
Sore hari mulai terpanjar awan gelap, rumah yang tadinya sepi kini ramai, Lisa kakak ipar Ardella yang baru datang dari pasar bersama bik Ami, diikuti dengan kedatangan Robin dan Batara.
Mendengar langkah kaki yang begitu ramai, Anasya dan Ardella keluar menggendong Edward dan Erwin menyambut kedatangan orang rumah.
"Udah pulang dek." Tanya Batara duduk membuka kaos kakinya disofa ruang tengah.
"Iya kak, hari ini gk banyak jadwal masuk." Menghampiri Batara duduk diruang tengah.
Dilihatnya Ardella bersama seorang gadis, Batara merasa tak kenal.
"Siapa dek? Teman?." Tanya Batara kembali.
Anasya orang yang ramah tanpa ragu langsung menyapa kakak Ardella dengan sopan.
"Haii kak, saya Anasya Fritsch teman Ardella di kampus." Sapa Anasya memberi salam senyum.
Anasya yang memberitahukan nama lengkapnya membuat Robin terkejut, wajah mulai berubah, pandangannya melekat pada Anasya, dia yang juga berada diruang tengah memperhatikan Anasya yang menggendong Edward.
Fritsch, namanya terlihat tak asing, gk mungkin kan dia kenal dengan Aoran Fritsch. Suara hati Robin yang resah.
"Fritsch." Tak sadar Robin mengucapkan.
Ekspresi Robin yang tak senang terlihat oleh Anasya, rasanya sedikit aneh, ingin sekali Anasya bertanya lebih dalam tapi takut tak sopan oleh keluarga Ardella.
"Sepertinya namaku membuat kamu terkejut." Tanya Anasya bingung melihat ekspresi Robin.
"Tidak ada, hanya saja sepertinya aku pernah melihatmu." Mengalihkan pembicaraan.
"Kita pernah bertemu sekali dikampus saat aku bertanya padamu." Ucap Anasya dengan santai.
"Ahhh,,,,aku ingat sekarang, waktu itu kamu memangilku Pak." Robin tersenyum namun sedikit kepikiran nama belakang Anasya.
"Iyah." Ucap Anasya.
Anasya banyak berbincang dengan Batara dan Robin, Ardella meninggalkan mereka ditengah pembicaraan dan membawa Edward dan Erwin yang dari tadi menimbulkan keributan.
"Anasya tinggal di jakarta sama siapa." Ucap Batara.
"Dengan kakak. Mama dan papa tinggal di jerman." Ucap Anasya.
"Orangtua kamu dijerman." Tanya Batara kembali.
"Iya kak."
Robin masih dalam keadaan diam, hanya sekilas memandang Anasya, terlihat mirip dengan Aoran.
"Nama kakakmu siapa." Tanya Robin ragu berharap tidak seperti yang dipikirannya.
"Ao,,, " Belum sempat mengucapkan Lisa datang membawakan teh.
Kedatangan Lisa membuat pembicaraan teralihkan.
"Dek Anasya satu jurusan sama Ardella." Tanya Lisa ikut duduk bersama.
"Iya Kak, aku dan Ardella selalu bersama dikampus." Ucap Anasya senyum.
__ADS_1
"Syukurlah Ardella punya teman yang baik seperti Anasya." Lisa yang tersenyum.
"Ardella juga orangnya baik kok Kak." Membalas dengan senyuman.
Didalam kamar Ardella berusaha menidurkan sikembar.
Tringgg,,,, ponsel berdering berasal dari tas Anasya. Ardella mengambil tas Anasya dan mengecek panggilan yang masuk, ketika dilihatnya bertuliskan kakak dalam bahasa jerman, mengambil hp Anasya dan ingin memberikannya pada Anasya, saat menuju keruang tamu Anasya berada didalam kamar mandi.
"Kak, Anasya dimana." Tanya Ardella yang masih memegang ponsel berdering.
"Katanya kekamar mandi sebentar." Ucap Batara.
"Hpnya dari tadi berdering." Memperlihatkan hp Anasya yang terus berdering.
"Nanti aku beritahu." Ucap Batara.
Bunyi ponsel Anasya berdiam, Ardella kembali masuk kekamarnya, belumpun meletakkan ponsel kedalam tas, ponselnya berdering kembali.
"Mungkin penting." Gumam Ardella pelan.
Tangannya mulai menekan tombol angkat.
"Hallo." Ucap Ardella.
Aoran yang mendengar suara Ardella merasa familiar, dia berdiam tak bersuara.
"Edward sayang tenang sedikit, tante mau angkat telpon." Ucap Ardella lembut menyuruh Edward diam sejenak saat panggilan berlangsung.
Hallo,,Kata yang diucapkan Ardella lebih Dari tiga Kali.
Krekk suara pintu terbuka, Anasya kembali dari kamar mandi setelah mendengar Ada teepon untuknya. Ardella yang melihat Anasya langsung memberikan ponsel.
"Ada yang telepon, tapi aku tak mengerti tulisannya." Ucap Ardella menyerahkan ponsel.
Anasya yang melihat panggilan masuk dari kakaknya.
"Hallo kak. " Ucap Anasya.
Aoran tersadar dengan suara Anasya.
"Tadi itu siapa." Ucap dengan nada serak.
"Temanku kak, aku sekarang ada dirumahnya, ada perlu apa kak Aoran telpon." Ucap Anasya bertanya.
"Kakak cuman kasih kabar, kalau ada urusan kerja beberapa minggu di disingpure, selama kakak tidak ada kamu jaga diri, jangan buat masalah."
"O kak, jangan lupa oleh-olehnya. " Ucap Anasya.
"Mmm."
"Dari siapa." Tanya Ardella dari tadi mendengar percakapan mereka lewat telpon.
"Kakakku." Ucapnya senyum.
Aoran yang dari kejahuaan masih memikirkan suara wanita yang barusan bicara dengannya.
__ADS_1
Serindu itukah aku terhadapmu Ardella, sehingga suaramu sekarang melekat dipikiranku. Kata hati Aoran.
"Bos tiket ke singapure telah dipesan." Ucap Parto masuk kedalam ruangan.
"Atur jadwalku selama seminggu ini." Aoran yang duduk tengah berpikir.
"Baik bos." Beranjak keluar.
Aoran mulai menghembuskan nafas, hatinya terasa sesak, pikirannya merasa kacau, dia menutup matanya. Seketika ingatannya berada bersama Ardella yang tersenyum padanya.
Aku lelah Ardella. Suara hatinya perih.
Kembali ke Ardella yang saat ini bersama Anasya.
"Anasya kalau mau mandi, pakai bajuku aja." Ucap Ardella kepada Anasya setelah bicara lewat ponsel.
"Mmm, Ok." Anasya mengambil baju yang telah Ardella sediakan.
Makan malam sekeluarga, Anasya ikut makan bersama, terlihat suasana kekeluargaan diantara mereka, Anasya yang melihat merasa iri dengan keluarga Ardella, selama ini dirumah dia selalu sendiri makan ketika kakaknya tak pulang dari kerja.
"Anasya makan banyak ya, jangan sungkan disini." Ucap Lisa menaruh nasi ke piring Anasya.
"Makasih kak."
"Edward sama Erwin udah makan kak." Tanya Ardella.
"Udah, tadi kakak kasih mereka makan duluan." Ucap Lisa sibuk menyiapkan hidangan makanan.
Anasya yang tak pernah kumpul lagi bersama keluarganya merasa sangat nyaman bersama keluarga Ardella. Setelah selesai makan akhirnya Ardella dan Anasya kembali kekamar bersama, Ardella mulai membuka laptopnya, mengerjakan tugas yang belum selesai, sedangkan Anasya ingin menonton drakor di laptopnya sendiri.
"Butuh bantuan." Ucap Anasya sebelum memakai handsetnya.
"Tidak, ini hampir selesai, kamu sedang nonton apa." Tanya Ardella melihat kearah Anasya yang terbaring dikasur.
"Nonton drakor Descendant Of The Sun, filmnya seru banget." Anasya tersenyum lebar.
"Maulah nontonnya." Ucap Ardella penasaran.
"Ok aku tunggu kamu siapin tugasnya, lagian aku juga baru nonton episode 1." Ucap Anasya menjeda film yang diputarnya.
"Ok, ini juga hampir selesai." Ardella bersemangat.
Sambil menunggu Ardella menyelesaikan tugasnya, Anasya bermain game dihpnya.
Tringg,,, suara pesan masuk dari sang detektif.
Anasya dengan cepat membuka pesan, dibacanya dan dilihatnya, pesan tersebut membuat Anasya geram. Lihat aja besok, kukasih pelajaran mereka. Pikir Anasya yang kesal.
"Akhirnya selesai juga, ayo kita nonton." Ucap Ardella menyimpan filenya dan menutup laptopnya.
Tersadar dengan suara Ardella, Anasya langsung menutup hpnya dan meletakkan dibawah bantal. Ardella mulai beranjak dari meja belajarnya, film dimulai. Anasya dan Ardella asik menonton, kedua gadis ini menonton sambil senyum-senyum, episode dami episode diputar hingga tak terasa sudah larut malam, Ardella yang telah tertidur pulas dan Anasya yang telah mengantuk mematikan laptopnya.
💔💔💔
Bersambung
__ADS_1