Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Tak Senang Maka Hanjurkan


__ADS_3

Pagi hari di kampus.


Diruang kelas terdapat kursi berderetan, para mahasiswa mulai duduk dan menunggu kedatangan dosen, begitu juga dengan Ardella yang telah datang.


Yanti yang melihat Ardella duduk dikursi deretan baris tiga menghampiri. "Maaf kemarin aku gk bisa datang." Ucap Yanti memasang wajah menyesal.


"Gk apa kok." Ucap Ardella biasa aja.


Ardella tidak terlalu mempermasalahkan, pikirnya keadaanlah membuat Yanti tak bisa ikut mengerjakan tugas kelompok. Pelajaran hampir dimulai, Yanti juga bergegas duduk di belakang Ardella. Bimo dan Rima menghampiri Ardella dan meminta maaf bersamaan.


Ketika dosen hampir datang, Ardella malah dicemaskan dengan Anasya yang belum juga datang. Sebelum berangkat kekampus Anasya lah yang membuat cover tugas makalah kelompok Ardella. Yanti yang dari belakang meyentuh Ardella meminta untuk melihat makalah yang telah siap. Ardella mencoba menjelaskan bahwa tugas mereka ada ditangan Anasya.


Yanti, Rima dan Bimo punya firasat buruk ketika Ardella mengatakan tugas mereka bersama Anasya.


"Jika tugas kita ditangan Anasya berarti dia tahu kemarin kita tak datang." Ucap Rima merasa cemas.


"Anasya orangnya kan sedikit kasar dan pemarah, pasti gk terima." Ucap Bimo mengerakkan bahunya seakan merinding.


Yanti hanya terdiam, rasanya ucapan Rima dan Bimo ada benarnya.


Tap,,, tap,,, tap suara langkah dosen memasuki ruangan, diikuti Anasya yang terburu-buru dari belakang, Anasya bergegas duduk disamping Ardella.


"Kenapa bisa telat." Ucap Ardella melihat Anasya merapikan rambutnya.


"Macet." Ucapnya Anasya kembali.


Anasya dengan sengaja lama datang untuk menahan makalah Ardella bersamanya, menunggu dosen diluar ruang dan masuk bersamaan. Dosen mulai angkat bicara untuk mengumpulkan tugas, Anasya dan kelompoknya mulai sibuk, Ardella meminta Anasya untuk memperlihatkan tugas kelompoknya pada Yanti, Rima dan Bimo.


Anasya menolak dengan alasan sudah tidak keburu lagi memperlihatkannya pada mereka, dengan cepat Anasya mengumpulkan tugas.


Para mahasiswa mulai berjalanan mengumpulkan tugas mereka masing-masing. Dosen mulai melihat dan memperhatikan tugas mereka, dilihatnya hanya kelompok Ardella yang beranggotakan dua orang, dosen mempertanyakan kepada Ardella sebagai ketua kelompok.


"Ardella, apa kalian hanya dua anggota saja." Tanya dosen dari depan.


Ardella bingung berkata. Yanti, Rima dan Bimo langsung membantah dosen, sebelum Ardella sempat menjelaskan.


"Kami juga satu kelompok dengan Ardella pak." Ucap Yanti berdiri.


"Jika kalian satu kelompok mengapa nama kalian tak ada dicover." Ucap dosen.


"Maaf pak sebelumnya, Yanti, Rima dan Bimo tak ikut mengerjakan tugas kelompok." Ucap Anasya ikut menyambung percakapan Yanti dengan dosen.


Dosen yang mendengar penjelasan Anasya memutuskan bahwa Yanti, Rima dan Bimo mendapatkan nila E dan jika ingin lulus dimatakuliahnya mereka harus mendapat nilai A. Pak Adi adalah salah satu dosen yang dikenal kejam dan tak suka mahasiswa yang tidak disiplin, malas-malasan. Banyak mahasiswa dimatakuliahnya mengulang kembali.

__ADS_1


Yanti, Rima dan Bimo tak berani membantah keputusan dosen. Wajah mereka nampak kesal, mata yang diarahkan untuk Ardella berharap Ardella dan Nia ikut membela mereka, kenyataanya Ardella malah diam.


Ardella mulai bertanya dengan pelan terhadap Anasya.


"Kamu  sengaja tak menjantumkan nama mereka." Ardella berbisik.


"Iyah, sedikit memberi mereka pelajaran, sebaiknya kita tak ribut, kalau tidak pak Adi akan marah. " Ucap Anasya kembali berbisik.


Disisi lain sepanjang pelajaran berlangsung Yanti menunjukkan wajah yang tak senang.


Ketika kelas usai dosen beranjak keluar.


Yanti yang tak terima melabrak Ardella.


Prankk,,,memukul meja. Semua orang yang didalam ruangan melihat ke arah mereka.


"Aku kan sudah bilang aku tak enak badan." Ucapnya marah.


Ardella diam tak bersuara, beda dengan Anasya langsung mengamuk.


"Apa orang yang tidak enak badan nongkrong dikafe, pergi kesalon dan belanja." Anasya yang berdiri menyilangkan tangan, wajahnya meringis merasa kesal melihat Yanti.


Darimana dia tahu, mungkin dia cuman Mengada-ngada. Yanti dalam pikirnya.


"Oh,,yah,,, biar kutunjukkan."


Tangan Anasya meroogoh Tasnya, diamplop yang penuh dengan foto-foto Yanti, Rima dan Bimo berada dikafe dilanjutkan ketempat lainnya, dengan melemparkan semua foto kearah Yanti.


Wajah kemarahan dan mulut kaku membuat Yanti bungkam sejenak dan berpikir keras untuk membalas Anasya.


"Lihat saja nanti, kalian cari gara-gara dengan orang yang salah, kupastikan kalian akan menerima ganjarannya." Ucap Yanti mengancam.


Dengan status keluarga kaya Yanti mengancam Ardella dan Anasya. Yanti yang tak tahu latar belakang keluarga Anasya.


Aoran Fritsh kakaknya Anasya. mengusai bisnis diindonesia dalam sekejap, bahkan namanya dikenal diseluruh pembisnis dari dalam negeri maupun luar negeri. Seorang ayah dijerman dengan status bangsawan membuat keluarga Anasya sangat terhormat dan disegani, memiliki sebuah resort terluas dijerman, bisnis yang bahkan berkembang dari turun-temurun oleh nenek moyangnya.


Anasya mendengar sebuah ancaman bagaikan lelucon siang bolong. Senyumnya tipis, melayangkan tatapan rendah kepada Yanti. Ardella merasa sedikit khwatir, dunia kampus yang selama ini tentram sepertinya akan ada kejadiaan tak menyenangkan.


Yanti yang melangkah keluar menginjak semua foto yang bertebaran, langkahnya yang menoleh kebelakang, sedikit mengucapkan sumpah serapah dendam atas perlakuan yang memalukan dari Anasya.


Melihat Ardella yang terdiam. "Kamu kenapa." Ucap Anasya.


"Apa kita keterlaluan, aku merasa Yanti sangat marah." Tanya Ardella balik.

__ADS_1


"Ancamannya tadi tak berarti apa-apa, tidak usah takut. Kalau dia berani buat masalah aku akan lapor kepada kak Aoran." Ucap Anasya menenangkan Ardella.


"Tetap aja." Ucap Ardella dengan nada lesu.


"Kakakku itu orangnya sangat tidak suka aku diganggu, jika mau aku bisa melaporkan kepada kakakku bahwa aku diganggu, sehingga pastinya dia akan memberikan perhitungan." Ekspresi Anasya yang penuh dengan aura jahat.


Ardella yang melihat merasa bahwa Anasya memang keluarga terpandang, walau tak tahu kehidupan sosialitas keluarga Anasya tapi dia merasa Anasya memang memiliki aura seorang tuan putri.


✳️✳️✳️


Diperusaahaan.


Aoran Fritsch disibukkan oleh sebuah laporan.


"Beraninya mereka melakukan pelanggaran kontrak." Ucap Aoran dengan nada sinis.


Parto yang berdiri merasa merinding melihat ekspresi Aoran dan nada suaranya.


"Apa yang harus kita lakukan bos." Ucap Parto pelan.


"Aku ingin besok pagi perusahaan itu bangkrut." Melemparkan laporan.


Aoran yang didalam bisnisnya tak ada kata toleransi, tak Suka maka dihancurkan.


Parto bergegas melaksanakan perintah dari bossya.


Kembali lagi ke Anasya yang menceritakan kehebatan Kakaknya.


"Tadi kamu bilang kakakmu itu menyenangkan, kenapa tiba-tiba berubah." Ucap Ardella.


"Tidak tahu, dalam 3 tahun ini sifatnya sangat dingin, aku bahkan hampir tak mengenalnya. dulu dia suka bercanda denganku tapi sekarang dia hanya bicara seadanya." Ucap Anasya sedih.


Ardella berpkir tak baik melanjutkan percakapan.


"Ayo kekantin, aku lapar." Ucapnya mengalihkan pembicaran.


"By the way, kok bisa kamu tahu kalau Yanti dikafe kemarin." Sambil berjalan menuju kantin.


"Itu bukan hal yang sulit." Anasya yang tersenyum tak memberi penjelasan yang dalam.


💔💔💔


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2