Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Berbeda


__ADS_3

"Lu juga baru kenal sama Ardella, karena itu gue pikir Ardella tidak terlalu penting." Kata Evan.


"Siapa lu yang memutuskan Ardella itu penting atau gk Van. Sekarang yang gue butuhkan penjelasan kenapa lu berbohong." Teriak Aoran keras.


"Ardella pergi bukan karena dijemput oleh kakaknya, tapi karena dia diusir dari desa. Itukan yang sebenarnya terjadi." Tegas Aoran marah .


"Iya." Saut Evan.


"Bre**sek lu Van." Pukul Aoran dengan keras.


Evan terbanting ke lantai, mengusap pipi kiri, Evan hanya menatap dengan kekosongan, membiarkan Aoran melampiaskan semua amarahnya. Tangan Aoran kembali meraih kerah baju Evan. Pukulan satu tidak cukup, ntah berapa pukulan yang diberikan oleh Aoran. Kemarahannya membuatnya hilang kendali.


"Kak Aoran hentikan." Anasya mulai melerai.


"Cukup Fritsch. Lu gk tahu apa yang yang gue rasain selama ini." Kesabaran Evan hilang hingga memukul Aoran balik.


Evan menindih Aoran, memberi pukulan. "Lu gk tahu gimana rasanya berada dikejadian itu, gue seperti orang pengecut melarikan diri." Evan menunjukkan ekspresi sedih. Dimatanya tertahan air mata.


Ternyata saat kejadian Ardella diusir dari desa dilihat oleh mata kepala Evan sendiri. Dia begitu takut karena melihat amukan warga. Sehingga Evan tidak bisa berbuat apapun. "Maaf Fritsch, waktu itu gue terlalu takut." Evan merebahkan diri disamping Aoran, mengadah keatas, Evan sendiri menteskan air mata mengingat kejadian itu.


Evan menceritakan semuanya, kepedihan dan kesedihan yang dia lihat dari diri Ardella. Kali ini Evan berbicara jujur. Semua detektif yang Aoran pekerjakan untuk mencari informasi tentang Ardella sebenarnya dibawah kendali Evan. Karena itu sampai sekarang Aoran tidak pernah menemukan apapun tentang kasus Ardella.


Untungnya hanya Parto yang tidak dibawah kendali Evan. Di hati Evan tentunya ada rasa bersalah, tapi semua itu demi kebaikan Aoran sendiri, pikir Evan dulu. Tapi sekarang, semua menjadi lebih kacau.


Aoran sudah tidak sanggup lagi mendengar cerita Evan. Kembali bangkit, Aoran pergi.


Rumah sakit.


Batara dan Lisa masih menunggu Ardella sadar. Aoran yang telah melangkah dari lorong menerobos masuk, memar diwajahnya bertambah, seluruh wajah Aoran dipenuhi memar. Tangannya sedari tadi dikepal, langkah kaki terseret bergetar saat mendekati Ardella yang terbaring.


Hiks. Mengusap-usap air matanya menggunakan lengannya, Aoran tersedak dengan suara paraunya. "Sekarang apa yang harus aku lakukan." Ucap Aoran memegang erat tangan Ardella.


Aoran yang terlihat frustasi, membuat Batara dan Lisa tidak tega mengusir. Mereka memberi ruang untuk Aoran berbicara didekat Ardella.


"Sayang sadarlah dan jawab aku." Suara lembut Aoran mengelus wajah Ardella. "Kamu bisa memukulku. Memakiku, lakukan semua itu. Aku akan terima. Kalau perlu aku akan berikan hidupku untukmu, kumohon kamu jangan diam." Aoran terisak menangis.


Batara dan Lisa pergi meninggalkan ruangan itu. Membiarkan Aoran melampiaskan segalanya.


Robin yang telah menunggu diluar mendengar suara tangisan Aoran. Dengan raut-raut lesuh mereka membiarkan Aoran bersama Ardella.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Kita akan merawat anak-anak kita bersama. " Jari-jari Aoran mengelus lembut wajah Ardella. Melihat Ardella terbaring, Aoran sungguh menyesal. Mencium kening Ardella, terucap janji dalam hatinya bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Ardella.


***


"Kakakku mana."

__ADS_1


Dua orang suster tampak kelelahan dengan rengekan Ardella.


"Dok, saat sadar, dia menangis mencari kakaknya." Kata salah satu suster kepada Andre yang baru datang setelah mendengar pagi ini Ardella siuman.


Seminggu berlalu akhirnya Ardella sadar. Batara yang sedang mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama dirumah sakit tidak berada diruangan. 15 menit yang lalu Aoran masih menemani Ardella, tetapi saat panggilan masuk lewat ponselnya, Aoran harus pergi sebentar karena ada hal penting dikantor.


Andre mendekat, menenangkan Ardella yang dari tadi meronta, melemparkan bantal dan selimutnya kelantai. Bergusar-gusar Ardella sangat gelisah, dirinya meringis menyebutkan nama Batara.


"Ardella." Panggil Andre lembut.


Ardella melihat Andre. "Paman besar siapa." Ucap Ardella mengerutkan bibirnya. Alis Ardella mulai melengkung, dagunya bergetar.


Ngggnggg. Menangis keras. Ardella merontakan tangannya, menepis tangan Andre dari lengannya.


Terkejut sekali, Andre spontan. "Astaga." Hentak Andre. kemudian dia menjadi kaku dan bingung.


Mata Ardella terbuka lebar tidak berkedip, melihat Andre, tangannya gemetar merasa ketakutan karena suara Andre keras. "Kakak, kakak, kakak." Ardella menghentakkan kakinya, menggelengkan kepalanya dan memanggil kakaknya.


Sejam penuh Andre menenangkan Ardella. Setelah menjalani pemeriksaan dan gejala yang ditunjukkan Ardella. Andre sekarang tahu apa yang terjadi pada Ardella.


Secepatnya Andre memberi kabar kepada Batara.


Batara, Lisa, dan Robin yang mendapat kabar langsung menuju kerumah sakit. Lisa meliburkan ketiga anaknya dari sekolah dan membawa Aldo, Edward dan Erwin mengunjungi Ardella.


Dengan rambut kepang dua, serta eskrim yang sedang dimulut Ardella. "Kakak." Tersenyum lebar dengan pipi terangkat dan tampak sedikit kerutan yang terbentuk disudut-sudut mata Ardella. Sambil menepuk-nepuk tangan, Ardella mengulurkan kedua tangannya, meminta Batara untuk menggendongnya.


Meski dalam keheranan Batara meraih tubuh Ardella. Menggendongnya di pelukannya. Ardella melingkarkan kedua tangannya dileher Batara, kemudian menghampit pinggang Batara dengan kedua kakinya.


"Paman besar itu, belikan Ardella es krim enak." Senyum Ardella setelah berada digendongan Batara.


Batara merasa bingung melihat kearah Andre. Dengan kode mata, Andre seperti memberikan penjelasan singkat.


Lisa dan Robin hanya saling menatap.


"Tante kok bertingkah aneh Bu." Tanya Erwin melihat tingkah kekanakan Ardella.


"Rambut tante aneh." Kata Edward melihat Ardella.


Mereka hanya mengikuti alur, semua berdiam. Karena sedari tadi hanya Batara yang diajak Ardella berbicara, yang lainnya diacuhkan.


Digendongan Batara. Ardella masih menikmati es krimnya. "Mau kakak belikan lagi." Senyum Batara melihat kearah Ardella.


"Mmm." Mengangguk dengan cepat membuat kedua kepangan rambut Ardella bergoyang.


"Kalau gitu, Ardella duduk dulu disini, nanti kakak bawakan eskrim yang banyak. " Menurunkan Ardella, kemudian meletakkan diatas kasur. Ardella dalam posisi duduk masih menikmati eskrim lilinnya yang hampir habis.

__ADS_1


"Gula, gula, Ardella mau." Kata Ardella


"Iyah, kakak belikan." Saut Batara.


Mereka keluar dari ruangan itu, tampak Andre sangat serius.


"Apa yang terjadi pada Ardella." Tanya Batara.


"Setelah aku periksa, dan melihat gejalanya, ada perubahan diotak Ardella. Dengan kata lain Ardella sedang berusaha bertahan." Penjelasan Andre yang belum dipahami oleh mereka.


Kemungkinan karena efek dari hipnoterapi, Ardella mengalami gejala penyakit Syndrom. Dimana pasien biasanya mengalami perubahan sifat. Karena stress berat membuat syaraf tidak berkerja normal sehingga mengalami gangguan otak. Orang menghidap penyakit ini biasanya menunjukkan gejala seperti yang dia alami oleh Ardella, meski terlihat dewasa tapi saat ini mentalnya berusia lima tahun.


Andre berusaha menjelaskan dengan sederhana agar dapat dimengerti oleh mereka.


Didalam ruangan itu, Edward dan Erwin memperhatikan Ardella.


"Tante. " Panggil Edward menarik pelan bagian bawah baju Ardella. Edward juga ikut-ikutan mendekati Ardella.


Ardella menoleh samping kiri-kanan. "Ngengggg. " Ucap Ardella terganggu melihat Edward dan Erwin.


"Tante Ardella sedang sakit, jangan ganggu tante." Aldo menarik kedua adiknya.


Melihat tantenya tidak mengenali mereka, Edward dan Erwin menangis. Suara tangisan mereka membuat mereka yang diluar masuk kedalam.


"Anak ibu kenapa menangis." Tanya Lisa kepada Edward dan Erwin.


"Tante Ardella tidak kenal lagi sama Erwin dan kak Edward." Saut Erwin masih menangis.


Batara melihat kearah Ardella. Saat dilihat oleh kakaknya, Ardella berpikir akan dimarahi.


Ngenggggg. Tangisnya lebih kencang.


Aoran yang telah menyelesaikan pekerjaanya dikantor, langsung kembali lagi ke rumah sakit.


Langkahnya mulai masuk menuju ruangan Ardella.


Cekrekkk.


Membuka pintu, Aoran melihat Ardella telah sadarkan diri. Ketika dia mendekat suasana terlihat kacau. Lisa yang sedang mendiamkan Edward dan Erwin, sedangkan Batara sedang mendiamkan Ardella.


Suara tangisan mereka memenuhi ruangan. Aoran masih dalam keadaan mencerna kondisi yang terjadi.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2