
"Ada lalat dinasinya. Untung kamu masih belum sempat makan, berterima kasihlah padaku karena mengusir lalatnya dari dalam nasi." Saut Aoran mencari alasan.
Perkataan Aoran rasanya tidak benar. "Robin selalu membuatkan makanan bersih, tidak mungkin ada lalat dinasi." Ucap Ardella mencari-cari lalat yang dimaksud Aoran.
Aoran kesal sekali mendengar nama Robin. "Apa kamu berpikir aku berbohong hanya karena itu, lagian apa untungnya aku berbohong padamu. Membuatku kesal saja." Aoran meletakkan sendoknya, suara beratnya terasa marah.
"Lupakan saja, aku tidak ingin makan." Saut Ardella menutup kembali bekalnya.
Ardella memalingkan wajahnya dari Aoran. "Dari tadi dia membuatku jengkel." Gumamnya pelan.
Dengan melanjutkan makan, Aoran mengabaikan Ardella, tidak peduli dengan Ardella yang tidak mau makan, diliriknya Ardella yang menggrutu tentang dirinya. Ketika perutnya telah terisi dan kenyang, Aoran meletakkan sendoknya kemudiaan mengambil segelas wine yang tidak jauh dari peringnya. Ardella masih dalam keadaan cemberut, wajah tirusnya masih nampak menggrutu.
Aoran menyerah melihat wajah Ardella, dia takut Ardella akan kelaparan. "Apa kamu tidak lapar.? Jangan sampai kamu pingsan karena kelaparan, kalau itu terjadi aku akan meninggalkanmu." Kata Aoran melihat Ardella.
"Aku tidak lapar. Kalau bukan karena kamu merusak makananku, aku pasti sudah kenyang." Sautnya menekan suaranya.
Kruyuuu,,,. Bunyi perut Ardella merasa lapar.
Suara tiba-tiba merendah tidak melanjutkan berbicara, dia kembali memalingkan wajahnya dan berusaha menekan perutnya agar tidak berbunyi lagi.
"Fyuu. Perutku terasa kenyang, aku tidak sanggup makan lagi." Ucap Aoran melirik.
Makanan di atas meja masih terlihat penuh, bahkan beberapa jenis makanan tidak disentuh oleh Aoran. Aoran berpikir mencoba memancing Ardella, dia tahu dengan membuang makanan Ardella tidak akan setuju atau setidaknya Ardella akan mengomel.
"Pelayan." Panggil Aoran.
"Iya, tuan. Ada yang bisa saya bantu. " Ucap pelayan.
"Bisakah kamu membantuku membuang makanan ini." Ucap Aoran menunjukkan semua makanan diatas meja.
"Makananya masih banyak yang belum disentuh, apa tidak sebaiknya saya bungkus saja." Saut pelayan.
"Tidak perlu, dibuang saja." Jawab Aoran kembali sambil melirik kearah Ardella. Dia beeharap Ardella akan menghentikan tindakannya.
Ardella terpanjing dengan pembicaraan Aoran dan pelayan. "Tunggu, apa kamu serius ingin membuangnya. Tidak kah kamu merasa membuang-buang uang, kalau memang tidak bisa menghabiskan makanannya, kenapa dipesan sebanyak ini."
"Aku juga tidak mau membuangnya, tapi kamu juga tidak mau memakanya, apa lagi yang bisa kuperbuat selain membuangnya." Saut Aoran.
Berpikir sejenak Ardella merasa tidak ada salahnya jika dia makan, daripada terbuang sia-sia. "Baiklah aku akan makan." Ucap Ardella merendah.
Aoran yang sudah bisa menebak apa yang akan terjadi, dia dengan wajah dinginnya berusaha menunjukkan ekspresi datarnya. "Selagi kamu makan, aku ingin menghubungi klien." Ucap Aoran mengambil ponselnya dari saku.
__ADS_1
"Maaf tuan, makananya." Tanya pelayan yang dari tadi masih berdiri.
"Maaf ya mbak, saya masih makan kok." Saut Ardella langsung.
Pelayan beranjak pergi meninggalkan meja Aoran dan Ardella.
Dengan ponsel ditangannya, Aoran sibuk menelepon bersama klien, sedangkan Ardella mulai menyantap makanan, begitu banyak makanan yang harus dihabiskan. Ardella sudah tidak sanggup lagi mengunyah.
Uhukk,,,Ardella tersedak.
Aoran yang masih berbicara lewat ponselnya mengambil minuman untuk Ardella, terlihat sibuk dengan pembicaraan tangannya bertindak memperhatikan Ardella, selesai memberikan minuman Aoran kembali lagi berbicara serius.
Ardella juga tanpa canggung menerima bantuan Aoran. Setelah selesai minum Ardella meletakkan sendok yang ditangannya. " Aku sudah kenyang sekali, perutku rasanya sudah penuh." Ucapnya pada Aoran dengan nada kecil.
Aoran mematikan ponselnya, dilihatnya Ardella bersendawa panjang. Senyumnya merasa lucu melihat Ardella.
Melihat Ardella terlalu kenyang, Aoran takut bahkan untuk berjalan dia tidak akan sanggup. "Apa kamu bisa menemaniku meeting bersama klien dengan keadaan seperti itu." Tanyanya ragu melihat keadaan Ardella.
Karena kekenyangan Ardella menyadarkan tubuhnya kekursi, tangannya mengelus perutnya. "Sanggup." Ucapnya pelan.
Aoran dan Ardella beranjak meninggalkan restoran.
Dengan lembut Aoran membuka pintu untuk Ardella, tangannya melindungi kepala Ardella agar tidak terjedot. Menutup pintu mobil, Aoran beranjak masuk dari pintu sebelah.
"Apa kamu baik-baik saja." Melihat Ardella berkeringat.
"Perutku sedikit keram." Keluh Ardella.
"Kita periksa kerumah sakit." Ucap Aoran khawatir.
"Tidak perlu, ini hanya keram karena datang bulan. Sebentar lagi juga hilang." Ucap Ardella menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.
"Batalkan pertemuanku hari ini." Ucap Aoran lewat sebrang telpon pada sekretarisnya Parto.
"Kenapa pertemuaanya dibatalkan." Tanya Ardella kembali duduk tegap.
"Sebaiknya kuantar pulang. " Ucap Aoran tidak memberikan alasan.
"Eh, serius aku boleh pulang." Saut Ardella.
"Iya. Sampai keadaanmu membaik, aku mengizinkanmu cuti selama satu minggu." Saut Aoran melihat kearah Ardella.
__ADS_1
"Terima kasih atas kemurahan hatinya bos." Ucap Ardella bersemangat.
"Walaupun sedang cuti, kamu dilarang mengabaikanku telponku." Kata Aoran memperingatkan.
"Siap Bos."
Aoran mengantarkan Ardella pulang kerumah.
Sampai di depan rumah. "Hati-hati menyetir Bos. " Ucap Ardella memberi senyum.
"Iya." Saut Aoran.
Aoran melihat Ardella dari mobil. Pandangannya berubah ketika melihat Ardella pergi dari hadapannya, mengingat Robin juga tinggal bersamanya, membuat Aoran ingin sekali menunjukkan kemarahannya, tapi untuk saat ini dia masih menahan untuk tidak menggangu keluarga Ardella.
Memutar arah mobilnya Aoran kembali kekantor.
Tiba dikantor, Parto dengan tergesa-gesa datang menemuinya.
"Bos, klien kita marah karena membatalkan jadwal pertemuanya." Ucap Parto didalam ruangan.
"Abaikan saja." Aoran yang tidak peduli. "Terus bagaimana perkembangan pembangunan mall." Tanya Aoran ingin mengetahui sejauh mana pembangunan mall selesai.
"Mungkin sekitar tiga bulan lagi pembangunannya selesai. Seperti yang direncanakan Batara bertanggung jawab penuh atas proyeknya Bos." Ucap Parto.
"Mungkin dalam waktu dekat ini, aku ingin menjalankan rencanaku, jadi tetap awasi dia. Ucap Aoran.
Parto mengetahui sifat Aoran yang tidak mengampuni musuhnya, sedangkan perasaan Parto setelah menyelidiki Batara ada yang salah, Batara bukanlah orang jahat yang harus menerima amukkan dari Aoran yang belum jelas permasalahannya.
"Batara itu sepertinya orang baik Bos, aku sudah menyelidikinya, banyak orang yang mengatakan bahwa dia orangnya baik." Ucap Parto memberanikan diri.
Melirik kerah Parto, ekspresinya tidak senang mendengar perkataan Parto. "Orang baik. Sebentar lagi kita akan lihat sebaik apa dia." Sautnya.
Parto tidak berani lagi berbicara, dia beranjak pergi meninggalkan Aoran dari ruangan.
Aoran masih dalam keadaan berpikir, sambil melihat foto Batara, dia memikirkan cara Batara menghilangkan jejak Ardella melakukan aborsi.
Aoran masih belum menyerah untuk mencari tahu kebenaran tentang Ardella yang hilang ingatan dan tentang Ardella yang melakukan aborsi. Sampai sekarang dia belum menemukan informasi. Aoran juga berusaha mendekati Ardella agar dia mengetahui, apakah Ardella pura-pura lupa kepadanya. Setelah bersama Ardella, dia tahu bahwa Ardella tidak berbohong.
Aoran meraih kalung dari lehernya.
Aku pernah mencintaimu lebih dari diriku, berharap kita akan bersama hingga kita menjadi kakek-nenek. Sekarang mencintaimu kembali sangat menyakitkan, perasaanku retak bagaikan pecahan kaca, serpihan yang tidak dapat disatukan. Ardella jika kamu membenciku, maka bencilah aku, tapi mengapa kamu harus memilih jalan salah. Karena itu jangan salahkan aku jika suatu hari nanti aku menyakitimu. Aoran membatin melihat liontinnya.
__ADS_1
πππ
Bersambung