
Hari pertama Ardella hidup mandiri, mulai dari hari ini Ardella akan mencari uang sendiri untuk bertahan hidup, selama ini dia bekerja di perkebunannya sendiri, karena itu Ardella masih bingung cara mencari uang diluar sana.
Ardella yang tengah bingung pergi ketempat Ririn, saat sampai disana Robin juga sedang bersama Ririn, mereka yang melihat Ardella langsung menyapa.
"Ella." Ucap Ririn
"Tumben kamu sepagi ini udah berkeliaran." Tanya Robin.
Ardella kemudian menceritakan dengan singkat permasalahan anatara dia dan ayahnya. Mendengar cerita Ardella. Robin dan Ririn hanyut dalam ceritanya dan merasa kasihan melihat temanya.
"Ardella yang sabar, jangan sedih. Kami akan selalu mendukungmu." Ucap Ririn.
Dengan semangat Robin mengatakan bahwa dia akan membantunya. "Betul. Aku juga akan membantu dan selalu berada disamping Ardella. Karena itu jangan bersedih, Ardella tidak sendirian, kami akan selalu ada." Ucap Robin memberikan senyum.
"Gimana kalau kamu ikut aku, kita bisa kerja upahan di kebun cengkeh pak Kahrim, dalam seminggu dia butuh orang untuk memetik cengkeh. Gajinya memang gk banyak tapi lumayanlah kamu ada pemasukan nanti. Aku juga sering kerja disana kok." Kata Ririn menjelaskan.
Solusi yang diberikan Ririn menurutnya baik. "Baiklah Rin, aku akan ikut saranmu. Mohon bantuanya." Saut Ardella tersenyum.
"Nanti juga aku ikut bantu kalian, setelah selesai beri makan ternak aku nyusul kalian." Ucap Robin.
"Makasih juga untuk Robin yang mau membantuku." Senyumnya. "Oo, ya Rin. Kapan kita mulai bekerja dikebun pak Kahrim." Tanya Ardella pada Ririn.
"Kita mulai kerja besok aja. Ingat besok kamu harus pakai topi jerami, baju dan celana lengan panjang, terus masalah bekal siang sekalian aku bawa punya kamu." Ucap Ririn.
Ardella memeluk Ririn mendekatkan pipinya ke wajah Ririn dan mengucapkan terima kasih . "Sekali lagi terima kasih Rin, aku beruntung punya sahabat sepertimu."
Sedangkan Robin menggurutu karena tidak dipeluk oleh Ardella. "Aku juga ikut membantu, tapi aku tidak dipeluk. Sakitnya hatiku." Robin dengan suara lemas.
"Sini kupeluk." Ucap Ririn melebarkan tangannya.
"Tidak mau, aku maunya Ardella yang peluk" Ucap Robin tertawa bercanda.
Ririn masih mengejar Robin untuk diberikan pelukan.
"Hahaha." Ardella tertawa terbahak-bahak. "Robin lucu banget sih, bukanya tadi diminta dipeluk." Ucap Ardella masih tertawa lepas.
__ADS_1
Robin dan Ririn senang melihat wajah Ardella yang kembali ceria. Mereka berdua ikut tertawa bersama.
Saat melihat wajah Ardella, ada sesuatu yang mengganjal hati Robin. "Aku heran deh, secaranya kamu itu anak tuan tanah di daerah ini, pasti nanti banyak orang-orang bertanya. kamu gk malu." Tanya Robin dengan wajah serius.
"Kenapa harus malu Rob. Aku hanya bekerja. Yang malu itu kalau aku mencuri." Saut Ardella berbicara santai.
"Haha betul juga, tenang aja selama ada Robin. Ella akan tetap aman."
"Woii,,, lebai banget sih." Ririn menyelip pembicaraan Robin.
"Aku bukannya lebai, tapi itu kenyataannya. Kamu masih ingat gak waktu Ardella diganggu sama cowok dari kelas lain. Aku datang melindungi Ardella." Ucap Robin berbicara lebai.
"Iya aku masih ingat, karena itu wajahmu bonyok dipukuli." Ucap Ririn cengir.
"Waktu itu Robin keren banget berani menghadapi mereka sendirian." Ucap Ardella memuju Robin.
Kedua sahabat Ardella juga tidak melanjutkan sekolah. Keluarga Ririn termasuk golongan yang kurang mampu, karena itu Ririn selama ini bekerja dengan orang lain untuk membantu orangtuanya, sedangkan Robin sibuk membantu ayahnya berternak, setelah tamat sekolah mereka jarang bertemu, tapi hari ini bertemu dengan mereka membuat Ardella semakin semangat.
***
Keesokan harinya.
Ardella berangkat dengan penuh semangat. Rasanya Ardella kembali punya harapan, dia akan memulai menentukan hidup sendiri.
***
Dikebun.
Ririn mengambil galahnya, kemudian mengajari Ardella cara mengambil cengkeh dari pohon.
"Bisakan. Gak terlalu sulit sih, tapi harus hati-hati biar gk terkena serpihan cengkeh." Ucap Ririn.
"Kamu mau coba." Tanya Ririn kembali.
"Oke. Rin kok cengkehnya gk mau jatuh." Ardella yang berusaha menarik galahnya yang tersangkut didahan pohon.
__ADS_1
"Galahnya jangan diarahin didahannya, nanti galahnya patah. Coba kamu taruh di dahan cengkehnya, terus tarik." Ririn mengajari tangan Ardella mengambil cengkehnya.
Brakk,,,cengkehnya terjatuh ketanah, Ardella beranjak mengambil cengkeh dan memasukkan kedalam keranjang. Ardella yang sudah mengerti mengambil cengkeh. Dia mengambil cengkeh dengan semangat, hingga tidak terasa hari menjelanh sore.
"Sepertinya sudah sore." Ucap Ririn sambil mengumpulkan cengkeh. "Sebaiknya Kita bawa cengkehnya ketempat pak Kahrim." Ucap Ririn kembali.
"Oke."
Mereka bergegas mengumpulkan dan membawa hasil petikan mereka. Pak Kahrim yang melihat Ardella dan Ririn datang, dia membantu mengangkat sebagian cengkeh masuk ke gudangnya.
"Ini sudah sore, kalian sudah boleh pulang." Ucap pak Kahrim sambil memberikan gaji mereka.
"Makasih pak." Ucap Ardella dan Ririn.
"Sama-sama. Besok kalian datang lagi."
"Iya Pak." Saut Ardella dan Ririn.
Ardella yang pulang dari kebun masih harus memasak, dia membeli sayur dan beranjak kedapur belakang. Dapur belakang dengan alat seadanya, Ardella menggunakan kayu bakar untuk memasak. Setelah selesai memasak, dia membersihkan diri dan beranjak masuk kekamarnya, walau Ardella melihat ayahnya, dia tidak menyapa dan langsung melewati ayahnya.
Setelah bekerja sehariaan membuat Ardella merasa lelah, untuk mengurangi rasa lelahnya Ardella menuliskan isi hatinya di sebuah buku diary.
Mama,,, Ardella sekarang tumbuh dewasa, apa mama melihat Ardella di surga, saat ini ayah dan Ardella sedang bertengkaar maafkan Ardella karna melawan ayah, tapi Ardella sangat sayang ayah kok Ma,,, jaga Ardella Ma. Rindu Ardella terhadap mama sangat besar tapi Ardella tau mama pasti akan melindungi Ardella diaatas sana.
Didalam rumah itu kini tak ada suara, makan malam bersama sudah tidak ada, pagi, siang, malam semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, ayah Ardella juga membiarkan Ardella hidup seperti keinginannya dipikirnya Ardella tidak akan bertahan lama dalam kedaan nya sekarang.
Kini Ardella hidup mandiri walau bukan setiap hari bekerja tapi uang Ardella cukup untuk biayanya sendiri, bersama Robin dan Ririn mereka berjuang. walau terkadang capek Ardella masih tetap bersyukur.
Sesekali Ardella juga pergi ke tepi danau dekat pelabuhan. disana dia masih menunggu Batara.
Jalan hidup memang susah, untuk membentuk mutiara saja butuh banyak proses, tanpa proses tak ada hasil, walau sakit harus tetap bertahan untuk menjadikan sebuah mutiara yang indah. menunggumu bukan lah kesusahan bagiku. kehadiranmu akan menjadikanku seperti mutiara dan membuatku berharga.
By : Ardella.
Puisi yang dituliskan teruntuk kak Batara dalam kerinduan.
__ADS_1
πππ
Bersambung