Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Sekarang Kamu Bukan Siapa-Siapa


__ADS_3

Malam hari.


Dikediaman Aoran.


Sekitar jam 9.00 wib, Aoran berada diruang kerjanya.


Menyeritkan wajah, Aoran sedang sibuk membaca dokumen yang berada diatas mejanya, sesekali dia mengetik di layar laptopnya, matanya fokus tak bergeming. Dengan pelan Anasya beranjak masuk, perlahan mendekati kakaknya yang sedang fokus. Menarik nafas, Anasya berusaha membuka pembicaraan.


"Ehem. Kakak." Panggilnya lembut.


Aoran menoleh dan melihat Anasya berdiri. Terlihat Anasya gugup, jarinya dipetik satu persatu. Anasya selama ini memang bersifat manja terhadap Aoran. Tapi dalam hal urusan kerja, Anasya tidak pernah diperbolehken untuk ikut campur.


"Iyah." Sekali menoleh Aoran kembali fokus mengetik.


"Aku dengar bahwa salah satu proyek kak Aoran mengalami masalah." Tanyanya pelan, berhati-hati berbicara.


"Mmm." Sautnya tanpa berekspresi. Aoran melanjutkan pekerjaanya.


"Kak bolehkah aku mengatakan sesuatu." Ucap Anasya lebih mendekat. Dia berusaha terlihat tenang. "Sebenarnya, Orang yang kakak tuntut itu adalah Batara dan Robin, mereka itu kakak dan kekasihnya Ardella, Kak" Ucap Anasya pelan, dia berusaha mengatakan bahwa Batara dan Robin adalah keluarga dari Ardella, keluarga dari temanya sendiri. Anasya juga menatap reaksi Aoran atas perkataannya.


Mendengar dengan sebutan Robin adalah kekasih Ardella, Aoran tersenyum tipis. "Kekasih." Gumamnya.


"Aku mengenal Batara dan Robin, mereka itu orang baik kak." Ucapnya kembali.


"Ini urusan kerjaan, sebaiknya kamu tidak usah ikut campur. Jika mereka orang baik, pasti hukum tidak akan salah." Berbicara mulai dingin. Dia menatap Anasya dengan raut tidak bersahabat. Aoran memberikan alasan beratas namakan hukum.


"Tapi kak."


"Anasya, Cukup." Tatapan Aoran mulai marah. Aoran yang tidak ingin melibatkan Anasya dalam pertarungannya, ataupun membawanya masuk kedalam dendam dihatinya.


Aoran berdiri dan meninggalkan Anasya, dia tidak ingin melampiaskan kemarahannya pada Anasya yang tidak tahu apapun. Sedangkan Anasya berdiri, mendengar suara bentakan dari Aoran, jantungnya berdebar ketakutan. Tidak pernah dia melihat kakak kesayangannya itu membentaknya, tapi hari ini adalah pertama kalinya dia dibentak.


***


Keesokan harinya.


Ardella kembali kekantor, dia merasa tidak bersemangat. Hampir jam 10.00 wib, Aoran belum datang. Dia menunggu dalam keadaan bekerja, sesekali dia melihat kearah pintu, berharap itulah adalah Aoran.


Anasya memberi kabar bahwa dia tidak bisa membantunya, karena itu Ardella sedikit cemas. Dia yang saat ini merasakan bahwa dia pun tidak akan bisa, tapi demi orang yang disayangi Ardella akan mencobanya. Dia akan berusaha berbicara dengan Aoran, kalau bisa dia akan membantu untuk membuktikan bahwa kakaknya dan Robin tidak bersalah.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu terbuka. Ardella sehentak berdiri. Melihat kearah pintu.


Orang yang datang dan masuk adalah seorang wanita. Suara langkah wanita itu melangkah mendekati Ardella, perawakannya terlihat tegas. Gayanya berjalan menunjukkan keibawaan.


"Mana dokumen-dokumen yang diberikan Bos." Ucapnya, mengulurkan tangannya, sesekali jarinya itu digerakkan.


Ardella mengingat kata-kata Aoran, bahwa Parto akan membantunya menyelesaikan pekerjaanya saat dia tidak hadir dikantor. Saat diperiksa oleh Ardella dokumen itu sama sekali belum ada yang selesai, semuanya masih sama ketika terakhir dia mengerjakannya.


" Maaf, saya belum menyelesaikannya." Sautnya pelan. Sesekali diliriknya wanita itu tampak kesal atas perkataanya. Ardella juga tidak bisa berbuat apa-apa, setengahnya pun belum diselesaikan oleh Ardella.


Wanita itu marah. "Apa kamu tidak bekerja." Ucapnya membentak. "Bukankah Bos menyuruhmu menyelesaikannya dalam 3 hari." Bentaknya keras sambil memukul meja, wanita itu menatap Ardella dengan kesal.


Memutar ingatan kembali pada saat Aoran mengatakan bahwa dia akan dibantu oleh Parto, tapi sekarang kenapa malah terjadi situsi ini. "Apa Bos yang meminta dokumen itu." Saut Ardella ingin mengetahui lebih rinci. Dia pikir akan ada perpanjangan waktu, tapi kenapa malah dia dimarahi.


"Iya. Beraninya kamu bertanya. Apa kamu pikir merasa dirimu hebat." Memeloti Ardella, tatapan permusuhan terlihat diraut wajah wanita itu. "Jadikan dirimu lebih berguna diperusahaan ini." Ucap Wanita itu jengkel, Sesekali mendorong Ardella, sedikit dorongan, Ardella melangkah mundur. Dia menerima perlakuan wanita itu begitu saja. Dia bahkan tidak tahu wanita yang sekarang dihadapannya dari depertemen apa.


"Besok pagi, harus sudah selesai." Katanya menganjungkan jari kearah mata Ardella.


"Baiklah. " Sautnya pelan.


Ketika wanita itu pergi, Ardella tersungkur duduk dilantai. Selama bekerja, dia tidak pernah ada karyawan yang menggangunya. Apakah aku sekarang tidak ada gunanya. Perasaan Ardella yang saat ini bingung.


Dia kembali bangkit, dengan mengambil kaca matanya, Ardella fokus, dengan cepat tangannya bergerak. Bahkan untuk makan siang dia kelupaan.


***


Satu-persatu karyawan beranjak pulang. Saat tersadar Ardella melihat kesekeliling, diluar juga terasa hening, bola lampu sebagian telah padam. Dia melihat kearah kursi Aoran, kemudian dialihkannya pandangannya ke layar komputer. Ardella tidak sempat memikirkan alasan Aoran tidak masuk bekerja.


"Sedikit lagi, semangat Ardella, kamu bisa." Ucapnya pada dirinya sendiri.


Tengg. Jam 11.00 wib, malam.


"Huh, akhirnya selesai juga." Ucapnya lega, sekarang semua lampu kantor padam. Tinggal lampu ruangannya yang menyala. Ardella melirik jam tangannya, sekitar jam 11.30 wib. Ardella sedikit merinding karena hanya tinggal dirinya dikantor ditengah malam. Ardella yang merasa pegal mulai mereganggkan otot lengannya, jari-jarinya sangat kaku, perlahan Ardella mengibaskan jarinya, berusaha membuat tubuhnya nyaman. Dia kembali melihat kearah luar. Dia mendengar ada suara.


Bergegas merapikan meja, Ardella beranjak keluar, dia meraih tasnya, kemudian memegang sebuah pulpen, tangannya sedikit waspada.


Perlahan dia membuka pintu. "Gelap sekali." Gumamnya. Dia merogoh tasnya, kemudian mengambil ponselnya dan menyalakan senter ponselnya.


Dengan cahaya senter ponsel Ardella kembali melangkah, dia berjalan cepat. Merasa kurang cepat, Ardella berlari menuju lift, tangannya memencet tombol berkali-kali.


Ada orang dibelakang Ardella, suara kaki mendekat kerah Ardella.

__ADS_1


Tak,,, tak,, tak.


Semakin dekat, dan semakin dekat.


Ardella mengeratkan pegangannya pada tali tasnya, tangannya sangat erat, pikirannya beralih pada hal aneh.


"Siapa disana." Teriak Ardella menoleh, dan mengarahkan pulpennya kedepan, dengan sekuat tenaga dia menusuk sosok yang membuatnya terganggu, pulpen yang ditangannya dijadikannya alat perlindungan diri.


"Bos." Ucap Ardella ketika melihat Aoran berdiri didepanya, dan tangannya menusuk dada Aoran dengan pulpen.


"Kamu pikir dengan alat sekecil ini bisa melindungimu." Sautnya menepis tangan Ardella. Lift terbuka, Aoran masuk kedalam melewati Ardella. "Apa kamu tidak masuk. " Tanyanya melihat Ardella yang masih bengong dan berdiam diri.


"Ah, maaf." Ucap Ardella, langsung masuk kedalam lift. Didalam lift udara mencekam, Aoran tidak bicara, sedangkan Ardella milirik kearah Aoran. Dia bertanya-tanya dalam hati, kenapaย  hari ini Aoran tidak datang kekantor. Dan kenapa tengah malam begini dia berada dikantor.


Beradaa diluar gedung, Aoran langsung beranjak masuk kedalam mobilnya, dia langsung menyalakan mesin mobil dan meninggalkan Ardella sendirian. Ardella yang tertinggal dibelakang tertegun. Melihat mobil Aoran telah melaju jauh.


"Ada apa ini, kenapa hatiku sedih." Suara hati Ardella berkata.


Aoran berada dimobilnya, melirik Ardella dari arah kaca spionya, terlihat Ardella lebih mengecil, dan lama kelamaan hilang dari pandangannya. Dia berhenti ditangah jalan. Hatinya seperti tidak tega meninggalkan Ardella sendirian.


Aoran dari pagi tidak datang kekantor, dia tidak mengabari Ardella bahwa dia sedang melakukan meeting dengan rekan bisnis. Dan sejujurnya, Aoran meminta karyawan wanita itu untuk datang menemui Ardella dan menagih tugasnya Ardella.


Memberi pelajaran sedikit pada Ardella, Aoran tadinya sedikit senang. Tapi ketika Ardella belum pulang, bahkan sampai tengah malam, dia sedikit cemas, dan karena itu dia kembali kekantor melihat keadaan Ardella.


Saat itu dia berdiri lama didepan pintu, dia masih melihat ruangannya terang. Dari insting logika dia tidak ingin masuk, tapi dari insting hatinya dia ingin masuk menemui Ardella. Logika dan hati berdebat. Dan keputusan Aoran mengikuti logikanya. Membuat Ardella sedikit merasakan kesusahan. Saat ini didalam mobil hal itupun terjadi, antara insting logika dan hati berdebat. Hasilnya sama, dia tidak ingin mengantar Ardella pulang.


Ardella melihat jalanan begitu sepi, dia melirik jam tangannya, Sudah larut begini, mana ada mobil yang jalan. Pikirnya dalam hati.


"Huh, jalan terbaik sekarang adalah jalan kaki." Gumamnya.


Langkahnya mulai beranjak, sesekali dia berhenti untuk beristirahat. Aoran melihat Ardella dari kejahuan, mengikutinya dengan pelan.


Satu jam setengah Ardella berjalan dari perusahaan kerumahnya. Dia begitu lega karena dia sampai dengan selamat. Semua orang didalam rumah telah tertidur, kecuali Edward yang masih terbangun dan menunggu Ardella pulang.


Saat dibukanya pintu, Edward duduk manis diatas kasur, pandanganya mengarah ke pintu.


Edward tersenyum saat melihat Ardella tantenya masuk. "Tante." Panggil Edward berlari dan memeluk Ardella.


Rasa haru melihat Edward menunggunya, dia memeluk Edward erat, air matanya terjatuh karena merasa senang. Rasa lelahnya seketika hilang saat Edward memeluknya.


Sedangkan Aoran masih berada didalam mobilnya, dia mengikuti Ardella sampai dirumah. Dia masih diam terparkir didepan rumah Ardella, pandangannya melihat kearah rumah Ardella.

__ADS_1


๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”


Bersambung


__ADS_2