Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Liontin


__ADS_3

"Rin, bisakah kamu memberi kabar pada Ardella bahwa aku mencarinya." Aoran yang menatap Ririn dengan raut wajah berharap.


Tak tega menolak. "Baiklah kak, aku akan memberi kabar ketika Ardella kembali."


"Terima kasih Rin." Aoran yang sedikit punya harapan untuk bertemu dengan Ardella kembali.


Sejak hari itu Aoran membantu Ririn membuka sebuah usaha untuknya, Ririn sempat menolak atas bantuan Aoran, namun Aoran tetap bersikeras membantunya.


Back Now.


Setelah panjang lebar Ririn bercerita. "Tentang Aoran hanya sampai disitu kutahu Rob." Ucap Ririn.


"..." Diam Robin memberikan rasa khawatir.


"Apa Aoran sering datang kesini?." Tanya Robin.


"Iya, mungkin tiap tahun dia datang sekali atau duakali."


"Ardella tak boleh bertemu dengan Aoran lagi, aku tak ingin dia kembali ketitik menyedihkan." Robin yang melihat kearah Ardella.


Setelah selesai berbincang, Robin dan Ririn kembali menghampiri Ardella.


Ririn yang berusaha menahan kembali tangisannya. "Maaf atas kelanjanganku tadi." Ucap Ririn.


"Tidak apa, aku baik-baik saja kok." Senyum Ardella bersahabat.


Robin mengatakan bahwa Ririn dan Ardella pernah bertemu, tapi karena Ardella melupakannya akibat kecelakaan yang menimpanya. Penjelasan Robin membuat Ardella merasa bersalah dan meminta maaf kembali.


"Aku berharap kita bisa menjadi teman." Tangan Ardella yang menjabat tangan Ririn.


Robin yang ingin mengunjungi kedua orangtuanya menitipkan Ardella sebentar dengan Ririn. "Rin, bisakah aku titip Ardella sebentar bersamamu."


"Ok Rob."


"Kamu mau kemana." Tanya Ardella.


"Aku ada kenalan disini, ingin mengunjunginya sebentar, aku tidak lama kok." Ucap Robin.


"Mmm, kamu cepat kembali ya, takutnya kak Batara nunggu kita dirumah sendirian." Ucap Ardella.


"Ok."


Ririn membawa Ardella ke butiknya, berada didalam butik Ardella melihat baju bercorak batik dan ulos.


Melihat Ardella yang dari tadi sibuk memperhatikan kain batik dan ulos. "Kamu suka " Tanya Ririn.


"Bajunya sedikit unik." Ucap Ardella tersenyum.


Senyum Ririn mengatakan. "Kamu bisa ambil baju yang kamu suka."


"Tidak, terima kasih, uangku sepertinya tak cukup membeli baju ini." Ardella yang menolak dengan sopan.

__ADS_1


"Aku memberikannya untukmu, tak perlu bayar. Kamu adalah teman Robin, temannya Robin juga temanku." Ririn yang mulai memilihkan baju dan ukuran yang pas untuk Ardella.


Disisi lain Robin yang telah berada didepan rumahnya, melirik keadaan rumah. "Sepertinya tidak ada orang." Ucap Robin bergumam melihat rumah sepi.


Suara langkah kaki menghampiri Robin dari belakang.


"Cari siapa."


Robin dikejutkan dengan suara dari belakang, ketika menoleh dia melihat bapak dan ibunya yang baru datang dari tempat ternak.


"Bapak, Ibu." Teriak Robin berlari memeluk bapaknya.


"Robin anakku." Ucap Ibu dan Bapak Robin dengan haru dan menangis.


Pertemuan Robin dengan orangtuanya membuat mereka kembali berkumpul seperti dulu. Selesai melepas rindu, mereka berbincang didalam rumah, kedua orang tua Robin juga menanyakan keadaannya selama ini. Robin mulai menceritakan aktifitasnya selama berada di kota dan pekerjaanya.


Penasaran dengan keadaan Ardella. "Lalu bagaimana dengan Ardella." Tanya ibu Robin.


"Dia baik-baik saja sekarang Bu." Jawab Robin dengan senyum.


Robin yang tidak ingin melanjutkan percakapan mengenai Ardella. "Bu, aku lapar. Bolehkah aku makan sesuatu." Robin yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ibu akan masak makanan kesukaanmu." Ucap ibu Robin.


"Tidak usah Bu, Robin makan yang ada aja, lagian Robin harus cepat kembali."


"Tinggal beberapa malam disini Nak." Ucap Ayah Robin.


Orang tua Robin mengerti dan membiarkannya kembali secepatnya.  Setelah beberapa waktu bersama kedua orang tuanya, Robin berpamitan pergi. Meski sedih melepaskan anak semata wayangnya, kedua orangtua Robin tak bisa berbuat apapun, mereka hanya bisa mendoakan Robin baik-baik di tanah perantauan.


Robin kembali menjemput Ardella ditempat Ririn.


"Kalian sedang apa." Tanya Robin melihat Ririn dan Ardella asyik mencocokkan pakaian.


"Lagi pilih baju." Ucap Ardella.


"Ini kayaknya cocok deh." Baju rekomendasi Ririn.


Lama ditempat Ririn. Robin dan Ardella sadar sudah lama diluar, mereka teringat dengan Batara yang sendirian dirumah, Ardella dan Robin pamit kepada Ririn untuk segera pulang kerumah.


Hari mulai sore.


Robin dan Ardella menuju pulang. Didepan rumah sudah terlihat Batara sedang menunggu.


"Kok kakak diluar." Tanya Ardella.


"Menunggu kalian, sepertinya asik sekali jalan-jalanya sampai pulang kesorean." Berjalan menuju rumah.


Ardella mulai menceritakan pertemuannya dengan Ririn.


"Jadi itu alasannya kalian lama pulang." Batara yang mengerti kondisi saat pertemuannya mereka dengan Ririn.

__ADS_1


Melirik kesekeliling rumah. "Anak kecil ini siapa kak." Tanya Ardella ketika melihat Niko duduk di sofa ruang tamu.


"Niko, Dia anak pengurus rumah ini, karena ayah ibunya sedang ada kerjaan, dia titipkan bersama kita untuk sementara."


Ardella merasa ingin menyapa Niko "Haiii,, adik kecil." Senyum Ardella menyapa Niko.


Niko berlari dan memeluk Ardella, dia menangis dipelukan Ardella, ingin sekali Niko memanggil sebutan kakak pada Ardella, tapi sebelumnya Niko telah diperingati oleh Batara untuk pura-pura tak mengenal Ardella.


"Mungkin dia rindu orangtuanya dek." Ucap Batara.


"Jangan menangis." Ardella yang mengusap kepala Niko yang ada dipelukannya.


"Istirahatlah dulu Dek, setelah itu ayo kita makan malam." Ucap Batara kembali.


Robin hanya mengamati suasana, dipikirnya mungkin Batara telah berbicara dengan Niko dan ayah mereka.


"Baiklah kak, Ardella kekamar dulu." Berjalan meninggalkan ruang tengah.


Disisi lain, ayah Ardella melihat lewat celah pintu, melihat Ardella yang sekarang ini sedikit ceria, dia meresa ikut senang.


Didalam kamar Ardella mulai meletakkan barang bawaannya, tubuhnya direbahkan ke kasur. "Huuuh,  capeknya." Ucap Ardella.


Ini kamarku, sepertinya selama aku tidak disini, kamar ini terawat. Ardella membatin melihat keadaan kamarnya. Dilihatnya meja belajarnya, rasanya dia ingin mengingat ingatannya yang hilang.


"Aku biasanya suka menuliskan keseharianku di buku, mungkin aku punya buku diary." Gumamnya sibuk mencari ditumpukkan buku.


Trinngg,,,.


Sesuatu terjatuh diatas meja. Ardella mengambilnya dan melihat dengan teliti "Aoran." Dibacanya nama Aoran yang tertulis disebuah kalung liontin.


"Aoran, namanya seperti tidak asing, dimana aku mendengar nama ini." Tanyanya dalam hati.


Ah sudahlah lupakan saja, karena ini dikamarku berarti ini punyaku, mana tahu aku beli karena bagus. Ardella membatin.


Liontin bertuliskan nama Aoran dikenakan dilehernya, beranjak ke cermin Ardella berdiri dan melihat liontin yang telah tergantung dilehernya.


Masih diruang tengah Batara dan Robin berbincang.


"Kak, sepertinya Aoran mencari Ardella." Ucap Robin sedikit khwatir.


"Aoran, laki-laki itu." Batara berpikir sejenak.


"Iya, aku dapat informasi dari Ririn."


Batara yang mengepalkan tangannya "Hm, kalau aku bertemu dengannya akan kulayangkan tinjuku." Suara Batara terdengar marah.


Mengingat cerita Ririn. Robin berpikir Aoran mungkin tidak seburuk yang selama ini yang dipikirkan. "Mungkin Aoran punya alasan kak." Ucap Robin.


"Apapun alasannya. faktanya dia meninggalkan Ardella sendirian, dan aku tidak menerima sebuah alasan." Suara dingin yang dilontarkan Batara.


💔💔💔

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2