Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Kesalahan


__ADS_3

Berada ditempat tidur yang sama, Aoran merasa instingnya sebagai laki-laki bangkit. Sudah tidak tahan lagi dengan perasaannya, Aoran memberanikan diri untuk meminta sesuatu pada Ardella.


Wangi tubuh Ardella membuat Aoran semakin lebih dekat. "Ardella bisakah aku memilikimu seutuhnya." Ucap Aoran lembut memeluk Ardella dari belakang dan meletakkan tangannya ke perut Ardella.


Terdengar kata memiliki, Ardella kurang paham. "Maksud kakak." Tanya Ardella membalikkan tubuhnya. "Bukankah sekarang aku milik kak Aoran." Memikirkan bahwa sekarang mereka adalah sepasang kekasih.


Aoran menarik Ardella lebih dekat dengannya, dia kini berada diatas Ardella, tubuh Aoran menindih tubuh Ardella. "Aku ingin memiliki hatimu dan tubuhmu Ardella." Tangan Aoran yang bergerak mengelus wajah Ardella dan menyentuh rambutnya dengan jarinya.


Gerakan Aoran membelai tubuh Ardella dengan lembut. Ardella sekarang mengerti maksud dari perkataan Aoran. "Kita belum menikah kak." Ucap Ardella ragu.


Wajah Aoran sedikit kecewa atas penolakan Ardella padanya, Aoran mulai ingin berpindah kesamping tubuh Ardella. Sebagai laki-laki baik, dia tidak ingin memaksakan kehendaknya sendiri. Dia sadar hal yang dimintanya bukanlah hal yang mudah untuk diberikan.


Aoran mulai beranjak dari tubuh Ardella. Tiba-tiba lengannya ditahan oleh Ardella. Wajah Ardella terlihat gugup, meski tidak berbicara, keduanya saling mengerti.


Aoran menatap Ardella dengan sangat dalam, berpikir kembali Aoran takut Ardella akan menyesal. "Apa kamu yakin ingin melakukannya." Tanya Aoran memastikan.


"Iya kak." Ucap Ardella memberikan izin atas apa yang akan terjadi.


"Jika tidak yakin, kamu cukup mengatakannya. Aku tidak akan memaksa." Ucapnya lebih lembut.


Bertanya kedalam hati paling dalam, Ardella merasa tidak punya jawaban. Saat ini Ardella hanya butuh seseorang untuk menemaninya, seseorang yang bertanya padanya apakah dia baik-baik saja. Aoran lah yang saat ini berada disampingnya, dia juga tidak ingin Aoran meninggalkannya. Sudah cukup baginya kehilangan kasih sayang ayahnya. Dia tidak ingin kehilangan kasih sayang Aoran.


Aoran memulai dengan menyentuh hidung Ardella, kemudiaan tangannya beranjak keseluruh tubuh Ardella. Ditambah bibir Aoran beranjak mencium bagian tubuh tertentu dan sensitif Ardella. Dengan lembut Aoran mencium dua belahan Ardella, berpindah kesatunya lagi, Aoran merasa bulatan itu sangat lembut dan kenyal. Sudah puas memainkan dua belahan Ardella, Aoran ingin melakukan lebih jauh lagi.


Ardella menutup matanya, pasrah menyerahkan dirinya pada Aoran, tangannya mencekram ke lapisan kasur menahan ciuman Aoran. "Kak ini pertama kalinya bagiku." Ucap Ardella sedikit dengan nada resah saat Aoran mulai melepaskan dalamanya.


Aoran mengerti perasaan Ardella, baginya juga ini pertama kalinya. Karena itu sebenarnya dia juga sedikit merasa gugup. "Serahkan saja padaku, jika kamu merasa tidak nyaman cukup katakan padaku." Ucap Aoran lembut mengelus dahi Ardella.


"Baiklah kak." Sautnya.


Satu persatu baju Ardella dilepas oleh Aoran, begitu juga dengannya, bajunya mulai dilempar ke lantai.


Aoran memulai menyatukan dirinya dengan Ardella.


Aaarrrggkkk.


"Ahhhh, sakit." Rintih Ardella sambil Mencakar sedikit punggung Aoran.

__ADS_1


"Maaf kan aku, sesakit itu kah, apa kita berhenti saja." Ucap Aoran dengan wajah sedikit merasa bersalah.


Ardella yang melihat ekspresi Aoran membuatnya takut mengecewakannya, tangan Ardella menarik sedikit tubuh Aoran mencium bibirnya dengan sedikit canggung. "Tidak, aku bisa menahannya." Mengucapkan kearah telinga Aoran.


"Baiklah, aku akan melakukannya lebih lembut." Saut Aoran membalas pelukan Ardella.


Kembali Aoran menyatukan tubuhnya dengan Ardella, dengan sedikit gerakan dan perlahan Aoran melakukannya. Dia menatap wajah Ardella sedikit menyeritkan dahinya karena menahan rasa sakit.


Ardella juga melihat Aoran diatas tubuhnya, laki-laki yang saat ini bersatu dengannya, semakin menatap Aoran, dia takut setelah ini Aoran akan pergi meninggalkannya. "Kak jangan tinggalkan aku seperti mama, kak batara dan sekarang ayah." Ucap Ardella sedikit merintih menahan sakit.


Mendengar ucapan Ardella, dia yakin tidak akan pernah meninggalkan Ardella. "Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan membawamu dari sini, kita akan menikah dan punya banyak anak." Katanya dengan senyum dan balik menyerang ciuman Ardella.


Aoran menambah kekutannya dan gerakkannya. "Ahh." Ardella kembali merintih.


"Akan kucoba lebih pelan lagi." Ucap Aoran lembut dan menyentuh bibirnya Ardella.


Aoran melakukan dengan lembut, menikmati alunan gerakan tubuh mereka, tangan Ardella kembali mengerat mencekram punggung Aoran.


"Ahhh,,, ahhh,,,ahh." Suara desahan Aoran dan Ardella saling bersahutan.


Sedikit puas, Aoran memisahkan diri dari Ardella. Melihat wajah Ardella berkeringat, dia mengambil kain selimut untuk mengelap keringat Ardella.


"Iya kak." Saut Ardella mengangguk, sedikit malu atas ucapannya.


Aoran perlahan melakukanya kembali dan menyatukan tubuhnya dengan Ardella. Kali ini dia menekan Ardella lebih dalam. Kembali tangan Ardella memegang erat pundak Aoran dan mencekram dengan tajam menahan rasa sakit.


"Ahh,,, ahh,,, ahh." Suara desahan Ardella dan Aoran terdengar saling menyahut.


Malam yang panjang bagi Aoran dan Ardella, mereka melakukan sesuata hubungan yang salah, bersetubuh sebelum menikah adalah awal kesalahan Aoran dan Ardella.


***


Pagi setelah malam


"Auhh." Desahan Ardella.


Ardella terbangun dan mendapati dirinya tak berbusana, begitu juga dengan Aoran yang masih tidur disampingnya, seketika ingatanya kembali pada malam hari saat Aoran dan dia bersetubuh, Ardella menutup wajahnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya kembali, dia sedikit merasa malu. Perlahan kakinya menginjakkan kelantai dan ingin berjalan ke toilet.

__ADS_1


"Ahhhhh." Teriak Ardella terjatuh kelantai. Sakit dibagian intimnya masih terasa, ditambah punggung dan kakinya keram


Mendengar teriakan, Aoran terbangun dan melihat Ardella sedang berusaha berdiri. "Ardella." Ucap Aoran ketika melihat Ardella berjalan dengan pinjang.


Suara Aoran membuatnya menoleh kebelakang dan melihat ke arah Aoran. Saat melihat Aoran tak berbusana, pandangannya dialihkan secepat kilat dan menunduk merasa malu. Kenapa bisa dipagi hari Aoran dan Ardella merasa malu, sedangkan dimalam hari mereka bahkan telah menyatu.


Aoran yang sadar langsung mengenakan pakaiannya setelan bawah dan beranjak mendekati Ardella. "Apa masih sakit." Tanya Aoran lembut.


"Mmm, sedikit." Ucap Ardella pelan.


" Kamu mau kemana." Tanya Aoran kembali.


"Ke kamar mandi Kak." Ucapnya canggung.


Aoran mengangkat tubuh Ardella dan menggendongnya ke dalam kamar mandi, Ardella yang masih mengenakan selimut merasa canggung dan tidak biasa dengan kejadiaan seperti ini.


"Kalau sudah selesai, cukup panggil saja, aku tunggu diluar." Ucap Aoran menurunkan tubuh Ardella.


Ardella beranjak berjalan kekamar mandi.


"Apa aku kemarin malam sedikit kasar? apa Ardella akan membenciku." Gumamnya dengan suntuk, takut Ardella membencinya.


Kreekk,,, Ardella membuka pintu kamar mandi dan melihat Aoran berdiri masih menunggu.


"Sudah selesai." Ucap Aoran.


"Mmm." Ardella menunduk, bingung berkata apa.


Sekali lagi Aoran menggendong Ardella menuju kasur, noda darah terlihat masih segar dikasur. Ardella dan Aoran merasa canggung sekali melihatnya, Ardella menyembunyikan kepalanya ke dada Aoran dan menunduk.


"Hm,,, sebaiknya duduk disofa saja. " Kata Aoran.


Meletakka Ardella ke sofa." Aku akan membawakan pakaian ganti, tunggu disini sebentar." Ucapnya sambil memakai baju.


"Iya kak."


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2