Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Sebisa Mungkin Memberi Kenyamanan


__ADS_3

Aoran tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Dia menurunkan Edward dari pelukannya, kemudian mengitari tubuh Ardella, mengamati apakah Ardella terluka atau semacamnya.


Andre yang ikut mencari kini melihat Aoran telah menemukan Ardella, perasaan sedikit lega karena tidak ada sesuatu buruk yang terjadi. Secepatnya dia mendekat kearah Ardella.


"Waktunya sarapan." Andre yang tidak memperpanjang masalah, apalagi jam menunjukkan sekitar jam 9.00 wib, Ardella belum sarapan sama sekali. Sangat tidak baik bagi ibu hamil telat sarapan.


Andre memegang tangan Ardella, sedangkan Edward dan Aoran mengekor dari belakang. Kesal rasanya melihat Andre menggandeng tangan Ardella, tapi Aoran juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena saat ini Andre adalah dokter Ardella.


Sudah mendekati kamar Ardella, semua orang tampak ramai. Lisa dan Batara telah datang dengan membawa beberapa bekal makanan, disamping mereka ada Evan dan Anasya.


Anasya yang membawa keranjang buah melihat keadaan Ardella, seperti yang dikatakan Evan sebelumnya bahwa Ardella sedang sakit. Kabar Ardella sakit diberitahukan oleh Andre pada Evan setelah pertengkarannya dengan Aoran dimalam hari, Anasya yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi memaksa Evan untuk bercerita.


"Kalian dari mana saja." Seru Batara mendekati Andre.


Ardella kegirangan melihat Batara kakaknya, pelukannya langsung menerjang. "Kakak." Suara nyaring Ardella terdengar ceria.


Ardella asik memeluk kakaknya, sedangkan yang lainnya seperti biasa hanya bisa melihat. Semua orang masuk keruang rawat Ardella. Tetapi Aoran menahan Evan untuk masuk.


"Van, gue gk ingin lu dekat-dekat sama Ardella. Setidaknya untuk saat ini" Ucap Aoran langsung tanpa memikirkan perasaan Evan. Wajar bagi Aoran kesal atau bahkan marah pada Evan. Setelah apa yang terjadi Aoran merasa Evan memang tidak menyukai Ardella bersamanya.


"Oke, gue ngerti, tapi sebentar aja. Bagaimanapun aku pernah merawat Ardella." Evan mungkin merasa bersalah, namun perbuatannya dimasa lalu belum bisa diterima oleh Aoran sepenuhnya.


Didalam ruangan, Anasya ingin sekali berbicara dengan Ardella, tapi masih sedikit bingung awal apa yang harus dilakukan saat bicara dengan anak kecil.


"Haii." Anasya menyapa Ardella, meski sedikit canggung tapi senyum Anasya terlihat natural ketika menyapa sahabatnya itu. Sekarang Anasya tahu bahwa wanita yang dimaksud oleh kakaknya Aoran lima tahun lalu adalah Ardella.


Ardella masih merasa asing dengan Anasya, matanya menyipit dan sesekali berkedip.


"Aku temannya kak Batara." Kata Anasya.


Mendengar kata teman kakaknya, Ardella membuka lebar mulutnya, alisnya terangkat, bola matanya besar melihat kearah Anasya. "Temannya kakak." Saut Ardella tersenyum lebar, tangannya diulurkan untuk berjabat tangan. "Ardella." Seperti biasa Ardella akan bertingkah imut.


"Anasya." Memasang senyuman. Aku tidak pernah menyangka bahwa kamu akan mengalami hal seperti ini, kuharap kamu cepat sembuh, dengan begitu aku akan menceritakan sesuatu yang menarik untukmu.


Bekal makanan yang dibawa Lisa dikeluarkan satu persatu, atas request Robin semua makanan dibuat kesukaan Ardella dan Edward. Robin sendiri tidak datang karena hari ini dia harus mewakili Batara untuk bekerja.


Perhatiaan yang ingin ditunjukkan oleh Aoran direbut oleh Lisa.


Aoran melihat sekeliling ruangan, terlintas dibenaknya kalau ruangan Ardella dirawat sedikit suram. Untuk kenyaman Ardella sepertinya harus dilakukan renovasi, pikir Aoran.


***


Keesokan harinya.


Seperti yang telah dipikirkan, Aoran telah membeli semua kebutuhan Ardella. Bahkan Aoran tanpa segan meminta Robin untuk membantunya melakukan renovasi ruangan Ardella.


Robin sendiri setuju, demi kenyamanan Ardella apapun dilakukan olehnya, karena itu dia menerima kerja sama Aoran untuk merenovasi kamar rawat Ardella.

__ADS_1


"Kita kasih cat warna pink dibagian sini." Kata Robin menunjukkan dinding berwarna putih sedikit kusam.


"Oke, tapi jangan dicat, bau cat tidak sehat untuk Ardella yang sedang hamil." Aoran menolak halus, selain cat, masih bisa menempelkan kertas dinding yang cantik dan berwarna tanpa harus menimbulkan bau menyengat.


"Tempat tidur Ardella juga harus dipenuhi dengan boneka." Aoran juga memikirkan mainan kesukaan Ardella.


"Ardella kamu kemanain." Robin melihat ruangan tanpa Ardella.


"Tenang aja, Anasya sedang menjaga Ardella ditaman." Sautnya.


Aoran yang sudah merancanakan dengan matang meminta bantuan pada Anasya dimalam hari agar menemani Ardella ketika dia melakukan renovasi kamar Ardella.


Cekrek.


Parto yang juga diperintahkan datang oleh Aoran membawa perlengkapan yang dibutuhkan untuk merenovasi ruangan itu.


Aoran mulai bereaksi mengerjakan apa yang harus dikerjakan, begitu juga dengan Robin. Semuanya sibuk beres-beres, Parto juga ikut membantu. Suara ribut ditimbulkan oleh mereka bertiga.


"Apa yang kalian lakukan." Andre yang mendengar keluhan dari beberapa pasien disebelah kamar Ardella.


"Permisi dokter." Ucap seorang lelaki yang sedang mengangkat tempat tidur dengan ukuran besar.


Sekitar 4 orang Lelaki pengantar barang datang dengan membawa tempat tidur berukuran yang lebih besar ke kamar itu, Andre yang berdiri menghalangi jalan mereka untuk memasukkan tempat tidur.


"Aku ingin Ardella nyaman, karena itu aku sudah menyiapkan semuanya." Aoran mulai merespon Andre.


"Ini rumah sakit bukannya hotel." Jawab Andre menahan emosinya.


"Aoran! Kalau kamu ingin melakukan hal gila, jangan disini, kamu membuat pasien lainnya terganggu." Andre menjelaskan bahwa tindakan Aoran mengganggu orang disekitar rumah sakit. "Terus kamu juga Rob, ngapain ikutan sama Aoran." Robin yang dari tadi sibuk dengan kegiatannya sendiri.


"Aku hanya berpikir Ardella akan lebih senang kalau kamarnya diberi warna-warni." Robin tersenyum cengir.


"Tidak bisa, bagaimanapun ini rumah sakit. Sebaiknya hentikan semua ini." Andre bersikeras.


"Siapa pemilik rumah sakit ini." Tanya Aoran sambil memasangkan pelapis cat dinding tempel, ruangan itu tidak dicat dengan cat cair melainkan kertas dinding berwarna pink bsermotifkan bunga-bunga ditempel disetiap dinding ruangan.


"Papi gue, emangnya kenapa." Saut Andre.


"Bilangin sama papi kamu, kalau Aoran Fritsch mau beli rumah sakit ini."


Andre sudah tidak sanggup untuk berdebat dengan Aoran, lelaki yang ada dihadapanya ini memang terlihat normal sekarang. Tapi kalau sampai menyinggung, bisa-bisa tindakan kejam Aoran menyulitkan Andre kedepannya. Untuk beberapa alasan Andre bukanlah orang yang mampu melawan kekuasaan Aoran.


"Siapkan ini dengan cepat tanpa menimbulkan suara berisik." Menyerah, Andre membiarkannya.


"Oke." Aoran tersenyum lebar merasa puas karena dirinya menang. Kalau memang diperlukan untuk membeli rumah sakit, Aoran bersedia untuk membelinya.


Kamar rawat Ardella seketika berubah. Tempat tidur yang cukup luas dilengkapi dengan boneka bear, tirai manik-manik menutupi jendela, kemudian lemari besar berisikan pakaian khusus untuk Ardella dengan beragam macam, bahkan Aoran sendiri tidak lupa membelikan berbagai macam ikat rambut. Aoran sendiri meletakkan pakaiannya dilemari itu. Berencana untuk menemani Ardella sepanjang waktu dirumah sakit.

__ADS_1


"Apa kita sudah bisa memanggil Ardella." Tanya Robin setelah menyelesaikan semuanya.


"Mmm." Puas dengan hasil kerja Robin dan Parto.


Robin pergi mencari Anasya ditaman rumah sakit, saat ini Ardella sedang asik melihat kupu-kupu yang hinggap dibunga, sedangkan Ansaya menjaga Ardella dari dekat.


"Anasya! Bawa Ardella kembali kekamarnya." Seru Robin agak jahuan.


"Oke." Sautnya.


Anasya membawa Ardella kembali kekamarnya.


Robin, Aoran dan Parto menunggu didalam ruangan, mereka sepertinya telah mendengar suara langkah kaki.


Saat Anasya membuka pintu, teriakan kejutan meriah menyambut Ardella.


Horeee.


Ardella kegirangan melihat kamarnya indah, terus boneka yang ada ditempat tidur menjadi pusat perhatiannya, dia langsung berlari dan melompat kearah tempat tidur.


"Ardella jangan lompat." Aoran menahan tangan Ardella agar tidak melompat-lompat diatas tempat tidur. Pastinya berbahaya untuk Ardella melompat karena sedang hamil.


Ihhhhh.


Ardella menepis tangan Aoran, tetap melompat kesana-kemari, kasur empuk itu membuat tubuh Ardella berguncang-guncang, Ardella melompat sampai tubuhnya melayang. Aoran semakin cemas, dia berusaha menghentikan Ardella.


"Ardella, jangan melompat, nanti kamu bisa jatuh." Aoran menangkap Ardella.


Aoran berhasil membuat Ardella tidak bisa bergerak karena kedua lengannya melingkar di tubuh Ardella. "Ah, perutku." Ardella menjadi tenang, dia menyentuh perutnya. "Sakit." Katanya memelas, wajahnya mulai merah.


Aoran terkejut ketika Ardella mengatakan sakit dibagian perutnya. "Mana yang sakit." Aoran menyentuh perut Ardella. Mengelus lembut dengan tangannya. "Rob, panggil Andre." Perintah Aoran dengan nada keras.


"Oke." Saut Robin.


Anasya juga mulai khawatir ketika Ardella mengatakan perutnya sakit. "Kak, baringkan aja dulu Ardella, mungkin karena lompat-lompat perutnya jadi sakit." Merapikan tempat tidur yang telah menjadi acakan karena ulah Ardella sendiri.


Aoran berusaha membaringkan Ardella, tetapi Ardella menolak, dia tidak ingin terbaring. Dari tadi Ardella menggelengkan kepalanya.


"Bos, coba tanya Ardella maunya apa. Mungkin mau kekamar mandi" Parto yang memiliki anak seumuran lima tahun sedikit mengerti dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Ardella.


"Gimana cara nanyanya." Gumam Aoran bingung.


Andre telah datang, stetoskop sudah dipasang ditelinganya, berusaha ingin memeriksa kondisi Ardella. Hendak memeriksa, Ardella berkata.


"Pipis."


Semua orang menjadi kaku dan mematung.

__ADS_1


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung


__ADS_2