin juga dari tadi berdiri tidak duduk karena tidak dipersilahkan oleh Batara ataupun Lisa.
"Kenapa berdiri disitu, duduklah disini. " Kata Batara mengajak Robin duduk disofa bersama.
"Baik kak."
Tap,,, tap,,, tap.
Suara langkah Lisa dari dapur menuju ke ruang tamu dengan membawakan teh dan beberapa aneka makanan cemilan.
"Dek Robin minum dulu tehnya, ini ada cemilan, dimakan ya. " Meletakkan teh dan cemilan diatas meja.
"Ia, Makasih kak." Saut Robin tersenyum ramah.
"Mas apa ada sesuatu yang terjadi selama didesa, kenapa Ardella terlihat tidak bahagia." Tanya Lisa.
"Mas juga tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi, aku juga masih belum berani bertanya pada Ardella, tapi yang kutahu memang Ardella saat ini sedang tidak bahagia." Menjelaskan pada Lisa.
"Kamu adalah temannya pasti kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ardella dan siapa laki-laki yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Ardella " Kata Batara pada Robin.
💔💔💔
__ADS_1
Bersambung