
Ketika malam tiba sekitar pukul 19.00 wib.
Keceriaan Leli dan ibu tirinya masih nampak diruang tengah, mereka tertawa ria melihat oleh-oleh yang dibawa Leli dari kota.
Tiba dirumah, pandangan kedua orang itu sinis, Ardella memasang wajah datar, masuk kearah kamarnya, sedikitpun dia tidak merasa iri ataupun peduli dengan ibu tirinya dan Leli.
Ceklekk.
Ardella menuju temapt tidurnya, menjatuhkan dirinya, kemudia berebah dengan menghela nafas paling dalam, seketika ingin memejamkan matanya, Ardella mengingat kembali kalung yang diberikan oleh Aoran. Meraih kalung yang telah terpasang dilehernya. Hanya melihat kalung bertuliskan nama Aoran membuat jantungnya berdegup. Sambil membayangkan Aoran terlintas dipikiraannya untuk memberikan sebuah hadiah spesial untuk kekasihnya.
Ardella berencana besok pagi ingin mencari hadiah untuk Aoran. Karena itu dia sudah memimikirkan hadiah apa yang akan diberikannya pada Aoran.
***
Keesokan hari.
Ardella ingin mengajak Ririn mencari hadiahnya, bersemangat dia pergi dari rumah, kakinya berjalan dengan cepat, dan sama sekali tidak terhambat. Hatinya penuh dengan bayangan Aoran, hanya berpikir membelikan hadiah saja Ardella begitu bahagia.
Setelah bertemu dengan Ririn, Ardella mengutarakan atas keinginannya. Panjang lebar Ardella menjelaskan, Ririn setuju menemaninya membeli hadiah.
"Makasih Ririn." Ucapnya memeluk Ririn. " Oh ya, aku pulang dulu kerumah untuk mengambil dompetku." Ucapnya sadar bahwa dia belum membawa uang.
"Apa perlu kutemani." Tanya Ririn.
"Tidak perlu Rin, lagian ada Leli dirumah, takutnya dia akan cari gara-gara lagi." Ucapnya pada Ririn.
Setibanya di rumah.
Ardella langsung bergegas masuk kedalam kamarnya. Langkahnya mulai mendekati lemari pakaiannya, tempat dimana dia menyimpan uangnya.
__ADS_1
Krekkkk,,, .
Membuka lemari pakaian perlaha-lahan Ardella mencari dompetnya, didalam dompet Ardella terdapat uang hasilnya dari bekerja selama ini. Walau Ardella sudah mencari-cari tapi tidak juga ketemu, Ardella semakin khwatir dan panik, bajunya yang rapi tersusun, satu persatu dijatuhkan ke lantai hingga lemari bajunya kosong. Ardella duduk sejenak mengingat kembali dimana dia meletakkannya, ingatannya yang jelas mengingat dompetnya diletakkan dilemari.
Suara samar-samar terdengar dari luar, berdiam sejenak Ardella mempertajam pendengarannya. "Ibu cincinya bagus ya." Suara Leli dari luar kamar sekarang terdengar jelas oleh Ardella, karena saat ini Ardella telah berdiri didekat mereka.
Ardella menatap kedua anak dan ibu itu, cincin emas telah terpasang dijari manis Leli. "Mungkinkah mereka berdua yang mengambil uangku." Gumamnya pelan.
Semakin dipikirkan Ardella semakin yakin bahwa ibu tirinya dan Leli yang mengambil dompetnya. Ardella menuju kekamar Leli, hanya butuh tiga langkah Ardella sudah berada dipintu dikamar leli, ketika tangannya membuka pintu lebih lebar, dia mendapati ibu tirinya dan Leli sedang duduk dan memegang perhiasan bahkan belanjaan disamping mereka terlihat banyak.
"Apa kalian yang mengambil dompetku." Tanya Ardella memperhatikan sekeliling kamar.
"Dompet apa yang kamu bicarakan. " Ucapnya santai masih asik memperhatikan perhiasan yang dibelinya. "Kamu pikir kami mencuri uangmu." Ucap ibu tirinya dengan senyum.
"Mungkin aja dia udah gak ada uang Bu, makanya cari alasan dompetnya hilang." Ucap leli tertawa mengecek Ardella.
"Aku tidak mengatakan bahwa didalam dompetku ada uang, tapi kamu sudah berpikir bahwa aku menuduhmu mengambil uangku." Saut Ardella bermasalah sinis.
Prankk ,,, mencapakkan tas ibu tirinya dan mengambil dompetnya. Ardella langsung mengecek uangnya. Dompetnya terlihat kosong tak ada selembar uang tersisa.
Kemarahan Ardella memunjak. "Kembalikan uangku." Teriak Ardella keras.
Ibu tiri Ardella seolah masih tidak tahu, dia mengelak atas tuduhan Ardella. "Aku tidak tahu uang apa yang kamu maksud." Ucap ibu tirinya dengan santai.
"Jangan pura-pura tidak tahu, sudah jelas dompetku berada ditasmu." Ucap Ardella dengan menahan emosi.
"Ibu, apa dia sudah gila, uang apa yang dimaksud." Ucapnya leli dengan kepura- puraan.
Ardella yang sudah tidak tahan dengan sandiwaranya itu melemparkan semua belanjaan ibu tirinya dan Leli keluar kamar, dan seketika membuat kamar Leli berantakan, semua isi kamar Leli dicampakkan. Masih belum puas Ardella mencambak rambut ibu tirinya, dia menarik dengan sekuat tenaga. Leli berteriak melepaskan tangan Ardella.
__ADS_1
"Apa kamu sudah gila, lepaskan ibuku." Ucap Leli kembali menarik rambut Ardella.
Suara teriakan mereka cukup menimbulkan perhatian orang, bahkan ayahnya yang masih diluar rumah mendengar suara teriakan keras dari dalam rumah.
Ayah Ardella melihat adegan pertengkaran. "Hentikan." Teriaknya keras.
Suara keras ayah Ardella menghentikan pertengkaran mereka.
"Sekarang jelaskan apa yang terjadi." Ucap ayah Ardella.
"Huhuh." Ibu tiri Ardella langsung menangis. " Ibu juga tidak tahu pak. Tiba-tiba Ardella datang dan menuduhku mengambil uangnya." Ucap ibu tirinya Menangis dipundak ayah Ardella.
Sudah lama kesal dengan Ardella, ditambah dengan masalah seperti ini sungguh membuatnya jadi lebih kesal. "Ardella sekarang ulah apa lagi yang kamu buat." Membentak Ardella dengan keras.
"Ayah mereka mencuri uangku." Ucap Ardella keras dan mengancungkan tangannya ke ibu tirinya.
Plakkk,,, tangan besar ayahhnya melayang ke wajahnya, rasa sakit dan terkejut membuat Ardella terdiam, air matanya terjatuh tapi tatapannya kepada ayahnya penuh kemarahan, tapi walau dalam kemarahan Ardella masih tidak berdaya bahkan sebelum Ardella menjelaskan ayahnya sudah menamparnya hingga tubuhnya terbanting ke lantai.
"Sudah cukup Ardella, ayah sudah tidak tahan melihat tingkahmu. Ayah sudah memberikan kesempatan padamu untuk menyesali perbuatanmu tapi sekarang menuduh ibumu untuk mencuri, apa kamu pikir ayah tidak sanggup memberi istriku makan hingga harus mencuri darimu." Ucap ayahnya dengan marah.
Hati yang hancur membuat Ardella tidak sanggup bicara, dia hanya bisa menatap dengan rasa marah, Ardella yang selama ini sanggup menerima siksaan dari ibu tirinya tapi tidak sanggup menahan satu tamaparan dari Ayahnya.
Ardella berdiri dan langkah kakinya keluar dari rumah.
Ayah Ardella kembali sadar, seharusnya dia tidak menampar Ardella, bagi seorang anak gadis tamparan dari ayahnya adalah hal yang paling menyakitkan daripada seribu cambukan.
"Ardella kemana kamu mau pergi." Nada suara ayahnya sedikit khwatir melihat Ardella pergi malam-malam.
Sebenarnya saat siang tadi ketika Leli pulang dari kota ada cek-cok antara Ardella, Leli yang memerintahkan Ardella membawakan kopernya ditolak oleh Ardella. Saat Ardella keluar dari rumah, Ibu tirinya dan Leli masuk ke kamar Ardella dan mencari sesuatu yang berguna untuk mereka, Leli yang melihat dompet Ardella yang isinya uang, membuatnya tergiur dan tidak segan untuk mencurinya dan pergi berbelanja Serta membeli perhiasan.
__ADS_1
πππ
Bersambung