
Pagi sekali seluruh keluarga berkumpul di pelabuhan, mereka memberangkatkan Leli untuk melanjutakan sekolahnya. Disana terlihat kesedihan dimata ibu tiri Ardella karena melihat putri kesayangannya pergi, dia memeluk Leli dan mengatakan untuk jaga diri, sedangkan ayah Ardella sibuk merapikan barang bawaan Leli.
"Ibu, aku pasti akan merindukan kalian semua." Peluk Leli ibunya.
"Ibu juga pasti akan merindukanmu sayang." Ucap ibunya membalas pelukan Leli.
"Leli hamya pergi untuk menuntut ilmu, dia juga akan masih kembali, jadi jangan menangis." Ucap ayah Ardella.
"Ayah. Leli juga pasti akan rindu ayah." Ucap Leli.
"Ayah juga. Sebaiknya kamu segera masuk. Kapalnya sebentar lagi akan berangkat. Jaga dirimu baik-baik selama berada dikota."
"Baik ayah." Kata Leli mencium tangan ayah Ardella.
Akhirnya Leli masuk ke dalam kapal. Kapal berjalan, Leli yang berdiri melambaikan tangannya.
Sambil melambai-lambaikan tangan ayah Ardella mengucapkan. "Belajar yang giat nak." Teriaknya dengan keras.
"Sudah jangan menangis, ayo kita pulang." Ucapnya menenangkan Sherlin.
Sekembalinya dari pelabuhan, ayah Ardella memberikan uang kepada Ardella untuk modal berkebun, ayahnya berjanji hasil panenya akan diberikan untuknya sebagai tabungannya selama berada didesa. Dengan modal yang diberikan ayahnya. Ardella memulai pekerjaannya dikebun.
Perjuangan Ardella tidak mengenal lelah ataupun mengeluh. Setiap hari dia belajar berkebun, merawat tanamannya dengan baik. Kehidupannya sebagai gadis remaja tidak terlalu indah, setiap hari hanya pulang kerumah dan bekerja dikebun.
Ardella tidak mempermasalahkan keadaannya, dia juga tidak pernah berhayal untuk menjalin hubungan khusus dengan seorang pria. Berada dikampung Ardella selalu mendapat lamaran dari seorang pria didesanya. Tidak ada satupun yang membuat hati Ardella gemetar, semua lamaran ditolak dengan alasan bahwa dia belum ingin menikah.
Satu tahun berlalu, kini saatnya Ardella melanjutkan studinya. Dia begitu bahagia karena hasil panennya lumayan banyak, setelah selesai memanen ayahnya lah menjualnya ke pasar.
Dikarenakan pengeluaran ayahnya begitu besar dan kekurangan uang, tanpa persetujuan Ardella hasil panennya dikirimkan kepada Leli untuk membayar uang kuliahnya.
Ketika itu Ardella mempertanyakan uang hasil panennya kepada ayahnya, dengan santainya ayahnya mengatakan bahwa uang itu telah dikirimnya ke Leli.
__ADS_1
"Ayah. Bukannya hasil panen telah terjual semua. Bisakah Ardella sendiri yang menyimpan uangnya untuk biaya kuliahku nanti." Ucap Ardella dengan ragu.
"Uangnya telah habis. Ayah kekurangan uang, karena itu ayah mengirimkan pada Leli untuk memenuhi kebutuhannya dikota dan membayar uang kuliahnya. Jika ayah ada uang, aku akan menggantinya." Ucap ayah Ardella.
Mendengar itu Ardellla merasa terpukul, selama setahun dia menabung, siang dan malam dia berusaha untuk mendapatkan hasil panen yang bagus, bahkan dia tidak segan belajar cara berkebun dengan orang lain, dia juga tidak lagi menyalahkan keputusan ayahnya, tapi masih tetap juga ayahnya lebih mementing kan ibu tirinya dan Leli.
"Kenapa harus uang hasil panenku, ayahkan tahu itu tabungan untuk Ardella." Ucap Ardella.
"Uangnya sudah terpakai. Kan ayah sudah bilang akan menggantinya." Kembali membentak Ardella.
Pertengkaran antara Ardella dan ayahnya mulai terlihat, Ardella yang kesal mengacuhkan ayahnya, bahkan Ardella tidak melakukan pekerjaan rumah. Setiap pagi Ardella bangun cepat, kemudiaan pergi kerumah Ririn. Terkadang mengikuti Ririn bekerja, hampir setiap hari Ardella pergi dari rumah dan selalu bersama Ririn. Ririn tahu betul situasi yang dialami Ardella, dia selalu mendengar curhatan Ardella.
Setiap kali Ardella merasa sedih atau ingin mengukapkan perasaanya Ririn dan Robin menjadi tempat curahan hati Ardella, mereka pun mendengarkannya, Ardella sangat tertutup terhadap orang asing tapi selalu terbuka terhadap kedua temanya itu.
Melihat tingkah Ardella semakin hari semakin menyebalkan, ibu tirinya mulai kesal, biasanya Ardella yang mengerjakan pekerjaan rumah, tapi sekarang Ardella bahkan tidak menyentuh pekerjaan rumah dan membuat ibu tiri Ardella terpaksa melakukan pekerjaan rumah.
Ibu tiri Ardella kemudiaan mengadu kepada ayah Ardella bahwa sekarang Ardella tidak membantunya pekerjaan rumah.
"Nanti aku akan menasehati Ardella setelah dia pulang." Ucap ayah Ardella.
Sepulangnya Ardella, ayahnya sudah duduk diruang tengah menunggu Ardella pulang sambil menonton. Ardella yang baru pulang dari rumah Ririn masuk dan melewati ayahnya.
"Ardella, darimana saja kamu. Setiap hari kerjaanmu hanya keluyuran tidak membantu ibumu sama sekali." Kata ayahnya menghentikan langkah Ardella.
Ardella mulai mengangkat suara. "Selama ini aku yang mengerjakan semuanya, jadi bukanya aku yang membantunya tapi aku lah yang mengerjakannya." Kata Ardella dengan lantang.
"Ouhh,,, kamu mulai berbicara kasar pada ayah. Merasa hebat hanya karena uangmu ayah pakai." Ucap Ayahnya.
"Apa ayah tau, bagaimana Ardella menghasilkan uang itu, setiap pagi Ardella bangun pagi-pagi sekali menyelesaikan semua pekerjaan dirumah, tidak menunggu ayah untuk mengajari cara bertanam, tapi Ardella selalu berusaha belajar dengan bertanya pada orang-orang bagaimana cara memananam, membashi hama dan mengurus tanaman. Dengan teganya ayah memberikan uangku pada Leli."
"Ayah tahu, tapi ayah butuh uang, tidak salahnya kamu membantu sedikit."
__ADS_1
"Jika untuk kebutuhan ayah, Ardella pasti ikhlas, tapi Ayah malah mengirim uang untuk Leli, Seharusnya wanita itu yang bekerja keras untuk mencari uang biaya kuliah anaknya, tapi dia hanya menghabiskan uang dan berbelanja dengan mewah. Ayah dibutakan dengan sandiwara wanita itu." Ucap Ardella panjang lebar.
Perkataan Ardella menyinggung perasaan ayahnya. Tidak terima dia menjelek-jelekkan istrinya.
"Uang ayah juga habis karena menghidupi kamu, kalau kamu tidak ada mungkin akan mengurangi bebanku." Suara marah dan membentak Ardella.
Ayahnya yang sedang marah tidak sadar ucapannya menyakiti Ardella.
Dengan sedih Ardella mengatakan. "Kapan terakhir ayah membeli baju baru buat Ardella." Matanya mulai sanyu, air matanya tertahan, dengan sedih dia mengatakan pada ayahnya bahwa selama ini dia tidak memperhatikannya.
Ayahnya tidak mengalah sedikit pun malah membentak Ardella.
"Diamlah. Tutup mulutmu. Ayah mulai tidak tahan melihat sikapmu."
Ardella terdiam sejenak, kaget dengan ucapan ayahnya.
Ketika itu ayah Ardella mengusirnya pergi dari rumah karna tidak mendengarkan perkataanya. "Jika kamu tidak suka dengan cara ayah, silahkan kamu pergi dari rumah." Ucapnya kembali.
Dengan lantang Ardella mengatakan bahwa ayahnya tidak punya hak untuk mengusirnya, karena rumah ini adalah peninggalan ibunya.
"Rumah ini adalah milik ibuku. Yang harus pergi bukanya aku, melainkan wanita itu." Tatapan dingin penuh kemarahan Ardella menunjuk kearah Sherlin.
Sherlin sangat syok melihat Ardella tidak takut pada ayahnya. Dia berdiri melihat kearah mata Ardella seperti api berkobar.
Sama halnya dengan ayah Ardella juga tidak menyangka dengan ucapan Ardella. "Dasar anak tidak tahu diri, sudah besar malah melawan terhadap orang tua, mulai besok jangan pernah makan ataupun minum dirumah ini, semuanya ini masih hasil keringatku." Kata ayah Ardella memperingatkan.
Ardella tidak terkejut sama sekali, perlakuan ini juga pernah terjadi padanya, dia memutuskan untuk tidak bergantung diri pada ayahnya. "Baik." Ucap Ardella ketus.
Setelah pertengkaran terjadi Ardella pergi ke belakang rumah, dibersihkannya belakang rumah kemudiaan membuat sebuah dapur kecil, Ardella punya uang sedikit hasil dia bekerja saat bersama Ririn dan Robin, kemudiaan dia membeli beras. Sedangkan untuk alat dapur dia menggunakan barang bekas digudang yang hampir lama tidak terpakai. Mulai dari sekarang Ardella akan berusaha mandiri.
πππ
__ADS_1
Bersambung