
"Robin hentikan, kamu menyakitiku." Perlawanan dari Ardella, berusaha untuk menghentikan tangan Robin beranjak lebih jauh.
Hiks.
Tangis Ardella masih dibawah tubuh Robin. "Kamu menyakitiku Rob." Ucap Ardella tersedu menangis. Lilitan ketakutan tak dapat dibohongi dari tatapan Ardella.
Tersadar ke akal sehat, Robin menyesal. "Maaf, aku tidak bermaksud." Robin merapikan baju Ardella yang hampir terlepas dibuat olehnya sendiri.
Ardella menutup kedua matanya dengan tangannya, dibalik jari jemari itu Ardella menangis. Robin kali ini tidak bisa menghibur Ardella. Dia pergi meninggalkan Ardella sendirian.
Dalam keadaan berantakan, Ardella bangkit, melihat dirinya di cermin. Kembali sakit hati Ardella tercurah mengingat Robin ikut memperlakukannya seperti itu. Sepanjang malam Ardella memikirkan segala sesuatu yang terjadi untuk satu hari ini. Pertanyaan Ardella tentang dirinya dan Aoran terlupakan.
***
Keesokan harinya.
Kejadian malam membuat Ardella tidak sanggup untuk bertemu dengan Robin secara langsung. Pagi-pagi sekali Ardella berangkat kekampus. Sebuah surat dititipkan dibawah kolong pintu Robin.
Perusahaan Aoran.
Pagi hari.
Aoran telah berada dikantornya. Parto datang dan melaporkan secara detail hasil penyelidikannya selama ini.
Dokumen hasil penyelidikan disusun bertumpuk diatas meja Aoran. Bahkan dilengkapi dengan rekaman cctv. Dimana awalnya Batara dan Lisa hanya membawa satu bayi saat keluar dari rumah sakit, tapi tiba-tiba bayi itu didaftarkan kembar.
Paling aneh tidak ada menunjukkan bahwa mereka pernah mengadopsi bayi dipanti asuhan. Dengan mengeritkan dahi, bola mata Aoran berbolak-balik membaca dokumen itu.
"Itu apa." Tanya Aoran ketika melihat Parto seperti menyembunyikan sesuatu dibelakangnya.
"Ini Bos. Bagaimana ya mengatakannya." Parto kebingungan sendiri. Satu dokumen yang belum diserahkannya adalah hasil pemeriksaan tentang kehamilan Ardella.
"Sini, berikan padaku." Ekspresi datar dari wajah Aoran tampak serius, tangan kanannya diulurkan meminta dokumem itu.
Tidak berani lagi membantah, Parto mendekat perlahan, meletakkan dokumen diatas tangan Aoran dengan tangan gemetar. Melirik ke arah Parto, ada kegelisahan dalam gerak-geriknya.
Dokumen kini telah terbuka. Perlahan membaca dokumen, alis mata Aoran menyatu, memastikan huruf-huruf yang dibacanya dengan mempertajam penglihatannya. Didalam dokumen tertara bahwa Ardella sedang mengandung dua bulan. Ayah dari bayi Ardella terdaftar Robin.
"Bos, itu." Parto mengira bahwa memang benar ayah dari bayi Ardella adalah Robin. Parto sendiri baru mendapat kabar pagi ini dari orang suruhannya, karena itu dia belum sempat mengabari Aoran.
Aoran kembali memasukkan dokumen itu, berdiri dari kursinya dia langsung melangkah keluar meninggalkan Parto.
Robin yang sedari tadi dikamarnya berdiam diri, merenungkan sikapnya. Penyesalan. Kata itulah yang terukir dihati Robin atas tindakannya. Robin mengusap keningnya, satu pukulan kecil diluncurkan di bagian kepalanya sendiri.
Robin melirik jam tangannya, Ardella pasti sudah berangkat. Kata hatinya. Robin beranjak dari kasurnya. Ketika ingin berjalan keluar, Robin melihat surat yang diletakkan Ardella dibawa pintu kamarnya.
__ADS_1
Surat itu dibaca oleh Robin.
Robin
Maaf, aku tidak bermaksud menghianatimu, hanya saja waktu itu aku tidak sanggup untuk mengatakannya. Aku takut bahwa kamu akan membenciku dan menjahuiku. Jika itu terjadi, aku tidak bisa membayangkannya.
Maafkan aku, kumohon jangan membenciku, karena hanya bersamamu aku bisa menunjukkan perasaanku. Kalaupun kamu meninggalkanku aku sudah siap.
Aku berharap Robin masih mau berteman denganku.
Ardella.
Membaca surat dari Ardella, tak kuasa lagi hati Robin untuk menahan gejolak dihatinya. Dengan segera dia turun, menuju kereta scoopynya, Robin ingin menemui Ardella secara langsung dikampus.
Robin mengejar Ardella hingga kekampus. Begitu juga Aoran pergi mencari Ardella kekampus. Keduanya sama-sama mencari Ardella.
Sepanjang pelajaran, Ardella duduk, buku diatas meja hanya bagai pajangan semata, suara dosen yang sedang mengajar sama sekali tidak didengar oleh Ardella. Pikirannya melayang ditempat lain. Akhir dari pelajaran, Ardella merapikan barang-barangnya. Berjalan keluar dari ruangan. Di tengah lapangan kampus, Ardella berdiri.
Langkah kaki Ardella tidak terarah, yang jelas dia masih belum ingin pulang. Manghempaskan nafas, Ardella mengikuti naluri kakinya berjalan tanpa tujuan. Sepatu kets, yang dipakai Ardella dengan kaki kecilnya dia berjalan sangat pelan sambil melamun.
Dukkk.
Tidak sengaja Ardella menabrak seseorang. "Maaf." Ucap Ardella menundukkan kepala. Ketika dia mengadah, wajah Aoran terlihat dimatanya. Ardella segera berbalik badan. Kesal melihat Aoran, tetapi tangannya ditahan oleh Aoran.
Menatap, suara membisu, Ardella menunggu Aoran berbicara.
Aoran menyerahkan dokumen yang dari tadi ditangannya. "Bacalah. Aku hanya ingin memastikan" Aoran berbicara dengan pelan.
"Apa lagi ini." Menggrutu. Menerima dokumen itu, Ardella membaca tanpa bertanya maksud Aoran, tapi ketika dia melihat hasil pemeriksaanya. "Apa maksudnya ini." Ardella tidak mempercayai apa yang dibacanya. Aku hamil. Mungkinkah, bertanya dalam suara hatinya.
Aoran dibingungkan dengan pertanyaan Ardella, tadinya dia ingin mengkonfirmasi, siapa ayah dari anak yang dikandungnya. "Mungkinkah kamu tidak tahu kalau kamu sedang hamil." Kata Aoran. "Kehamilanmu sudah berjalan dua bulan." Seru Aoran menekankan.
Bayangan masuk kedalam pikiran Ardella.
"Anak haram, gugurkan itu sekarang."
"Anak gadis, sudah hamil diluar nikah. Bisa-bisa desa kita terjadi bencana."
"Gugurkan anak haram itu, atau pergi dari desa ini."
Ingatan saat Ardella diusir dari desa semuanya kembali. Siksaan dari ibu tirinya dan Leli ikut dalam ingatan Ardella, tamparan dari ayahnya menjadikan kepala Ardella lebih sakit lagi, bayangan Aoran meninggalkannya dengan janji akan menjemputnya menjadi puncak dari ingatan Ardella.
Semua terngiang ditelinga Ardella, kakinya berjalan mundur. Tangannya dikepal dengan erat, menutup telinga, Ardella mulai menangis.
"Pergi kalian." Gumam Ardella berusaha mengeluarkan mereka yang ada dipikirannya. "Jangan bunuh anakku, ini salahku." Menggelengkan kepala Ardella berteriak dengan histeris.
__ADS_1
Perutnya dipegang, perasaan melihat orang disekitarnya sedang menghakiminya. Aoran yang didepannya tidak lagi dikenali lebih jelas. Adegan saat dia diusir menjadikan Ardella ketakutan.
Aakkkk.
Berteriak keras, Ardella melarikan diri dari orang-orang. Tapi kakinya begitu lemah hingga membuatnya terjatuh.
Aoran tidak mengerti situasi yang sedang dilihatnya. "Ardella." Panggilnya menyadarkan Ardella.
Inikah yang diinginkan, ingatan terpuruk mejadikan kejiwaan Ardella terganggu. Cinta Aoran mengalahkan trauma dimasa lalu.
Hiks.
"Pergi, pergi, pergi." Ardella mendorong Aoran.
Ardella menjadi pusat perhatiaan, semua orang melihat kearah Ardella. "Kasihani aku, jangan bunuh anakku. Kumohon." Terisak menangis, Ardella berusaha melarikan diri dari pandangan orang-orang.
Merasa dikejar-kejar, Ardella terjatuh, menyeret tubuhnya di kerikil beralaskan tanah. Rasa sakit saat dilempari batu menjadi memori ditubuh Ardella. Kakinya tidak sanggup untuk beranjak. Ardella menangis menundukkan kepala. Tangannya masih menyentuh perutnya.
Apa yang kulihat ini? Aoran menarik Ardella kearahnya. "Ardella! Jangan begini." Dengan sedihnya Aoran mengguncang tubuh Ardella.
Muka-muka warga desa yang mengamuk menjadi penglihatan mengerikan, suara-suara makian mengitari gendang telinga Ardella.
Ardella menepis, meronta kemudian mendorong Aoran menjauh, kakinya diseret menelengkup menutupi perutnya, tangannya memukuli telinganya. "Pergi kalian." Gumamnya menggelengkan kepala.
Mungkin sebagian orang, hamil diluar nikah adalah hal biasa. Tapi bagi Ardella yang tinggal didesa menjadi sebuah dosa dan kesalahan besar. Meski kesalahan itu berasal dari Ardella, tapi perlakuan dari orang dewasa memberikan Ardella trauma di masa mudanya.
Banyak orang yang berkeruman menyaksikan Ardella histeris, Robin yang tiba Penasaran, dia mendekat, yang dilihatnya Ardella tersungkur ditanah. "Minggir." Robin menerobos.
"Ardella, tenanglah. Ini aku Robin." Ucapnya lembut, memegang tangan Ardella.
Hiks.
"Robin, tolong aku, aku sangat takut." Peluk Ardella mengeratkan pegangannya di baju Robin. Tubuh Ardella gemetar hebat, tangisnya tersedu-sedu. Ucapannya terputus akibat terisak menangis. Robin ikut menangis, mengingat kembali kejadian itu.
Sesungguhnya Ardella tidak pernah sembuh dari trauma itu. Pengobatan hipnoterapi yang selama ini dijalani Ardella menjadi alasan bahwa didalam memori Ardella adalah kebohongan yang tidak nyata.
Keduanya menangis saling berpelukan, Ardella dan Robin seakan berbagi rasa sakit.
Aoran terpaku, wajah Aoran mengerut, kata-katanya terbungkam. Dadanya terasa sesak. Sejuta pertanyaan dipikiran Aoran. Tangis itu menjadikan Aoran seperti orang idiot yang tidak tahu harus berbuat apa.
Air mata Ardella masih berderai dipipinya, kelopak matanya merapat, akhirnya Ardella kehilangan kesadaran di pelukan Robin.
πππ
Bersambung
__ADS_1