Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Apa Lagi Yang Akan Terjadi


__ADS_3

"Apa kamu tidak bisa lihat, dibelakang sudah terasa sempit. Didepan masih kosong" Melihat Aoran dengan sinis, Ardella memerintahkan Aoran untuk duduk dikursi depan.


"Ini mobilku, terserah aku mau duduk dimana." Sautnya dengan menekankan suara bahwa Aoran tidak mau berpindah.


Aoran mengangakat tubuh Edward kepangkuannya, tangannya mengunciย  tubuh Edward dengan erat. Bergeser lebih mendekat ke samping Ardella.


"Jalan Bud." Ucap Aoran.


Mobil melaju menuju kerumah sakit. Di dalam mobil suasananya hening. Budi yang menyetir sesekali melirik Aoran, kemudiaan berpindah lagi melirik Ardella. Wajah-wajah yang dilihatnya terasa lucu, keduanya cemberut tak bersua. Senyum tipis dibibirnya mendakan kelucuan diantara pertengkaran kekanak-kanakan Ardella dan Aoran.


Edward yang berada dipangkuan Aoran terlihat seperti sedang mengamati. Menatap Aoran, menyeritkan dahi, sekitar tiga kali dia melakukan hal yang sama.


"Eh bocah, apa ada yang salah dengan wajahku." Ketika tatapan mereka saling bertemu.


"Jangan mengganggu tanteku." Edward menatap dengan dingin, mata kecilnya menjulang lebih tinggi menunjukkan ketidak sukaan terhadap Aoran. Edward tidak suka dengan Aoran yang mengganggu tantenya.


Hahaha.


Aoran tertawa lepas, dia gemas mendengar perkataan Edward, tangannya bergerak mengacak-acak rambut Edward.


Berbeda dengan Edward responnya membalas dengan tatapan kesal, pandangannya menatap lekat ekspresi tawa Aoran, dia masih menatap Aoran dengan tajam, kedua bola matanya terbuka lebar tidak berkedip, bibirnya mengerut, ekspresi yang ditunjukkan Edward sangat tidak bersahabat pada Aoran. Tawa Aoran menjadi redup seketika. Tidak disangkanya anak sekecil Edward bisa membuatnya merinding hanya dengan sebuah tatapan.


Ardella yang berada disamping tersenyum tipis atas tindakan konyol Aoran. Membuatnya ingin tertawa ketika Edward hanya membalas dengan ekspresi datar.


***


Di rumah sakit.


Tiba dirumah sakit, Erwin diobati oleh dokter diruangan pasien. Seorang perawat datang dan menunjukkan biaya admistrasi, mereka juga diwajibkan untuk mengisi data pasien oleh wali.


"Tunggu disini sebentar. Jangan bicara dengan pria jahat itu." Ucap Ardella menunjuk Aoran.


Aoran terkejut ketika Ardella mengatakan bahwa dirinya jahat. "Bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa aku orang jahat." Sehentak menyahut dia tidak terima dengan ucapan Ardella tentang dirinya.


"Apa perlu aku menguraikan kejahatanmu." Melipat kedua tangan, Ardella membalas ucapan Aoran.


"Sudahlah." Aoran tidak melanjutkan lagi, dia tidak mau kedua bocah yang ada dihadapannya tahu bahwa dia memenjarakan ayahnya.


Ardella keluar untuk mengurus administrasi untuk Erwin. Tinggalah mereka bertiga.


"Ehem." Aoran berusaha untuk berbicara. "Heiii, siapa nama kalian." Tanyanya lembut menunjukkan sikap ramah.


Menyeritkan dahi, pupil mata menyempit, Edward dan Erwin mengacuhkan Aoran.


Ntah kenapa bocah ini membuatku merasakan sesuatu. Batin Aoran.


Pembicaraan tidak lagi dilanjutkan oleh Aoran, mereka bertiga berdiam diruangan sama.


Ardella yang datang setelah menyelesaikan urusannya dibagian administrasi.


"Sudah telat sejam." Gumamnya pelan melirik jam tangannya. Dia harus menghadiri acara sekolahan Aldo, tetapi tidak mudah baginya untuk datang.


"Biar kuantar pulang." Kata Aoran.


Budi yang baru datang masuk kedalam ruangan, sebelumnya dia masih memarkirkan mobil.


"Apa sudah merasa baikan." Budi langsung menunjukkan sikap perhatian pada Erwin.

__ADS_1


"Sudah paman." Saut Erwin pelan.


"Nona, biar kami antar kalian pulang." Ucap Budi.


"Bisakah antar kami ke sekolah XX. " Jawab Ardella meminta pertolongan.


"Ah, kebetulan arah tujuan kami juga disana." Sautnya.


"Sungguh, tadinya kupikir akan merepotkan."


Diabaikan dan diacuhkah itulah yang saat ini dirasakan Aoran ketika mereka asik berbicara tanpa mempedulikannya yang sedari tadi berdiri.


"Kalian pergi dengan mobilku, tapi kalian bahkan tidak bertanya pada pemilik mobilnya. " Menyelip pembicaraan, Aoran merasa kesal karena dirinya diacuhkan.


"Sudahlah, jangan kekanak-kanakan." Saut Budi. "Sini biar paman yang gendong." Budi meraih Erwin.


Berjalan keluar, Budi menggendong Erwin. Sekarang tinggallah Aoran, Ardella dan Edward.


"Edward pasti capek, mau tante gendong." Tanya Ardella lembut.


"Tante aku bukan anak kecil." Saut Edward. Dengan langkah kecil Edward berjalan lebih dulu, dia meninggalkan Aoran dan Ardella dibelakangnya.


"Sifatnya mirip denganmu. Keras kepala dan tidak berperasaan." Ucap Aoran menatap Ardella. Mengingat Ardella dan Edward sama-sama mengaibakannya dirinya, kesal rasanya. Dia sendiri tidak sadar dengan sifatnya.


"Yang tidak berperasaa itu kamu." Saut Ardella membalikkan perkataan Aoran. "Aneh rasanya kalau dia mirip denganmu, karena itu jangan pernah menyebut keponakanku seperti itu." Ardella membantah ucapan Aoran.


Ardella dan Aoran menyusul Edward dari belakang. Dengan langkah cepat Ardella meraih tangan Edward, kemudiaan berjalan menggandeng tangan Edward.


Tkkk.


Aoran juga menggandeng tangan Edward disebelah kiri. Ardella memelototi Aoran. Sedangkan Aoran tidak peduli, dia berjalan santai.


"Keluarga yang harmonis."


"Pasangan serasi."


"Beruntungnya punya suami setampan itu."


"Gen memang tidak pernah salah, anaknya begitu menggemaskan. Setelah dewasa aku yakin anaknya itu sama persis dengan bapaknya."


Bisik orang-orang ketika melihat Ardella, Aoran dan Edward berjalan.


***


Disekolah.


Acara pembukaan belum dimulai karena menunggu kedatangan Aoran.


Tiba disekolah Aoran dan Ardella berpisah. Ardella melihat kesekeliling mencari keberadaan kakak iparnya.


Lisa yang sedari tadi sudah menunggu lama melihat Ardella sedang linglung mencarinya. Melambaikan tangan Lisa memanggil Ardella agar duduk disebelahnya.


"Dek, Erwin kenapa." Tanyanya ketika melihat dengkul Erwin terluka dan dibaluti dengan perban.


"Erwin terjatuh. Tapi aku sudah bawa kerumah sakit, sekarang dia sudah baikan kak." Penjelasan sederhana dari Ardella.


Acara dimulai, Aoran berjalan dari bawah menaiki anak tangga ke atas podium.

__ADS_1


"Aoran." Ucap Ardella.


Deg.


Nama Aoran membuat Lisa terkejut.


"Apa pria itu Aoran Fritcsh." Tanyanya. Pertama kalinya Lisa melihat wajah Aoran. Sungguh memang tidak bisa dipungkiri Aoran sangat serupa seperti yang ada dibayangannya ketika melihat anaknya.


"Iya kak."


Dengan memberikan pidato singkat, Aoran menjadi dikagumi anak-anak disekolah.


Begitulah acara sekolah Aldo selesai. Ardella dan Lisa harus berpisah, Ardella bergegas pergi menuju bar untuk bekerja lagi. Sedangkan Lisa pulang kerumah dengan menggendong Erwim dan menggandeng Edward dengan erat. Dirinya saat ini takut jika Aoran menyadari keberadaan mereka. Dia tidak ingin berurusan dengan Aoran.


Aoran yang terpisah dengan Ardella dari tempat kejahuan mencari keberadaan Ardella ditengah banyaknya siswa dan orangtua murid, tapi dia tidak menemukan Ardella.


"Apa hubunganmu dengan wanita itu." Tanya Budi ketika melihat Aoran mencari-cari sambil gelisah.


"Tidak akan kujawab." Sautnya singkat.


"Hanya saja bocah itu sangat mirip denganmu sewaktu kecil." Ucapnya pelan sambil berjalan.


Belum mengerti maksud dari perkataan Budi. "Apa maksudmu." Menyusul Budi.


"Aku bilang kamu mirip dengan bocah kecil itu." Tegas Budi.


***


Bar.


Mengenakan seragamnya kembali, Ardella keluar dari ruang ganti. Dia langsung bekerja mengantarkan minuman kepada pelanggan yang telah berdatangan. Sehari penuh berlari kesana-kemari membuat kaki Ardella merasa lelah.


Matahari sudah terbenam, waktunya Ardella pulang. Saat keluar dari bar, seperti biasa Ardella ingin pulang dengan jalan kaki.


Tapi kali ini Ardella merasa lelah, dia ingin memesan ojek online. Dia mengambil ponselnya dari tas. Ponsel padam. Sungguh hari yang melelahkan, terpaksa lagi Ardella menelusuri jalan dengan kakinya.


Disimpang perjalanan suasana sangat sunyi. Saat Ardella berjalan, sekitar tiga orang preman terlihat didepannya.


Ardella ragu untuk berjalan terus, dia merasa ada yang janggal ketika premen bertindik tato itu melihat kearahnya. Dengan cepat Ardella berbalik arah jalan, dia berjalan menjauh dari preman-preman itu.


Semakin cepat langkah kakinya, preman itu semakin mengejar Ardella.


Ardella berlari dengan kenjang.


"Ah, lepaskan aku." Preman-preman itu berhasil menangkap Ardella.


Ardella meronta-ronta berusaha meminta pertolongan, tetapi mulutnya dibungkam oleh salah satu premen itu, mereka menyeret Ardella ke dalam mobil yang sedari tadi terparkir.


Brukkk.


Mereka melemparkan Ardella ke dalam mobil.


"Kita bertemu lagi cantik." Suara berat dan tatapan genit menyapa Ardella.


"Kamu." Terkejut.


๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2