
Hari berikutnya.
Semua kembali seperti semula. Menjalani kehidupan masing-masing. Pepatah mengatakan jika karena mengalami hal terpuruk membuat dirimu lebih kuat, maka bagi Ardella merasa semuanya tidak masalah, asalkan dia masih berada dekat dengan orang dia sayangi.
Jika untuk sementara diriku kehilanganmu, maka aku akan terima dengan lapang dada. Tapi kumohon jangan pergi lebih lama lagi. Mungkin aku akan berubah lebih buruk dari ini. Aoran membiarkan Ardella bernafas untuk sejenak, dia tidak mengganggu Ardella untuk sementara waktu.
***
Pagi hari.
Tak,, tak,,, tak. Suara langkah Aoran mengitari lapangan golf.
Seperti biasa Aoran selalu melakukan olahraga kecil. Halaman taman di kediaman Aoran begitu luas, disekitar perkarangan rumah terdapat lapangan golf seluas tiga ribu meter. Lapangan beralaskan rumput hijau dan beratapkan langit biru menjadi tempat santai bagi Aoran. Terkadang Aoran menghabiskan waktu bermain golf ketika waktunya senggang. Dipagi hari Aoran selalu memanjakan diri dengan udara sejuk dari luasnya lapangan. Dia juga tidak pernah lupa mengitari lapangan golf dengan langkah kakinya.
Dengan bercucuran keringat, nafas terengah-ngah. Aoran mengambil nafas untuk putaran ketiga kalinya. Sesekali Aoran berhenti, pikirannya selalu kembali mengingat wajah Ardella, langkahnya terhenti ditengah lapangan. Aoran sudah tidak berniat lagi untuk berlari. Aoran merebahkan dirinya diatas rumput hijau. Melihat keatas langit, dia merasa kacau dengan dirinya.
Sepasang mata menatap Aoran yang berebah diatas rumput. Aoran ditemani seorang pengurus rumahnya. Dia berdiri tegap sambil memegang handuk kecil, dan sebotol minuman.
Dari kejahuan Anasya juga memperhatikan kakakknya itu. Dia masih menatap lekat Aoran yang terbaring dilapangan. Dengan secangkir teh, serta setumpuk tangkai mawar merah diatas meja. Anasya duduk dikursi taman, sesekali melirik Aoran, Anasya juga menyibukkan tangannya merangkai bunga mawar yang ada didepannya.
Aoran merasa tubuhnya kembali bugar. Dia kembali bangkit, langkahnya beranjak mendekati laki-laki yang sedari tadi menunggunya dengan posisi berdiri tegap dipojokan lapangan. Mengambil botol minuman dan handuk kecil. Laki-laki itu menatap Aoran sangat lama.
Glekk.
Aoran menghilangkan rasa hausnya dengan sebotol air mineral. Aoran melirik kearah laki-laki itu, ekspresi itu sudah dikenal baik oleh Aoran. Dengan cepat laki-laki itu menundukkan kepalanya ketika Aoran membalas tatapannya. "Bicaralah. " Ucap Aoran memberikan izin untuk bertanya padanya. Aoran memberikan kembali botol minuman dan mengambil handuk kecil dari tangannya.
Perlahan Aoran mengelap keringat di bagian lehernya, kemudian diikuti dengan lengannya.
"Hari ini kamu tidak seperti biasanya." Ucapnya dengan pelan. Biasanya Aoran terlihat fokus, dan tidak pernah berhenti berlari ditengah lapangan. Hal aneh baginya ketika melihat Aoran berhenti dan berebah di lapangan.
Laki-laki yang berbicara dengan Aoran adala pengurus rumah kepercayaan keluarganya. Dia adalah anak dari pengurus sebelumnya, karena kedua orang tuanya sudah tua, dia lah yang meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai pengurus dan penjaga rumah mendiang nenek Aoran.
Sejak kecil Aoran sering memanggilnya Budi Pekerti. Namanya Budi, tapi Aoran yang dulu jahil sering menambah nama Budi menjadi Budi Pekerti. Aoran merasa panggilan itu sangat cocok untuk sifatnya. Budi anak yang rajin, sopan, suka membantu orang tua dan suka menabung tentunya.
__ADS_1
Setiap mimik wajah Aoran setidaknya sedikit dimengerti oleh Budi. Dulu sekali saat masih kecil saat datang mengunjungi neneknya di indonesia, Budi menjadi teman bermain untuk Aoran.
Tujuh tahun yang lalu nenek Aoran meninggal. Dan Budi lah yang menjaga dan merawat rumah dengan baik. Sampai pada akhirnya Aoran kembali ke indonesia dan menetap dirumah neneknya.
"Aku tahu kamu akan bertanya hal itu, kamu sama sekali tidah berubah." Senyum Aoran dengan menatap Budi dihadapannya sambil menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa seorang laki-laki muda seperti Budi begitu taat dan patuh dengan peraturan yang dibuatnya. Dia tidak menjelaskan suasana hatinya pada budi.
Aoran beranjak kembali ke arah rumah meninggalkan Budi dibelakangnya. Dengan langkah kecil dia tiba di taman dekat halaman depan rumah. Aoran melihat Anasya yang sedang sibuk merangkai bunga, Aoran menghentikan langkahnya dan ikut duduk dikursi sebelah Anasya. "Dek, bunganya terlihat jelek." Ucapnya memegang tangkai bunga mawar yang telah tersusun rapi di dalam vas. Aoran hanya ingin membuat lelucon kecil untuk Anasya.
Anasya diam, tidak termakan dengan candaan Aoran. Tangannya masih sibuk memotong duri di tangkai mawar.
Aoran melihat Anasya, suasananya sedikit canggung diantara mereka. "Sekarang katakan, apa yang membuat adik kesayanganku seperti ini." Aoran mencubit pipi Anasya yang sedari tadi cemberut.
Sudah hampir seminggu Aoran mengacuhkan Anasya, bahkan Akhir-akhir ini Anasya sering dibentak oleh Aoran. Penyebab semua ini masih hal sama. Yaitu masalah keluarga Ardella, karena setiap hari Anasya hampir memohon untuk berbelas kasih pada Batara dan Robin, dan beberapa kali juga Aoran marah, bahkan tidak segan membentak Anasya. Karena itu tidak sulit bagi Aoran sadar menebak prilaku Anasya yang saat ini cemberut.
"Hari ini aku ingin nonton, sebaiknya aku pergi dengan siapa. Apa aku ajak Budi aja." Aoran berbicara sendiri, matanya kembali mencari-cari keberadaan Budi. Aoran hanya tahu Anasya suka nonton, dia berusaha membujuk Anasya agar berbicara dengannya.
"Kakak." Saut Anasya dengan nada tinggi. Dia meletakkan guntingnya. Membentuk pipi gembul di wajah cemberutnya.
"Kenapa." Pura-pura tidak tahu, Aoran bersikap biasa melihat kearah Anasya.
Yahh, Dengan senyum hangat, Aoran melihat respon Anasya. Sudah lama juga Aoran tidak memperhatikan Anasya. Setelah diingat kembali selama Anasya berada di indonesia jarang sekali dia mengajak Anasya keluar dari rumah. Senyum Aoran kembali sirna dari wajahnya, sesuatu membuat hati terganjal dengan perasaan kosong dan sesuatu yang kurang dihatinya.
Kalau saja ini dijerman, dan jika saja dia masih ada diantara kita mungkin saat ini kita akan lebih lengkap, dan pastinya lebih menyenangkan bersama seperti dulu. Aoran membatin.
Aoran kembali terpasang dengan wajah senyum karena melihat adiknya yang dari tadi berbicara tanpa henti.
***
"Ponsel sudah ada. Surat lamaran kerja juga sudah. Apa lagi yang belum." Ardella didalam kamarnya berbicara sendiri sambil memeriksa isi tasnya. Semua barang-barangnya sudah lengkap didalam tasnya, dia menenteng tasnya dibahu kirinya. Sedikit merapikan kembali rambutnya didepan cermin.
"Dek,,,, sarapan. " Teriak Lisa dari bawah.
"Iya kak, aku turun sekarang." Saut Ardella.
__ADS_1
Sejak subuh Lisa sudah memasak, karena sendirian Lisa memakan waktu cukup lama untuk masak. Biasanya dia dibantu oleh bik Ami dan Dila. Tapi mulai dari sekarang dan kedepannya Lisa sendiri yang akan melakukan pekerjaan rumah. Setelah apa yang terjadi, Lisa meminta Bik Ami dan Dila untuk pergi meninggalkan rumahnya. Dia sudah tidak sanggup menanggung gaji bik Ami dan Dila. Meski mereka tetap ingin membantu, Lisa tidak tega membiarkan mereka bersamanya ikut menderita.
Ardella dengan pakaian rapi turun dari atas menuju ruang makan. Saat tiba dia melihat Ketiga keponakannya dengan berpakaian rapi duduk berjejer menunggunya. "Pagi baby." Kecupan morning dipipi Edward dan Erwin.
"Pagi tante." Saut mereka memberi kecupan dipipi Ardella sambil tertawa kecil. Melihat senyum mereka Lisa merasa senang karena sejak Batara dan Robin berada dipenjara, suasana rumah hampir redup tanpa suara tawa, tapi dengan berjalannya waktu sedikit keceriaan dirumah terpanjar.
"Ayo makan, nanti telat pendaftarannya." Ucap Lisa langsung menyodorkan sarapan kehadapan mereka.
Hari ini sudah waktunya Edward dan Erwin masuk sekolah TK. Karena itulah Lisa tampak terburu-buru menyajikan sarapan. Kedua bocah ini langsung menyantap makanannya.
"Ibu, apa Edward boleh gk usak sekolah." Ucap Edward pelan, sambil mengunyah makanannya.
"Edward kenapa tidak mau sekolah? disekolah sangat asyik nak. Kamu dan Erwin bisa bermain disekolah bersama teman baru." Saut Lisa mengusap kepala Edward dengan lembut.
"Kalau kak Edward tidak sekolah, Erwin juga ga mau." Ucap Erwin ikut-ikutan. Keduanya selalu bersama sepanjang hari, jika salah satunya tidak mau maka satunya juga akan mengatakan hal yang sama.
Tiba-tiba Edward dan Erwin tidak mau masuk sekolah, keduanya menundukkan kepala. Memainkan sendoknya diatas piring.
"Tante sedih kalau Edward dan Erwin gak mau sekolah." Ardella dengan suara lesu, meletakkan sendoknya, dia seakan kehilangan nafsu makannya. Lisa juga mengikuti Ardella memberi raut wajah sedih.
Edward menatap ibunya dan tantenya, kembali mengucapkan ssebuah kata, untuk mengungkapkan perasaannya.
"Nanti kalau aku dan Erwin sekolah siapa yang jaga Ibu dirumah." Edward memberi alasannya untuk tidak mau pergi kesekolah.
Ucapan anak kecil yang menyejukkan hati. Ardella dan Lisa saling menatap, mereka sambil tersenyum mengerti perasaan Edward dan Erwin. Sekarang mereka sudah mengerti keadaan orang dewasa. Edward dan Erwin mengerti bahwa keluarga mereka sedang kesusahan.
"Edward dan Erwin harus sekolah seperti kak Aldo. Nanti ibu janji akan beli mainan baru." Ucap Lisa dengan lembut. Membujuk Edward dan Erwin agar mau kesekolah.
"Adik kakak harus pintar, gk boleh bodoh. Kalau kalian tidak sekolah nanti ibu dan tante sedih" Aldo yang juga dari tadi sudah gemas melihat tingkah kecil dari adiknya. Daripada membeli mainan baru, akan lebih ampuh membujuk Edward dan Erwin dengan mengatakan ibu dan tante akan sedih. Kata sedih membuat Edward dan Erwin luluh.
Sekarang Aldo bukanlah anak kecil yang manja seperti 5 tahun yang lalu, bukan lagi anak SD yang memakai seragam merah putih. Sekarang dia telah menjadi siswa SMP. Aldo bertumbuh dan menunjukkan sikap kedewasaan dalam dirinya. Cara bicara dan wajahnya sekarang hampir menyerupai ayahnya. Ayahnya tak lain adalah Batara. Aldo menjadikan ayahnya sebagai idola dan panutan. Karena itu dia tumbuh menjadi anak yang baik.
πππ
__ADS_1
Bersambung