Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Persahabatan Retak


__ADS_3

Seminggu telah berlalu.


Batara dan Robin masih didalam penjara.


Pagi hari.


"Kakak ipar." Panggil Ardella melihat kakak iparnya masih mengenakan baju rumahan. "Kakak tidak mengajar." Tanyanya kembali.


Lisa dalam keadaan menyajikan makanan untuk sarapan. "Mulai hari ini kakak tidak mengajar lagi dek." Sautnya senyum.


"Tapi kenapa kak." Bingung dengan ucapan Lisa.


"Kakak dipecat." Ucapnya singkat.


"Dipecat, tapi kenapa bisa tiba-tiba." Terkejut mendengar, Ardella menunjukkan kekhwatiranya.


"Jangan cemas dek, nanti kakak masih bisa cari sekolah lain untuk mengajar kembali." Berusaha tegar, dan memberikan senyuman, bahwa ini bukanlah masalah besar.


Ardella menghela nafas dengan dalam. Ketika kakaknya masih dipenjara, dan sekarang kakak iparnya berhenti bekerja. Apa yang akan terjadi setelah ini. Ardella juga tidak punya pilihan lain, rencananya pagi ini Ardella akan menemui Aoran. Dia tidak akan menunda lagi untuk bicara dengan Aoran.


***


Dalam seminggu ini, banyak sekali perubahan. Dan Ardella merasakan perubahan dari Aoran. Meski dulu kelihatan Aoran dingin dan pemarah, Ardella masih bisa melihat sisi lembut Aoran. Tapi sekarang terasa berbeda, tatapannya sungguh dingin, tidak bersuara, namun aura Aoran berubah seakan ingin membunuh.


Ardella merasa gugup, tapi dia tidak punya pilihan lain, biarlah aku mencoba dulu, mungkin Aoran tidak seburuk itu. Katanya meyakinkan keputusannya. "Hari ini aku harus mengatakannya." Gumam Ardella.


Ketika melihat Aoran. Dia merasa beberapa hari ini Aoran menakutkan, diam Aoran lebih menyeramkan daripada ketika dia bertindak sedikit mesum. Ada kesan gugup diwajah Ardella ketika melihat Aoran fokus dengan kerjaannya.


"Bos." Ucapnya lembut dan berdiri tegap dihadapan Aoran. "Ada yang ingin kutanyakan." Ucapnya lagi dengan nada berjeda.


Menyeritkan dahinya, menatap dengan wajah datar, tidak menjawab, Aoran hanya mengamati.


"Masalah pro,,,. " Tanya Ardella belum lengkap.


"Ah. Anasya telah mengatakannya padaku. Kenapa? apa kamu ingin aku mencabut tuntutanku, dan mengeluarkan seorang narapidana dari penjara." Kata jahat langsung terlontar begitu saja.

__ADS_1


Terkejut dengan apa yang didengarnya, Ardella yang tadinya ingin berbicara lembut dan membujuk Aoran, berubah dengan nada kasar dan membentak Aoran. "Mereka bukan narapidana." Saut Arrdella, mengeratkan tangannya, dia memeloti Aoran yang menghina kakakknya.


"Orang yang menggelapkan dana 10 miliyar, kemudian dipakai untuk kepentingan pribadinya. Apakah itu bukan narapidana? atau harus kukatakan mereka orang baik berhati malaikat. " Senyumnya merendahkan.


Dengan sedih, Ardella menatap Aoran. Kata-katanya tidak keluar, kata minta tolong pada Aoran terbungkam dengan rapat. Wajah Aoran yang melihatnya saat ini seperti rasa hina. Dia berbalik dan pergi dari ruangan. Menenangkan hati sejenak diluar, Ardella mengusap air matanya. Berusaha untuk tidak terlihat lemah.


Aoran juga tidak bergeming. Senyum kecil diraut wajahnya seakan senang. Dia masih menunggu kelanjutan dari tindakan Ardella. Menunggu sampai kapan Ardella akan sanggup bertahan.


***


Meminta bantuan Aoran bukan lagi menjadi harapan Ardella. Kepalanya rasanya penat memikirkan cara lain. Sepulang dari kantor, Ardella menuju kantor polisi. Dia berkunjung untuk melihat keadaan Robin dan kakaknya Batara.


Seketika itu Ardella mengingat perkataan Aoran yang menyatakan bahwa kakakknya sekarang seorang narapidana. Batara dan Robin duduk bersandarkan diri ke jeruji besi dipojokan. Ardella melihat dengan sedih.


Batara yang sadar bahwa Ardella datang. "Dek." Ucap Batara bangkit berdiri. Sebaliknya Robin juga beranjak.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang kak." Ucap Ardella menangis. Dalam seminggu ini mereka sudah berusaha mencari seorang pengacara, tapi dari sekian banyaknya pengacara, tidak ada yang mau menangani kasus Batara dan Robin


Ditambah lagi dengan Ardella yang sudah berusaha untuk berbicara dengan Aoran, tapi penghinaan yang diterimanya. Ardella menangis menunduk, tidak berani menatap kakaknya dan Robin.


Batara dan Robin sejenak diam membisu, mereka juga sudah tidak punya jalan lagi. Untuk menenangkan Ardella, mereka tidak sanggup. Mengatakan hal baik lebih membuat mereka tidak tega. Keduanya hanya diam, Batara mengusap pundak adiknya itu, agar tetap tegar.


***


Ardella yang baru keluar berpapasan dengan Anasya. Mata merah membengkak membuktikan bahwa Ardella baru saja menangis.


"Anasya." Ucap Ardella dengan suara serak. "Apa kamu ingin menemui kak Batara dan Robin." Tanyanya kembali dengan suara parau.


"Iya Ar." Kata Anasya mengangguk. Anasya berusaha tenang.


"Sebelum itu, bisakah kita bicara sebentar." Tanya Anasya pada Ardella.


"Oke."


Dekat kantor polisi ada kedai kecil, disitulah Ardella dan Anasya berbincang. Kedai kecil hanya menyediakan beberapa minuman dan jus. Memesan sweet tea, Ardella dan Anasya duduk berhadapan.

__ADS_1


"Aku minta maaf Ar, aku tidak bisa membantumu." Ucap Anasya memegang tangan Ardella.


Saat ini Ardella juga bingung harus berkata, "tidak apa-apa kah," atau mengatakan untuk Anasya agar memohon kembali pada kakaknya Aoran. Dia bingung ucapan apakah yang harus dikatakannya.


"Ini juga bukan salahmu, jadi tidak perlu minta maaf." Sautnya dengan suara tenang, tidak menyalahkan Anasya.


"Aku mengenal kak Aoran, dia tidak akan berbuat seperti ini kalau memang tidak ada yang salah, pasti ada sesuatu." Kata Anasya yakin. Dia tidak sadar ucapannya menyatakan Aoran benar, sedangkan Batara dan Robin bersalah.


Ardella menarik tangannya dari genggaman Anasya. "Apa kamu pikir kakakku orang yang serakah akan uang, dan disini dialah yang bersalah." Saut Ardella dengan sedikit marah, menyeritkan dahi Ardella menatap Anasya dengan tajam.


"Aku tidak bermaksud seperti itu, tapi kak Aoran orangnya sangat teliti, dia tidak pernah menuduh orang tanpa bukti. Dan aku sudah melihat buktinya jelas ada." Anasya seminggu ini sudah berusaha membujuk Aoran untuk membebaskan Batara dan Robin. Ketika melihat bukti pengelapan dana dengan jumlah 10 miliyar dari Aoran. Anasya meragukan kebaikan Batara dan Robin.


"Seperti kamu mengenal kakakmu, begitu juga aku mengenal kakakku." Saut Ardella dingin, ada tatapan kecewa terhadap Anasya. "Kalaupun kakakku berbohong, itu pasti demi kebaikan. Aku tidak pernah meragukannya." Suasana menjadi tak terkendali, seperti akan ada pertengkaran kecil antara Anasya dan Ardella.


"Kakakku kehilangan dana 10 miliyar, apa dia harus diam saja, ini dunia bisnis Ar. Semuanya bisa terjadi. Bisa sajakan kakak kamu khilaf, uang 10 miliyar tidak sedikit." Saut Anasya membela kakaknya.


"Cukup An. Aku tidak ingin lanjut bicara. Aku akan buktikan bahwa kakakku tidak bersalah. Dan kamu meyakini bahwa kakakmu itu benar." Kata Ardella tegas. "Kamu tidak perlu mengunjungi kakakku, jika kamu berpikir dia melakukannya." Ardella mulai membuang muka, untuk saat ini melihat Anasya membuatnya kesal.


Begitu juga Anasya. Dia hanya diam terpaku. Keadaan semakin sulit dijelaskan, keduanya menunjukkan aura marah. Perdebatan mereka menumbuhkan perselisihan dihati masing-masing. Ardella dan Anasya sama-sama hanya membela kakaknya, sebenarnya mereka tidak lah bersalah, namun kondisi dan situasi harus membuat Ardella dan Anasya mengalami pertengkaran, walaupun hanya pertengkaran kecil.


"Aku pergi." Ucap Ardella berdiri. Sudah cukup baginya mendengar ocehan Anasya terhadap kakaknya, dia tidak ingin menambah rasa kekesalannya terhadap Anasya.


"Aku antar." Saut Anasya dalam keadaan kesal. Meski kesal, Anasya tidak bisa mengaibaikan Ardella. Karena Ardella adalah sahabat pertamanya ketika datang keindonesia.


"Tidak perlu." Ardella beranjak pergi, ketika pergi, Ardella masih ingin mengatakan sesuatu. " An, untuk saat ini kita tidak usah bertemu dulu." Kata Ardella.


"Baiklah." Sautnya.


Persahabatan mereka retak. Dalam sehari persahabatan selama tiga tahun lebih hancur. Keduanya merasa tersakiti. Siapun tidak bisa dipersalahkan.


Ardella membela kakaknya, tidak suka dengan tuduhan atas kakaknya. Sifat kejujuran kakaknya Batara dipertanyakan dan diragukan membuat Ardella menentang Anasya.


Anasya membela kakaknya. Meski tahu kakaknya memiliki sifat buruk. Tapi Anasya tahu kakaknya tidak akan menghancurkan hidup orang tanpa bukit. Dan lagian sudah jelas Anasya melihat bukti tersebut. Dengan semua ini, Anasya berpikir bahwa mungkin saja keluarga hangat dan damai Ardella adalah tidak terlalu benar.


Ardella berjalan dengan keyakinannya, begitu dengan Anasya berjalan dengan keyakinanya.

__ADS_1


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung


__ADS_2