Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Secara Perlahan


__ADS_3

"Pipis." Aoran mengulangi kembali perkataan Ardella.


Ardella mengangguk sembari memegang perutnya, dia bergetar menggigit bibirnya.


Aoran mengangkat Ardella dengan kedua tangannya, menggendongnya dalam pelukannya, kaki Ardella menghapit pinggang Aoran, dan tangan sebelah kiri melingkar dibagian leher, tangan sebelah kanan lagi memegang erat baju dibagian pundak. Aoran ikut melingkarkan tangannya dibagian tubuh Ardella.


"Eh, lu mau kemana." Robin menjegat ketika Aoran mulai berjalan menuju kamar mandi.


"Bantuin Ardella buang air kecil." Saut Aoran mengarahkan tatapan masam.


Robin melarang keras, dia terus-terusan menghambat jalan Aoran, perdebatan timbul diantara Robin dan Aoran.


"Apain sih, minggir." Aoran memeloti, memasang wajah menyeramkan.


"Gue gk setuju kalau lu yang bantuin Ardella. Mendingan gue daripada lu." Tetap Robin bersikeras menghalangi Aoran.


"Gk mungkin gue izinin, lagian Ardella dan aku ..."


Perkataan Aoran terpotong ketika Anasya mulai angkat bicara. "Sudah, sudah." Melerai ditengah-tengah Aoran dan Robin. "Biar aku aja yang bantu Ardella. Kalian jangan ribut lagi." Anasya menghentikan keduanya agar tidak bertengkar lagi dan tidak mempermasalahkan siapa yang akan membantu Ardella.


"Lu dengerkan, biar Anasya yang bantu Ardella." Robin setuju. Daripada Aoran yang melakukannya Robin memilih Anasya.


"Baiklah." Saut Aoran.


Aoran sedikit menundukkan tubuhnya, menurunkan Ardella dengan pelan, kaki Ardella hampir menyentuh lantai, tapi Ardella masih mengeratkan pegangannya.


Nggggg.


Tidak mau turun, Ardella kembali menghapit Aoran dengan kedua kakinya. Selama ini Aoran selalu bersama Ardella sepanjang hari, karena itu Ardella sudah terbiasa dengan Aoran. Melihat Anasya, Ardella masih kurang suka.


Selama merawat Ardella, sekalipun tidak pernah Aoran menunjukkan wajah marah, atau dingin. Aoran sangat memanjakan Ardella lebih dari Batara melakukannya.


"Rob, biarkan Ardella dibantu oleh Aoran." Ucap Andre yang dari tadi memperhatikan.


"Tapi kak,,,." Masih tidak setuju. Tetapi Andre memberi pengertian lewat mimik wajahnya. "Baiklah." Dan pada akhirnya Robin menyerah.


Aoran memainkan bibirnya dan mengulurkan lidahnya, Dari ekspresi yang terlihat diwajah Aoran yaitu meledek Robin.


"Awas lu macem-macem." Ancam Robin menunjukkan kepalan tangannya.


Didalam kamar mandi, Aoran membuka penutup kloset, kemudiaan menurunkan Ardella dan menyuruhnya untuk berdiri sebentar. Aoran menunduk, tanpa malu ataupun segan Aoran menantangkan celana Ardella.


"Duduk disini." Aoran menunjuk kearah kloset, sedangkan tangan kanannya memegangi baju Ardella agar tidak ditimpa Ardella saat duduk.


"Mmm." Ardella tersenyum dan menurut semua perkataan Aoran.


"Ardella pintar." Senyumnya mengelus kepala Ardella.


Robin yang berada diluar berjalan mondar-mandir.


Ne Aoran bisa ajakan berbuat mesum sama Ardella. Pikirannya berakar ntah kemana.


Robin mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali. Perasaannya tidak tenang membiarkan Aoran berduan didalam kamar mandi bersama Ardella.

__ADS_1


"Lama banget sih, udah belum." Teriaknya dari luar.


Kegelisahan Robin membuat Anasya merasa tidak nyaman. "Rob, kamu ini kenapa sih." Tanyanya menghentikan Robin untuk mengetuk pintu.


"Kita nggak tahu apa yang akan dilakukan oleh kakakmu yang bere**sek itu." Spontan Robin mengutarakan isi pikirannya.


Aoran yang didalam kamar mandi mendengar dengan jelas atas ucapan Robin. "Ngeselin banget sih Robin. " Gumam Aoran kesal.


Melihat Ardella, perhatiannya seketika teralihkan untuk sesaat. "Masih sakit perutnya." Tanya Aoran pada Ardella.


Ardella menggelengkan kepala, sepertinya dari ekspresi Ardella menunjukkan bahwa sekarang dia sudah merasa baikan. Kembali Aoran merapikan pakaian Ardella, setelah itu berjalan mendekati pintu. Omelan Robin dari luar sangat jelas didengar oleh Aoran.


Aoran membuka pintu, masih menggendong Ardella. "Gk segitunya juga, gue masih punya akal sehat." Kata Aoran menatap tajam, tapi masih berusaha berbicara lembut. Bagaimanapun Ardella saat ini dikatakan dalam keadaan tidak sehat. Mana mungkin juga Aoran melakukan hal aneh, Ardella saat ini bermental anak berumur lima tahun, jika melakukan hal seperti itu berarti Aoran udah bisa dikatakan gila.


"Gue gk percaya sama lu." Ketus Robin keras sampai menimbulkan suara kasar dan mengagetkan Ardella.


Ngggg.


Ardella merasa takut karena suara keras yang ditimbulkan oleh Robin. Bergusar, Ardella menyembunyikan wajahnya dibagian dada Aoran.


Robin kembali menarik emosinya, takut Ardella akan menangis.


Selama merawat Ardella, setidaknya Aoran harus mengerti apa yang diucapkan Ardella lewat ekspresi tanpa berkata.


Berlalu begitu saja, tidak terasa sudah dua minggu Ardella dirawat dirumah sakit.


Selain Batara yang selalu datang menjaga Ardella setiap hari, ada Aoran yang tidak mau berjingkang dari kamar rawat Ardella.


Hingga saat ini Aoran harus belajar keras untuk merawat Ardella.


***


Kediaman Batara.


Dipagi hari dengan udara yang terasa dingin menusuk ketulang, Anasya dengan menggosok kedua tangannya tepat berdiri didepan pintu. Anasya dengan koper besarnya yang tepat disebelah kaki kanan sedang membunyikan bel rumah Batara.


Dari arah dapur, Lisa mendengar bunyi bel, sepagi ini ada orang yang datang, sangat mengherankan baginya, karena itu dengan segera Lisa membukakan pintu.


Anasya memasang wajah ramah dan tersenyum lebar. "Hallo kak Lis." Sapanya.


"Anasya, ada perlu apa sepagi ini datang. "Ucap Lisa. Melihat koper dibelakang Anasya ada pertanyaan dibenak Lisa. "Terus koper itu untuk apa." Tanyanya keheranan.


"Bicaranya boleh didalam kak." Sautnya pelan, menunjukkan senyum tipis.


"Ah, maaf. Kakak lupa mempersilahkan masuk. " Lisa merespon dengan cepat.


Menarik koper besarnya, Dengan kekuatan besar akhirnya Anasya berhasil menyeret kopernya.


"Duduk disini sebentar, kakak buatkan teh dulu." Ucap Lisa.


"Tidak usah kak, sebenarnya ada yang ingin kukatakan." Ucap Anasya dengan Ragu-ragu menahan tangan Lisa.


Batara yang baru bangun merasa tenggorokannya kering, ketika ingin menuju dapur, Batara melewati ruang tengah. Anasya dan istrinya terlihat sedang berbincang, Batara mulai bertanya dalam pikarannya dengan kehadiran Anasya dipagi hari, apalagi dengan koper sebesar itu, dia mulai mendekat.

__ADS_1


"Anasya." Panggilnya menghampiri.


"Kak Batara." Cengir-cengir, Anasya melebarkan senyumannya. "Pagi kak." Anasya menyalam tangan Batara tanpa ragu.


Anasya pun menyampaikan keinginanya untuk tinggal bersama mereka untuk sementara waktu. Dia menceritakan keluhannya, dan juga semenjak Ardella sakit, dirumah besar itu, Anasya merasa kesepian tanpa kakaknya dirumah, karena itu memutuskan untuk tinggal dirumah kakaknya Ardella. Sekaligus alasan Anasya yang ingin tinggal disini karena kepokannya Edward, dia ingin lebih dekat dengan Edward.


Mendengar alasan Anasya, timbul rasa kasihan dari Batara dan Lisa. Gadis muda tinggal sendirian tanpa keluarga pasti sangat kesepian. Batara dan Lisa akhirnya mengizinkan Anasya untuk tinggal sementara waktu. Dikamar bik Ami dulu, Lisa membawa Anasya untuk melihat kamar yang akan digunakannya kelak.


"Maaf ya dek, kamarnya belum sempat dibereskan." Tentu saja kamar itu berdebu karena sudah tidak ditempati lagi.


"Nanti aku aja yang bersihkan kak." Saut Anasya melihat kearah dalam kamar. "Bukankah kak Lisa harus berangkat kerja." Ucap Anasya melihat kearah Lisa.


"Kalau gitu kakak tinggal dulu ya dek." Saut Lisa melirik jam tangannya.


Anasya memeriksa setiap sudut kamar, sepertinya banyak yang harus dirapikan, apalagi debu yang sudah pastinya melekat disetiap dinding ataupun lantai. Meski kamar itu tidak terlalu luas, tapi tempat tidur dan lemari sudah ada didalam ruangan. Hanya tinggal debu yang perlu dibersihkan.


Batara dan Lisa meninggalkan Anasya sendirian. Mereka harus mengejar waktu untuk bersiap-siap berangkat kerja.


Robin yang arah ruang tengah mendengar suara ribut di kamar bik Ami dulu, kamar itu tepat berada dibelakang, tidak jauh dari ruang dapur, hanya perlu belok kanan maka kamar itu akan terlihat dengan pintu berwarna coklat.


Melihat Anasya dari belakang, Robin berpikir mungkin Batara memperkerjakan asisten rumah tangga lagi.


"Permisi mbok." Ucap Robin ramah.


Suara Robin menghentikan tangan Anasya yang sedang menyapu. Membalikkan badan, Anasya memasang wajah senyum.


"Pagi Robin." Senyumnya.


"Kamu! Ngapain kamu disini. " Terkejut, terlontar kata keras dari Robin.


Robin kok ekspresi kayak gitu, seperti gk suka banget ngeliat aku. Batin Anasya.


Anasya menatap tajam, kedua belahan bibir Anasya merengut. Senyumnya perlahan memudar. "Mulai hari ini, aku akan tinggal disini." Sautnya jutek. Kemudian Anasya melanjutkan menyapu.


"Apa kamu bilang." Robin menarik lengan Anasya agar tidak membelakanginya.


"Perlu aku ulangi, bahwa mulai sekarang aku tinggal disini." Ketus sambil melepaskan tangan Robin dari lengannya. "Kamu kenapa sih, kayak gk suka banget ngeliat aku." Tanyanya dalam keadaan membingungkan.


"Iya, aku memang gk suka." Saut Robin tanpa basa-basi.


"Alasannya." Tanya Anasya.


"Gk ada." Kata Robin tanpa memberi alasan.


Sepertinya tidak akan mudah bagi Anasya untuk tinggal dirumahnya kakak Ardella, begitu juga dengan Robin tidak bisa terima kalau Anasya tinggal satu atap dengannya.


Sebenarnya tidak ada alasan tertentu untuk Robin tidak suka dengan Anasya. Hanya saja Robin merasa Anasya dari keluarga dengan kelas sosial tinggi ingin hidup dirumah yang tidak terlalu megah membuat perasaannya tidak nyaman.


Robin selalu berpikir seandainya dulu Aoran tidak pernah datang kepulau maka semua ini tidak akan terjadi. Sekarang melihat Anasya yang bertingkah semaunya mengambil keputusan untuk tinggal di rumah Batara membuatnya berpikir sesuatu pasti akan terjadi.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2