Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Selamat Tinggal


__ADS_3

Rumah.


Sekian lama akhirnya Batara dan Robin kembali kerumah. Melepaskan rindu Batara dan Lisa berduan dikamarnya, sedangkan Robin yang telah berdiri dikamarnya merasa senang. Kamarnya masih sama saat terakhir kali dia pergi. Semua terlihat rapi dan bersih. Iyah semua itu dilakukan oleh Ardella, setiap hari jika merindukan Robin dia selalu berdiam dikamar Robin, membersihkan dan merapikan kamar Robin sedikit menghilangkan kerinduannya.


Selesai Lisa menyambut kehadiran suaminya, dia bergegas berbelanja kepasar, membeli banyak bahan-bahan masakan. Kali ini dengan semangat Lisa membuat masakan lezat sebagai pesta kembalinya Batara dan Robin kerumah.


***


Siang hari.


"Ibu, kami pulang." Ucap Aldo bersama dengan Edward dan Erwin.


Batara yang saat ini berada diruang tengah berdiri, dengan tersenyum dia menatap anak-anaknya dari jarak jauh, ketiga anaknya sadar akan kehadirannya.


"Ayah." teriak mereka serentak memeluk Batara.


"Ayah, kami rindu." Ucap Edward memeluk Batara.


"Iya, Erwin juga." Edward dan Erwin langsung naik kepangkuan Batara. Aldo sebagai anak tertua menunjukkan sikap dewasa.


"Ayah juga rindu kalian." Membalas pelukan kemudian mencium pipi mereka.


Edward dan Erwin aktif bertanya tentang ayahnya yang pergi begitu lama.


Mendengar suara ribut dari luar, Robin keluar, dia mulai turun dari anak tangga. "Paman Bin." Panggilan Robin yang dibuat oleh Edward dan Erwin.


Robin tersenyum, berjalan mendekat kearah mereka. "Paman rindu kalian." Ucap Robin mengelus keduanya.


Semua kembali ke sediakala, tawa sekarang memenuhi seisi rumah.


Sekitar jam 12.00 wib siang hari.


Mereka duduk diruang makan. Jam makan siang sudah tiba, tetapi mereka masih menunda untuk makan, alasannya ingin menunggu kedatangan Ardella.


Begitu lama menunggu Ardella bahkan belum kembali, berapa kalipun Batara atau Lisa menghubungi Ardella, panggilan tidak masuk. Akhirnya mereka melanjutkan makan siang tanpa Ardella.


Hari semakin gelap, bertanda malam akan tiba tapi tetap saja Ardella belum juga pulang. Batara, Lisa dan Robin menunggu dengan cemas. Dengan mondar-mandir Batara berada diluar rumah, sesekali dia melihat kearah jalan. Ketika mendengar suara tapak kaki, Batara langsung memperhatikan jalan, siapakah gerangan yang datang. Ternyata tetangga sebelah, dia datang mengambil sisa pakaiannya yang belum diantarkan oleh Lisa.


Sementara Ardella yang sedang bersama Aoran, seperti yang telah disepakati, Ardella harus memuaskan Aoran untuk hari ini.


"Kemana kita akan pergi." Tanya Ardella ketika baru keluar dari ruang ganti.


Disebuah butik, Aoran dan Ardella mengganti pakaiannya. Aoran yang menunggu diluar mengenakan kaos putih, di bagian luar kaos itu bertuliskan I LOVE YOU berwarnah pink.


"Apa harus kita memakai baju couple." Tanya Ardella sekali lagi.


"Iya. Kamu sudah berjanji akan melakukan apaun yang aku inginkan hari ini." Saut Aoran.


Keduanya memakai baju couple, Aoran yang biasanya mengenakan jas terlihat asing dimata Ardella ketika melihat Aoran memakai baju kasual. "Tidak seperti biasanya, sekarang dia terlihat manusia normal dari biasanya." Gumam Ardella menatap lekat kearah Aoran.


"Hari ini ayo kita ke taman bermain." Ucap Aoran tersenyum menggandeng tangan Ardella.


"Oke." Menurut.


***


Taman bermain.

__ADS_1


Suasana sangat ramai, di taman bermain banyak sekali wahana permainan. Aoran dan Ardella melihat-lihat permainan apa yang ingin mereka naiki.


"Ayo kita naik itu." Tarik Aoran menggandeng erat tangan Ardella.


Menggelengkan kepala Ardella menolak permintaan Aoran. "Aku tidak berani, kamu saja aku tunggu disini." Ardella menahan tangan Aoran.


Permainan yang ditunjukkan Aoran yaitu permainan halilintar, permainan itu berputar mengelilingi taman bermain diatas udara, suara teriakan menyertai permainan itu.


"Jangan takut, ada aku." Tarik Aoran kembali.


Dengan tiket dua, Aoran dan Ardella menunggu giliran. Tangan Ardella masih erat memeggangi tangan Aoran. "Bagaimana kalau ada kerusakan alat, terus kita terjatuh." Ucap Ardella. Dia masih ragu untuk naik, berusaha membujuk Aoran.


Aoran malah membalas dengan senyum, wajah Ardella yang takut membuatnya terhibur. "Sekarang giliran kita." Ucapnya menaikkan Ardella kekursi permainan itu. Aoran tepat berada disamping. Mereka dibantu oleh petugas untuk mengaitkan sabuk pengaman.


Ardella meraih tangan Aoran. "Aku sangat takut." Suara getarnya menjadi lebih lucu ketika wajahnya menjadi pucat.


Drekk, drekk, drekk.


Sepertinya permainan akan segera melaju.


Syunggggg.


Teriakan Ardella sangat keras, sampai akhir dipermainan suara Ardella terdengar serak karena berteriak dari tadi.


"Huhuhu, aku gk bakal mau lagi naik permainan ini." Ardella merasa pusing, dia merengek tidak mau naik lagi selamanya.


"Aku beli minum dulu, tunggu disini." Aoran dalam keadaan biasa-biasa saja.


"Oke."


Ketika Aoran pergi meninggalkan Ardella ditengah taman, dua orang laki-laki mendekat, dan meminta nomor hp Ardella.


Kedua laki-laki itu pergi. "Cowoknya ganteng banget lagi." Ucap mereka sambil berjalan menjauh. Sadar bahwa mereka bukan apa-apa dibandingkan Aoran.


"Lepaskan, mereka sudah pergi. " Menepis tangan Aoran dari pundaknya.


Seharian penuh Ardella dan Aoran menghabiskan waktu ditempat taman bermain. Setidaknya selagi bermain bersama mereka menikmatinya. Meski kadang suasana canggung, Ardella tetap berusaha mengikuti kemauan Aoran.


***


Malam hari.


Batara dan yang lainnya masih menunggu Ardella pulang.


"Ardella pasti baik-baik saja mas. " Ucap Lisa.


"Ardella tidak bisa dihubungi, aku hanya khawatir sesuatu terjadi dengannya." Sautnya cemas.


Puas ditaman bermain, Aoran dan Ardella mencari tempat yang tenang, dan tempat itu yaitu sebuah pantai yang tidak terlalu jauh. Ditepi laut itu, Ardella dan Aoran duduk di atas pasir. Keduanya melihat kearah ombak laut.


Suasana menjadi hening, dibawah langit gelap mereka duduk bersampingan, tidak ada yang memulai pembicaraan. Hanya suara deru ombak bersahutan didalam kehingan Ardella dan Aoran.


"Ardella." Panggil Aoran lembut. "


"Iyah."


"Aku ingin menceritakan sebuah kisah. Bolehkan." Tanya Aoran melihat Ardella.

__ADS_1


"Mmm."


Aoran menggambarkan dirinya kedalam cerita. Menceritakan kehidupannya sebelum bertemu dengan Ardella, kemudiaan menceritakan pertemuannya bersama Ardella, sampai akhirnya terpisah dan dipertemukan kembali.


Kisah cinta itu belum berujung, Aoran bertanya pada Ardella bagaimanakah seharusnya kisah cinta itu berakhir. "Menurutmu apa yang harus dilakukan oleh pangeran itu agar sang putri kembali padanya." Tanya Aoran. Dia mengibaratkan dirinya seorang pangeran dan Ardella seorang putri dicerita itu.


Ardella bingung harus menjawab apa. "Mungkin mereka tidak ditakdirkan bersama, sebaiknya pangeran itu merelakan sang putri bersama laki-laki lain." Jawab Ardella.


"Takdir." Gumam Aoran kecil. "Kamu betul, seharusnya aku sudah tahu jawabannya." Ucap Aoran.


Kamu benar Ardella, mungkin kita tidak ditakdirkan bersama, mungkin caraku selama ini salah, dan karena itu kamu sekarang membenciku. Ardella jika bukan aku yang bisa membuatmu bahagia, aku rela melepaskanmu. Aku tidak akan egois lagi. Berbahagialah Ardella. Batin Aoran menatap kearah langit.


Tes.


Air matanya terjatuh, hatinya terasa sesak jika harus merelakan Ardella pergi. Aoran sendiri tidak merasakan bahwa dirinya sedang meneteskan air mata.


Ardella yang duduk disamping Aoran bingung harus berbuat apa. Ketika begini Aoran terlihat rapuh, tapi ketika dia berulah terlihat seperti iblis.


Pada akhirnya Ardella tidak melakukan apapun, pandangannya hanya pada ombak laut.


"Sudah malam sebaiknya kita pulang." Aoran bangkit berdiri, dia menepuk celananya agar pasir terjatuh dari celananya.


"Oke."


Ardella ikut bangkit, mengikuti Aoran dari belakang. "Ahhh." Kaki Ardella terkena serpihan batu. Ardella menatap kakinya, rasa perih terasa diujung ibu jari kakinya.


Mendengar suara Ardella, Aoran berbalik. "Kamu tidak apa-apa." Tanya Aoran memeriksa kaki Ardella.


Deg.


Ardella merasa tidak asing, sesuatu samar-samar didalam ingatannya. Didalam ingatannya sosok seorang laki-laki melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Aoran saat ini.


"Masih sakit." Tanya Aoran membersihkan luka Ardella dengan sapu tangannya, Aoran membalut kaki Ardella dengan sapu tangan itu.


Sejanak Ardella melamun. "Siapa pria yang ada dingatanku, kenapa aku tidak bisa melihat wajahnya." Tanya Ardella dalam hati.


"Apa kamu bisa berjalan."


Ucapan Aoran membuyarkan pikiran Ardella. "Iya, aku bisa berjalan sendiri." Ardella melewati Aoran. Dengan kaki pinjang dia berjalan pelan.


Tap, tap, tap.


Aoran menyusul dengan cepat, menarik tangan Ardella hingga terjatuh kedalam pelukannya. "Muach." Ciumnya hangat.


"Dasar,,,."


"Tanda perpisahan, setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu lagi." Ucap Aoran menyela Ardella.


Ardella yang tadi ingin marah menjadi mereda. Melihat bahwa Aoran tulus dengan ucapannya dia hanya diam menatap Aoran yang ada didapannya.


Pertama kali bertemu denganmu, aku sungguh telah jatuh cinta. Sulit bagiku untuk tidur ketika aku tidak melihat dirimu didalam mimpiku. Tapi hari aku harus menghapus dirimu didalam hidupku. Itu tidak mudah untuk kulakukan tapi aku harus bisa agar kamu bahagia.


Ini akan menjadi akhir cinta kita. Mungkin cintaku tidak terlalu tulus sehingga yang diatas tidak menjawab doaku.


Selamat tinggal Ardella.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2