Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Mencari Tahu Tentangmu


__ADS_3

"Kak Aoran, apa rasanya masih gatal. " Tanya Ririn merasa kasihan melihat Aoran resah menggaruk bahunya.


"Iya." Ucapnya sibuk menggaruk bahunya.


Ardella ikut merasa kasihan dengan kondisi Aoran. "Sini biar kulihat." Dengan wajah lembut dan perhatiaan.


Diam menatap Ardella, Aoran menundukkan sedikit bahunya, agar Ardella bisa melihat kearah bahunya.


Sulit sekali rasanya Ardella melihat kearah bahu Aoran, dia bahkan sampai berjinjit-jinjit. "Sedikit lagi lebih menunduk." Ucapnya.


"Oke."


"Apa boleh bajunya dibuka sedikit." Ardella yang melihat kulit Aoran bentol-bentol.


Aoran mendengar perkataan Ardella bingung. "Untuk apa. Jangan-jangan kamu berusaha melihat tubuhku." Saut Aoran bercanda menggoda Ardella.


Ardella tidak terima dengan candaan Aoran, candaan seperti itu membuat Ardella merasa malu mendengarnya.


Plakk,,,. Ardella memukul bahu Aoran dengan pelan.


"Jangan bercanda, aku sedang serius." Ucap Ardella.


"Ok. Sorry." Senyum Aoran lebar.


Aoran membuka bajunya sesuai perintah Ardella. Tubuh Aoran dengan berbentuk kotak-kotak dibagian perutnya, ototnya kekar, serta kulit putihnya menambah keindahan tubuh Aoran.


Ardella dan Ririn tercengang, mereka yang tidak pernah melihat tubuh laki-laki. "Wahh, kekar banget." Ucap Ririn tercengang.


Ardella melihat tubuh Aoran sama halnya dengan Ririn, kembali sadar dengan pikirannya di menggelengkan kepalanya. "Whuss, sudah jangan dilihat lagi." Saut Ardella.


Melihat kedua gadis yang dihadapannya, Aoran merasa lucu dengan dua gadis yang masih terlihat polos dan lugu. "Sudah puas melihatnya." Aoran yang berbicara dalam keadaan menunduk.


"Menunduklah sedikit lagi." Ucap Ardella meraih bahu Aoran dan menekan lebih menunduk lagi.


Sementara waktu agar rasa gatalnya reda, Ardella membersihkan tubuh Aoran dengan sisa air minumnya. Sentuhan Ardella begitu lembut, jari-jarinya perlahan menyentuh benjolan dan menyiram air agar meredakan bengkaknya.


Deg,,,.


Jantung Aoran mulai tak terkendalikan, tubuhnya rasanya bergetar tersambar petir.


Gila, bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini, naluri laki-lakiku bangkit. Aoran membatin.


Sudah tidak tahan lagi dengan sentuhan Ardella. "Kayaknya rasa gatalnya sudah hilang, jadi tidak perlu lagi dibersihkan." Secepatnya memakai bajunya kembali.


Ardella kembali menutup botol minumannya, memasukkannya kedalam tas. Keaadan Aoran juga terlihat lebih baik dari sebelumnya. Mereka melanjutkan perjalanannya menuju pulang.

__ADS_1


Diperjalan pulang Ardella berada didepan. sedangkan Aoran dan Ririn berjalan sejajar.


Aoran mulai mencari informasi tentang Ardella melalui Ririn. "Ardella apa sudah punya pacar." Tanya Aoran langsung pada Intinya.


Ririn mendengarnya tersenyum, melihat kearah Aoran bertanya dengan sedikit kaku dan gugup. " Belum, Ardella masih jomblo kak." Ririn mengangkat alis matanya, menggoda Aoran, melirik-lirik Ardella.


Mereka berdua seakan tahu tujuan arah pembicaraan. Aoran dengan suara pelan bertanya tentang keluarga Ardella, bertanya tentang kesukaan dan hal yang dibenci oleh Ardella.


Ririn mulai menceritakan kalau Ardella tinggal bersama Ayahnya dan punya ibu tiri dan saudara tiri. Menceritakan bahwa Ardella adalah gadis yang kuat dan baik.


"Ayah Ardella tuan tanah didaerah sini, tapi semenjak ayahnya menikah lagi, kasih sayang ayah Ardella mulai hilang, karena itulah Ardella harus bekerja keras." Suara Ririn menunjukkan ada rasa sedih untuk sahabatnya.


Aoran yang mendengar cerita Ririn membuatnya mengagumi Ardella. Selama ini Aoran belum pernah bertemu dengan wanita seperti Ardella. Gadis cantik dan rupawan banyak telah ditemui Aoran, tapi gadis yang tidak takut menderita belum pernah ditemuinya.


Aoran mengingat sifat Ardella yang sangat dingin terhadapnya, bahkan terkadang Ardella mengacuhkannya. Aoran merasa penasaran dengan sifat Ardella sebenarnya. "Apa Ardella memang dari dulu orangnya dingin?, atau hanya padaku dia dibersikap acuh" Tanya Aoran.


"Tidak,,, hanya dengan orang asing aja sifat Ardella tertutup. Kalau dengan orang yang sudah dekat dengannya, Ardella kadang menunjukkan sifatnya yang keras kepala, cengeng, dan terkadang pendiam." Ririn membicarakan Ardella dengan penuh semangat.


"Ardella orang baik, tapi untuk dekat dengan orang asing sangat sulit baginya, jadi kalau kak Aoran suka dengannya sebaiknya berusaha lebih keras. " Ucap Ririn kembali mengepalkan tangannya dan memberikan semangat.


Mendengar cerita Ririn. Aoran tidak beragumen apapun. Aoran bertekad membuat Ardella nyaman terhadapnya.


Ardella sadar bahwa Aoran dan Ririn tertinggal jauh dibelakangnya. "Kalian dari tadi cerita apa. " Ardella Menoleh kebelakang melihat Aoran dan Ririn berbincang dengan serius.


"Gk ada kok. " Ririn menyusul Ardella.


"Padahal aku masih ingin berjalan lebih lama." Kata Aoran mulai mengambil jalan berbeda.


"Ouh. Ya, jangan lupa mengoleskan minyak ke bahumu, karena kalau tidak mungkin rasa gayanya akan kembali sekalian menghilangkan bentolannya." Saran Ardella melihat Aoran masih menggaruk bahunya.


Aoran yang mendengar perhatiaan Ardella membuatnya sedikit senang. "Ok. Terima kasih untuk hari ini." Senyum Aoran mulai berbalik arah dan melangkah pergi.


Ririn yangnpeka dengan wajah Aoran, tahu bahwa dia masih ingin berlama-lama dekat dengan Ardella. "Kak Aoran, besok kami mau mancing, kak Aoran mau ikut." Tanya Ririn.


"Ok,." Membalas dengan senyum.


"Kita ketemuanya di danau besok siang kak." Respon balik Ririn.


***


Keesokan hari.


Seperti yang direncanakan. Ardella dan Ririn pergi untuk memancing tidak lupa mereka juga mengajak Robin. Mereka melihat Aoran dari kejahuan, jarak diantara mereka mulai mendekati Aoran.


"Siapa cowok jelek itu?." Tanya Robin dengan suara ketus ke Ririn sambil berjalan.

__ADS_1


"Rob,,, mata kamu juling ya, masak seganteng gitu lu bilang jelek. " Tatapan meringis.


Aoran mulai melihat Robin, rasanya seperti melihat saingan. "Dia siapa. " Aoran bertanya pada Ririn dengan wajah datar, tanpa ekspresi senang.


Robin langsung memperkenalkan diri, tidak menunggu Ririn berbicara. "Nama saya Robinson cowok paling kece didaerah sini. " Menunjukkan gaya Robin percaya diri.


"Nama saya Aoran Fritsch, cowok paling tampan sejawat raya." Tidak mau kalah dengan Robin.


Robin dan Aoran beradu tatapan, diantara mereka bertarung melihat siapa yang lebih dulu berkedip. Ririn menarik Robin, menghentikan tingkah kanak-kanakan mereka.


Kapal telah tersedia untuk mereka berempat sebagai orang yang lebih berpengalaman Robin terlebih dahulu naik keperahu, diikuti oleh Ririn kemudian Ardella dan terakhir Aoran.


Robin dan Ririn sibuk mempersiapkan umpannya, sedangkan Ardella dan Aoran hanya menatap, mereka tak berbuat apa pun. Aoran sesekali melirik ke Ardella sehingga terkadang tatapan mata mereka saling bertemu, seketika itu mereka berdua sama-sama langsung mengalihkannya ke arah danau.


Berusaha menyibukkan diri. "Rob, ada yang bisa kubantu. " Tanya Ardella sambil mengambil umpan.


"Kamu buatkan umpannya ke pancing yang satu lagi." Menunjuk panjingan yang tergeletak dipapan perahu.


"Ok. "


Saat mulai membuat umpan, Ardella tidak tahu caranya, wajahnya kebingungan melihat umpan dan panjing yang ada ditangannya.


Melihat Ardella yang kebingungan Aoran sedikit tersenyum. "Berikan padaku, aku akan membantumu membuatkanya. " Mengambil panjing dan umpannya dari tangan Ardella.


"Memangnya kamu bisa?." Tanya Ardella dengan meragukan.


Aoran memperlihatkan bahwa dia bisa melakukannya. Ardella memperhatikan tangan Aoran dengan seksama, tangan Aoran sangat mahir mengaitkan umpan ke panjing.


Ternyata dia bisa. Ardella membatin.


"Umpan kalian udah siap belum. " Tanya Robin.


"Udah Rob. " Kata Ardella membalas.


Mereka berempat mulai memancing, keadaan begitu hening tak ada suara apapun.


Byurr,,,byurrr,, ,byurr pancing Ardella dan Aoran mulai bergerak-gerak ke arah sana-sini, dengan serentak mereka berempat memegang ganggang pancingnya.


"Tarik,,, tarik,,,tarik. " Kata yang sama dari mereka.


Saat menarik pancing mereka bengong, karena ikannya terlalu kecil untuk membuat mereka heboh, saling menatap sesama mereka langsung tertawa terbahak-bahak bersama.


"Haahahahahah,,, hahahah,,, hahaaha. " Sama-sama serentak


Hasil tangkapan mereka lumayan banyak, merekapun membakar ikan di tepian, sambil makan ikan mereka duduk berjejer dan menikmati pemandangan Sunshine sore.

__ADS_1


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung


__ADS_2