Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Rasa Bersalah


__ADS_3

Flasback.


Saat Ardella dan Batara pergi.


Pagi hari ketika Ardella dan Batara pergi meninggalkan rumah. Ayah mereka yang tak berkata sepatah kata beranjak masuk kedalam rumah saat melihat kedua anaknya itu pergi. Langkahnya menuju ke kamar, dikuncinya kamar hingga Sherlin istrinya tak bisa masuk kedalam. Ayah Ardella mulai termenung, pikirannya kosong. Semua kejadiaan membuatnya syok dan masih perlu menerima keadaan.


Terlelap dalam tidurnya, ayah Ardella bermimpi berkumpul bersama istri pertamanya, Batara dan Ardella. Perlahan dilihatnya istrinya pergi menjauh darinya, diikuti oleh Batara yang melangkah pergi jauh dan Ardella juga ikut pergi meninggalkannya sendiri. Mereka terlihat senyum bahagia tanpanya. Dia berusaha memanggil mereka dengan suara keras.


"Jangan tinggal aku, maafkan aku." Teriaknya dalam mimpi.


Bangun dari tidurnya, perasaan sedihnya membuatnya merindukan Ardella. Dia melangkah menuju kamar Ardella. Kamar yang terlihat rapi, buku-buku masih tertata rapi di meja belajarnya, nuansa kamar yang masih sejuk dan wangi tetpancar dari dalam kamar Ardella. Ayah Ardella duduk dikursi meja belajar, foto mendiang istrinya yang terpajang diatas meja, disampingnya ada sebuah buku berwarna pink. Tangannya mulai meraih buka. Dibacanya brrtuliskan Diary disampul buku.


Dibukanya lembaran pertama, bertuliskan pesan kepergiaan Batara, lembaran kedua, cerita Ardella saat pertama kali tahu menulis dan membaca, lembaran berikutnya Ardella yang mulai menceritakan perlakuan ibu tirinya dan Leli, sampai lembaran seterusnya tertulis semua penyiksaan yang dilakukan ibu tirinya dan Leli. Ayah Ardella mulai tak sanggup membaca lagi, tanganya bergetar, perlahan masih dilanjutkannya membaca, bertuliskan juga kerinduannya terhadap kakaknya Batara dan ibunya, hingga pada akhirnya ke penghujung lembaran terakhir ketika dia dan Ardella bertengkar.


Setelah membaca isi diary Ardella, dia menuju mencari Sherlin istrinya itu, terdengar suara Sherlin didalam kamar Leli.


"Ibu, aku senang banget melihat Ardella pergi dari sini." Ucap Leli tertawa kecil.


"Harta ayahmu akan jatuh kepada kita, dengan kepergiaan Batara dan Ardella mereka tidak akan mendapatkan sepeserpun." Ucap Sherlin ikut tertawa.


"Ide ibu berhasil, dengan memberitahukan warga tentang kehamilan Ardella, dia diusir dengan hina tanpa harus kita perbuat." Ucap Leli.


"Sudah lama ibu ingin Ardella pergi dari rumah ini, melihat wajahnya mengingatkanku pada ibunya."


Diluar pintu ayah Ardella yang berdiri terkejut mendengar semua percakapan antara Sherlin dan Leli.


Inikah istri dan anak yang sudah kuanggap seperti anak sendiri, selama ini aku ditipu. Mereka begitu jahat dan tak berperasaan, semua hanya sandiwara mereka. Aku mengaibaikan anak kandungku sendiri. Ayah Ardella membatin.


Prakk,, suara pintu terbanting keras, ayah Ardella yang masih memegang buku diary wajahnya menunjukkan kemarahan.


"Pak." Ucap Sherlin terlihat terkejut dan gugup.


Plakk,,, tangannya menampar keras wajah Sherlin.


"Pergi dari rumahku." Ucapnya keras.


"Pak, ada apa ini." Sherlin yang masih pura-pura tak tahu.

__ADS_1


"Sekarang kamu tak usah bersandiwara lagi, aku sudah tahu semua yang kamu perbuat pada Ardella, bodohnya aku percaya pada wanita licik sepertimu. Selama ini kupikir Ardella berbohong." Ucapnya kembali sedih.


Tak bisa lagi mengelak Sherlin bersujud dan memohon ampun.


"Pak, maafin aku." Tangisan Sherlin yang keras sambil bersujud.


"Aku akan menceraikanmu." Menepis dengan kuat hingga Sherlin terlempar ke lantai dengan keras.


"Bawa anak-anakmu pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajahmu dan anak-anakmu." Ucapnya kembali.


Sherlin dan Leli sama-sama meminta maaf atas perbuatannya, tapi semua terlambat, semakin keras mereka menangis semakin tak tahan Ayah Ardella.


Dengan kasar Ayah Ardella melempar Sherlin keluar dari kamarnya.


"Ibu." Ucap Leli menangis.


Prankkkk,,, semua barang-barang Sherlin dilempari keluar dari rumah.


"Pergi dari rumahku dan jangan pernah kembali." Teriaknya keras membentak.


Para tetangga melihat dari kejahuan, baru kemarin kejadian Ardella, sekarang diributkan lagi dengan ayahnya dan ibu tirinya.


"Aku tidak akan tertipu lagi, selama ini aku tak percaya dengan perkataan Ardella,Β  kupikir karena tak menerimamu sebagai ibunya dia menjelek-jelekkanmu, tapi hari ini aku sadar wanita sepertimu sangat menjijikkan." Melemparkan beberapa barang yang masih tersisa.


Niko menangis dari dalam rumah menuju keluar, tak terkecuali ayah Ardella meminta Sherlin membawa Niko pergi bersamanya.


"Pak, Niko anakmu, biarkan dia tinggal disini." Ucap Sherlin memohon.


"Tidak, aku tidak ingin melihat siapapun yang berhubungan denganmu." Ucap ayah Ardella dengan kasar.


"Biarlah aku menanggung dosaku, jangan menghukum anakku." Ucap Sherlin masih dalam kedaan menangis.


Walau bagaimanapun ayah Ardella masih menganggap Niko anaknya, darahnya masih mengalir ditubuh Niko.


"Kuingatkan jangan pernah kembali kesini dengan alasan Niko." Menarik Niko masuk kedalam rumah.


Sherlin tak bisa lagi menunjukkan sandiwaranya dihadapan ayah Ardella, semua tindakannya tak lagi ada artinya. Pada saat itu juga mereka resmi bercerai dan tinggal terpisah.

__ADS_1


Ayah Ardella dalam penyesalannya jatuh sakit memikirkan semua perbuatannya, mengalami stroke ringan membuatnya tak bisa lagi bekerja. Untuk menghidupi dirinya dengan Niko dia menjual sebagian hartanya.


Pagi hari di kursi bambu tua.


"Niko berangkat kesoklah Pak." Ucap Niko menyalam ayahnya yang berada diluar.


"Hati-hati dijalan." Ucapnya sederhana.


Setiap hari ayah Ardella berharap kedua anaknya kembali kerumah, menunggu diluar sepanjang hari, sampai bahkan saat Niko kembali dari sekolah masih mendapati ayahnya yang masih menunggu diluar.


"Ayah sudah makan." Tanya Niko melihat kondisi ayahnya.


"Sudah, masuklah ganti bajumu, terus makan." Ayah Ardella masih ingin duduk diluar.


Bola lampu jalan yang tampak dari luar rumah, tapak jalan yang dilewati orang, suara langkah yang terdengar membuat ayah Arddlla berdiri dan melihat kearah jalan. Ketika dilihatnya tak ada yang datang membuatnya kembali duduk, disandarkan tubuhnya ke kursi, menahan rasa sesak didalam hatinya.


Malam hampir tiba.


Niko yang melihat ayahnya masih diluar menyuruh ayahnya masuk kedalam rumah. Tubuh ayahnya yang terlihat lemah oleh Niko membuatnya merasa kasihan, dia memapah ayahnya kembali kerumah, dibaringkan ayahnya didalam kasur, dibawanya beberapa makanan untuk ayah.


Selama beberapa tahun ayah Ardella yang sakit dirawat oleh Niko.


Pagi hari kembali memancarkan sinarnya.


Hari minggu di ruang tengah, ayah Ardella yang ingin sekali bertemu dengan Batara dan Ardella menyuruh Niko untuk mencari tahu nomor hp Batara dan Ardella melalui Ririn.


"Nak, pergilalah ke rumah Ririn, katakan bahwa aku sedang sakit dan ingin bertemu dengan kakakmu Ardella." Ucapnya memegang tangan Niko.


"Baiklah ayah, Niko berangkat sekarang." Ucap Niko tersenyum.


Meskipun Niko masih kecil saat ditinggalkan Ardella, tapi ingatannya tentang Ardella masih utuh, dengan senang dan gembira dia berjalan menemui Ririn.


Setelah menemui Ririn, Niko kembali kerumah, diberitahunya bahwa Ririn akan memberi kabar kepada kakaknya Ardella.


Sepanjang hari ayah Ardella menunggu, siang dan malam. Dia menantikan kedatangan mereka. Berharap Ardella dan Batara memaafkannya.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2