
Waktu berjalan cepat tak terasa Ardella sudah sekitar 2 bulan tinggal dengan kakaknya.
"Mas aku mau ajak Ardella jalan-jalan ke mall bersama Robin" Melihat kearah Batara.
"Perlu kutemani. " Tanya Batara.
"Tidak usah, mas dirumah saja jaga Aldo, kami tidak lama kok." Kata Lisa kembali pada suaminya.
"Kalian hati-hati dijalan." Ucap Batara ketika melihat mereka beranjak pergi.
Lisa mengajak Ardella dan Robin ke mall.
Pemandangan desa dan kota sangat berbeda bagi mereka berdua, berada dimall membuat Ardella gugup ketika pertama kali naik lift jalan. Ardella dan Robin yang sama-sama bingung dan takut melangkahkan kakinya.
Lisa yang melihat Ardella yang kaku ketika manaiki lift. "Berpegangan padaku Dek." Menggandeng tangan Ardella dan diikuti Robin dari belakang.
Lift mulai berjalan pemandangan yang belum pernah dilihat Robin dan Ardella selama didesa.
"Tempatnya bagus ya kak." Ucap Ardella.
"Kamu suka." Tanya Lisa tersenyum "Setiap hari minggu kakak bisa mengajak kamu kesini." Ucap Lisa kembali melihat Ardella yang polos.
Mereka keliling mall, membeli beberapa pakaian dan barang-barang yang dibutuhkan.
Lisa yang sedang sibuk memilihkan baju untuk Ardella. "Baju ini kayaknya bagus Dek." Mencocokkan dress pada Ardella
Ardella memakai dress yang diberikan kakak iparnya, ketika dipakainya baju terlihat cocok untuk Ardella dan nyaman dipakai. Karena perut Ardella mulai mengembang dan terlihat besar Lisa mencari dress khusus untuk ibu hamil agar Ardella merasa nyaman.
Setelah selesai belanja mereka ingin kembali pulang, dikarenakan Lisa kelupaan sesuatu, dia kembali ke mall untuk membeli barang yang tertinggal.
"Tunggu disini sebentar ya Dek, sepertinya aku lupa membeli sesuatu." Ucap Lisa sambil memeriksa belanjaannya.
"Baik kak." Ucap Robin dan Ardella.
Menunggu Lisa kembali. Ardella dan Robin berdiri ditengah mall, pandangan Ardella melihat orang yang sedang berjalan, melihat orang banyak Ardella merasa kepalanya pusing dan mulai menjerit, ingatannya terus kembali ke masa dia diusir dari desa, orang-orang banyak yang lewat kesana-kemari terlihat seperti orang yang menghakiminya waktu didesa.
"Pergi." Teriaknya menutup telinga.
Robin yang terkejut bertanya pada Ardella apa yang membuatnya berteriak histeris.
"Robin tolong aku mereka akan datang mencariku lagi dan memaksaku menggugurkan bayiku." Wajah Ardella ketakutan.
"Siapa ?." Robin yang menenangkan Ardella.
"Orang-orang didesa akan mencariku, kita harus sembunyi Rob, aku takut mereka menemukanku." Memegang erat tangan Robin.
"Tenanglah tidak akan ada yang datang kesini." Memegang pundaknya Ardella.
Kondisi Ardella semakin buruk, tingkahnya aneh, Lisa yang baru kembali melihat Ardella menjerit-jerit.
"Ardella kenapa." Tanyanya pada Robin.
__ADS_1
"Ardella pikir orang-orang desa akan datang mencarinya lagi kak, dari tadi dia ingin pulang dan bersembunyi."
"Ardella tenang ya, kita kembali kerumah sekarang." Ucap Lisa membawa Ardella pergi dari keramaian.
Setibanya dirumah Lisa dan Robin memapah Ardella masuk. Batara yang tengah bermain dengan Aldo terkejut ketika melihat kondisi Ardella.
"Apa yang terjadi, kenapa Ardella terlihat ketakutan." Tanya Batara melihat Ardella berjalan menyembunyikan wajahnya.
"Nanti aku ceritakan mas, sekarang kita bawa aja dulu Ardella kekamarnya."
Ardella masih menutup telinga, matanya juga dipejamkan sama sekali tak ingin melihat siapapun.
"Minum dulu dek." Batara membawakan air minum.
"Sini mas biar aku saja." Mengambil air minum dari tangan suaminya.
"Ini tehnya dek." Memberikan pada Ardella.
Ardella mengambil air minum dari tangan kakak iparnya, sedikit dia merasa tenang dan mulai berpikir dengan normal, ketika dilihatnya wajah kakaknya, kakak iparnya dan Robin.
"Hiks,,, maafkan Ardella kak."
"Tidak apa dek, jangan takut kakak disini." Ucap Batara mendekatkan diri ke Ardella mengusap punggunya "Istirahatlah." Ucap Batara kembali.
Mereka keluar dari kamar Ardella. Batara yang bertanya pada istrinya kejadiannya. Robin mulai menceritakan apa yang terjadi di mall.
"Mas mungkinkah Ardella mengalami trauma." Ucap Lisa.
"Wanita yang masih muda dan polos mengalami kejadiaan seperti itu mungkin membuat mentalnya sedikit rusak mas."
"..." Robin hanya diam dan tak berkata.
Mendengar perkataan istrinya Batara mulai berpikir mungkin Ardella trauma. Ingatannya juga kembali pada saat Ardella dilempari dengan batu, kejadiaan menyakitkan itu mungkin penyebab Ardella trauma.
Berhari-hari Ardella tidak keluar dari kamarnya dia hanya berbaring sesekali bersembunyi dibawah kolong tempat tidurnya semua tingkahnya diluar kesadaran Ardella sendiri.
"Ardella ngapain disitu." Ardella yang duduk disudut dinding.
Ardella diam hanya melihat kearah kakak iparnya, kedua kakinya dilipat telengkup dan duduk disudut dinding.
"Jika kamu terus seperti ini kakakmu akan sedih, selama ini kakakmu sangat merindukanmu, setiap hari dia berusaha menabung untuk membeli rumah dan tinggal bersamamu, dia juga selalu menceritakan tentangmu kamu yang manis dan ceria." Ikut duduk menceritakan kerinduan Batara terhadap Ardella.
Ardella masih tidak merespon, dirinya terbelenggu akan kenangan pahit dan kini segala ucapan dan perkataan tidak dapat lagi dicernanya. Batara yang berdiri didekat pintu meneteskan air matanya. Hatinya pilu melihat adiknya.
Saat Lisa keluar dia mendapati suaminya tengah menangis, dia mengajak suaminya duduk di sofa ruang tengah.
"Mas bagaimana kalau kita membawa Ardella ke psikiater, aku punya teman seorang dokter kita bisa coba mengobati Ardella agar dia sembuh dari traumanya." Ucap Lisa.
Batara setuju dengan ucapan Lisa. Demi Ardella sembuh apapun akan dilakukan oleh Batara.
✳✳️✳️
__ADS_1
Rumah sakit
"Hai dokter Andre." Sapa Lisa masuk kedalam ruangan kerjanya.
"Hai Lis." Berdiri berjalan menuju kearah Lisa "Apa kabar." Menyambut dengan saling menjabat tangan.
"Baik, kamu apa kabar juga."
"I am fine, by the way apa dia suamimu" Menunjuk Batara yang berdiri disampingnya Lisa.
"Iyahhh,,,."
"Saya Batara suaminya Lisa." Batara mengulurkan tangan kananya.
"Andre temannya Lisa." Saling berjabat.
"Silahkan duduk." Ucap Andre.
"Ndre, kami ingin konsultasi denganmu masalah adik iparku yang tempo hari kuceritakan padamu." Kata Lisa setelah duduk.
"Aku ingin tahu sejauh mana kondisi adik iparmu." Tanya dokter Andre pada Lisa.
Lisa menyuruh Batara suaminya menceritakan kejadian yang menimpa Ardella selama didesa. Mulai menceritakan Batara menarik nafas dan memberikan penjelasan pada dokter Andre.
"Adikku sepertinya mengalami trauma, setiap malam dia menangis dan menjerit, bahkan dia tidak berani keluar dari kamarnya."
Dokter Andre yang mulai berpikir. "Boleh aku tahu apa penyebabnya." Tanya dokter Andre.
"Karena hamil tanpa suami dia diusir dari desa. Orang desa sempat mengancam Ardella untuk menggugurkan kandungannya, karena itu adikku berpikir bahwa orang-orang didesa masih mencarinya." Penjelasan Batara.
Andre belum bisa memutuskan apapun, untuk saat ini Andre hanya ingin bertemu dengan Ardella dan melihat sejauh mana kondisi Ardella. "Aku ingin melihatnya, bisakah aku bertemu dengannya." Ucap dokter Andre.
"Tentu dokter, kami akan berusaha membujuknya untuk datang kesini." Ucap Batara kembali.
Lisa dan Batara mengucapkan terima kasih pada Andre yang bersedia membantu menyembuhkan Ardella dari traumanya.
Setelah pulang dari rumah sakit, perlahan Batara mencoba untuk berbicara pada Ardella yang tengah duduk di tempat tidurnya.
"Dek besok kakak libur, kamu temani kakak besok jalan-jalan ketaman ya." Ucap Batara.
"Aku hanya ingin dirumah kak." Ucap Ardella pelan.
"Sebentar saja, setelah itu kita langsung pulang." Berusaha membujuk Ardella.
Ardella hanya menganggukkan kepala.
Sesuai dengan rencana Batara dan Lisa, besok mereka ingin membawa Ardella keruma sakit untuk bertemu dengan dokter Andre.
💔💔💔
Bersambung
__ADS_1