
Menjelang pagi Ardella bangun dari tidurnya seketika itu dia mengingat ajakan kakaknya untuk pergi ketaman, dia bersiap-siap lebih awal karena tak ingin kakaknya menunggu lama dirinya.
Di cermin Ardella beridiri dan melihat dirinya sudah rapi dengan mengenakan jaket berwarna toska rambutnya terikat rapi. Walau wajahnya tak terlalu ceria tapi Ardella berusaha untuk terlihat baik-baik.
"Sudah siap dek." Tanya Batara yang baru datang dari arah ruang tengah membuka pintu kamar Ardella, pakaiannya terlihat rapi mengenakan kemeja bercorak garis biru dan diikuti dengan Lisa dari belakang membawa tas.
"Dek Robin, tolong jaga Aldo selama aku tidak dirumah." Kata Lisa meminta tolong pada Robin sambil berjalan keluar dari rumah.
"Ok kak,Β Aldo aman denganku." Senyum Robin memberikan isyarat ok pada kedua jarinnya.
Mereka berangkat menaiki mobil berwarna hitam yang telah pakir didepan rumah, tujuan mereka sebenarnya kerumah sakit, namun sebelum kerumah sakit mereka membawa Ardella ketaman agar suasana hati Ardella lebih baik. Ardella yang didalam mobil sesekali melihat kearah samping jendela dan menikmati perjalanan, sedangkan Lisa duduk disamping Ardella memperhatikan keaadannya.
Ckittt,,,.
Mobil berhenti menandakan tujuan telah sampai, Batara mematikan mesin mobil kemudian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ardella.
"Kita sudah sampai." Ucap Batara membukakan pintu tersenyum pada Ardella.
Ardella menurunkan kedua kakinya dari mobil, perlahan dia keluar dan melihat ke arah taman, seperti yang dikatakan kakaknya udara pagi ditaman memang sejuk.
"Mau keliling dulu dek." Ucap Lisa berada disamping Ardella.
"Iya kak." Ucapnya senyum tipis.
Sepanjang jalan taman Ardella melihat sebagian orang bersepeda, bahkan didengarnya musik bagi mereka yang sedang olah raga senam, tepat ditengah taman terlihat ada kolam kecil didalamnya ada ikan-ikan yang tengah asik berenang. Ardella berjalan menuju ke kursi taman yang letaknya tepat berada dekat kolam kecil dan duduk sambil melihat seorang anak kecil yang tengah asik bermain layangan, senyum Ardella terlihat menikmatinya, begitu juga Batara dan Lisa yang dari tadi memperhatikan Ardella lega.
Batara dan Lisa saling melirik-lirik memberikan kode satu sama lain cara membawa Ardella kerumah sakit tanpa diketahui maksud dan tujuan mereka membawanya kerumah sakit.
"Mas gimana kita cara bilangnya sama Ardella." Ucapnya berbisik pada suaminya.
"Tunggu sebentar, mas pikirkan dulu." Membisikkan kembali.
"Ok, ok, ok." Ucap Lisa.
Cara membawa Ardella kerumah sakit memakan waktu hampir setengah jam, Batara mendekati Ardella dan duduk disampingnya sedangkan Lisa berada dibelakang mereka.
"Hari ini rupanya kakak ada janjian dengan seorang teman, apa Ardella mau ikut kakak sebentar menemui teman, gk lama kok setelah ini kita langsung pulang." Ucapnya meyakinkan Ardella.
"Iyah kak." Melihat kakaknya dan berbicara dengan lembut.
***
Di rumah sakit
Setelah memakirkan mobilnya Batara menuntun dari depan menuju keruangan dokter Andre, Ardella berjalan didampingi oleh Lisa. Setelah berjalan melewati beberapa ruangan akhirnya mereka sampai di depan pintu ruangan dokter Andre, Batara mengetuk pintuk terlebih dahulu hingga terdengar suara dokter Andre dari dalam mempersilahkan mereka masuk.
__ADS_1
"Andre apa kabar." Suaranya akrab bagaikan teman lama, Batara mengedipkan matanya memberikan kode.
"Baik bro." Mengikuti sandiwara tertawa lepas serta melakukan tos persahabatan.
"Siapa kedua gadis cantik ini." Tanya dokter kembali pura-pura tak mengenal Lisa temanya.
"Yang ini istriku namanya Lisa dan yang ini adikku namanya Ardella." Menunjukkan Lisa dan Ardella.
Berbincang begitu lama sambil menikmati teh, banyak cerita yang mereka lontarkan, suara tawa antara Batara dan dokter terdengar sangat asik, dokter mulai mengambil celah untuk mengajak Ardella berbicara.
"Ardell kan (Memastikan), sepertinya dari tadi aku perhatikan kamu sedikit cemas, apa yang kamu cemaskan." Tanyanya dengan hati -hati.
"Tidak ada dokter." Ucap Ardella.
"Bagaimana kalau aku buat kamu rileks sebentar." Kata dokter.
"Terima kasih dokter, tapi tidak usah." Menolak dengan sopan.
"Jangan takut Ardella ini hanya sekedar buat kamu rileks sebentar, aku tulus menawarkannya." Ekspresi yang terlihat kecewa atas penolakan Ardella.
Batara dan Lisa hanya mendengarkan perbincangan mereka dan tidak ikut campur didalamnya bahkan membujuk Ardella pun tidak dilakukannya mereka menyerahkan semuanya pada dokter Andre. Karena tak enak hati menolak terus permintaan teman kakaknya, Ardella mengiyakan begitu saja.
Dokter membawa Ardella keruang hipnoterapi, didalam ruangan terlihat bersih, dindingnya bercorak putih, suasana saat pertama kali masuk sedikit terasa nyaman.
"Berbaring lah disini." Kata dokter menunjukkan ke kursi terapi.
"Coba kamu rilekskan dulu tubuhmu." Menberikan bantalan kecil dan kain putih sebagai penutup tubuh Ardella.
"Setelah rileks kamu hanya akan mendengarkan suaraku, saat kamu mendegar suara lonceng burbunyi kamu akan merasa rileks. "Ucap dokter kembali.
Teng,,, teng,,, teng.
Bunyi lonceng kecil dibunyikan oleh dokter. Ayunan lonceng terdengar lembut. Ardella mulai merasa bola matanya berat seakan mengantuk, perlahan matanya mulai terpejam, tubuhnya yang dari tadi kaku terlihat rileks.
Dokter yang duduk disampingnya telah bersiap dengan memegang alat tulis untuk mencatat setiap bagian memori dan perkataan Ardella. Melihat pengobata Ardella mulai berjalan, Batara dan Lisa juga ikut duduk disebuah sofa yang tidak jauh dari Ardella.
"Nama kamu siapa." Tanya dokter masih sederhana.
"Ardella Dyandi Putri."
"Usia." Tanya dokter
"19 tahun."
"Ardella Dyandi putri apa kamu bisa melihat dirimu dimana?. Jika iya coba kamu ceritakan kenangan apa yang membuatmu bahagia saat melihat dirimu." Sambil mencatat setiap ucapan Ardella.
__ADS_1
"Aku sedang berada di pangkuan mama, kemudiaan kak Batara datang dari arah pintu dan memberiku boneka barbie berwarna pink, karena aku suka gaun yang dikenakan boneka barbie yang terlihat indah. Mama menjahitkanku gaun indah seperti barbie, gaun yang dijahitkan mama kupakai saat kami pergi bertamasya sekeluarga. Waktu itu aku sangat bahagia bersama mama, papa dan kak Batara." Wajahnya yang tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya, kenangan bahagia semasa dia kecil untuk terakhir kalinya sebelum ibunya meninggal.
"Selain itu apa ada hal yang membuat lebih bahagia."
"Aoran Fritsch." Terdiam dalam pikirnya.
"Siapa Aoran Fritsch." Tanya dokter.
"Dia kekasihku. Awalnya kupikir dia aneh karena selalu mengikutiku, tapi karena dia selalu mengikuti aku mulai terbiasa dengannya. Aku selalu bahagia didekatnya. Hatiku mulai berdegup kencang untuknya. Setiap hari dia selalu disampingku. Dia juga selalu mendengarkan kesedihanku dan menghiburku. Waktu malam festival aku dan dia menjadi sepasang kekasih, aku bahagia untuk pertama kalinya seseorang mencintaiku." Mengingat kenangannya bersama Aoran.
"Apa kamu bahagia." Tanya dokter Andre.
"Iya aku sangat bahagia." Jawab Ardella.
"Apa kamu ingin kembali kemasa itu."
"Iya." Ucap Ardella.
"Bayangkanlah kamu disana sekarang, kamu akan merasa bahagia." Menunggu beberapa menit saat Ardella masih dibawah alam sadarnya.
"Ardella ketika kamu mendengar suara lonceng berbunyi kamu akan kembali sadar."
Teng,,,, teng,,, teng.
Suara yang membangunkan Ardella. Saat matanya terbuka Ardella melihat kelangit-langit perasaan bahagia masih terasa dibenaknya, wajahnya juga terlihat lebih cerah daripada sebelumnya.
"Kakak." Melihat kearah kakaknya dan berusaha bangun dari kursi terapi.
"Iyah ini kakak." Memeluk adiknya dan menahan air matanya mendengar kenangan yang diceritakan oleh Ardella.
Batara menyuruh Lisa membawa Ardella terlebih dulu kembali ke mobil, sedangkan dia masih tinggal diruangan untuk bicara dengan dokter tentang kondisi Ardella.
"Dokter bagaima kondisi adikku." Tanya Batara.
"Sekarang ini yang bisa kita lakukan adalah membuatnya sedikit merasa bahagia agar otaknya tidak terkejut mengingat langsung kenangan pahitnya, jika kita langsung mengarahkan kekenangan yang menyakitinya kemungkinan dia akan syok dan keadaannya bisa lebih parah." Penjelasan dokter serius.
"Aku percayakan semuanya pada dokter. Tolong sembuhkan adikku." Ucap Batara.
"Aku akan berusaha, kalau bisa bawalah Ardella sering-sering kesini agar aku lebih memahami kondisinya." Ucap dokter Andre.
"Baik dokter." Ucap Batara.
Penjelasan dokter membuat Batara lebih bertekad untuk menyembuhkan Ardella dari traumanya.
πππ
__ADS_1
Bersambung