
Tes, tes, tes.
Air mata Aoran terjatuh, air mata yang tidak ingin ditunjukkan pada Ardella. "Anakku, anakku, anakku." Ucap Aoran dalam benaknya. Dengan kesedihannya dia tidak dapat menahan lagi. Tatapannya berubah menjadi kepedihan, kelopak mata yang sedari tadi terangkat tiba-tiba menurun. Ardella tertegun melihat sosok Aoran yang ada dihadapannya, serasa satu orang dua kepribadiaan.
Aoran masih menatap Ardella, tangannya mencekam bagian bibir Ardella. "Dia pernah mengatakan bahwa aku dengannya punya anak ." Ardella bertanya dalam pikirannya. Ingatannya juga kembali kepada Anasya, bahwa Aoran salah orang. Dengan begini Ardella yakin bahwa Aoran masih menganggap dia sebagai wanita yang dia cari.
Apa gunanya aku mengatakannya, sekarang kamu bahkan tidak mengingatnya. Sampai ingatanmu kembali, aku tidak akan mengatakannya, biarlah kamu sendiri yang mencari tahu. Aku akan tunggu sampai ingatanmu kembali Ardella, dan lihat apa yang akan kamu perbuat setelahnya.
Ardella terpaku kembali, raut wajah Aoran menjadikannya diam, dia tidak meronta ketika melihat air mata Aoran, Ardella seakan pasrah dicekik oleh Aoran. Aoran mulai melonggarkan tangannya dari leher Ardella. Sudah cukup baginya memperlihatkan dirinya sesungguhnya.
Tatapan ini, aku tidak suka. Benci wajah ini, tatapan ini juga. Semuannya kubenci. Aoran menarik Ardella berdiri, kemudian menyeret Ardella keluar dari pintunya. Melempar Ardella keluar. Sekali lagi Ardella terbanting.
Parto kaget, dia mematung dan melihat keduanya. Sebaiknya tidak usah berbicara. Jangan menjadi racun dalam situasi berbahaya.
Mengerutkan kembali dahinya, merapatkan bibirnya, Aoran berdiri dihadapan Ardella. "Mulai sekarang, wanita ini tidak boleh masuk keruanganku." Ucap Aoran berteriak kepada karyawan lain. "Siapapun yang membiarkannya mendekati pintu ini, mereka akan dipecat." Ucap Aoran kembali.
Ardella melihat kesekeliling, beberapa orang menatapi dan mencibirnya. Awalnya Ardella hanya ingin bertanya masalah gajinya, tapi semua sudah terjawab. "Apa salahku, sehingga menerima perlakuan ini." Ketika Ardella bertanya dengan apa yang menimpanya.
Aoran kembali menutup pintunya. Sedangkan Ardella diluar masih duduk dilantai, dia masih ingin menenangkan hatinya, kakinya keram dan tidak sanggup langsung berdiri. Sedikit memijit kakinya, Ardella berusaha untuk berdiri kembali.
"Kamu baik-baik saja." Ucap Parto ingin membantu Ardella berdiri. "Maaf, aku hanya bawahan disini, tidak bisa membantumu." Ucap Parto kasihan pada Ardella, dilihat dari segi manapun Ardella terlihat gadis baik-baik dan sederhana, berbicarapun selalu sopan terhadapnya.
Terdiam, Ardella hanya bisa terdiam saat ini. Dia berjalan meninggalkan ruangan Aoran.
Saat Ardella telah pergi, tinggal Parto yang masih berada diluar. Masih menunggu Aoran untuk memberi perintah.
"Parto." Teriak Aoran memanggil.
Dengan cepat Parto menyahut. "Iya Bos." Dari luar Parto sudah menyahut Aoran.
"Siapkan mobilku." Ucap Aoran.
"Kita mau kemana Bos." Jadwal Aoran hari ini tidak ada meeting dengan klien, kemanakah rencana Aoran pergi. Perasaan Parto buruk.
"Kantor polisi, sepertinya sudah saatnya aku bertemu dengan kedua Baji**an itu." Sautnya bernadakan geram.
"Baik Bos."
Keluar dari gedung perusahaan, Aoran pergi menuju kantor polisi.
Parto yang sedang menyetir, mengamati Aoran dari kaca spion depannya, lama mengamati, Parto kembali beralih fokus menyetir.
Ckitt.
__ADS_1
Tiba dikantor polisi.
Aoran masuk kedalam kantor polisi, langkahnya menuju ke sel Robin dan Batara ditempatkan. Dia sangat agresif dalam berjalan, bahkan mata tajamnya tidak merunduk sama sekali.
Aoran sudah melihat dari kejahuan sel Batara dan Robin, dilihatnya keduanya sedang duduk manis dan berbincang-bincang. Dia mendekat dan berdiri di depan sel Batara dan Robin.
Saat itu Robin langsung berlari menuju Aoran, tangannya berusaha menarik kerah leher Aoran. Tidak bisa menjangkau Aoran, akibat besi jeruji yang menjadi pembatas mereka. Aoran melempar senyum tipis.
"Bre**sek." Teriak Robin meronta dalam sel. Sedangkan Batara masih memperhatikan sosok laki-laki yang ada dihadapannya. Dia berdiri menatap tubuh Aoran dari atas sampai bawah.
"Apa kabar, sudah lama tidak bertemu." Ucap Aoran dengan bernadakan meledek Robin dan Batara. "Bagaimana rasanya dipenjara." Tanyanya tersenyum tipis.
Oh, betul. Sekarang aku tahu, laki-laki ini lah yang membuat adikku sedih. "Apa kau Aoran." Tanya Batara dengan ekspresi datar.
Aoran menyempitkan bibirnya, sesekali mengusap dahinya, memperhatikan sekujur tubuh Batara. Ah, rupanya seperti sapi wujudmu, pikir Aoran. "Akhirnya kita bertemu Batara." Panggil Aoran dengan tidak sopan.
"Apa maumu." Sekali lagi Batara bertanya. Dia ingin langsung kepokok intinya, tanpa harus basa-basi.
"Hahaha." Aoran tertawa tanpa jelas. "Hanya satu, katakan dimana kalian mengubur anakku." Ucapnya kembali sinis.
"Oh, hanya itukah yang ingin kamu ketahui." Saut Batara dengan sepele. "Kenapa? apa kau marah." Ucapnya kembali.
Apa ini, bahkan tidak ada wajah penyesalan padanya. "Tidak, aku ingin mengirim kalian semua keneraka." Aoran membanting tangannya kejeruji sel. Amarah bangkit dengan ekspresi Batara.
"Hahaha." Tawa Batara mengikuti Aoran. Memancing Aoran lebih marah, Batara tertawa lebih keras, keras, dan keras lagi.
Parto mulai gemetar, suasana mulai dingin. "Bos, ini dikantor polisi, tenanglah." Menenangkan Aoran.
Tertawalah sepuasnya, setelah ini akan kubuat kalian menangis darah. Dalam hati Aoran mengutuk. "Aku akan membuat kalian membusuk dipenjara." Ucap Aoran tegas. Dia berbalik badan, kakinya mulai melangkah pergi.
"Aoran. Satu yang ingin kukatakan. Kau tidak pantas menjadi seorang ayah dan tidak pantas untuk Ardella." Ucap Batara dengan tatapan rendah. Kamu mana pantas menjadi seorang yang berada disisi Ardella. Seharusnya kamu memohon terlebih dahulu karena mengingkari janjimu, kau hanya mementingkan perasaanmu sendiri, kata yang ingin diucapkan Batara.
Aoran terhenti, dia berbalik kembali. Dia mendekati seorang petugas polisi yang sedang duduk. "Keluarkan mereka." Ucap Aoran dengan gaya sinisnya.
"Maaf tuan, saya tidak bisa." Bantah petugas dengan tegas. Dia tidak berani, karena bukan wewenangnya untuk membuka kunci seorang tahanan.
Dengan koneksi Aoran, tidak butuh lama baginya untuk membuat petugas polisi terancam. Petugas polisi itu tidak berani lagi membantah ucapan Aoran. Petugas polisil berjalan dan membuka kunci sel. Sedangkan Aoran membuka jasnya, menarik dasinya, dia meregangkan otot-ototnya. Bahkan, tangannya dikepal dengan erat.
Batara tahu apa yang diinginkan oleh Aoran. Baiklah akan kuladeni dengan senang hati.
Ceklek.
Batara disuruh keluar oleh petugas polisi, begitu juga dengan Robin. Keduanya mulai keluar dari sel. Sekarang tidak ada lagi penghalang.
__ADS_1
Tap, tap, tap.
Aoran langsung beranjak mendekat.
Brukk.
Aoran langsung meninju wajah Batara. Satu pukulan membuat Batara terjatuh.
Sudah lama juga Batara ingin meninju Aoran. Hari ini dia akan mewujudkan impiannya. Batara bangkit, dengan sekuat tenaga Batara membalas pukulan Aoran.
Robin dan Parto hanya bisa menonton, melihat pertengkaran ini, mereka takut untuk melerai.
Laki-laki dewasa berkelahi, keduanya sangat agresif. Tidak cukup satu pukulan saja. Sama-sama melayangkan tinjunya.
"Kau bahkan tega membunuh keponakanmu sendiri, beraninya kau mengucapkan kata busuk itu " Ucap Aoran ketika dia menindih Batara, Aoran seperti pemegang kemenangan pertarungan, sekali lagi Aoran memukul wajah Batara.
Brukk.
Batara menendang Aoran, dia kembali bangkit, dia juga tidak berhenti begitu saja, dia langsung menyerang Aoran kembali. Memukul setiap bagian tubuh Aoran.
Dikantor polisi, Aoran dan Batara menjadi petinju yang hebat. Pertarungan mereka tidak mengenal sakit. Petinju tanpa ring, itu adalah julukan yang tepat untuk Batara dan Aoran.
Keadaanya semakin memanas, seakan ingin membunuh. Robin dan Parto mulai memisahkan mereka, salah satunya menghentikan Aoran dan lainya menghentikan Batara.
Keduanya sama-sama menepis, kembali keposisi berduet mereka berguling-guling dilantai, saling memukuli. "Dasar bre**sek. Menjauhlah dari hidup adikku." Teriak Batara, menarik kerah baju Aoran. Batara membanting Aoran. Sebagai pria dewasa dia kehilangan akal dan meladeni Aoran dengan kekerasan.
Sudah merasa lelah dengan pertengkaran, Batara dan Aoran bernapas dengan terngah-ngah. Wajah mereka sama-sama babak belur. Membiru kemerahan disekitar wajah, akibat pukulan.
***
"Kak Lisa, apa ini." Tanya Ardella ketika melihat tumpukan kain di sofa tengah.
"Ah. Ini, baju tetangga Dek. Mulai hari ini kakak mau jadi tukang cuci untuk sementara, sampai aku menemukan pekerjaan baru" Saut Lisa sedikit ragu. Setidaknya dengan jadi tukang cuci Lisa berpikir bisa mendapatkan uang, meski tidak banyak, tapi cukuplah untuk membeli keperluan sehari-hari.
"Iya Non, kami juga akan ikut bantu nyonya." Ucap Bik Ami.
"Bik Ami dan mbak Dila tidak perlu membantu. Kami sudah tidak sanggup membayar gaji Bik Ami dan mbak Dila. Jadi tidak apa kalau kalian pergi dari sini dan mencari tempat yang lebih baik." Ucap Lisa dengan lembut.
Selama bekerja dengan Batara dan Lisa, bik Ami dan Dila diperlakukan seperti keluarga. Jadi tidak tega mereka meninggalkan majikannya yang sedang kesusahan.
"Tidak nyonya, kami akan membantu. Menunggu tuan Batara kembali." Saut mbak Dila.
Dengan situasi ini, Ardella tidak ingin menambah pikirin orang rumah. Dia hanya bisa tersenyum melihat ketulusan bik Ami dan mbak Dila.
__ADS_1
💔💔💔
Bersambung