
Pagi yang cerah diruang baca.
Aoran yang tampak asik membolak balikkan lembaran buku, menikmati secangkir teh dipagi hari, Aoran yang tidak beranjak kemanapun hanya diam didalam ruang bacanya.
"Kakak. " Panggil Anasya 3 kali Berlari dari luar masuk keruang baca Aoran tanpa mengetuk pintu.
"Kenapa berlari seperti itu." Melihat Anasya yang sedang terngah-ngah.
Anasya yang masih lelah akibat berlarian ditengah lorong rumah mencari Aoran.
"Aku mau bilang kalau aku udah tau mau masuk kuliah dimana." Mendekati Aoran.
"Hanya karena itu kamu terlihat heboh." Kembali mengambil buku bacaanya.
"Aku hanya sedikit senang dan ingin langsung memberitahukan kak Aoran."
"Kak carikan aku guru bimbingan." Kata Anasya kembali.
"Nanti kakak carikan." Sibuk membaca.
"Ok kak. Kak Aoran tidak ngantor hari ini." Melihat pakaian Aoran yang tak formal.
"Hari ini aku tak ingin kemana-mana." Ucapnya Aoran.
"Kak, ayo jalan-jalan temani Anasya." Memberi senyum lebar.
"Tidak, aku malas keluar rumah."
Masih santai membaca.
" Ayo lah kak, aku hampir dua minggu disini tapi belum pernah mengajakku jalan." Merengek didepan Aoran dan mengambil buku yang sedang dibacanya.
Tidak tahan mendengar Anasya merengek, Aoran setuju. Mereka meninggalkan ruang baca dan bersiap-siap untuk pergi.
***
Ardella yang tengah bosan dirumah melihat bik Ami yang ingin berpergiaan.
"Bik Ami mau kemana." Tanya Ardella.
"Mau belanja dipasar Non." Jawabnya mengambil keranjang belanjaan.
"Aku ikut ya." Meraih keranjang yang ditangan Bik Ami.
"Sikembar juga masih belum bangun bik." Ucap Ardella kembali dengan senyum.
"Memang Non gk merasa kotor berjalan dipasar." Tanyanya dengan melihat Ardella.
"Gk lah Bik, lagian aku bosan dirumah terus, sesekali keluar. kak Batara, kakak ipar, Robin semuanya sibuk kerja jadi gk pernah mengajakku keluar rumah." Ucap Ardella dengan nada cepat.
"Baiklah Non, kita kepasar naik angkot ya."
"Siap Bik."
Menurut pada Bik Ami, sambil memakai sandalnya dan mengambil jaketnya kedalam kamar. Ardella bersama Bik Ami pergi belanja ke pasar tradisional. Dipasar Ardella melihat berbagai dagangan, dilihatnya tukang jual ikan, Ardella mendekat dan memilih-milih ikan yang segar menurutnya.
"Sepertinya ikan yang ini segar deh Bik." Tanya Ardella pada Bik Ami sambil memegang ikan laut.
"Coba aku lihat, Non Ardella pintar ya milih ikannya. " Mengecek ikannya kemudian memuji Ardella.
Ardella hanya tersenyum pada Bik Ami. Kemudian diingatnya lagi belanjaan yang ingin dibelinya.
"Apa lagi yang belum kita beli." Ucap Ardella mengecek kedalam keranjang belanjaan.
__ADS_1
"Kentang, tomat dan sayur Non." Melihat daftar belanjaan.
Mata Ardella mencari-cari tukang jual sayuran.
"Berarti kita arah kesana Bik." Menunjuk tempat yang penuh penjual sayuran.
Bik Ami berjalan didepan sedangkan Ardella mengikuti dari belakang membawa belanjaan.
Setelah selesai belanja bik Ami dan Ardella berencana ingin pulang, mereka menuju jalan untuk mencari angkot, karena angkot hanya lewat dipersimpangan jalan, terpaksa deh Ardella dan bik Ami berjalan sedikit ke simpang.Β Ketika hendak menyebrang. Ada mobil yang melaju cepat kerah Ardella dan bik Ami.
Ckittt,,,.
Suara rem mobil tiba-tiba berhenti dan hampir menabrak mereka, karena suara rem mobil membuat Ardella terkejut sehingga belanjaannya terlepas dari tangannya.
"Belanjannya." Terhentak terkejut.
Ardella terkejut dan melihat belanjaannya berserakan dijalan, dia mulai memunguti belanjanya yang sedang berserakan, sedangkan orang yang ada didalam mobil belum mengatakan apapun dan masih melihat kearah Bik Ami dan Ardella.
"Aduh,,, hampir nabrak orang." Kata supir kepada pemilik mobil.
Pemilik mobil tersebut adalah Aoran Fritsch. Anasya yang melihatnya pun sangat terkejut karena mobil tiba-tiba berhenti mendadak. Aoran melihat kearah depan, dilihatnya dua orang wanita yang sedang sibuk membereskan belanjaannya dijalanan.
"Saya lihat dulu ya tuan." Ucap supir memeriksa keadaan mereka.
Supir Aoran menuju kearah bik Ami dan Ardella, karena Ardella masih terlihat sibuk bik Ami berdiri dan berbincang dengan supir. Ucapan maaf dilontarkan oleh supir kepada bik Ami dan begitu juga sebaliknya bik Ami juga meminta maaf karena tak melihat jalan terlebih dahulu saat ingin menyebrang.
Aoran yang didalam mobil menunggu supir yang sedang menangani masalah merasa sedikit lama, dia hendak ingin turun dan ikut berbicara.
"Kak Aoran mau kemana." Menahan tangan Aoran yang ingin keluar dari mobil untuk ikut mengatasi.
"Mau cek dulu." Ucap Aoran.
Bisa bahaya kalau kak Aoran yang turun tangan, nanti dia marah-marah lagi sama mereka. Pikir Anasya.
Anasya yang melihat supirnya sedang berbicara dengan seorang wanita mulai mendekati mereka.
"Maaf Bu." Ucap Anasya sopan pada Bik Ami.
"Tidak apa, kami juga ikut salah tak melihat jalan." Bik Ami juga berbicara dengan sopan.
Ardella yang masih sibuk memungut kentang dan tomat, dipungutnya satu persatu sehingga tak ikut dalam pembicaraan mereka. Sesekali Anasya melirik kebawah untuk melihat wajah wanita yang dari tadi sibuk, karena ditutupi oleh rambut Ardella yang panjang wajahnya tak terlihat. Melihat belanjaanya yang berserakan Anasya merasa bersalah, dia merogoh tasnya dan mengambil uang didompetnya danΒ memberikan pada bik Ami.
Bik Ami juga tak enak menerima pemberiaan Anasya menolak dengan sangat sopan.
"Tidak usah nona belanjaannya juga tidak rusak." Melihat kearah Ardella.
"Tidak apa Bu, terimalah." Memberikannya ketangan Bik Ami.
Bik Ami juga tak bisa berbuat apa-apa, melihat Anasya ngotot memberikan ganti rugi.
Anasya dan supir meninggalkan Ardella dan bik Ami. Mereka berjalan menjauh dan kembali ke kedalam mobil.
"Apa sudah beres." Tanya Aoran sedari tadi memperhatikan.
"Sudah tuan, untungnya mereka orang baik." Ucap supirnya.
Anasya hanya diam melihat ekspresi kakaknya.
Ardella sudah siap membereskan belanjaanya, dia berdiri namun wajahnya dihalangi oleh bik Ami yang berdiri disampingnya.
"Sudah semua Non." Tanya bik Ami yang melihat Ardella sibuk memeriksa kedalam keranjang.
Brumm.
__ADS_1
Mobil Aoran melewati Ardella, Aoran yang melihat kearah samping tak melihat wajah Ardella karena sedang menundukkan kepala.
"Sepertinya sudah Bik." Setelah selesai mengecek.
"Eh mobilnya udah pergi Bik." Tanya Ardella kembali setelah dilihatnya mobil tidak ada.
"Sudah Non."
"Kenapa mereka tidak minta maaf."
Ardella yang tidak sadar atas percakapan Bik Ami dan Anasya serta supirnya.
"Udah kok Non, nih (Menunjukkan uang), mereka juga meminta maaf dan kasih uang ganti rugi." Bik Ami yang menunjukkan uang beberapa lembar yang diberikan Anasya.
"Gitu ya Bik, Ardella tidak lihat tadi." Senyumnya tipis pada Bik Ami.
"Non ini. Kita pulang sekarang ya takutnya kesiangan." Ucap bik Ami.
"Iya Bik."
Pertama kalinya Ardella kepasar bersama bik Ami membuatnya sedikit senang, perjalanan pulang membuatnya semangat. Tak terasa mereka sampai dirumah. Ketika didalam rumah mereka sudah mendapati kakaknya dan Robin.
"Kakak sudah pulang." Ucap Ardella sambil berjalan meletakkan belanjaannya di dapur.
"Sudah, tadi hanya memeriksa sebentar." Bermain bersama sikembar.
"Ohh,,,." Berjalan menuju mendekati kakaknya.
"Baju kenapa dek." Tanya Batara melihat Baju Ardella kotor.
"Tadi pas dijalan hampir disempret mobil kak."
Robin yang mendengar perkataan Ardella langsung menghampirinya.
"Kamu gk apa-apa." Melihat sekujur tubuh Ardella dan membalikkan tubuh Ardella.
"Ehemmm." Batara mengeluarkan suara batuk kecil.
Seperti memperingatkan, eh aku ini kakaknya lo, jadi harusnya aku yang lebih dulu bertanya, Batara merasa sedikit tak senang didahului oleh Robin. Robin melihat ekspresi Batara sedikit masam, dilepasnya tangannya dari Ardella.
"Maaf kak." Ucap Robin sedikit menjauh dari Ardella.
"Kamu gk apa-apa dek." Ucap Batara menanyakan keadaan Ardella.
"Aku baik-baik saja. Hanya bajuku sedikit kotor." Melihat kearah bajunya yang kotor.
"Syukurlah dek, kalau jalan hati-hati dek." Ucap Batara lembut.
"Iya kak, aku mau ganti baju dulu." Ucap Ardella.
Ardella berjalan menuju kamarnya sedangkan Robin masih berada disisi Batara. Melihat ekspresi Robin, Batara merasa kalau Robin ada rasa dengan Ardella.
"Sepertinya sekarang tatapanmu dengan Ardella berbeda." Ucap Batara melihat ekspresi Robin yang malu.
"Maksud kak Batara." Robin yang tak paham.
"Sudahlah kalau tak paham."
Batara pergi meninggalkan Robin dan kembali bermain bersama Edward dan Erwin.
Maksud kak Batara apa ya? Kok aku gk paham. Robin yang bicara dengan pikirannya.
πππ
__ADS_1
Bersambung