
Robin mulai menceritakan pertengkaran Ardella dengan ayahnya. Selama pertengkaran Ardella harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri begitu juga pertemuaan Ardella dengan Aoran mulai masuk kedalam cerita Robin. Semua tentang Aoran yang diketahui oleh Robin diceritakan pada Batara, namun satu hal yang tidak diketahui Robin yaitu sejauh mana hubungan Ardella dan Aoran.
"Dimana sekarang Aoran laki-laki baj**gan itu." Ucap Batara penuh kemarahan.
"Tidak tahu kak, kami hanya tahu Aoran seorang turis asal jakarta tapi untuk selengkapnya aku juga tidak tahu kak." Ucap Robin.
"Aneh kenapa Ardella tidak mengucapkan nama Aoran sedikit pun, apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Ardella bahkan tidak menyebut nama Aoran." Kata Batara sambil berpikir.
"Atau mungkin ada sesuatu yang tidak kami ketahui dengan Ririn antara Aoran dan Ardella kak." Ucapnya balik menyahut perkataan Batara dan ikut berpikir.
"Sudahlah mas nggak usah dipikirkan, sebaiknya sekarang kita berusaha untuk membuat Ardella melupakan kesedihannya." Kata Lisa.
"Kamu benar Lis, yang penting Ardella harus bisa melupakan Aoran dan kembali ceria lagi." Ucap Batara.
Makan malam pertama antara Batara dan Ardella bersama setelah sekian lama tak bertemu, mereka berkumpul bersama dimeja makan.
"Tante." Panggil Aldo anak Batara usia 6 tahun.
"Hai." Menggendong Aldo dipangkuannya.
"Siapa namamu." Tanya Ardella mencubit kecil hidung Aldo.
"Aldo." Ucapnya imut.
"Sini biar ibu yang gendong, kasihan tantenya." Mengambil Aldo dari pangkuaan Ardella.
"Tidak apa kak." Ucap Ardella.
Saat mulai makan Ardella merasa perutnya tidak nyaman, bau makanan membuatnya mual. Hoek,,, berlari kearah toilet, Ardella mulai muntah, tenggorokannya terasa kering.
Ardella merasa malu memikirkan pandangan kakaknya terhadapnya. Ditoilet Ardella mulai mengelap pipinya yang dibasahi air mata.
Batara yang daritadi diluar pintu kamar mandi menunggu. "Dek kamu baik-baik saja." Ucap Batara.
"Ardella baik-baik saja kak."
Kembali kemeja makan Ardella dan Batara melanjutkan makan malam, baik Robin maupun Lisa kakak iparnya tidak bertanya, Lisa hanya memberikan lauk ke piring Ardella.
Saat malam tiba waktunya untuk istirahat, mereka masing-masing pergi kekamarnya. Ardella mulai beranjak kekamarnya dan membaringkan tubuhnya, perlahan dia menarik selimut dan mematikan lampunya. Ketika matanya mulai terpejam dia mendengar suara aneh dalam pikirannya.
Gugurkan anak haram itu,,,gugurkan anam haram itu,,, gugurkan anak haram itu.
"Tidakkk." Teriak Ardella keras.
Suara Ardella membangunkan Batara dan Lisa. Mereka menuju kekamar Ardella, Kondisi Ardella sangat kacau, tubuhnya Berkeringat gemetar, wajahnya pucat seakan ketakutan.
"Kumohon jangan bunuh anakku, ini salah ku, salahku kumohon lepaskan aku." Ardella bergumam dalam tidurnya, tubuhnya bergerak-gerak kakinya juga dihentakkan ke kasurnya.
"Ardella tenanglah, ini kakak." Ucap Batara menenangkan tubuh Ardella.
__ADS_1
Ardella terbangun dan melihat kakaknya disampingnya, hatinya lega bahwa itu hanya mimpi.
"Maaf kak, aku membangunkan kalian." Ucap Ardella mengelap keringat dikeningnya.
"Kakak disini jangan takut." Ucap Batara memeluk Ardella.
"Apa malam ini adek tidur bersama Ardella aja mas." Tanya Lisa.
"Tidak usah kak, Ardella baik-baik saja."
Batara dan Lisa merasa khawatir namun karena Ardella tidak mau ditemani membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sekembalinya dari kamar Ardella, Batara dan Lisa terdiam satu sama lain, apa yang dialami Ardella hingga sepanjang malam bermimpi buruk.
Keesokan paginya Ardella terlihat lelah, saat malam dia tidak bisa tidur, setiap kali matanya terpejam ingatan akan malam dimana dia diusir oleh warga desa terlintas dipikirannya, hingga Ardella selalu merasa takut memejamkan matanya.
"Kamu sudah bangun." Tanya Robin membuka sedikit celah kamar Ardella.
"Iya."
"Dipanggil kak Batara mau sarapan bareng sebelum berangkat kerja katanya." Ucap Robin kembali.
"Ok, sebentar lagi aku kesana, kamu pergi duluan." Ardella merapikan tempat tidurnya.
Batara sekarang bekerja sebagai mandor proyek pembangunan. Sedangkan Lisa istrinya bekerja sebagai seorang guru SD, Aldo anaknya Batara dan Lisa bersekolah di tempat Lisa mengajar.
Pakaian mereka terlihat rapi. "Ayo, kita sarapan dek." Ucap Batara melihat adiknya yang baru datang dari arah kamarnya.
"Baik kak."
"Nanti kalau Ardella lapar, cukup panasin sayur yang ada dikulkas terus kalau bosan dirumah kamu juga bisa nonton." Ucap Lisa tersenyum pada Ardella.
"Kak Lisa pulangnya jam berapa." Tanya Ardella.
"Mungkin sekitar jam 12, kalau kamu butuh sesuatu hubungi aja aku, nanti nomor hpnya bisa dilihat dicatatan buku telepon." Menunjukkan arah tempat telepon.
Setelah selesai sarapan akhirnya Batara, Lisa dan Aldo berangkat. Tinggal Robin dengan Ardella dirumah. Robin merasa bingung melakukan apa selama berada dirumah.
"Kita mau ngapain ya dirumah." Tanya Robin berebah di sofa.
Ardella hanya terus berjalan tanpa menghiraukan pertanyaan Robin. Prankk,,, suara ribut dari dapur. Ardella yang sedang menyuci piring dan merapikan meja. Robin menuju dapur dan melihat Ardella sedang merapikan meja kemudian ikut membantu.
"Kubantu ya La." Kata Robin mengambil sebagiaan piring ditangan Ardella.
Sepanjang hari Robin dan Ardella membersihkan rumah. Ketika pekerjaan selesai Ardella masuk ke kamar dan duduk sambil melamun, Robin berusaha mengajak Ardella untuk berbicara hal yang menarik selama berada dikota. Semua kata dan perbincangan yang Robin lontarkan tidak membuat Ardella berbicara, dirinya hanya diam dan duduk, pandangannya kearah jendela, pikirannya terlihat kosong.
Robin yang melihat Ardella berusaha untuk menghiburnya. "Semua yang terjadi biarlah terjadi, jangan dipikirin lagi nanti kamu jadi sedih." Ucap Robin duduk dikursi dekat kasur Ardella.
"Rob, kamu gk merasa kalau aku ini memalukan." Tanya Ardella.
"Gk kok, aku gk merasa kamu memalukan, kami akan selalu mendukungmu, kalau ada yang ingin kamu katakan katakan aja jangan disimpan dihati."
__ADS_1
"Robin makasih." Ucap Ardella.
Walau Ardella berbicara, namun tetap tidak membuka hatinya untuk bercerita masalahnya, semua masalah disimpan dalam hatinya, semakin lama hatinya semakin lemah.
Ketika Lisa pulang dilihatnya rumah bersih dan tertata rapi.
"Siapa yang beresin rumah Dek." Tanya Lisa pada Robin melihat sekeliling rumah.
"Aku dan Ardella kak, karena gk ada kerjaan kami beres-beres rumah." Ucap Robin senyum.
"Ardella memangnya sudah baikan." Tanya Lisa kembali.
"Dari tadi setelah siap bersihin rumah, Ardella cuman dikamar, sudah kuajak bicara namun Ardella tetap diam." Jawab Robin.
Mendengar penjelasan Robin, Lisa merasa ikut sedih dengan keadaan Ardella.
Sore hari.
Batara pulang dari tempat kerjanya, dia mendapati istrinya sudah sibuk menyiapkan makan malam.
"Udah pulang mas." Kata Lisa.
"Iyah. Ardella mana Lis." Tanya Batara.
"Dikamarnya mas."
Langkah Batara menuju kearah kamar Ardella. Tok,,,tok,,, tok suara ketukan pintu kamar.
"Dek, kakak masuk ya." Ucap Batara.
Dibukannya pintu namun Ardella tidak berada ditempat tidurnya, Batara panik dan mencari-carinya disekitar kamar, Batara mendengar suara dibawah kolong tempat tidur, dibungkukkannya badan dan dilihatnya Ardella tertidur sambil menangis.
Diraihnya tubuh Ardella dan diangkatnya ke atas tempat tidur, wajah Batara terlihat sedih melihat keadaan adiknya, tangannya mengelus kepala Ardella seakan ingin menggantikan kesedihan Ardella padanya. Sentuhan Batara membuat Ardella terbangun.
Dengan mata lembam Ardella meraih tangan Batara. "Kakak. Mereka ingin membunuh anakku." Ucap Ardella menangis.
"Siapa dek." Batara yang berbicara lembut dan tanganya mengelus kepala Ardella dengan lembut.
"Orang-orang itu kak, bagaimana kalau mereka menemukanku disini, mereka akan datang dan menyuruhku menggugurkan anakku." Menyentuh perutnya dengan wajah gelisah.
"Disini kamu aman, tidak ada yang akan datang untuk menyakitimu dan keponakanku, kakak janji akan menjaga kalian berdua. Ardella tidak perlu cemas." Ucap Batara memeluk adiknya dengan hangat.
"Sungguh kak."
"Iyah, Bersihkan dirimu setelah itu kita makan malam bersama." Ucap Batara dengan senyum.
Ntah apa yang dipikiran Ardella membuat sikapnya sedikit aneh, apakah trauma yang membuatnya berpikiran bahwa orang dari desa akan datang untuk menyakitinya lagi.
💔💔💔
__ADS_1
Bersambung.