Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Sebuah Surat


__ADS_3

"Siapa tadi." Ucap ibunya Leli.


"Aku gk kenal bu, tapi dia nitip surat ne." Membalik-balikkan surat.


"Coba dibuka aja biar kita lihat isi suratnya." Ucap ibunya.


Srakkk,,, suara robekan surat yang diberikan Evan, perlahan Leli dan ibunya membaca isi surat itu.


"Hahaha,, ,kasihan banget si Ardella Bu." Suara tawa Leli setelah membaca surat.


"Ditinggal dan menikah dengan orang lain." Ucap ibunya Leli. "Sebaiknya simpan aja dulu suratnya, Biarkan Ardella menunggu kedatangan kekasihnya." Tawa tipis.


"Baik ibu." Ucap Leli ikut senyum.


Ketika surat pernikahan Aoran belum ditangan Ardella. Mereka menantikan saat-saat Ardella putus asa menuggu Aoran kembali.


Kepergiaan Aoran membuat Ardella kembali ketitik awal. Sepanjang hari Ardella mulai menunggu ditepi danau dekat pelabuhan, kali ini Ardella bukan hanya menunggu satu orang tapi menunggu dua orang yang dia sayangi. Penantiaan kali ini lebih berat lagi bagi Ardella.


"Ardella." Seru Leli memanggil dari kejahuan.


Ardella melihat Leli medekatinya dan memberi tawa padanya.


"Sepertinya kamu sedang sedih, apa kamu menunggu Batara pulang." Pura-pura tidak tahu siapa yang ditunggunya.


"Hari ini aku tidak ingin ribut, jadi jangan cari gara-gara denganku." Ucap Ardella memperingatkan.


"Tenang aja, aku juga tidak ingin ribut denganmu, aku hanya peduli padamu, bagaimana pun kita adalah saudara." Kata Leli berjalan mengelilingi Ardella.


"Bye,,, bye,, bye Ardella." Ucap Leli sambil melangkah keluar.


Ardella merasa bingung dengan tingkah Leli. Apa yang sedang direncanakan atau apa yang sedang disembunyikan Leli adalah hal yang masih belum diketahui oleh Ardella.


Prankk,,,prank.


Ardella merasa lapar pergi kedapur untuk memasak. Ketika perutnya lapar, Ardella ingin makan, tapi saat Ardella mulai ingin makan nafsunya tiba-tiba hilang. Diletakkanya sendok, kemudiaan mulai memberaskan piringnya kembali.


"Ayah ingin bicaramu denganmu." Ucap ayah Ardella.


Pembicaraan Ardella berada tepat diruang tamu, ayahnya yang mulai duduk dikursi diikuti oleh langkah Ardella dari belakang.


"Duduklah nak." Ucapnya dengan lembut.


"Baik ayah."


"Ayah ingin meminta maaf karena menamparmu, tapi itu bukan keinginan hati ayah. Apapun alasannya kamu tidak boleh menuduh ibumu mencuri." Ucap ayahnya.


"Apa ayah berpikir aku berbohong, aku hanya mengada-ngada saja, kenapa ayah sedikitpun tak percaya apa yang kukatakan." Ucap Ardella dengan nada serak.


"Sudahlah jangan membahas lagi, ayah tidak ingin pertengkaran baru lagi, mulai hari ini kamu tidak usah bekerja dikebun orang lain. Mulai sekarang kita kembali berkumpul dan makan bersama sekeluarga lagi." Kata ayahnya dengan santai.


"Baik ayah, tapi Ardella tidak akan mengerjakan pekerjaan rumah seperti dulu." Tatapan Ardella untuk ayahnya sedikit kemarahan.


"Terserah kamu." Berdiri meninggalkan Ardella yang masih duduk dikursi.


"Ayah. Semenjak kamu menamparku rasa sayangku sedikit hilang untukmu." Gumam Ardella pelan.

__ADS_1


Ibu tiri Ardella yang mendengar pembicaraan mereka. "Sepertinya kamu dan ayahmu sudah berbaikan." Tanya Ibu tiri Ardella.


"Tentu, aku adalah anak kandungnya sendiri, kasih sayang ayahku pasti lebih besar untukku." Menatapnya dengan tajam.


Setelah pembicaraan antara ayahnya dengan Ardella semua kembali kesediakala, perbedaanya adalah Ardella tidak seperti dulu yang bangun setiap pagi untuk menyiapkan sarapan.


***


1 minggu berlalu, 2 minggu juga berlalu dan 3 minggu telah berlalu.


Kedatangan Aoran yang ditunggu Ardella begitu dengan kerisauan masih tidak ada hasil. Untuk menghibur diri Ardella pergi ketempat Ririn.


"Ririn, Ririn. " Seru Ardella Ardella memanggil dari luar rumah.


"Iya, tunggu sebentar." Ucapnya dari dalam rumah.


Ririn yang baru selesai masak bergegas membukakan pintu untuk Ardella.


"Ella." Kata Ririn.


"Rin, kamu sibuk?. Aku mau cerita denganmu." Tanya Ardella.


"Aku baru siap masak, kita cerita didalam aja yok."


Ririn mengajak Ardella kekamarnya dan membawakan gorengan untuk Ardella.


"Sambil cerita kita makan goreng pisang, biar enak ceritanya." Ucap Ririn.


Hueekk,,, huekk.


"Rin gue mau ke toilet." Tergesa-gesa mencari toilet.


"Ella kamu kenapa." Tanya Ririn menepuk punggunya.


"Gk tau Rin, dari kemarin gue gk nafsu makan, kadang pas liat makanan aja gue kayaknya langsung mau muntah."


"Mungkin kamu lagi masuk angin, mau aku urut." Ucap Ririn.


"Makasih Rin, tapi gk usah deh." Ucap Ardella sambil mencuci mukanya.


"Kita balik kekamar." Ucap Ririn sambil memapah Ardella.


"Ibu dan ayahmu dimana Rin, daritadi aku tidak lihat mereka." Ardella yang berjalan menuju kembali kekamar Ririn.


"Mereka pergi kekebun, nanti siang aku antar makanan kekebun untuk mereka."


"Oooo."


"Ella, apa kak Aoran belum kembali." Tanya Ririn sambil duduk dikursi kamarnya.


"Belum Rin, katanya dia akan cepat kembali, tapi ini hampir 1 bulan berlalu tapi dia belum datang." Penjelasan Ardella dengan nada rendah.


"Sabar aja, mungkin kak Aoran dalam perjalanan." Berusaha menghibur Ardella.


"Mudah-mudahan seperti yang kamu bilang Rin."

__ADS_1


Karena hampir menjelang siang Ardella kembali kerumah, sedangkan Ririn mengantar makan siang untuk orangtuanya.


Siang pukul 11.30 Wib


"Kak Ardella darimana." Tanya Niko.


"Kakak tadi dari danau, ayah mana." Tanya Ardella mengelus wajah adiknya.


"Ayah pergi ke pasar berdagang kak."


Auh,,, memegang kepalanya, Ardella yang meras sedikit pusing perlahan duduk istirahat di sofa, tubuhnya sedikit dibaringkan, matanya yang menatap ke arah dinding langit.


Suara Leli dan ibunya terdengar tertawa-tawa di dalam kamar. "Ibu kasihan sekali Ardella, hampir sebulan dia menunggu kekasihnya." Ucap Leli tertawa.


"Biarkan saja dia menunggu sampai kiamatpun laki-laki itu gk akan datang." Ucap ibunya Leli.


Pembicaraan yang dikatakan Ibu tirinya dan Leli masih belum dimengerti oleh Ardella, dia yang berdiri didepan pintu kamar Leli dan mendengarkan percakapan mereka.


Tanganya yang memegang gagang pintu perlahan dibukanya.


"Ardella ngapain kamu berdiri disitu." Teriak Leli.


"Apa maksud kalian kalau laki-laki itu tidak akan datang." Tanya Ardella.


"Gimana ya, kasih tau gk ya." Candaan Leli mendekati Ardella.


"Ardella apa kamu pikir laki-laki itu datang?, bahkan sampai sekarang Batara juga tidak datang, apalagi laki-laki itu." Ucap ibu tirinya.


"Mau kutunjukkan sesuatu, surat ini diberikan oleh orang bernama Aoran, pesannya dia tidak akan kembali karena selama ini dia hanya main-main denganmu." Leli mengambil sebuah surat dari dalam lacinya.


Ardella langsung mengambil surat yang ada ditangan Leli.


Membuka halaman surat depan. Nama Aoran tertulis didalamnya. Dibacanya dengan teliti surat yang dipegangnya itu adalah surat undangan pernikahan Aoran Fritsch bersama Rara Rahayu. Hari Dan tanggalnya bertuliskan 9 Hari setelah kepergiaan Aoran.


Tes,,, tes,,,tes.


Air mata Ardella terjatuh kesurat undangan pernikahan Aoran, dadanya terasa sesak melihat dan membacanya.


Dia berbohong padaku, kata cinta dari mulutnya semua palsu. Ardella membatin sedih.


"Hahaha, kasihan. Cup-cup jangan nangis dong." Leli mengecek Ardella.


"Tak ada satu orang pun yang menyayangimu Ardella, baik ayahmu, Batara dan laki-laki itu pergi meninggalkanmu." Kata ibu tirinya.


Ardella mengerutkan dahinya. Kepalanya pusing dan rasa mual membuatnya berlari ke toilet.


Huekk,,, huekk.


Ardella yang muntah masih memegang surat, ketika melihat surat itu Ardella merobek-robeknya hingga keukuran terkecil.


Huhuhu,,,hiks,,,hiks tangisannya putus asa.


Leli dan ibu tirinya melihat Ardella yang menangis membuat mereka senang. Sejenak mereka tidak mendengar suara Ardella lagi. Mereka melihat ke dalam toilet dan mendapati Ardella terbaring dilantai tak sadarkan diri.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2