
Setibanya dirumah Ardella dan kakaknya melangkah masuk, saat Ardella masuk kedalam rumah tak ada seorangpun didalam rumah.
"Kok sepi banget ya" Tanya Ardella dalam hati. Ingin dia bertanya pada kakaknya, tapi diurungkan niatnya, Ardella malah mengangkat kopernya.
"Kak, aku masukin koper ke kamar dulu ya." Sambil mengangkat koper kecilnya, Ardella mulai berjalan menuju kamarnya.
"Iya dek." Batara membiarkan adiknya itu pergi dari hadapannya.
Krekkk,,, pintu yang masih belum terbuka penuh. Premmmm,,,suara bunyi berasal dari peluit dan suara teriakan dari dalam kamar Ardella.
"Selamat kembali kerumah." Ucap Lisa meniup peluit merayakan kedatangan Ardella.
Deg,,, hati Ardella gembira atas penyambutan kakak iparnya, sedari tadi Batara dan yang lainnya memang sudah mempersiapkannya, bahkan diatas meja didalam kamar tersedia cake yang bertuliskan WELCOME TO HOME.
"Terima kasih Kak." Memeluk Lisa. Seketika matanya juga melihat sekeliling kamar, beberapa orang didalam kamar tak dikenal Ardella yang dari tadi berdiri ikut menyambutnya.
"Welcome back to home Ardella." Ucap Batara yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Kakak." Ucap Ardella terharu atas penyambutannya, memeluk kakaknya.
Ardella mulai melihat beberapa orang dikamar, matanya menoleh melihat diatas kasurnya, dimana terlihat 2 anak kecil duduk. Sebelum bertanya Ardella mengingat terlebih dahulu, tapi diingatannya tidak pernah ada anak kecil dirumah kakaknya. Lisa yang dari tadi memperhatikan mengerti apa yang dipikirkan Ardella.
"Sekarang kamu punya tiga keponakan." Ucap Lisa yang tersenyum menunjukkan anak-anaknya yang berada diatas kasur.
"Sungguh (Matanya terbuka lebar, mulutnya tercengang). Imutnyaaa,,,." Ucap Ardella bergegas mendekati ketiga keponakannya.
Aldo yang sekarang usianya 8 tahun, sedangkan kedua adik kembarnya baru berumur setahun. Ardella yang merasa gemes langsung mengendong salah satu keponakannya.
"Aku mengingat Aldo, tapi untuk kedua keponakannku ini aku belum tahu namanya." Ucap Ardella mencium pipi Edward.
"Edward dan Erwin. mereka kembar tapi beda." Ucap Lisa melontarkan senyuman sambil ikut duduk bersama Ardella dan mengendong Erwin.
Ardella asik memainkan tangan Edward yang berada dipelukannya, kemudiaan dia kembali sadar bahwa masih ada beberapa hal yang ingin ditanya.
"Mereka siapa." Katanya dengan ragu-ragu menunjuk pada tiga orang yang dari tadi berdiri dan ikut memegang peluit serta memakai topi kerecut dikepalanya.
"Yang ini asisten rumah tangga kita panggil aja bik Ami, dan yang ini Dila baby sister untuk menjaga sikembar kalau aku sedang kerja." Ucap Lisa.
"Hallo non Ardella." Ucap kedua wanita itu dengan tersenyum.
Tangan Ardella yang sibuk mengayun-ayun Edward yang masih berada dipangkuannya. "Hallo bik Ami dan mbak Dila." Ucap Ardella memberi senyum.
__ADS_1
Mata Ardella melihat ke arah Robin. "Dia siapa kak." Tanya Ardella sambil melirik ke arah Batara.
"Ohhh,,,dia Robin asisten kakak." Batara yang gagap memperkenalkan Robin pada Ardella.
"Hai,,,." Mengangkat tangan kananya, senyum Robin ragu karena canggung dengan Ardella.
"Hai juga,,, sepertinya kita seumuran." Ucap Ardella dengan santai.
"Karena kita seumuran bicara yang santai saja denganku." Ucap Ardella melepas tawa kecil pada Robin yang daritadi terlihat canggung.
Selama setahun Robin juga mengalami perubahan, dirinya yang dulu terlihat ceplas-ceplos sekarang perawakannya lebih dewasa, setiap hari mengikuti Batara yang bekerja membuat Robin terlihat dewasa.
Batara yang dari tadi memegang sebuah kado ditangannya.
"Ini kakakk belikan sesuatu untuk Ardella, semoga kamu suka." Ucap Batara menyerahkan kado yang dari tadi dipegangnya.
Ardella yang menerima kado dari kakaknya berusaha membuka bungkus kado dengan pelan, karena masih menggendong Edward, Ardella sedikit kesusahan membuka kadonya.
"Sini Edward biar aku gendong." Kata Batara Mengambil Edward dari pelukannya.
Ardella membuka kotak kado, mereka yang berada diruangan ikut menantikan isi didalam kado. Mata Ardella tercengang, melihat sebuah gaun indah didalam kotak, gaun sustra berwarna putih berendakan manik-manik berkilauan menambahkan keindahan gaun, jari-jarinya menyentuh gaun, ingatannya kembali saat ibunya menjahitkan sebuah gaun untuknya, gaun yang dilihatnya saat ini hampir sama persis, ditambah dengan sepasang sepatu kaca didalam kotak kecil disamping gaun.
"Indahnya." Suara Ardella yang mulai terlihat bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku suka sekali kak, akan kupakai saat aku menikah." Ucap Ardella pelan masih menyentuh gaunnya.
"Aku akan menjadi pengiringmu menggantikan ayah dan membawamu menuju altar." Ucap Batara senang dan menyentuh kepala Ardella.
"Makasih kak, aku sayang kakak." Ucap Ardella.
Suasana diantara Batara dan Ardella terlihat mengharukan, sepasang kakak beradik ini seperti ingin menangis bersama.
"Hari ini penyambutan atas kepulangan Ardella, bik Ami sudah masak banyak makanan, sebaiknya kita merayakannya dengan makan-makan bersama." Volume suara Lisa yang sedikit meninggi untuk memecahkan suasana haru diantara Ardella dan Batara.
"Bik Ami, makananya tolong dihidangkan, sekalian bawa cakenya, nanti kita potong-potong setelah makan." Kata Lisa kembali pada asiten rumah tangganya.
"Baik non." Bergesas melangkah meninggalkan kamar Ardella diikuti dengan Dila dari belakang menuju arah dapur.
"Pasti kamu masih lelah istirahat lah sebentar, setelah itu kita makan bersama." Kata Batara yang tengah berdiri dihadapan Ardella masih menggendong Edward.
"Iya kak."
__ADS_1
"Ayo mas kita tinggalkan Ardella dikamarnya sendiri agar dia bisa istirahat." Ucap Lisa mulai berdiri dan beranjak keluar dari kamar Ardella bersama Batara.
Robin yang dari tadi masih dikamar ikut keluar, namun tiba-tiba langkahnya terhenti dia kembali berbalik dan menoleh pada Ardella.
"Bisakah kita berteman." Tanya Robin.
Eh apa maksudnya berteman dan kenapa dia terlihat seperti ingin menangis. Dalam benak Ardella.
"Tentu, mari kita berteman baik Robin." Ucap Ardella sambil mengulurkan tangannya pada Robin.
"Mari berteman baik." Robin yang mengulurkan tangannya dan mengucapkan kembali perkataan Ardella.
"Aku pergi dulu kedapur, mana tahu ada yang butuh bantuanku." Tangan mereka yang telah terlepas.
"Ok." Senyum Ardella lucu melihat tingkah Robin yang canggung terhadapnya.
Robin mulai meninggalkan kamar Ardella dan berjalan menuju dapur seperti yang dikatakannya tadi.
Fyuuuu, Ardella yang berbaring berpikir sejenak.
"Sepertinya banyak hal yang kulupakan." Gumamnya sambil berpikir.
"Sudah tak usah dipikirkan sebaiknya aku merapikan dulu pakainku yang ada didalam koper." Ucap Ardella membatin.
Terhentak Ardella berdiri dan mulai menarik kopernya mendekati lemari pakaiannya.
Srekkk,,,terlihat banyak pakaian didalam lemarinya.
"Ada banyak baju di lemari, kapan aku membeli semua ini." Suara membatin melihat kedalam lemari.
Ketika Ardella ingin merapikan pakaian dikopernya dia mengambil terlebih dahulu kotak kado yang berisikan gaun pemberian kakaknya, kemudiaan diletakkanya bersamaan dengan kotak kado kedalam lemari dan dillanjutkan dengan pakainnya yang ada didalam koper.
"Akhirnya selesai juga." Gumamnya sendiri.
Ardella yang melihat ke meja yang penuh dengan buku-buku bacaan dan lengkap dengan peralatan tulis, dia duduk dikursi dan melihat buku bacaan tersebut, dibukanya laci meja dan dilihat sebuah buku. Diambilnya kemudian diletakkan dan memulai membalik sampul buku. Buku masih terlihat kosong tak bertuliskan apa-apa, tangan Ardella mulai meraih pulpen yang ada didepannya, kemudiaan dituliskan My Diary disampul buku dan dilanjutkan menuliskan isi hatinya di dalam diarynya.
Mama,,,Ardella sudah pulang dari rumah sakit, kata kak Batara karena sebuah kecelakaan Ardella melupakan sebagian memoriku, tapi untungnya Ardella tidak melupakan Mama. Oh ya Ma,,, sekarang mama punya tiga cucu. Cucu pertama Mama namanya Aldo, yang kedua Edward dan cucu ketiga namanya Erwin, seandainya Mama disini pasti akan senang melihat mereka yang imut-imut. Ardella tahu Mama dan Ayah pasti melihat kami diatas surga.
Salam rindu dari Ardella untuk Mama dan Ayah.
💔💔💔
__ADS_1
Bersambung