Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Kembali ke Desa


__ADS_3

Desa di Pulau Samosir.


Uhukkk,,,suara batuk dan tubuh terbaring, dia tak lain adalah ayah Ardella. Kepergiaan Ardella memberikan luka bagi ayahnya hingga mengalami stroke ringan. Dari kamar ayah Ardella memandang keluar lewat jendela sesekali ingatannya kembali pada saat istri pertamanya masih hidup,  rasa bersalah yang tertanam dihatinya membuat air matanya terjatuh. Dipanggilnya Niko anaknya bersama Sherlin dan menyuruhnya ke rumah Ririn untuk mencari kontak Batara dan Ardella.


Anak yang kini beranjak remaja berjalan menunuju ke rumah Ririn.  Dengan polos dia menumui Ririn.


"Kak Ririn." Panggil Niko dengan suara keras.


Ririn yang mendengar Niko keluar dari rumah dan bertanya ada hal apa yang membuatnya datang. Niko menceritakan pesan ayahnya kepada Ririn.


"Nanti kakak kabari." Ucap Ririn dengan senyum mengelus kepala Niko.


Setelah sekian lama Ririn tak pernah berpikir untuk menghubungi Robin dan Ardella, tapi melihat ayah Ardella yang sedang sakit. Ririn memutuskan untuk menghubungi Robin dan menyampaikan pesan Niko.


Tuttt,,, suara dering ponsel Robin.


"Hallo." Robin yang melihat dilayar ponselnya ada nomor baru yang tak dikenalnya.


"Hallo Rob." Ucap Ririn.


"Ririn." Suara Robin yang senang mendengar suara sahabatnya.


Percakapan panjang lebar antara Robin dan Ririn, Pada akhirnya sampai ketopik mengenai kondisi ayah Ardella.


"Bisakah kamu beritahu kak Batara kalau ayahnya ingin bertemu." Ucap Ririn.


"Akan kuusahakan Rin." Ucap Robin merasa tak yakin.


Kondisi Ardella belum diceritakannya kepada Ririn, Robin yang tengah berdiri dikamarnya mulai berpikir mencari cara untuk memberitahu Batara.


Akankah kak Batara ingin pulang. Robin membatin.


"Dicoba aja dulu." Gumamnya sendiri di dalam kamar.


Ketika mulai beranjak dari kamar,  Robin melihat Batara dan Lisa duduk dikursi luar dengan menikmati suasana sore. Robin mulai mendekat dan duduk.


"Kak, ada yang ingin kukatakan." Ucap Robin pelan.


"Apa, kenapa kamu terlihat seperti gugup." Tanya Batara.


"Tulang (Panggilan robin untuk ayah Ardella.) di desa sedang sakit, kata Ririn tulang ingin bertemu dengan Ardella dan kak Batara." Ucap Robin.


Mendengar ayahnya sakit Batara tak merasakan apapun, dia diam dan tak menjawab, suasana menjadi hening. Lisa istrinya mulai mengarahkan tangannya dan membujuk Batara untuk melihat ayahnya yang sedang sakit.


"Mas harus bisa memaafkan ayah mertua, bagaimana pun dia ayahmu yang sempat memberikan kasih sayangnya dan membesarkannmu, sekarang dia sedang sakit tak baik mengabaikannya." Ucap Lisa dengan lembut.

__ADS_1


"Baiklah, tapi bagaimana dengan Ardella." Tanyanya kembali.


Mereka bertiga sama-sama diam dan memikirkan kondisi Ardella. Meski begitu Batara tetap memutuskan untuk membawa Ardella ikut bersamanya menemui ayahnya didesa.


Liburan semester tiba. Ardella diajak oleh kakaknya Batara kembali kedesa dengan alasan ingin berziarah ke makam kedua orang tuanya.


Segala persiapan Batara, Ardella dan Robin kembali ke pulau samosir.


Prummmm,,, suara kapal yang sebentar lagi akan menuju tepian di pelabuhan, dari kapal Ardella berdiri, melihat tepian. Ardella merasa sesak seperti ada sesuatu yang membuatnya ingin berteriak dan menangis.


"Hiks." Tak sadar Ardella menangis.


"Dek, kamu kenapa." Tanya Batara.


"Tidak tahu kak, melihat tepian semakin mendekat rasanya Ardella sedih." Ucap Ardella ikut merasa bingung.


"Mungkin kamu rindu dengan desa dek."


"Iya kak, seperti sudah lama tak kembali kedesa." Ardella yang tersenyum.


Bapak, Ibu. Robin pulang. Robin membatin.


Ardella dan Robin sama-sama hanyut dalam kenangan yang tak bisa diucapkan, Robin melihat kearah tepian dan mulai merasa kerinduan tak terhankan.


"Kita sudah sampai." Batara yang memecah keheningan antara Robin dan Ardella.


Ketika hendak menuju kerumah, Batara menyuruh Robin untuk berjalan-jalan sejenak bersama Ardella, sedangkan dia ingin kembali kerumah terlebih dahulu.


"Kenapa tak sama-sama pergi kerumah kak." Tanya Ardella.


"Mungkin rumah kita kotor karena tak lama ditinggali, aku ingin membersihkannya terlebih dahulu, kamu sudah lama tak kembali alangkah baiknya kamu menghirup udara segar dari desa kita. Robin pernah kesini dia pasti sudah tau daerah sini." Alasan Batara.


"Aku tahu tempat yang bagus disni, aku akan mengajak Ardella jalan-jalan sebentar. " Ucap Robin menegerti maksud Batara.


"Tapi kak, K,,." Belum sempat mengucapkan Robin menarik tangan Ardella dan mengajaknya jalan-jalan.


"Tenang aja, mungkin kak Batara ingin sendirian dulu, dia sudah lama tak pulang, pasti banyak kenangan yang ingin diingat dan tak ingin Ardella melihatnya sedih." Ucap Robin tersenyum.


Ardella membalikkan tubuhnya, dilihat punggung kakaknya yang tengah berjalan, dia diam dan ingin mengucapkan sesuatu, tapi suaranya seakan tertahan.


✳️✳️✳️


Dirumah.


Batara sampai dirumah dilihatnya sekeliling rumahnya, diletakkan tasnya kemudiaan mengetuk pintu walaupun pintu dalam keadaan terbuka. Didengarnya suara dari dalam rumah.

__ADS_1


Niko yang berlari dari arah kamar ayahnya dilihatnya seorang laki-laki dewasa yang tak dikenalnya.


"Siapa." Tanya Niko.


Batara tahu sekilas tentang Niko adik tirinya.


"Mana ayahmu." Tanya Batara kembali tak menjawab pertanyaan Niko.


"Dikamar." Dengan polosnya Niko menjawab.


"Suruh dia kesini, katakan Batara datang." Ucap Batara memasang wajah seram terhadap Niko.


"Ayah." Teriak Niko menuju kamar ayahnya.


Tap,,,tak,,,tap,,,takk suara langkah kaki dan suara tongkat terdengar bersamaan.


Batara yang masih berdiri dipintu melihat ayahnya berjalan pinjang dan dibantu oleh tongkat, tubuhnya yang dulu terlihat kekar kini menjadi kurus. Deg,,,sejenak hati Batara sedih melihat keadaan ayahnya, dikuatkan hatinya agar tak terlihat oleh ayahnya bahwa dia sedih melihat keadaanya.


"Batara, anakku." Masih 2 kata diucapkan ayahnya menangis tersedu-sedu.


Batara diam tak merespon, menunggu ayahnya berhenti mengangis.


"Masuklah Nak." Ucap ayahnya lembut dengan masih terlihat bahwasanya dia ingin menangis.


Batara melangkah masuk membawa tas bawaannya. Niko melirik-lirik Batara ingin bertanya dia siapa. Niko yang masih berdiri disuruh oleh ayahnya masuk kedalam rumah atau bermain diluar sebentar.


"Ardella mana, apa dia tak ikut." Tanya ayahnya.


"Ardella ikut, tapi untuk saat ini dia tak mengingatmu." Ucap Batara dengan sedikit ketus.


"Maksudnya tak mengingatku." Tanyanya kembali.


"Di memorinya bahwa kamu telah mati bersama ibuku." Masih belum menjelaskan.


"Kenapa bisa begitu."


"Seharusnya kamu lebih paham kondisi Ardella setelah apa yang kamu perbuat padanya, gadis kecil disiksa oleh istrimu dan diabaikan olehmu, apa kamu pikir adikku itu akan baik-baik saja." Ucap Batara menunjukkan wajah kemarahan.


"Maafkan ayah, aku bersalah pada ibumu, kamu dan Ardella." Ucapnya bersedih.


"Sekarang sudah terlambat, Ardella mengalami depresi karena mengingat perbuatanmu dan istrimu itu, karena itu aku membuatnya menganggapmu mati dan melupakanmu, setidaknya dengan begini di akan lupa dengan ayahnya yang mengabaikannya, untuk saat ini jangan muncul dihadapannya. Biarkan dia bahagia sekarang." Ucap Batara memperingatkan untuk tak mendekati Ardella lagi.


Ayah Batara menangis, rasa bersalahnya terhadap putrinya membuatnya kembali mengingat saat-saat dia mengabaikan Ardella. Diruang tengah, Batara dan Ayahnya yang tengah duduk hanya terdengar suara tangisan ayahnya, tangisan penyeselan yang begitu dalam, tangisan yang tak termaafkan baginya, tangisan yang tak ada artinya sekarang.


💔💔💔

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2