
Batara sudah menuaikan tugasnya, sepanjang hari dia merawat Ardella, meski butuh kesabaran dengan tingkah nakal dan suka merengek, Batara tidak mempermasalahkan semua itu.
Sewaktu kecil Ardella memang sangat dimanja, setidaknya sampai ibu mereka masih hidup. Tetapi semenjak kematian ibu mereka, Batara sendiri tidak tahu bagaimana Ardella tumbuh dibawah asuhan wanita jahat itu, wanita perusak tangga kedua orang tua mereka.
Setiap kali melihat wajah polos Ardella terlintas kenangan dimasa Batara pergi meninggalkan Ardella sendirian didesa, air matanya terkadang menetes setiap kali Ardella memanggilnya kakak.
Dua orang yang kaku yang sedari tadi hanya memperhatikan yaitu Edward dan Aoran duduk diatas sofa, meski duduk bersampingan Edward membuat jarak antara dia dengan Aoran yang dianggapnya orang jahat.
Mengingat tantenya pernah mengatakan bahwa Aoran jahat, Edward tidak mau memberikan celah untuk dekat dengan Aoran, setiap saat dia memasang wajah tegang, kaku, dan kedua belahan pipinya mengerut, menunjukkan ketidak sukaan.
Aoran hanya tersenyum lebar jika tatapan mereka saling bertemu, balasan yang selalu diberi Edward yaitu cuek habis.
Hari terang mulai berlalu, lewat kaca jendela dirumah sakit bisa dilihat jelas bahwa malam telah tiba. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Batara kembali menidurkan Ardella dengan beberapa dongeng yang dibacanya, Edward ikutan megantuk mendengar ayahnya berdongeng, tubuhnya yang tegap perlahan lunglai.
Melirik Edward, Aoran bergeser lebih mendekat, perlahan Edward seperti ingin terjatuh, dengan gerakan cepat tangan Aoran menahan tubuh Edward untuk tidak terjatuh kelantai. Menahan dengan tangan sebelahnya, Aoran mengangkat Edward kedalam pangkuannya, sedikit bergusar membuatnya lebih berhati-hati untuk menidurkan Edward di dada lebarnya itu, Aoran tidak ingin Edward terbangun ataupun terganggu sebisa mungkin dia memberikan rasa nyaman, karena itu didalam pelukannya dia melingkarkan lengannya dengan kokoh agar Edward tidak merosot turun.
"Aku ingin keluar sebentar cari udara segar, jaga Edward dan Ardella." Ucap Batara setelah menidurkan Ardella.
Aoran tidak menyahut, tapi ekspresinya menunjukkan bahwa tidak ada permasalahan. Batara mulai melangkah keluar, tangannya kini sudah memegang ganggang pintu, sekali lagi dia menoleh melihat kearah Ardella yang telah tertidur pulas, kemudiaan arah matanya berpaling kepada Aoran yang sedang merangkul Edward.
Aku tidak tahu seperti apa dalamnya hubungan mereka, tapi sekarang aku yakin cinta Aoran itu tulus. Kata hatinya ketika melihat Aoran sangat menjaga tangannya agar tetap erat memeluk Edward.
Aoran masih duduk mematung, pinggangnya mulai sakit, sudah hampir tengah malam Batara juga belum kembali. Ardella pun terlihat tertidur pulas.
"Apa semua udara segar dihirupnya semua sampai jam segini dia belum kembali." Gumam Aoran melihat kearah layar ponselnya.
Tringg.
Sebuah pesan masuk, Aoran menggeser layar ponselnya. "Malam ini aku kembali kerumah, jika besok pagi Ardella mencariku. Katakan bahwa aku sedang pergi kesekolah." Isi pesan dari Batara.
Menutup ponselnya Aoran menarik nafas dengan dalam. Rasa lelahnya mulai terasa dibagian otot-otot punggungnya, sedikit bergeser, Aoran merebahkan diri diatas sofa, tinggi badan Aoran melebihi ukuran panjang sofa sehingga kakinya melewati batas sofa.
Edward nampak masih tertidur pulas didada Aoran, detak jantung Edward dan nafasya terasa sekali ditubuhnya. Aoran memeluk erat putranya itu, menepuk-nepuk punggung Edward seolah menidurkan dengan hangat.
Keheningan malam membuat Aoran mengingat kenangannya bersama Ardella. Tersenyum tipis, Aoran memandangi Ardella. Terbersik rasa bahagia diraut wajah Aoran ketika melihat Edward yang ada dipelukannya.
Ardella terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku, dan juga terima kasih karena kamu bersedia menjadi ibu dari anakku, meski sekarang kamu belum mendengarnya, tetapi setelah kamu sembuh aku pasti akan mengucapkannya seribu kali, hingga kamu bosan mendengarnya. Aoran mengelus Edward dengan lembut.
Ketika Aoran ingin memejamkan kedua kelopak matanya, secara reflek matanya terbuka lebar. "Besok pagi hanya ada kami bertiga. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin terlihat canggung didepan Edward dan Ardella." Pikirnya keras.
__ADS_1
Memikirkan itu semua, Aoran bahkan tidak bisa memejamkan mata lagi, dia masih memikirkan cara untuk membuat Edward dan Ardella terlihat senang terhadapnya. Dimulai dari sarapan pagi Aoran harus tahu makanan kesukaan Edward, terus Aoran juga memikirkan makanan apa yang sehat untuk ibu hamil.
Menggunakan ponselnya dia mensearcing.
Makanan sehat untuk ibu hamil.
Banyak artikel yang bermunculan, satupun tidak dilewatkan, dengan cermat dia membaca dari hasil yang didapatkan di google, sedikit mulai tahu Aoran sepertinya sudah paham apa saja makanan yang akan disediakan untuk Ardella.
Untuk Edward, dia masih belum tahu makanan kesukaan Edward, karena itu dia harus mencari tahu pada seseorang yang bisa memberinya informasi, orang yang ada dipikirannya yaitu Robin.
Lebih dari 50 kali Aoran membuat panggilan, sekaligus pesan-pesan yang begitu banyak, tetapi masih belum ada balasan.
Situasi Robin yang menerima panggilan ditengah malam yang sunyi bahkan menurutnya hantu saja sedang tidur, tetapi ditengah malam dia mendapat begitu banyak panggilan sehingga mengganggu tidurnya.
"Siapa sih membuat panggilan tengah malam begini." Gumamnya kesal mereba-raba diatas meja dekat tempat tidurnya dengan mata tertutup. Tangannya kini berhasil menjamah ponsel itu.
Panggilan berasal dari Aoran, kemudiaan pesan-pesan yang hampir beratusan memenuhi kontak pesannya.
"Rob, makanan kesukaan Edward apa." Isi pesan yang berulang-ulang dikirim oleh Aoran.
Robin melepas senyuman sinis, seperti otaknya bekerja untuk mengerjai Aoran. "Biarakan saja dia tidak bisa tidur." Robin memadamkan ponselnya, sehingga panggilan dari Aoran sudah tidak didengar lagi.
Nggggg.
Edward seperti bergusar karena gerakan tubuh Aoran.
Cup, cup, cup.
"Anak papa tidur ya." Elusnya lembut menenangkan Edward.
Pagi hari.
Setelah dari semalam memikirkan cara membuat Edward dan Ardella terkesima dengan perhatiannya, nyatanya dipagi hari Aoran terbangun kesiangan.
Edward terbangun bergerak-gerak diatas dada Aoran, tangan Aoran masih erat melinggkar ditubuh Edward. Berusaha melepaskan lengan berotot itu dari tubuhnya menjadi usaha yang sia-sia saja bagi Edward.
Dukkk.
Edward menepuk dada Aoran sambil mengguncang lengan Aoran, dengan tubuh kecilnya Edward berusaha turun dengan merosotkan tubuhnya, Aoran tampak masih belum ingin bangun malah menangkap tubuh Edward lebih tinggi ke arah pelukannya.
__ADS_1
"Paman bangun." Teriak Edward meronta keras.
"Kamu sudah bangun." Ketika Aoran mulai sadar dari tidurnya. Edward memasang wajah kesal.
Aoran menyeret tubuhnya keposisi duduk. Dia melihat Edward dipagi hari membuatnya tertawa ketika melihat rambut Edward berantakan, ditambah dengan pipi mengkerut mengembul di ekspresi Edward.
Ketika melihat kearah tempat tidur, Aoran tidak mendapati Ardella. "Mama kamu dimana." Tanyanya pada Edward dengan suara panik dan arah matanya mencari tidak beraturan disekitar kamar.
Kening Edward menyatu, bingung dengan ucapan Aoran. "Dirumah." Sautnya, mengira yang dimaksud mama adalah Lisa ibunya.
Aoran merapatkan kembali mulutnya, pikirnya jangan sampai Edward bertanya lebih jauh. "Ayo kita cari tante Ardella." Mengalihkan pembicaraan.
Ardella yang lebih dulu bangun beranjak keluar kamar, saat Ardella bangun rambutnya masih terurai, karena itu Ardella beranjak mencari suster yang kemarin mengikat rambutnya kebentuk kepang.
Aoran berdiri tegap, gendongannya belum melepaskan Edward, mencari kekamar mandi Ardella masih belum ditemukan, sangking paniknya Aoran langsung berteriak, kemudian menekan tombol untuk panggilan darurat dari kamarnya.
Andre yang mendengar bunyi darurat dari kamar nomor Ardella langsung berlari dengan tergesa-gesa.
"Apa yang terjadi." Tanya Andre langsung ketika masuk kedalam ruangan.
"Ardella tidak dikamar saat aku bangun. " Saut Aoran terbata-bata.
"Kamu gimana sih, masa kamu tidak tahu Ardella perginya kemana." Ketusnya keras.
"Nanti saja berdebatnya, aku akan cari diluar bersama Edward." Saut Aoran beranjak keluar.
Aoran mencari disetiap sudut rumah sakit, tapi masih belum juga menemukan Ardella. Kepalanya menjadi pusing, dahinya mulai mengerut karena rasa khawatir yang meledak diotaknya, dari tadi langkah kakinya cepat menelusuri setiap ruangan, bahkan sampai menerobos kekamar pasien lainnya untuk mencari Ardella.
"Paman! Itu tante Ardella." Edward menunjuk.
Ardella yang ditemani oleh salah satu suster berjalan dari arah tempat khusus ruangan para suster.
Suster memegangi Ardella saat berjalan, rambut Ardella kini rapi terikat kepang.
"Syukurlah aku menemukanmu." Aoran langsung memeluk Ardella dengan tangan sebeleh kirinya, bahkan tanpa segan melayangkan ciuman dikening Ardella.
πππ
Bersambung
__ADS_1