Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Cuti Kerja


__ADS_3

Pagi hari yang cerah.


Ding,,, dong. Bunyi alarm berdering dengan keras.


Ardella membuka matanya mematikan alarm, jam menunjukkan pukul 6.00 wib pagi.


"Hoamm." Menguap dan meregangkan otot-otonya, dimulai mengambil handuknya dan bergegas mandi.


"Hari ini kan aku sedang cuti." Ucapnya saat mengingat bahwa Aoran memberikannya cuti seminggu.


Ardella kembali meletakkan handuknya keatas gantungan, dia kembali berjalan menuju tempat tidurnya.


Ardella merebahkah tubuhnya ke atas kasur, dia ingin menikmati masa-masa cutinya. "Hari ini aku ingin bermalas-malasan." Ucapnya pada dirinya, sambil bergolek kesana-kesini.


Satu jam kemudiaan.


Diluar tampak suara sedang mencari keberadaan Ardella.


Robin tidak melihat Ardella dimeja makan, diliriknya jam tangannya. Pikirnya sudah waktunya untuk sarapan sebelum berangkat kerja. "Apa Ardella sudah berangkat." Gumamnya. Robin merasa tidak biasanya Ardella lupa sarapan, karena itu di mencari Ardella hingga kekamarnya.


"Ardella." Panggil Robin dari luar.


Ardella pura-pura tidak mendengar suara Robin, dia kembali menutupi dirinya dibawah selimut.


Masih tidak mendengar sahutan Ardella. Robin membuka pintu, gundulan selimut terlihat oleh Robin. Gundulan yang disebabkan oleh tubuh Ardella.


"Ardella, cepat bangun, waktunya sarapan." Ucap Robin membuka selimut Ardella.


Wajah Ardella masih terlihat mengantuk, dia masih memejamkan matanya. "Ngg,,, ngg. Aku masih ngantuk." Saut Ardella merengek dan merebahkan dirinya kembali.


Robin dengan sedikit tersenyum geleng-geleng kepala, kenapa bisa Ardella terlihat seperti anak kecil. " Baby, ayo bangun." Ucap Robin berbisik ketelinga Ardella.


"Baby." Ucap Ardella Risih, matanya yang sedari tadi terpejam terbuka lebar mendengar kata baby dari seorang Robin. Pacarnya yang terlihat kaku. "Robin apaan sih, aku geli dengarnya." Senyum Ardella bangun dengan posisi duduk.


"Apa aku tidak boleh memanggilmu dengan sebutan baby." Sautnya mendekatkan diri kewajah Ardella.


"Jangan melihatku terlalu dekat, aku belum gosok gigi, aku pasti sangat jelek saat baru bangun." Ucap Ardella menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Hehehe." Robin menggoda Ardella, berusah membuka jari-jari Ardella. "Sini kulihat sejelek apa pacarku saat bangun pagi." Ucapnya tertawa.


"Robin, hentikan." Saut Ardella bermain-bermain pada Robin.


Asik bercanda, Robin sadar sudah hampir jam 8.00. "Kamu tidak berangkat kerja." Tanyanya, takut Ardella lupa.


"Hari ini aku cuti, Bosku memberi cuti seminggu." Ucapnya membuka kedua tangannya dari wajahnya.


"Berarti seharian kamu bakal dirumah." Tanya Robin serius pada Ardella.


"Iya, palingan nanti jaga Edward dan Erwin. " Sautnya kembali.


"Dek,,, Sarapan sudah siap, cepat turun."Seru Lisa dari ruang tengah.


Kamar Ardella berada di lantai dua, kamarnya berdekatan dengan Robin, sedangkan kakaknya Batara dan kakak ipar, serta keponakannya berada dikamar lantai bawah.

__ADS_1


"Tuh kan, kak Lisa udah teriak."Ucap Robin.


"Kalau begitu ayo kita turun. Tapi aku lagi malas jalan."Ucap Ardella dengan nada rendah dan menunduk.


Melihat tingkah Ardella begitu imut, Ardella juga tidak biasanya bermanja-manja padanya. "Sini kugendong." Robin membalikkan tubuhnya, Ardella melihat Robin dengan memberi senyum tipis, dia beranjak melempar selimutnya dan naik ke punggung Robin.


"Kamu berat banget." Ucap Robin pura-pura jalan terhoyong-hoyong.


"Bisa gk sih, Robin gk usah jujur. Bagi cewek berat badan itu masalah besar." Saut Ardella mencubit pipi Robin dari arah belakang.


"Jadi maksudnya berbohong lebih baik daripada jujur." Tanyanya cengir.


"Iya, khusus untuk berat badanku saja." Sautnya senyum.


Robin beranjak turun dengan menggendong Ardella.


"Turunkan saja aku disini, tidak enak dilihat oleh kak Batara." Ucap Ardella menepuk bahu Robin.


Ucapan Ardella membuatnya berpikir, bahwa kakaknya Ardella memang sedikit menakutkan. "Baiklah." Menurunkan Ardella dengan hati-hati.


Mereka berjalan menuju kearah meja makan.


"Selamat pagi." Ucap Ardella dengan senyum ceria, masih mengenkan pakaian tidur. Diikuti oleh Robin dari samping Ardella.


"Selamat pagi tante." Saut Aldo melihat tantenya duduk disebelahnya.


"Tante gk kerja." Melihat Ardella masih berpenampilan berantakan.


"Aku diberi cuti selama seminggu Kak. " Jawab Ardella.


Batara berpikir bahwa Ardella masih karyawan baru, Rasanya bagaimana mungkin karyawan baru mendapat cuti selama seminggu. "Alasan apa Bos kamu memberikan cuti." Tanya Batara penasaran atas dasar apa Ardella diberikan cuti.


Bingung menjelaskan ke pada kakaknya. Ardella berpikir keras mau kasih alasan, tidak mungkin dia mengatakan hanya karena dirinya berhalangan, Bosnya memberikan cuti seminggu. "Akhir-akhir ini, aku lihat kak Batara sibuk." Tanyanya melihat Batara masih memegang dokumen, sekalian mengalihkan pembicaraan.


"Kakak punya proyek baru, kali ini kakak bertanggung jawab penuh." Pembicaraan teralihkan.


"Pantesan aku jarang melihat kakak dan Robin pulang cepat." Ucapnya.


Lisa mendengar perbincangan antara suaminya dan Ardella, karena perbincangan itu mereka belum menyentuh sarapan yang ada diatas meja. "Ayo sarapan dulu, nanti lagi dilanjutkan." Ucap Lisa menuangkan jus ke cangkir Batara suaminya.


Sarapan berlangsung dengan damai dan tentram.


***


Situasi Aoran disaat Ardella tidak bekerja.


Mulai dari bangun Aoran sudah memeriksa ponselnya, berharap ada pesan dari Ardella.


Sampai dikantor, dia tidak bisa fokus bekerja. Mengambil ponselnya, kemudian melihat keara layar ponsel, dia melihat foto profil Ardella, dia sadar bahwa selama ini dia dan Ardella tidak pernah saling mengirimkan pesan.


Jari-jemari Aoran ingin sekali mengirimkan pesan untuk Ardella. "Apa perlu aku bertanya tentang keadannya." Ucapnya.


"Sudahlah, dia pikir dirinya siapa." Gumamnya meletakkan ponselnya kembali.

__ADS_1


15 menit kemudiaan.


Aoran kembali memeriksa ponselnya, pesan masih tetap kosong.


"Cihh." Ucapnya kembali kesal.


Aoran juga merasa gengsi mengirimkan pesan terlebih dahulu, dia ingin Ardella lebih dulu mengirimkan pesan.


Parto datang ingin menyampaikan perkembangan proyek perusahaan.


"Aku sedang bad mood, kembalilah dua jam lagi." Ucapnya langsung ketika melihat wajah Parto. Sebelum berbicara Parto sudah mengalami penolakan.


Sekretarisnya Parto dari semalam sudah bekerja dengan giat. Dia berusaha membuat Aoran melihat keterampilannya. Tapi hanya kata bad mood dia harus keluar dengan wajah sedih dan kecewa.


Kembali ke Ardella.


Masih dalam keadaan bermalas-malasan Ardella kembali ketempat tidurnya.


"Damainya." Gumamnya.


Ardella mengingat wajah Aoran ketika berada dikantor. " Setiap pagi, dia pasti marah-marah." Ucapnya.


Ardella tidak mau memikirkan Aoran ataupun pekerjaan, dia bangkit berdiri. Merapikan kamarnya dan melipat selimutnya. Kamarnya kembali tertata rapi, dia beranjak mengambil kembali handuknya. Selesai mandi, Ardella kembali segar, dia sudah tidak mengantuk ataupun mau tidur.


Menghilangkan penatnya, dia pergi menemui keponakannya. "Mbak Dila, hari ini biar aku yang menjaga Edward dan Erwin." Ucap Ardella.


"Baik Non." Ucapnya.


Ardella menemani kedua keponakannya bermain, melihat mereka bermain mobil-mobilan. Ardella mengikuti permainan. Bosan dengan barang mainan mereka bermain petak umpet.


"Tante hitung sampai 10." Ucap Ardella sebagai penjaga.


"Tante gk boleh liat." Ucap Erwin melihat Ardella mengintip.


"Tante pejam mata pakai ini." Ucap Edward memberikan kain sebagai penutup.


Ardella berpikir bahwa sekarang keponakannya sudah pandai bicara. "Baiklah tante mengerti." Ucap Ardella melihat kearah Edward dan Erwin.


Edward memakaikan penutup mata pada Ardella. "Huhh. Sekarang mereka lebih pintar dariku." Gumam Ardella.


"Ayo kak, kita sembunyi." Ucap Erwin menarik tangan Edward.


Ardella menghitung sampai 10, mulai membuka penutup matanya, dia mencari di seluruh ruangan. Tidak butuh lama Ardella menemukan Edward dan Erwin.


"Tadaaa." Ardella mendapati kedua keponakannya bersembunyi. Mereka tertawa ria dengan permainan, berlari kesana-kesini dan saling mengejar satu sama lain, bermain ternyata menguras tenaga juga dan pada akhirinya rasa lelah mulai muncul.


Sudah cukup lama bermain, Edward dan Erwin kelelahan. Hari juga sudah menjelang siang. Ardella memberi kedua keponakannya makan siang, setelah itu dilanjutkan dengan tidur siang.


Ardella, Edward dan Robin tertidur bersamaan. Mereka tidur saling berpelukan ditempat tidur yang sama.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2