Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Tugas


__ADS_3

Menjadi seorang mahasiswa tak seindah didrama sinetron, dimana mahasiwa pergi menonton, belanja, nongkrong-nonkrong, bertemu cowok ganteng keren, tapi kenyataannya menjadi mahasiswa ditumpuk dengan tugas-tugas dari dosen hingga terkadang para mahasiwa jarang tidur dan makan tepat waktu.


Di perpustakaan.


Ardella yang bersama nina menunggu teman sekolompoknya untuk mengerjakan tugas makalah yang diberikan dosen.


Nina teman satu jurusan Ardella, berpenampilan cupu, bicara terbata-bata dan selalu menjadi bahan ecekan orang.


Tak,,, tak,,, tak jari jemari Ardella yang sibuk mengetik.


"Nin, tolong kabari teman yang lain supaya datang keperpustakaan." Ucap Ardella pada Nina.


"Iya." Ucap Nina terbata-bata.


Ketika Nina nmemberitahukan lewat group chat WA masih belum ada balasan.


"Belum ada yang read." Ucap Nina memeriksa ponselnya.


Selang beberapa waktu, chat WA penuh dengan balasan.


"Maaf ya teman-teman hari ini aku kurang enak badan." Balas Yanti.


"Maaf ya, gk bisa datang ne ada acara keluarga." Balas Rima.


"Gk ada kendaraan nih, hari ini gue absen ya." Balas Bimo.


Ardella yang melihat balasan group menghela nafas, sedangkan Nina diam melihat ekspresi Ardella yang letih. Disibukkan dengan tugas membuat Ardella mengabaikan pesan dari Anasya.


"Ada yang lihat Ardella." Tanya Anasya pada teman yang lain.


"Coba check diperpus, tadi kayaknya Ardella sama Nina." Ucap teman yang lain.


"Ok, Thanks."


Anasya yang dari ruangan kelas menuju ke perpustakaan mencari Ardella, melihat kesana kemari didalam perpus, Anasya menemukan Ardella yang tengah duduk bersama Nina. Agar tak menimbulkan suara yang menggangu para mahasiswa yang belajar langkah Anasya pelan menuju mereka.


"Lagi ngapain." Ucap Anasya duduk meletakkan tasnya dimeja.


"Buat makalah Pak Adi." Ucap Ardella yang masih sibuk mengetik.


Pak Adi adalah salah satu dosen jurusan, tahulah mahasiswa itu kalau kasih tau judul tugas pasti ujungnya dibilang "Makalah Pak Adi" padahal tugas nya sendiri, eh malah seakan itu tugasnya dosen.


"Bukannya itu tugas minggu lalu." Ucap Anasya melirik ke layar laptop.


Mata Ardella bahkan tak megarah ke Anasya, mengenakan kaca mata dan jari yang sibuk terlihat bahwa Ardella sedang tak ingin bicara.


"Mmm." Tidak terlalu memperhatikan Anasya.


"Kok cuman kalian berdua." Tanya Anasya melihat Nina.


"Yang lain gk bisa." Ucap Nina.


"Alasanya." Tanya Anasya kembali.


Nina mengecek pesan kembali dan ingin membacakan untuk Anasya, dikarenakan Anasya capek mendengar ucapan Nina, dia mengambil hp Nina dan membaca balasan teman-teman Sekelompok Ardella.


Jari Anasya mulai menggeser layar hp, matanya bergerak memperhatikan secara detail, dibacanya balasan mereka waktunya bersamaan. Didalam pikiran Anasya bahwa alasan mereka tak logika, seperti berasa bahwa mereka sedang mengerjai Ardella, merasa temanya dikerjai Anasya sedikit kesal.

__ADS_1


"Padahal besok deadline, mereka santai banget gk datang." Ucapnya kesal membaca balasan Yanti, Rima, Bimo.


"Kamu kok diam aja sih." Tanya Anasya pada Ardella yang tak membalas pesan mereka.


Ardella yang melihat wajah Anasya terlihat kesal, bibirnya yang berguman sedari tadi menyumpahi Yanti, Rima dan Bimo.


"Terus mau bilang apa lagi." Berhenti sejenak melihat kearah Anasya.


Anasya yang masih kesal tak bisa berkata apa lagi, melihat Ardella sibuk Anasya juga ingin ikut membantu.


"Memangnya bagian mana belum siap." Ucap Anasya mendekat ke Ardella dan melihat ke arah laptop.


"Aku butuh bahan yang ini, terus yang ini." Ucap Ardella menunjukkan isi makalahnya.


"Lo kok masih banyak, memangnya kalian belum pernah ngerjainnya."


"Sebenarnya kami bagi tugas cari bahannya, tapi saat aku tanya ke mereka, ada yang bilang kelupaan, ada yang bilang laptop rusak, jadi terpaksa aku yang buat, padahal kalau dari kemarin mereka bilang akukan bisa cicil dirumah. " Ucap Ardella dengan suara letih bersandar kekursi sambil meregangkan otot-otot leher dan lengannya.


"Sini biar kubantu." Anasya yang menarik laptop Ardella kearahnya


"Aku yakin semua itu cuman alasan, pasti mereka lagi santai-santai, kalau gk si Yanti itu mungkin belanja ke mall." Ucap Anasya.


Sifat Anasya yang sedikit mudah kesal ini diketahui Ardella, dengan senyum Ardella tak membahas kembali ucapan Anasya.


"Aku cari refrensi buku dulu, Nina bantu Anasya disini ya." Ardella yang berdiri dan beranjak mencari buku.


"Iya."


Masih kesal dengan Yanti dan teman-temanya, Anasya mengambil ponselnya kemudian mengirimkan sebuah pesan.


Carikan Informasi tentang keberadaan Yanti, Rima dan Bimo. Pesan kepada seorang detektif dengan data yang lengkap tentang Yanti, Rima dan Bimo.


Dikafe.


Seperti yang ditebak Anasya bahwa Yanti, Rima dan Bimo sama-sama nongkrong dikafe.


"Gk apa nih kita disini." Ucap Rima yang hanya ikut-ikutan.


"Tenang aja Ardella pasti ngerjain makalahnya." Ucap Yanti dengan menikmati aroma kopi.


"Kasihan kan Ardella sendiri." Rima yang sedikit merasa bersalah.


"Biarin aja, siapa suruh sok cantik, lemah lembut, sok pintar, bikin kesal aja." Ucap Yanti jutek.


"Eh, Ardella itu memang cantik, wajahnya yang imut menggemaskan, rasanya ingin kusentuh Ardella." Bimo dengan bayangan kotor.


"Oya, cantik apaan, lihat aja nanti." Suaranya menandakan hal yang buruk.


"Aku mau kesalon, kita bubar aja, ingat kalau besok Ardella nanya kenapa kita gk datang, kasih aja alasan." Yanti dengan gaya bicara seperti nona besar.


"Ok, Sip." Ucap Bimo senyum.


Yanti ke salon ditemani Rima, dan setelah dari salon mreka berbelanja.


Kembali ke Ardella yang dibantu oleh Anasya untuk mengerjakan tugas.


"Coba check kurang apa lagi." Anasya yang mendorong pelan laptop kearah Ardella.

__ADS_1


"Kayaknya semua bahannya udah lengkap, tinggal editing lagi, nanti dirumah aku editing deh." Memeriksa isi makalah.


"Nina udah boleh pulang, sisanya biar aku saja yang kerjain." Ucap Ardella kembali pada Nina.


"Ok."


Laptop yang telah keadaan shutdown, Ardella merapikan buku-buku dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Udah sore, ayo kita pulang." Ucap Ardella merapikan barang-barangnya pada Anasya.


"Boleh gk.? aku mau main-main ketempatmu ." Ucap Anasya dengan nada berharap.


"Serius nih."


"Kakakku sedang keluar kota jadi aku sendiri dirumah, bolehkan aku nginep dirumahmu." Anasya yang merengek pada Ardella.


"Ok,,, ok,, ok jangan merengek lagi." Ucap Ardella.


Mereka diantar dengan mobil Anasya, sampai dihalaman rumah Ardella mengetuk pintu.


"Tunggu sebentar." Ucap Dila.


"Non Ardella udah pulang." Tanya Dila membuka pintu.


"Hallo." Menyapa.


"Hallo, siapa nona cantik ini Non. " Tanyanya berbisik.


"Teman sekampus, namanya Anasya." Ucap Ardella memperkenalkan Anasya.


Ketika masuk kerumah, Edward dan Erwin yang berlari kepangkuan Ardella, dengan senyum Ardella mencium kedua keponakannya yang kini berusia 2 tahun. Anasya yang berdiri didekat Ardella dikejutkan dengan dua bocah yang berlari menuju mereka.


Eh,,, kok anak kecil ini terlihat mirip dengan kak Aoran. Anasya membatin.


"An, mereka keponakanku, lucukan mereka ini kembar tapi beda." Ardella yang masih asik bermain dengan sikembar.


"Keponakan? berarti anak kakakmu kan." Memastikan.


"Iya,,, iyalah kamu ini kok terlihat bingung gitu." Ardella menatap Anasya yang kebingungan.


Sadar lah, kamu ini pikir apa sih Anasya, gk mungkin kan kak Aoran ada hubungannya dengan kakak ipar Ardella. Anasya yang masih membatin menggelengkan kepala.


Saat tersadar Anasya melihat Edward dan Erwin yang begitu lucu dan imut. Tangannya mulai meraih tubuh Edward, pipi tembem Edward dicium hingga memerah.


Ardella membawa Anasya kedalam rumah, mereka berdua sama-sama beranjak kerumah sambil menggendong Edward dan Erwin.


Mereka masuk kedalam kamar Ardella, didalam kamar Anasya masih asik bermain dengan Edward dan Erwin, Ardella yang melihat membiarkannya dan pergi kedapur membawakan beberapa cemilan dan minuman untuk Anasya.


"Minum dulu." Membawakan minuman.


"Kebutulan haus banget, Edward mau." Melihat Edward yang berjalan dan berusaha meraih cangkir Anasya.


"Sini biar tante yang kasih minum." Tertawa melihat tingkah Edward.


"Erwin juga kayaknya haus nih." Ucap Anasya kembali.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2