Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Kedatangan Aoran Saat Kepergiaan


__ADS_3

Kembali ke Ardella yang sedang berjalan bersama Robin.


Ardella dan Robin tampak menikmati pemandangan pulau, rasa hangat membuat mereka bungkam dan tak berbicara. Ketika langkah mereka tepat berada di tengah desa, Ririn tak sengaja melihat Ardella dalam kejahuan.


Itukan Ardella. Ucap Ririn membatin.


Masih tak percaya dengan penglihatannya Ririn memastikan dengan memanggil Ardella. "Ella." Teriak Ririn dari kejahuan.


Ardella menoleh, perasaannya seakan tak asing dengan suara yang didengarnya, dilihatnya Ririn yang hendak mendekatinya.


"Ella." Ucap Ririn memeluk Ardella sambil meneteskan air mata. "Aku rindu kamu." Ucapnya kembali sambil menangis.


Ardella merasa aneh dengan tingkah Ririn yang tidak dikenalnya, sementara Robin yang melihat Ririn perlahan melepaskan pelukan Ririn dari Ardella.


"Rin ayo kita bicara." Ucap Robinย  ketika pelukan Ririn terlepas.


Ardella yang diam dan mematung saat dipeluk Ririn. Ardella membiarkan Robin bicara bersama Ririn.


"Rin, sekarang Ardella bukan yang dulu, dia tidak mengingat kita." Ucap Robin dengan nada pelan dan sedih.


Ririn yang bingung dengan perkataan Robin langsung bertanya "Maksud kamu apa Rob, aku tak paham." Ucapnya dengan kebingungan.


Robin menceritakan kejadian yang menimpa Ardella selama dikota. Dengan sedih Ririn menutup wajahnya dengan kedua tangannya, terisak menangis dibalik tangannya. Robin berusaha menenangkan Ririn yang sedang menangis.


"Apa kita tak bisa seperti dulu." Ucapnya dalam tangisan.


Robin tak bisa menjawab pertanyaan Ririn, mereka yang berdiri jauh dari Ardella, melihat Ardella sekarang baik-baik hingga membuat Ririn berpikir bahwa itu adalah jalan terbaik untuk Ardella.


"Bagaimana keadaanmu selama ini." Tanya Robin ketika Ririn mulai tenang.


"Aku lebih baik sekarang, aku membuka sebuah butik dan tempat jahit." Ucap Ririn.


"Syukurlah." Ucap Robin tersenyum.


"Semua berkat kak Aoran, dia memberikanku modal untuk membangun sebuah butik." Penjelasan Ririn.


"Aoran." Ucap Robin terkejut.


"Apa Aoran selama ini masih mencari Ardella." Tanyanya kembali.


Ririn berpikir sebaiknya menceritakannya pada Robin "Sebenarnya ada yang ingin kuceritakan padamu masalah Aoran." Ucap Ririn kembali.


"Ceritakanlah Rin, aku penasaran dengan laki-laki ba***gan itu." Ucapnya membara.


Flasback.


Dua bulan setelah kepergian Ardella dari desa.

__ADS_1


Evan mendatangi Ririn dan memberikan kabar alasan Aoran tidak datang. Evan menemui Ririn di rumahnya. Mereka berdua bicara di sebuah kafe kecil, tempat orang-orang desa biasanya menikmati kopi khas daerah.


Ririn yang merasa tidak senang melihat Evan "Apa yang ingin kamu katakan, cepatlah katakan." Ucap Ririn ketus.


"Aku ingin kamu merahasiakan keadaan Ardella pada Aoran." Ucap Evan.


"Apa yang harus kurahasiakan darinya, bahkan sampai sekarang dia tidak datang mencari Ardella." Ucap Ririn dengan nada tinggi kesal.


"Mungkin ini terdengar egois, tapi aku tidak ingin Aoran merasa bersalah dan sedih." Ucap Evan.


Evan menceritakan setengah kebenaran tentang keadaan Aoran pada Ririn. "Sekarang terserah kamu mengambil keputusan." Ucap Evan kembali.


"Aku masih belum percaya semua yang kamu katakan." Ucap Ririn dengan keraguan.


"Mungkin dalam waktu dekat ini Aoran akan datang mencari Ardella." Diam dalam ucapan Ririn, Evan mengatakan kedatangan Aoran.


"Kumohon jangan ceritakan pada Aoran, katakanlah dia pergi bersama kakaknya dan hidup bahagia." Evan yang memohon.


Ririn masih belum mengambil keputusan, melihat Evan memohon Ririn merasa mungkin juga terjadi sesuatu buruk pada Aoran. Ririn tidak mengiyakan ataupun menolak permohonan Evan.


Setelah pertemuan Ririn dengan Evan. Selang beberapa hari Aoran datang mencari Ardella didesa. Aoran yang berada didesa dengan keadaan masih kacau, kepalanya yang masih terikat dengan perban berjalan dengan langkah cepat kerumah Ardella.


Tok,,,tok,,, tokkkkk.


Aoran yang tidak sabar mengendor pintu dengan keras.


"Gk Van, aku harus bertemu Ardella." Ucap Aoran masih sibuk mengetuk pintu.


Rumah begitu sepi, tidak ada tanda suara dari dalam, ayah Ardella yang kebetulan tidak ada dirumah, dia sedang berada dirumah sakit akibat mengalami stroke ringan. Sampai sekarang Aoran dan ayah Ardella tidak pernah bertemu sekalipun.


Aoran yang kesal menendang pintu. "Ardella." Ucapnya keras.


"Tidak ada orang dirumah, bagaimana kalau kita menemui Ririn sahabat Ardella." Ucap Evan sambil menghentikan Aoran.


Aoran kembali berpikir jernih, ucapan Evan rasanya benar. Menuju tempat Ririn, mereka juga tidak Mendapati Ririn dirumah.


"Sial." Ucap Aoran dengan kesal.


Evan tidak berharap Aoran tahu kejadian yang menimpa Ardella. Evan yang membujuk Aoran kembali kekota atau mencari penginapan untuk Aoran beristirahat.


"Sebaiknya kita kembali sekarang, lagian Lu juga masih sakit, besok aja kita kembali." Evan yang berusaha membujuk Aoran.


"Tidak, aku tidak bisa kembali."


Aoran yang dalam pikirnya bertanya Ririn pergi kemana, diingatnya Ririn kemungkinan berada diperkebunan. Aoran langsung beranjak cepat menuju ke perkebunanan. Evan yang mengikuti hampir tertinggal. Mencari keperkebunan Aoran membutuhkan beberapa jam hingga menemukan Ririn.


Aoran yang melihat Ririn sedang memetik daun teh "Ririn." Ucap Aoran tepat berada dibelakang Ririn.

__ADS_1


"Kak Aoran." Ucap Ririn saat menoleh dan melihat Aoran.


Aoran dengan wajah pucat, kepalanya yang masih diperban membuat Ririn mengingat perkataan Evan.


"Aku ingin bicara, bisakah kita bicara sebentar ada yang ingin kutanyakan. " Ucap Aoran.


Tidak bisa menolak, Ririn meletakkan keranjangnya dan meminta izin kepada pemilik kebun untuk istirahat sebentar, karena teman jauhnya ingin bertemu.


Pembicaraan mulai terjadi Antara Ririn dan Aoran.


"Dimana Ardella." Tanya Aoran pada Ririn karena tidak melihat Ardella dirumahnya.


Berpikir sjenak Ririn berkata. "Dia sudah tidak ada didesa. Kakak Ardella datang menjemputnya." Ucap Ririn merahasiakan.


"Apa kamu tahu kemana dia pergi." Tanya Aoran tergesa-gesa.


"Tidak tahu kak, dia tidak mengatakannya kepadaku."


Aoran bingung harus bertanya apa lagi, dia tahu kerinduan Ardella terhadap kakaknya. Dan wajar baginya Ardella pergi setelah kakaknya datang menjemputnya.


"Apa yang terjadi selama aku tidak datang. Apa dia baik-baik saja, apa dia bahagia." Tanya Aoran bertubi-tubi.


Ririn melirik Evan yang dari tadi berdiri dan mendengarkan mereka bicara. Evan menggelengkan kepalanya, memberikan isyarat pada Ririn agar tetap tidak menceritakan kejadian sebenarnya.


"Ardella baik-baik saja, dia sangat bahagia saat bertemu dengan kakaknya, karena itu dia memutuskan untuk ikut pergi bersama kakaknya." Ucap Ririn.


Huuu, Evan yang merasa lega. "Apa gue bilang, Ardella pasti baik-baik saja." Ucap Evan.


Aoran yang masih dalam keadaan khwatir. "Ntah apa dengan kata hatiku, aku merasa Ardella tidak baik-baik saja, aku lama tidak memberi kabar padanya, mungkin dia menungguku dengan sedih." Ucap Aoran kembali menyesal.


Ririn tidak bisa menahan rasa penasaran tentang ayah dari bayi yang sedang dikandung Ardella. "Kak Aora, aku ingin mengatakan bahwa Ardella sedang hamil." Ucap Ririn.


Aoran yang mendengar terkejut, matanya terbuka lebar. Deg,,,jantungnya berdegup kencang, hatinya yang sekarang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata "Ardella hamil." Ucapnya.


Masih dalam keadaan terkejut. "Berarti aku akan menjadi seorang ayah." Ucap Aoran kembali dengan perasaan senang.


Sekali lagi dia berkata "Aku ayah dari bayi yang dikandung Ardella." Ucap Aoran tegas pada Ririn.


Jawaban Aoran membuat Ririn sedikit lega mendengarnya. "Tapi Ardella sudah tidak disini kak." Ucap Ririn.


"Aku akan menunggu dan mencarinya, yang penting dia baik-baik saja." Ucap Aoran.


Evan diam mendengarkan pembicaraan Ririn dan Aoran, wajahnya menunjukkan pada Ririn bahwa dia tidak suka Ririn mengatakan tentang kehamilan Ardella, tapi didepan Aoran dia tidak bisa berbuat apapun.


Frits kuharap kamu tidak akan pernah bertemu dengan Ardella. Evan membantin.


๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2