
Hari berikutnya.
Rumah sakit jerman.
Aoran yang berada dirumah sakit mengunjungi teman baiknya yaitu Evan. Setelah sekian lama Evan dan Aoran tidak pernah bertemu lagi. Evan sekarang bekerja sebagai dokter dijerman. Hari-hari Evan menjadi dokter membuatnya tidak pernah mengunjungi Aoran diindonesia.
Aoran yang telah berada dirumah sakit berjalan pelan dilorong-lorong rumah sakit, melihat kesekeliling Aoran mencari Evan, dia datang tanpa mangabari Evan terlebih dahulu. Karena itu Aoran berusaha mengejutkan Evan dengan kedatangannya.
"Kamu tolong periksa pasien di kamar 10." Suara Evan yang sedang berbicara dengan salah satu suster.
Aoran yang mengenal suara Evan menghentikan langkahnya, dia dengan posisi yang tidak terlalu jauh dari Evan berdiri. Wahhh. Betapa kerennya sekarang Evan menjadi dokter, pikir Aoran tersenyum melihat Evan.
"Ehem." Aoran mendekat.
Ketika menoleh, Evan melihat sabahat karibnya didedapannya. Seperti yang diperkirakan Aoran, reaksi Evan sangat berlebihan ketika melihat Aoran.
Evan langsung memeluk Aoran. Mengguncang tubuh Aoran dalam pelukannya. "Gue gak mimpi kan, ini lo kan Fritsch." Evan memastikan penglihatannya.
"Lu ini, responnya lelet banget." Ucap Aoran memukul pundak Evan.
Suara ribut Evan terdengar oleh orang-orang disekitar rumah sakit, tidak ingin mengganggu ketenangan rumah sakit, Evan berpikir mencari tempat yang lebih nyaman untuk berbicara.
"Kita lanjut ngomong ditaman Fritsch." Ucap Evan mengajak Aoran ketaman rumah sakit. Banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Evan.
"Ok."
Setibanya ditaman, keduanya mencari tempat untuk berbincang. Di tengah taman dengan kursi deretan menjadi tempat Aoran dan Evan duduk, dengan secangkir kopi mereka memulai dengan obrolan.
"Berapa lama lu rencana disini. " Tanya Evan diawal pembicaraan.
"Selamanya." Saut Aoran sambil memainkan cangkir kopinya.
"Serius lu, gak bercandakan." Terkejut dengan pernyataan Aoran. "Gimana dengan Ardella? Lu udah ketemu dengan Ardella." Tanya Evan ketika terlintas tentang Ardella dibenak Evan.
Menyebut nama Ardella membuat hati Aoran menjadi nyut-nyutan. "Sebaiknya jangan bahas tentang Ardella." Suara Aoran merendah. Kopinya diteguk dengan cepat, dan tidak mau membahas masa lalunya dengan Ardella.
Sedikit bingung, tetapi Evan tidak melanjutkan pertanyaanya karena ekspresi Aoran terlihat sedih. "Terus apa rencana lu kedepannya dijerman." Tanya Evan serius.
"Gue mau lanjut study kedokteran yang sempat terputus." Saut Aoran.
"Baguslah lu masih punya tujuan." Cengir Evan lebar.
Sebelum menjadi pengusaha, Aoran bercita-cita menjadi seorang dokter, karena sesuatu hal dia tidak bisa melanjutkan cita-citanya.
"Van." Panggilnya dengan ragu.
"Iyah." Melihat Aoran yang tampak bingung.
__ADS_1
"Gue dan Rara bakal melanjutkan pernikahan."
Evan tiba-tiba tercengang, dia tidak menyangka bahwa hubungan Aoran dengan Ardella kandas. Saat ini Evan tidak bisa berkomentar. Tetapi terlihat jelas bahwa Evan lebih setuju Aoran dengan Rara.
Untunglah Aoran belum tahu keadaan Ardella sebenarnya, kali ini akan kupastikan Aoran dan Rara menikah, dengan begitu Alex mungkin akan tenang. Batin Evan.
Aoran dan Evan tiba-tiba terdiam.
"Fritsch tunggu sebentar ya." Ucap Evan berlari ketika melihat seniornya dari jarak jauh.
Evan sedang menyapa seniornya, mengobrol sekitar 15 menit. Setelah itu Evan kembali menemui Aoran.
"Siapa? Kayaknya lu hormat banget ." Saat memperhatikan Evan berbicara dengan dokter itu, Evan menunjukkan sikap segan.
"Dia senior gue, salah satu dokter terpintar disini." Ucapnya.
"Orang indonesia." Menebak dari wajah.
"Iya. Namanya Andre." Sautnya.
Dokter Andre setelah menyelesaikan pengobatannya dengan Ardella, dia melanjutkan penelitiaan dijerman. Karena itu selama lima tahun dia belum kembali keindonesia.
"Apa yang kalian tadi bicarakan." Tanya Aoran hanya sekedar penasaran saja.
"Minggu depan dia akan kembali keindonesia, karena itu aku meminta refrensi penelitiaanya sebagai bahan pelajaran gue." Penjelasan Evan.
"Malam ini ayo ke klub." Ajak Evan bersemangat.
"Gk boleh, lu sekarang udah jadi dokter dilarang keras minum alkohol." Canda Aoran tertawa melihat ekspresi Evan.
***
Indonesia.
Kediaman Ardella.
Dua bulan telah berlalu, keadaan keluarga Ardella kembali menjadi normal. Batara dan Robin telah kembali bekerja, begitu juga Lisa telah mendapatkan pekerjaannya kembali.
Sejak hari itu, Batara, Lisa dan Robin tidak pernah membahas Aoran di depan Ardella. Semua pertanyaan yang ingin mereka ketahui dikubur sedalam-dalamnya.
Pagi hari.
Ardella terbangun dalam tidurnya, sudah lama dia tidak merasa tidur nyenyak, dengan membuka jendela Ardella menghirup udara segar. Wajahnya berseri melihat kearah sinar matahari.
Sekarang semua akan baik-baik saja. Pikir Ardella.
Perpisahannya dengan Aoran menjadikan pikiran Ardella lebih tenang, dia tidak perlu lagi menghadapi tingkah Aoran yang menyebalkan. Dan hal yang telah terjadi Ardella berusaha untuk melupakannya.
__ADS_1
Ketika berdiri didepan jendela, Ardella merasa perutnya tidak nyaman.
Hoek.
Ardella yang ingin merasa muntah lari kearah kamar mandi, berusaha mengeluarkan, Ardella muntah berkali-kali. Kepala Ardella mulai terasa pusing dan berat, tubuhnya terasa lemah dan tidak bertenaga.
"Apa karena lembur semalaman aku jadi masuk angin." Gumam Ardella masih merasa mual. Selang beberapa menit, Ardella merasa perutnya sudah baikan, dia membersihkan diri dengan segera.
Berpakaian rapi, rambut terikat keatas Ardella turun dari anak tangga. Perutnya yang masih kurang nyaman dipegang sambil berjalan menuju keruang makan.
"Dek, kamu sakit." Tanya Lisa menyadari wajah Ardella yang terlihat pucat.
"Iya kak, sepertinya masuk angin karena bergadang semalaman." Sautnya lemas. Ardella mengusap-usap perutnya dengan pelan.
"Kakak ambilin obat dulu ya dek." Lisa pergi keruang tengah mencari obat untuk Ardella.
Batara dan Robin bersamaan datang keruang meja makan, Ardella yang duduk dikursi melihat kearah mereka. "Kamu kenapa Ar." Tanya Robin melihat wajah pucat Ardella.
Hoek.
Ardella kembali merasa mual, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sudah tidak tahan lagi dia bergegas pergi ke kamar mandi.
Meninggalkan Batara dan Robin diruang meja makan, keduanya saling menatap.
Ketika Lisa membawakan obat sakit perut untuk Ardella, dia tidak melihat Ardella, hanya Batara dan Robin dengan ekspresi aneh sedang berdiri.
"Mas, Ardella mana." Tanyanya mencari Ardella.
Batara malah bengong tidak menyahut, suara Lisa tidak ditanggapi, sesuatu terlintas dipikiran Batara untuk saat ini.
Aku harap tidak seperti yang aku bayangkan. Batin Batara.
"Ardella sedang dikamar mandi kak." Robin menyahut. Sebenarnya Robin merasa sedikit cemas, tetapi dia berusaha menanggapi dengan positif.
Ardella dengan perlahan berjalan, perutnya masih diusap. Lisa yang melihat Ardella langsung menyerahkan obat ketangan Ardella dan mengambilkan air minum.
"Minum obatnya Dek." Menyerahkan air minum.
"Makasih kak." Memegang obat dan minuman.
Hendak meminum obat itu, tangan Batara menghentikan Ardella. "Tidak baik minum obat sebelum diperiksa kedokter. Sebaiknyan kamu istirahat aja dulu dirumah, kalau masih sakit kita periksa kedokter." Ucap Batara.
"Hari ini aku ada jadwal bimbingan kak, jadi Ardella harus pergi kekampus." Saut Ardella.
Semenjak kejadian Batara dan Robin dipenjara, Ardella memutuskan satu semester untuk cuti kuliah. Karena itu semester ini dia harus mengejar mata kuliah yang tertinggal.
πππ
__ADS_1
Bersambung