
Hari berikutnya.
Embun pagi bahkan belum sepenuhnya naik ke langit, cuaca dingin masih terasa di ubun-ubun. Ardella sudah berangkat dari rumah, tidak menunggu orang rumah bangun. Seperti biasa dia akan pergi ke Alxworld lagi.
Sesampainya di depan gedung Alxworld, Ardella dilarang masuk. Jarak Ardella berdiri didepan pintu masuk hanya boleh 2 meter, tidak boleh kurang, peraturan satpam pada Ardella. Sepagi begini Ardella masih malas untuk ribut, ditambah lagi dia juga belum sarapan dari rumah.
Dia mengikuti perkataan satpam. Dengan jarak dua meter, Ardella menunggu Aoran didepan gedung Alxworld. Sesekali dia berjongkok, menghilangkan rasa pegalnya. "Huh. " Ardella menghembuskan nafas, dia menyatukan kedua tangannya dan mengesek-gesek. Tangan hangat menyentuh kedua pipinya, dilakukannya beberapa kali untuk menghilangkan rasa dingin.
Kembali berdiri, Ardella mondar-mandir melihat kearah jalan, tapi masih tidak ada tanda-tanda kedatangan Aoran. Kedua satpam itu berdiri dan memperhatikan Ardella dengan seksama. Dari wajahnya mereka kasihan pada Ardella yang sudah menunggu dari tadi, tapi mereka juga tidak bisa membantu.
Sekitar 30 menit kemudiaan, suasana jadi lebih ramai, para karyawan sudah mulai berdatangan. Saat mereka melihat Ardella, ada cibiran dari mulut mereka. Ardella berusaha menutup telinganya, dengan menguatkan hati, dia menolak cibiran mereka masuk kepikirannya.
Ardella memperhatikan sebuah mobil yang melaju kearahnya, setelah semakin dekat, mobil tersebut tak lain adalah mobil Aoran.
Didalam mobil, Aoran melihat Ardella berdiri. "Masih tidak menyerah." Ucapnya melihat Ardella. Aoran dengan gaya tenang akan memperlihatkan pada Ardella, siapa dirinya sebenarnya.
Selama tiga hari Ardella selalu datang, setiap kali datang di membuat onar, kadang beradu mulut dengan resepsionis, karena tidak diizinkan masuk. Karena itu Ardella hanya bisa menunggu Aoran diluar, kedua satpam telah berjaga dengan ketat, ketika melihat Ardella, satpam langsung mengusirnya dan memberi jarak untuk tidak mendekati pintu masuk.
Saat menanjakkan kaki ketanah, Aoran berdiri. Seperti biasa Aoran disambut oleh karyawan dan pengawalnya. "Selamat pagi Bos." Ucap para karyawan membungkuk kan tubuh.
Aoran menatap dengan dingin, kata pagi dari mulut Aoran seperti racun. Jarang sekali dia menyapa balik, dia hanya akan terus berjalan seperti biasa.
Ardella menerobos kedua satpam yang berada didepannya. Berlari cepat, Ardella menghalangi jalan Aoran, dia merentangkan kedua tangannya, memeloti Aoran, mengerutkan bibirnya. "Ayo bicara." Ucapnya menatap tajam.
Dalam jarak dekat Ardella melihat wajah Aoran memar, begitu juga dengan Aoran melihat dahi Ardella terluka. Tiba-tiba diantara mereka ada keheningan sejenak.
"Aku ingin bicara."Ucap Ardella kembali dengan suara pelan. Ardella datang tidak ingin mengajak ribut, dia hanya ingin membicarakan rumah yang disita oleh Aoran.
Kembali Aoran menatap dingin kearah Ardella. "Usir dia." Ucap Aoran kepada pengawalnya.
Pengawal yang dibelakang Aoran langsung bergegas, mereka menarik tubuh Ardella menjauh dari jalan Aoran. "Yahhh, lepaskan aku." Teriak Ardella keras sambil meronta, dia berusaha melepaskan diri dari pengawal Aoran.
lagi-lagi Ardella diusir oleh Aoran. Suara teriakan Ardella tidak membuat hati Aoran bergeming. Dia terus berjalan, dari cara berjalannya dia sama sekali tidak peduli dengan Ardella.
Parto yang dari tadi mengikuti Aoran, melirik kearah Ardella. Apa betul dia tidak peduli dengan gadis itu, dilihat dari segi manapun, Bos sepertinya masih peduli. Ucap Parto dalam hatinya, dia melihat punggung Aoran dari belakang. Sampai kapan dia akan mengeraskan hatinya. Karena sering bersama Aoran, setidaknya sedikit dari sifat Aoran sudah dimengerti oleh Parto.
__ADS_1
Ketika berada diruangan, Aoran langsung menendang kaki Parto. "Auh, sakit." Ucap Parto terkejut, dia melihat Aoran tampak kesal terhadapnya. Parto menelusuri ingatannya, mencari kesalahan apa yang diperbuat, setumpukan memori Parto berusaha mengingat. Satu hal kemungkinan yang bisa membuat Aoran marah, yaitu Aoran melihat dahi Ardella terluka.
Sebelum Aoran lebih marah lagi, Parto harus mencari kata-kata yang enak didengar oleh Aoran. "Aku sudah menghukum mereka Bos." Seru Parto cepat. Menghukum mereka maksudnya adalah kedelapan laki-laki yang datang membuat keributan dirumah Ardella. Sebenarnya atas perintah Aoran kedelapan laki-laki itu datang membuat kekacauan dirumah Ardella.
Setelah kejadian ribut dirumah Ardella. Kedelapan pria itu melapor pada Parto, sedikit janggal dengan wajah-wajah mereka yang terlihat memucat. Parto memaksa mereka untuk bicara jujur. Saat itulah laki-laki yang melukai Ardella berkata jujur, bahwa dia tidak sengaja melukai Ardella.
Daripada dihukum langsung oleh Aoran. Dia mengambil tindakan langsung. Mereka dibayar separuh, karena membuat kesalahan. Mereka tampak senang dan langsung setuju begitu saja. Seperti Parto, mereka juga tidak ingin langsung berhadapan dengan Aoran, apalagi mendapat hukuman dari Aoran.
***
Keesokan harinya.
Tidak mengenal lelah, keesokan harinya Ardella masih datang. Apapun yang terjadi kali ini dia tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Aoran. Berhasil melarikan diri dari satpam, Ardellla dihambat oleh petugas resepsionis, satpam kembali mengejar Ardella.
Ardella terkunci diantara mereka. Melihat mereka yang menghalangi jalannya, Ardella memikirkan cara untuk bisa masuk dan bertemu dengan Aoran. "Apa yang harus kulakukan. Ah, haruskah aku mengancamnya. Ardella terus berpikir, dan berpikir segala cara dan kemungkinan.
Ardella merogoh-rogoh tasnya, seakan mencari sesuatu, tangannya menjamah benda yang ada ditasnya. Dia mengeluarkan benda itu, ternyata benda yang ada ditangannya sekarang adalah gunting. "Aku akan bunuh diri disini, kalau Bos kalian tidak keluar." Ucap Ardella meletakkan ujung gunting dilehernya. Meskipun tidak tahu berhasil atau tidak. Ardella mencoba segala cara.
Aoran dari dalam kantornya melihat tingkah Ardella dari rekaman cctv melalui layar laptopnya." Semudah itu dia menyerahkan nyawanya." Kesal sekali dengan tindakan Ardella.
"Biarkan dia masuk." Ucap Aoran lewat sebrang telpon pada bagian resepsionis.
Resepsionis melihat kearah Ardella. Dia meletakkan telpon. "Kata Bos, dia diizinkan masuk."
Ardella mendengar ucapan resepsionis itu melongo, sedikit kaget tindakannya berhasil.
Eh, berhasilkan ancamanku, tadinya kupikir dia akan membiarkanku melakukannya. Ardella membatin.
Mereka yang menghalangi Ardella pergi.
Aoran didalam ruangannya sudah menunggu Ardella, dia memasang wajah dingin. Dengan duduk membelakangi arah pintu.
Ceklek.
Ketika membuka pintu, Ardella melihat Aoran membelakanginya. Kata apa yang dulu dia ucapkan, sangat membingungkan buat Ardella. Masih tidak ada respon dari Aoran.
__ADS_1
Ardella mulai berbicara, agar Aoran merespon kedatangannya. "Apa kamu juga yang mengirim preman-preman itu kerumahku." Tanya Ardella dengan nada datar.
Aoran membalikkan kursi putarnya, sedikit mengangkat alis, bibir Aoran tersenyum tipis. "Iya." Senyum getir itu masih terlihat jelas dari bibir Aoran. "Sekarang rumah itu milikku." Ucapnya menggoyang-goyang kursinya dengan pelan. Gaya santai dan acuh ditunjukkan oleh Aoran.
Sudah kuduga, memang dari awal ini perbuatannya. "Sebenarnya apa yang kamu inginkan." Tanyanya meminta penjelasan Aoran. Meski sudah berkali-kali Ardella berpikir keras atas alasan Aoran. Dia masih belum mendapatkan jawaban yang pasti.
Karena kamu bertanya apa yang kuinginkan maka akan kukatakan. Aoran menunjukkan lagi senyumnya. "Yang kuinginkan." Berjalan mendekati Ardella. Aoran tidak tergesa-gesa menyebutkan keinginanya, dia ingin mempermainkan Ardella terlebih dulu.
"Iya." Ardella sedikit melangkah mundur ketika Aoran sudah mendekatinya.
"Aku tidak akan mengambil rumah itu." Kata Aoran terlontar begitu saja. "Dengan satu syarat." Aoran sedikit menunduk, dia menghembuskan nafasnya kearah telinga Aredella.
"Syarat." Ardella risih, memberi jarak.
"Jika setuju, maka rumah itu akan kulepaskan." Saut Aoran.
Ardella ingin tahu, apa lagi yang akan diminta oleh Aoran. "Baiklah, apa syaratnya." Coba kita dengarkan dulu syaratnya, Ardella menunggu syarat apa yang akan diucapkan oleh Aoran.
Senyum licik terpasang diraut wajah Aoran. "S*x. Lakukan itu denganku." Suara bergairah dari mulut Aoran. Tingkah Aoran semakin menjadi-jadi, dia mulai mengelus wajah Ardella, memberikan sentuhan lembut di tubuh Ardella.
Sudah kuduga, tidak akan ada hal baik yang akan keluar dari mulutnya. Ardella mengeritkan dahinya, tangannya dikepal. "Dasar cowok br**gsek." Teriaknya kearah wajah Aoran. Dengan sekuat tenaga Ardella mendorong Aoran dari dirinya.
"Aku memang br**sek." Senyumnya tidak membantah ucapan Ardella. "Bagaimana? cukup mudahkan. " Ucapnya kembali tertawa tipis.
Ardella sudah tidak ingin meladeni Aoran. Menjadi wanita simpanan. Lebih baik hidup melarat daripada harus tunduk dengan orang yang tidak bermoral. "Jangan bermimpi, aku tidak akan pernah mau menyerahkan diriku pada laki-laki semacam dirimu." Saut Ardella menolak keras ucapan Aoran.
"Terserahmu jika tidak mau. Padahal syaratnya begitu mudah, tapi kamu melewatkan satu kesempatan baik." Ucapnya dengan santai. Aoran mulai beranjak berbalik badan.
Serasa kesal, marah didalam hati Ardella. Saat Ardella memperhatikan Aoran dari belakang, terlintas ingatan lama di pikiran Ardella. "Apa aku sangat mirip dengan wanita itu." Tanya Ardella, ketika Aoran menjauh darinya.
"Wanita itu." Ucapnya berhenti berjalan. Aoran kembali berbalik badan, dia menatap Ardella yang masih berdiri. Dengan tatapan jijik, kemarahan dan hina terpanjar lagi dari mata Ardella.
"Wanita yang kamu sebut dengan nama Ardella. Aku ingat waktu pertama kali kita bertemu kamu mengira aku adalah wanita itu." Ucap Ardella, memainkan kata-katanya. Ardella mengingat bahwa Aoran pernah bersikap aneh ketika kali pertama bertemu dengannya. Aoran memberikan alasan bahwa Ardella mirip dengan seseorang dikenalnya.
Kata yang tidak boleh diucapkan terucap dari mulut Ardella sendiri.
__ADS_1
πππ
Bersambung