Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Apakah Ini Nyata


__ADS_3

Seperti biasa, Robin menyiapkan bekal untuk dibawa kekampus oleh Ardella. Mulai dari susu, jus, air minum, buah-buahan, dan kotak makanan. Semua ditaruh rapi di tas kantungan.


Ardella yang melihat sedikit heran dengan banyaknya makanan. "Ini semua mana bisa habis dimakan." Ucapnya ketika Robin menyerahkan tas bekalnya.


"Kamu harus makan banyak supaya cepat pulih, nanti aku periksa. Awas kalau makanannya gk habis." Memberikan peringatan serius.


Ardella melebarkan bibirnya, tersenyum melihat tingkah perhatian Robin. Rasanya sangat senang dengan situasi saat ini.


Robin mengantar Ardella kekampus. Diatas kereta, dengan sangat pelan Robin mengendarai kereta scopynya. "Rob, cepetan dong." Tidak sabaran, Ardella menepuk punggung Robin.


Robin tetap tidak menambah kecepatan. Dia sangat berhati-hati dikarenakan Ardella sedang hamil.


Ckittt.


Sampai dikampus, Ardella langsung memberikan helmnya pada Robin. "Aku pergi dulu. Bye, bye." Ucap Ardella. Kakinya berlari menuju ke perkarangan kampus.


"Jangan lari-lari." Teriak Robin keras ketika melihat Ardella berlari.


"Robin kenapa sih, sikapnya aneh banget." Gumam Ardella melambatkan langkahnya karena mendengar teriakkan Robin.


Mencari Nina ditempat biasa, akhirnya Ardella menemukan Nina diperpustakaan.


"Akhirnya ketemu juga." Nafas Ardella tidak beraturan. "Nin flashdisku." Melanjutkan ucapannya.


"Duduk dulu Ar." Melihat kondisi Ardella kecapean. "Maaf kemarin lupa balikin." Kata Nina memberikan flashdisknya.


"Oke tidak masalah. Sekarang aku harus secepatnya ngeprint ne." Ardella kembali berdiri.


"Aku temenin."


Ardella dan Nina menuju tempat fotocopy, diperjalanan tiba-tiba Nina mendapat kabar bahwa Anasya mengalami kecelakaan.


"Ar. Anasya kecelakaan." Ucap Nina panik sekali. Tanpa berpikir lagi. Mereka berdua menuju rumah sakit tempat Anasya dirawat. Ardella melupakan urusannya, yang terpenting sekarang adalah Anasya baik-baik saja.


Dirumah sakit, Ardella dan Anasya langsung menuju ruang inap. Tetapi saat tiba didepan pintu kamar Anasya dirawat, terdengar suara ribut dari dalam kamar.


"Aku ingin pulang." Ucap Anasya pada Budi.


"Kamu masih harus dirawat." Seru Budi tidak mendengarkan Anasya.


"Aku tidak suka bau rumah sakit." Teriaknya lebih keras.


Ditengah perdebatan, Ardella dan Nina beranjak masuk dengan pelan.


"Anasya. Kamu baik-baik saja kan." Ucap mereka bersamaan.


"Aku baik-baik saja." Jawabnya dengan santai.

__ADS_1


Kecelakaan Anasya terjadi dimalam hari ketika Anasya baru kembali dari butik. Tak sengaja mobilnya menabrak becak yang terparkir dijalan. Hanya bagian kaki dan dahi terluka. Selain itu luka Anasya tidak terlalu parah.


"Kamu." Budi yang pernah bertemu dengan Ardella terkejut bahwa Ardella juga mengenal Anasya.


"Hai." Sapa Ardella kaku, sudah bisa menebak apa yang dipikirkan Budi. Mengalihkan perhatiaanya kembali pada Anasya, percakapan antara Budi dan Ardella tidak berlanjut.


"Dia teman-temanku." Ucap Anasya memperkenalkan Nina dan Ardella pada Budi.Β  "Darimana kalian tahu aku dirumah sakit. " Tanya Anasya. Merasa tidak pernah membritahukan.


Nina menceritakan kalau dia dari tadi pagi sudah menghubungi Anasya. Tapi karena Anasya tidak mengangkat ponselnya. Budi mengirim pesan bahwa Anasya dirumah sakit karena mengalami kecelakaan.


"Bud, cepat urus kepulanganku." Anasya masih merengek ingin pulang. Mulai lagi perdebatan diantara Anasya dan Budi.


Sedangkan Ardella dan Nina yang ada diantara mereka tidak bisa menyela di perdebatan.


"Kalau teman-teman kamu setuju, aku izinin kamu pulang." Memberikan keputusan pada Ardella dan Nina.


"Sebaiknya kamu dirawat aja disini." Ucap Ardella lembut menatap kearah Anasya.


"Iya. Betul kata Ardella." Kata Nina setuju.


"Setiap kali dirumah sakit aku merasa sedih." Mata Anasya mulai berkaca-kaca. Sepertinya Anasya menahan untuk tidak menangis.


Akhirnya Budi mulai mengerti apa yang membuat Anasya memaksa pulang. "Baiklah, kita pulang sekarang." Ucap Budi mengelus kepala Anasya.


Ardella dan Nina ikut menemani Anasya kembali kerumahnya. Dengan menggunakan kursi roda, Anasya dibawa ke dalam kamar. Mereka membaringkan Anasya dengan pelan.


"Makasih, kalian datang menjengukku." Ucap Anasya senang melihat Ardella dan Nina menemaninya pulang.


"Bud. Jangan kabari kak Aoran atau mamaku kalau aku sakit. Aku tidak ingin mereka cemas." Ucap Anasya pada Budi.


"Oke. "


Sepanjang hari Ardella dan Nina menemani Anasya, sekalian merawat Anasya dirumah. Semua kebutuhan Anasya dipenuhi oleh Ardella dan Nina, begitu juga dengan Budi selalu memantau keadaan Anasya.


Hari mulai sore.


Ardella tidak bisa berlama-lama dirumah Anasya. Karena itu Ardella merundingkan alasannya harus pulang. Nina sendiri tidak masalah kalau Ardella lebih dulu pulang, dia memutuskan untuk menjaga Anasya dan menginap malam ini.


"An, aku pulang dulu ya." Ucap Ardella ragu-ragu. Ardella sebenarnya tidak punya hal yang penting mengharuskan dia pulang. Tetapi mengingat bahwa dia berada dirumah Aoran membuatnya tidak nyaman.


"Apa kamu tidak bisa menginap disini." Tanya Anasya pelan.


"Maaf." Wajah lesuh terpanjar diwajah Ardella. "Besok pagi aku akan datang lagi." Senyum Ardella memastikan bahwa dia akan menjenguk Anasya lagi.


"Baiklah, aku tidak bisa memaksa. Kamu diantar Budi pulang ya Ar."


"Ok."

__ADS_1


Budi dan Ardella keluar dari kamar Anasya. Setalah tiba dimobil. Budi mulai menyalakan mesin mobil.


"Sepertinya ada yang tertinggal." Gumam Ardella merasa barangnya berkurang. Mengingat kembali, tas bekal makanan yang diberikan Robin tertinggal dikamar Anasya. Bisa-bisa Robin kesal kalau aku bilang kotak bekalnya tertinggal. Pikir Ardella konsekuensinya.


"Kak Bud, Barangku tertinggal. Tunggu sebentar ya kak, aku akan mengambil barangku dengan cepat" Ardella bergegas kembali keatas.


Menaiki anak tangga tanpa menggunakan lift karena terburu-terburu, Ardella salah masuk kamar.


Kamar kosong, Anasya dan Nina tidak ada. Saat ini Ardella berada dikamar Aoran.


"Apa aku salah masuk kamar." Gumam Ardella ketika melihat kamar kosong.


Ardella melihat sekitar kamar. Eh. Apa ini kamar Aoran bren*sek itu. Masih sempat memaki Aoran dalam pikirannya. Rasa penasaran Ardella tentang Aoran mulai muncul. Dia membuka tirai yang berada disudut ruangan.


Srekkk.


Ruang kamar terlihat terang, cahaya masuk lewat kaca jendela. Saat berbalik Ardella melihat kamar Aoran penuh dengan buku-buku di rak. "Ini kamar atau perpustakaan sih." Ucap Ardella sendiri.


Kamar Aoran sangat kaku tidak bernuansa, seprai hitam, tanpa ada bunga di atas meja. Semua berwarna gelap. Ardella menggelengkan kepala. "Seperti pemiliknya, kamarnya sangat suram." Tidak sadar langkah Ardella berjalan mengelilingi kamar Aoran.


Dipojokan didekat rak buku, sesuatu tergantung ditutupi dengan kain putih. Ardella yang melihat penasaran. Tangannya meraih kain itu.


Deg.


Mata Ardella terbelak, mengeritkan dahinya Ardella menatap lebih dekat, pandangannya tanpa berkedip melihat lebih tajam lagi. Sebuah lukisan yang tergantung membuat Ardella heran.


Dia mengambil lukisan itu, kemudiaan tangannya menyentuh wajah yang terlukis didalamnya. "Ini Aoran, aku dan disampingku inikan Ririn temanya Robin. Kenapa kami bisa disini" Ardella tidak percaya dengan apa yang dilihat. Lebih memperhatikan lagi, Ardella melihat tanggal lukisan itu dibuat.


Tertera tanggal lukisan, tempat dan nama Robin sebagai pelukisnya.


"Lima tahun yang lalu di samosir." Pikir Ardella keras.


Prankkk.


Ardella tidak sengaja menjatuhkan lukisan itu, kaca bingkai terpecah berserakan di bawah kakinya. Berjalan mundur Ardella tiba-tiba merasa takut. Tangannya mulai gemetar.


Dia berjalan mundur, menjauh dari lukisan itu, tidak sengaja dia menabrak lampu tidur di atas meja dekat kasur. Suara lampu terjatuh mengejutkan Ardella sekali lagi. Dia berbalik. Serpihan kaca berserakan lagi dibawah kakinya.


Dibawah serpihan kaca bola lampu, ada kotak ikut terjatuh karena tersenggol oleh tangan Ardella. Dengan pelan Ardella berjongkok, mengambil kotak itu.


Perlahan Ardella membuka kotak itu, mendapati kalung liontin bertuliskan namanya sendiri. "Kalung ini." Ardella meneteskan air mata. Meski belum mengingat sepertinya Ardella merasa hatinya sakit.


Tap, tap, tap.


Seseorang sepertinya berjalan mendekati arah kamar Aoran. "Ardella." Panggil Aoran melihat tangan Ardella memegang dan menggantungkan liontin itu di depan mata Ardella sendiri.


"Aoran."

__ADS_1


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung


__ADS_2