Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Teman Jadi Pacar


__ADS_3

Dalam tidurnya Robin gelisah, mengingat Ardella jantungnya berdegup. Robin yang matang-matang memikirkan perkataan Batara dan Lisa selama beberapa hari ini, akhirnya Robin memutuskan untuk memberanikan diri mengungkapkan perasaannya pada Ardella.


Robin yang mendatangi Ardella ke kamar Edward dan Erwin. "Aku punya 2 tiket, kamu mau gk nonton denganku." Ucap Robin gugup sambil menunjukkan tiket.


"Oke, kapan kita nontonya." Tanya Ardella bersemangat.


"Nanti malam." Ucap Robin.


"Baiklah."


Setelah bicara dengan Ardella, Robin pergi berangkat kerja bersama Batara, sedangkan Ardella yang masih libur semester, dirumah menjaga sikembar dan membantu pekerjaan dapur.


***


Malam hari.


Ardella telah bersiap-siap pergi nonton bersama Robin, dengan rambut terurai, memakai make up seadanya Ardella tetap terlihat cantik, disisi lain Robin yang mengenakan setelan kaos berwarna putih ditambah jaket jeans membuat Robin terlihat sedikit keren dari biasanya.


"Sudah siap." Robin dan Ardella sama-sama bertanya saat keluar dari kamar masing-masing.


"Udah. Kita berpamitan dulu sama orang rumah biar gk nunggu kita makan malam." Ucap Ardella menuju ruang makan.


"Ok."


Setelah berpamitan Robin dan Ardella capcus berangkat, kali ini mereka tak naik scoter melainkan naik mobil. Sebelumnya Robin telah memberitahu pada Batara tentang niatnya menjadikan Ardella sebagai kekasihnya. Batara yang mendukung rencana Robin memberikan kunci mobilnya dan mengucapkan sukses untuk Robin.


***


Bioskop.


"Tunggu disini aku belikan popcorn dan minuman untuk kita." Ucap Robin.


"Aku ikut." Ardella yang menahan Robin untuk pergi.


Popcorn dan minuman yang mereka beli dibawa masuk, duduk bersampingan, Robin merasa gugup. Sepanjang film diputar Robin bahkan tidak tahu jalan ceritanya.


Aduh, bagaimana kalau Ardella menolakku. Robin Membatin seribu kali.


Film bertemakan romantis sad ending telah selesai diputar, Ardella merasa sedih dengan akhir cerita film. Saat para penonton diharapkan segera keluar, Ardella berdiri, dilihatnya Robin yang masih duduk dengan santai tanpa beranjak sedikitpun.


"Rob, filmnya sudah selesai." Ardella yang dari tadi menyadarkan Robin yang terlihat melamun.


"Hahaha." Robin tertawa kebingungan sendiri.


"Robin kenapa, ada yang lucu." Ucap Ardella sambil mengajak Robin beranjak keluar.


"Tidak ada hanya filmnya lucu." Canggung.


"Rob, filmnya sad ending lo, apanya yang lucu." Ucap Ardella setelah berada diluar bioskop.

__ADS_1


"Kita makan dulu sebelum pulang." Ucap Robin mengalihkan perhatiaan dan pembicaraan Ardella.


"Oke."


Setelah makan malam dilanjutkan dengan berjalan ditaman, Robin sengaja membawa Ardella ketaman agar suasanannya sedikit sejuk, duduk dikursi taman sambil menikmati secangkir kopi Ardella dan Robin berbincang-bincang. Ekspresi Robin tanpak gelisah, mengutarakan isi hatinya sangat sulit.


"Sebenarnya kamu kenapa Rob, dari tadi kayaknya kamu gk fokus deh." Tanya Ardella melihat kewajah Robin.


"Ada yang ingin kukatakan, tapi janji jangan membenciku setelah ini." Robin yang mengangkat tangnyanya dan membuat janji kelingking pada Ardella.


"Janji." Mengaitkan kelingkingnya pada Robin.


"Ardella aku suka kamu, jadilah pacarku." Ucap Robin keras secara tiba-tiba dan melihat ke arah Ardella.


Rasanya pengen sembunyi. Robin membantin.


Ardella bengong, masih belum mencerna perkataan Robin.


"Kalau ditolak juga gk apa." Ucap Robin melihat Ardella.


"Bukan itu maksudku, aku masih belum mengerti maksud Robin." Kata Ardella pelan.


"Aku cinta kamu Ardella, aku ingin mencintaimu sampai tua, bersamamu menjalani hari-hariku." Memegang tangan Ardella dan mengucapkan kata Romantis dengan lembut.


Ardella masih diam, baginya Robin memang baik, tapi selama ini untuk menjadi sepasang kekasih dengan Robin tak pernah terlintas dipikirannya.


Robin merogoh saku jaketnya diberikan sebuah kalaung ketangan Ardella. "Kalau kamu setuju jadi pacarku, aku ingin kamu memakai kalung ini, tapi kalau masih tetap menjadi temanku, kamu bisa simpan kalung ini sebagai tanda perteman kita." Ucap Robin memberikan kalung yang telah disiapkan beberapa hari ini.


Didalam mobil diantara Ardella dan Robin menjadi canggung, sunyi sepi menemani mereka, melihat keadaan, Robin memutar musik agar memecah kesunyiaan.


Tiba dirumah mereka langsung berjalan ke kamar masing-masing, melewati ruang tengah Batara dan Lisa melihat tingkah mereka.


Heran melihat Ardella dan Robin berjalan seakan tak ada arah. "Mereka berdua kenapa." Tanya Batara pada Lisa. .


"Mungkin gk bberhasil Mas." Ucap Lisa.


Huh, Ardella yang berbaring dikasurnya sambil merentangkan tangannya, kepikiran dengan ucapan Robin dia kembali duduk dan mencari kalung yang diberikan Robin didalam tasnya. Dia beranjak ke kaca, melalui kaca dia melihat 2 kalung, satu bertuliskan nama Aoran yang tetgantung dilehernya dan yang satunya bertuliskan nama Robin yang tergantung di jarinya.


***


Keesokan pagi.


Sarapan telah terhidang di meja makan, bik Ami mulai sibuk menghidangkan makanan, mbak Dila juga sibuk sedang mengurus sikembar. Aldo, Batara dan Lisa yang telah duduk dengan pakaian rapi menunggu kedatangan Ardella dan Robin.


Robin yang dari arah kamar menuju meja makan, matanya menghitam seperti mata panda karena tak tidur semalaman memikirkan jawaban Ardella.


Tap,,,Ardella juga menuju ruang makan.


Dia tak melihat kearahku. Ardella membatin.

__ADS_1


Selama sarapan Robin tak melihat Ardella, pandanganya selalu dialihkan ketempat lain. Begitu juga sampai sepulang kerja, Robin melewati Ardella tanpa melihat sedikitpun.


"Robin maunya apa sih." Gumam Ardella kesal melihat Robin yang dari tadi acuh padanya.


Robin yang didalam kamar merasa sedikit malu pada dirinya, mengacuhkan Ardella bukan berarti benci melainkan takut akan penolakan dari Ardella.


"Robin." Ucap Ardella suara besar sambil mengendor pintu.


Ceklek.


Dengan wajah menunduk Robin membukakan pintu. Melewati Robin yang masih berdiri,Β  Ardella tanpa segan masuk kekamar Robin.


"Rob, lihat aku." Ucap Ardella sambil menyilangkan tangannya.


Dengan ragu Robin melihat kearah Ardella "Banarkah yang kulihat, apakah itu jawabannmu." Ucap Robin melihat kalung yang diberikannya dikenakan oleh Ardella.


"Mm, iya ini jawabanku." Senyum Ardella menganggukkan kepalanya.


Rasa senang Robin memeluk Ardella erat. "Terima kasih Ardella, aku akan mencintaimu sepenuh hatiku." Kata Robin penuh Romantis.


"Aku juga akan berusaha lebih mencintaimu lagi." Kata Ardella memeluk kembali Robin.


Sejak tadi Batara yang berdiri dibalik pintu mendengar percakapan mereka. "Kalian sedanga apa." Batara yang memisahkan pelukan mereka.


"Tidak ada kak." Ucap Robin gugup ketika melihat Batara.


Ardella berdiri dan melihat bagaimana Robin akan mengatakan hububungan mereka kepada kakakknya.


Oho, tidak mau jujur, pikir Batara kembali Pura-pura tak tahu. "Lalu kenapa kamu memeluk Ardella." Menarik tangan Ardella hingga berdiri disisinya.


Dengan malu Robin mengatakan. "Mulai hari ini aku dan Ardella pacaran kak." Ucap Robin pelan.


"Ah pacaran." Suara Batara keras.


Kemarin kak Batara setuju, tapi kenapa dia terlihat marah didalam pikiran Robin.


"Iya." Ucap Robin gemetar.


"Hahahahah." Puas menertawai Robin yang ketakutan. "Aku setuju kalian pacaran, tapi ingat kalian pacaran yang sehat." Ucap Batara kembali garang.


"Siap kak,." Ucap Robin bersemangat. "Aku akan menjaganya dan tak membuatnya menangis." Kembali berkata dengan senang.


"Bagus,,, bagus,,, bagus. Laki-laki memang harus seperti itu." Batara menepuk bahu Robin dan memujinya.


Hari ini Ardella yang dulunya sahabat Robin menjadi pacarnya.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2