Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Kejutan


__ADS_3

Hari-hari cuti.


Masih menikmati hari cuti, kegiatan Ardella masih tetap sama.


Saat cuti kegiatan Ardella yang paling berat adalah menjaga Edward dan Erwin, kedua keponakannya ini sekarang lebih aktif, ditambah lagi mereka tidak mau jauh dari jangkauan Ardella. Kemanapun Ardella ingin pergi harus membawa Edward dan Erwin.


Ardella yang sedang ingin pergi kesalon mengajak mbak Dila bersamanya, dia tidak bisa menjaga Edward dan Erwin sendirian.


"Non, kita mau kemana." Tanya Dila saat sedang berada ditaxi.


"Kesalon mbak. Aku mau potong rambut." Sautnya.


"Non, lebih cantik panjang rambut, sayang kalau dipotong." Ucapnya memberikan pendapat.


"Cuman merapikan rambut aja, gk dipotong sampe pendek kok." Kata merapikan Ardella memang hanya berencana memotong bagian ujung yang terlihat rusak.


"Tante beli mainan." Ucap Erwin.


"Ok, nanti kita beli mainan." Sautnya melihat kearah Erwin.


Setelahpun dari salon, rambut Ardella tidak ada perubahan, hanya saja bagian ujungnya yang rusak telah dipotong. Atas permintaan kedua keponakannya, mereka menuju ketoko mainan anak-anak, membeli mainan yang dinginkan oleh Edward dan Erwin.


Edward dan Erwin begitu teliti memilih mainan untuk mereka, sangking telitinya Ardella dan Dila mulai capek berkeliling. Memilihkan mainan untuk mereka sangatlah tidak mudah, sudah hampir mereka mengelilingi area toko.


"Edward, Erwin." Panggilnya dengan suara kelelahan. "Ambil mainan yang ini saja, ini terlihat bagus." Ucapnya asal mengambil mainan, rasanya yang penting selesai.


"Tante." Seru mereka bersamaan. "Edward gk mau." Wajahnya menyeritkan dahi serta nada suara kesal. "Apa lagi Erwin." Ucapnya.


Ardella menggoyang-goyangkan mainan. "Mainannya bagus kok." Ucapnya. "Lihat." Ketika Ardella melihat ke arah mainan yang ada ditangannya, dia tertawa keras.


"Heheheh." Tawanya lucu. Sedangkan Edward dan Erwin berdiri melipat kedua tangannya mengerutkan bibir sambil cemberut melirik kearah Ardella yang masih tertawa geli. "Sudah jangan mengambek. Tente tadi gk lihat kalau ini boneka barbie." Ucapnya dengan suara sedih dan menundukkan kepala. Ardella berusaha membujuk dengan cara wajah menyedihkan.


Apalah daya anak kecil, melihat tantenya yang begitu imut, dan berwajah sedih, mereka tidak bisa berlama-lama mengambek.


"Tante dimaafkan." Ucap Edward dan Erwin memeluk Ardella.


Setelah keliling, pada akhirnya tidak jadi membeli mainan. Mereka beranjak keluar dari toko mainan. Saat berjalan pulang, mereka melewati kafe. Dengan segera mereka beranjak masuk, dan memesan eskrim dengan porsi 4 orang.


Tringggg. Ponsel Ardella berbunyi.


"Hallo." Sautnya.


"Ar, kamu sekarang dimana."


"Di kafe."


"Aku kesana ya kirimkan alamat kafenya lewat chat."

__ADS_1


"Oke."


Dalam keadaan menunggu mereka menikmati es krim. Dari kejahuan sudah terlihat Anasya dan Nina berjalan masuk kearah kafe.


Ketika menanjakkan kaki di kafe, mulailah Nina dan Anasya mencari keberadaan Ardella. "Ardella." Panggil Anasya berjalan mendekati.


Nina dan Anasya meletakkan tasnya, Ardella melihat kedua temannya seperti sedang bad mood, dengan segera dia meminta pelayan kafe untuk menyediakan dua kursi untuk Anasya dan Nina.


"Terima kasih." Ucap Anasya pada pelayan yang memberikan kursi. Tak lupa juga Anasya memesan es krim untuknya dan Nina.


"Sekarang masih jam 10." Melirik jam tangannya. "Kalian gk kerja." Tanya Ardella.


"Aku minta izin keluar dari kantor sebentar." Saut Anasya santai.


"Gara-gara indentitas Anasya ketahuan, mereka sangat sungkan terhadap kami. Paling parahnya kami tidak punya kerjaan dikantor, kami asik jadi bahan cibiran. " Penjelasannya Nina yang membuat mereka terlihat bad mood.


Sadar dengan jam kantor, Nina juga berpikir bahwa Ardella juga harusnya berada dikantor. "Kamu sendiri kenapa gk kerja." Tanya Nina balik.


"Ah,, itu." Bingung dan kaku atas pertanyaan Nina.


"Aduhh, sekarang Edward sama Erwin dah gede." Ucap Anasya mencubit manis pipi mereka. Dari tadi Anasya masih berusaha meredakan kekesalannya, tapi setelah sadar ternyata disampingnya ada Edward dan Erwin, pikirannya teralihkan.


Perhatiaan pun teralihkan, Ardella dan Nina beralih pada Anasya yang menggoda-goda kecil si Edward dan Erwin.


Anasya mengingat kunjungan terakhir kali, rasanya baru kemarin dia melihat Edward dan Erwin merangkak, tapi sekarang keduanya tumbuh dengan cepat. "Padahal waktu itu kalian masih kecil." Masih gemas, dia mengelus kepala mereka.


Seketika itu Nina berpikir. "Sepertinya wajah keponakan Ardella tidak asing." Ucapnya mencoba menggali ingatannya. Sekali lagi diperhatikan lebih seksama, dilihatnya wajah Anasya, ada sedikit kemiripan dengan keponakan Ardella.


"Ar, dua anak kecil ini siapa." Barulah Nina bertanya, padahal sedari tadi dia sudah melihat Edward dan Erwin.


"Mereka keponakanku. " Jawab Ardella tersenyum.


"Kalau kuperhatikan, keponakanmu mirip ya dengan kakak Anasya." Ucap Nina tersenyum tipis.


"Wuss, jangan sembarang bicara Nin." Saut Anasya mengibakkan tangannya, dan menghalangi pandangan Nina. Sejujurnya Anasya juga saat pertama kali ketemu dengan keponakan Ardella berpikiran sama dengan Nina.


Ardella terdiam, wajahnya seperti ada perubahan, melirik keponakannya dan mengingat wajah Aoran. "Kok rasanya memang mirip ya." Ucapnya dalam hati.


Nina mulai canggung dengan ucapannya. "Hehe, bercanda kok Ar." Melihat kearah Ardella yang sedang berpikir.


"Tante, tambah es krimnya." Suara Erwin memanggil Ardella.


Ardella mendengar panggilan Erwin, dilihatnya eskrim Erwin telah habis, dia memberikan bagiannya kepada Erwin, agar tidak berantem dengan Edward, Ardella juga menambahkah eskrimnya untuk Edward.


"Non, sepertinya udah mau siang, sebaiknya kita pulang." Ucap mbak Dila, yang dari tadi duduk dan hanya mendengar percakapan.


"Aku antar kalian pulang ya." Saut Anasya.

__ADS_1


"Apa tidak merepotkan, kami bisa naik taxsi online kok." Ardella takut merepotkan Anasya.


"Tidak, lagian arah tujuan kita sama, aku dan Nina juga harus balik kekantor, meski tidak bekerja nggak enak juga bolos jam kantor. " Penjelasan Anasya.


"Oke."


***


Malam hari.


Ardella sedang duduk dikursi meja belajarnya, dia sedang mengerjakan rencana laporan magangnya, lelah duduk, dia berdiri sambil menggerak-gerakkan tangannya.


Perhatian teralihkan ketika melihat foto keluarga yang ada diatas mejanya, dia beranjak dan meraih foto. "Apa memang Benar-benar terlihat mirip." Gumamnya melihat foto kedua keponakannya.


"Huhh, apa sih yang kupikirkan." Menggelengkan kepala.


Diletakkannya kembali foto ketempat semula. Ardella melanjutkan tugasnya.


Tak,,,, tak,,, tak. Suara ketikan Ardella mulai lemah, diliriknya jam tangannya.


Sekitar pukul 10.00 Wib. Ardella menutup laptopnya kemudiaan beranjak masuk kedalam selimut hangatnya. Matanya terasa berat dan mengantuk.


Rasa haus ditenggorokan Ardella terasa walaupun sedang tertidur. Dia terbangun, masih dalam keadaan setengah mengantuk dia berjalan keluar dari kamarnya. Saat turun dari tangga ruangan begitu gelap.


"Tidak biasanya ruang tengah begitu gelap." Gumamnya meraba-raba.


Ardella berusaha menyalakan lampu.


Ceklik.


Petiknya ingin menyalakan lampu, masih tidak menyala, berulang kali Ardella mencoba, namun tetap gagal lampu masih padam.


"Robin." Teriak Ardella keras berusaha membangunkan Robin dari bawah.


Tetap tidak ada suara sahutan, meski sudah lebih tiga kali Ardella memanggil.


"Robin, kak Batara, kakak ipar, mbak Dila, Bik Ami." Panggil Ardella satu persatu orang rumah.


"Jangan-jangan ada apa-apa." Gumam Ardella saat melihat keadaan rumah begitu hening.


Mencoba sekali lagi Ardella memanggil dengan suara lebih keras. Keadaan masih hening tidak ada suara.


Ardella mulai merasa khwatir, dihatinya tumbuh ketakutan ketika melihat seisi rumah begitu gelap.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2