Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Kehilangan Yang Dicintai Membuatku Rapuh


__ADS_3

"Ardella sadarlah." Panggil Robin dengan lembut mengguncang tubuh Ardella. "Sekarang kita harus bawa Ardella kerumah sakit." Ucap Robin masih dalam keadaan menangis pada Aoran.


Aoran memberikan ekspresi mengerti, Dia bangkit, kakinya gemetar berjalan menuju mobil, Robin yang menggendong Ardella mengikuti Aoran. Tiba dimobil, Robin meletakkan Ardella dengan sangat hati-hati.


Aoran sendiri menyetir dalam keadaan tidak fokus, tangannya kaku sedingin es memegang stir mobil. Sesekali melirik keadaan Ardella dari kaca spion. Melihat Robin masih berusaha menyadarkan Ardella.


Butiran keringat bercucuran dari kening Aoran. "Ardella tolong jangan membuatku khawatir, sadarlah kumohon." Suara hati Aoran.


"Aku harus menghubungi kak Batara dan kak Lisa." Pikir Robin menyeka air matanya.


"Hallo Rob." Ucap Batara setelah terhubung.


"Kak, Ardella." Suara Robin terdengar tidak jelas. "Ingatan Ardella telah kembali kak. Sekarang dia tak sadar diri setelah mengingat semuanya. " Lanjut Robin berbicara dengan cepat.


Deg.


Degupan jantung Batara sangat keras. " Bawa Ardella kerumah sakit Andre." Perintahnya langsung. Batara meninggalkan pekerjaannya. Dia langsung mengabari Lisa dan menjemputnya kesekolah.


Sekitar pukul 9.45 wib. Ardella tiba dirumah sakit Andre.


Andre yang baru tiba kemarin di indonesia masih berada dirumah. Hari ini dia belum kembali bekerja, menikmati hari cutinya. Tetapi Setelah mendengar kabar dari Batara bahwa Ardella sakit. Andre langsung pergi kerumah sakit dan menunggu di depan rumah sakit. Menunggu dengan khawatir dia mondar-mandir melihat kearah jalan.


Mobil Aoran tiba, dengan segera Robin menggendong Ardella turun dari mobil. "Kak Andre, Ardella." Ketika melihat Andre berdiri menunggu. Dengan sedihnya Robin ingin mengatakan bahwa Ardella kembali sakit.


Andre tidak banyak bicara, saat ini kondisi Ardella lebih penting daripada penyebabnya. Karena itu didalam ruang UGD Andre memeriksa kondisi Ardella.


Batara dan Lisa datang. "Dek bagaimana keadaan Ardella sekarang." Ucap Lisa cemas, diapun harus meminta izin dari sekolah dan segera datang kerumah sakit. Mereka yang sudah menyaksikan Ardella sakit menjadi sangat panik.


Batara menyadari kehadiran Aoran.ย  Amarahnya menjadi bangkit ketika melihat wajah Aoran.


Bukkk.


Pukulan Batara melayang diwajah Aoran. Kali ini Aoran tidak melawan, pukulan itu seakan diterima. Tangan Batara kesakitan setelah memberi beberapa pukulan. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada Ardella, kamu yang akan duluan aku lenyapkan." Ancam Batara mengangkat kerah baju Aoran.


Menghempaskan, Aoran terjatuh kelantai. Lisa dan Robin berdiam tidak berbicara dan tidak berbuat apa-apa.


Aoran berdiri, mengusap darah dibagian bibirnya, sakit sama sekali tidak dirasakan. Yang ada kekosongan dimata Aoran sangat jelas tampak, sedari tadi Aoran hanya melihat kearah pintu itu.

__ADS_1


Jam 11.15 wib. Andre keluar dari ruangan.


"Gimana dengan Ardella." Tanya mereka mendekati Andre.


Dengan lesuh, Andre memberi kabar buruk. "Ada gangguan diotak Ardella. Sebelum Ardella sadar, kita tidak bisa memastikannya lebih jelas. Tapi yang penting Ardella harus sadar." Suara Andre terdengar serius.


Semua orang menjadi sedih, Andre juga ikut sedih. "Siapa dia." Tanya Andre melihat kearah Aoran.


Mereka menoleh. "Aoran kak." Sahut Robin.


"Aoran baji**an itu." Amarah Andre membara, sekian lama Andre ingin menghajar Aoran yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali.


Tinju Andre juga melayang kewajah Aoran. Kasihan melihat Aoran, Robin menghentikan Andre memukuli Aoran. Sebagai dokter Ardella selama setahun, dia sangat mengerti kesedihan Ardella.


Ardella masih belum sadarkan diri, dia dipindahkan keruangan umun khusus pasien. Kunjungan dibatasi, hanya dua orang yang bisa masuk kedalam ruangan. Batara dan Lisa masuk kedalam. Sekarang Ardella kembali seperti dulu, terbaring di kasur rumah sakit, dengan infus tergantung. Dilengkapi dengan alat oksigen dihidung Ardella.


Aoran tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, dia tidak meminta penjelasan. Raut wajahnya membuktikan Aoran seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun.


"Aku ingin bicara." Ucap Robin menepuk pundak Aoran. Mereka mencari tempat untuk bicara. Aoran dan Robin duduk dikursi deretan bagian tunggu rumah sakit.


Robin dan Aoran masih belum memulai pembicaraan, dari mana harus aku mulai, banyak sekali yang ingin aku katakan. Pikir Robin. "Edward. Anak yang selama ini kamu cari." Melipat kedua tangannya, Robin berbicara tidak melihat kearah Aoran.


Aoran tidak bisa menahan lagi, Air matanya terjatuh. Aoran yang kuat, bersikap dingin, tiba-tiba menjadi pria yang lemah. Ada sesuatu dihati Aoran yang sakit, sangat sakit sekali, nafasnya sesak tertahan, suaranya tidak bisa keluar, tangisan dari bibirnya membuktikan bahwa Aoran sungguh tidak berdaya.


Lelaki ini memang sepertinya untukmu Ardella, seberapa keras kami memutuskan hubungan kalian, tetap saja kamu dan dia akan terikat kembali. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku. Batin Robin.


"Setelah Ardella melahirkan, dia menjalani pengobatan psikologi." Kata Robin melanjutkan cerita.


Robin mulai menceritakan semuanya.


Flashback.


Kisah lima tahun lalu.


Ardella yang saat ini berada diruang persalinan tidak sadarkan diri. Batara, Robin, Andre sedang menunggu diluar. Lisa yang saat ini sedang hamil besar tidak bisa ikut melihat Ardella. Mendengar suara tangisan bayi, mereka lega bahwa semuanya berjalan dengan baik.


"Selamat, bayinya laki-laki." Ucap dokter memberi kabar baik.

__ADS_1


Kelahiran bayi Ardella menjadi kabar gembira. "Keponakanku." Gumam Batara setelah melihat bayiย  Ardella.


Bayi kecil mungil, bahkan warna kulitnya masih memerah, mata kecilnya belum terbuka sepenuhnya. Dengan takjub, Robin melihat kehadiran bayi kecil. "Ternyata bayi sekecil ini, tangannya sangat lembut." Ucap Robin menyentuh tangan bayi itu. Andre dan Batara tersenyum dengan keluguan Robin.


Hari dimana Ardella melahirkan mungkin hari bahagia. Tetapi semua itu tidak berlangsung lama.


***


Pagi hari.


Ardella sadarkan diri setelah tiga hari berlalu. Langit-langit dirumah sakit menjadi penglihatan pertama bagi Ardella. Kondisi Ardella sama sekali tidak membaik. Dirinya yang melihat suster menggantikan infus mengira bahwa dia dibawa kerumah sakit oleh warga.


Ardella menjerit dan berteriak. Suster yang berada disamping menenangkan Ardella, tetapi itu tidak membuat Ardella tenang. Dia mendorong suster itu, kemudian berlari keluar dari ruangannya. Suasana rumah sakit menyakinkan Ardella bahwa dia telah melakukan aborsi.


Ardella kembali menangis, dia tersungkur kelantai, memegang perutnya, dia menangis di tengah rumah sakit. "Ahh, apa salah anakku, kenapa kalian tega." Ucapnya terisak menangis.


Sudah lama aku sendirian, bahkan dalam kesendirianku aku tidak pernah mengeluh, atau marah dalam keadaan. Menunggu kedatangan kakakku adalah harapanku satu-satunya. Semua perlakuan ibu dan saudara tiriku tidak membuatku takut.


Tapi hari ini, kepergiaan anakku yang bahkan belum kulihat rupanya membuatku takut dan tidak bisa menjalani hidup. Mungkinkah karena dia telah berada di perutku sehingga insting sebagai ibu membuatku sangat hancur.


Ardella menyakiti dirinya, dia membenturkan kepalanya ke lantai dengan sangat keras, mereka yang baru datang dari ruang inkubasi. Melihat Ardella dikerumuni oleh banyak orang.


Dua orang suster berusaha menghentikan Ardella. Darah dari kening Ardella mengalir keseluruh wajahnya. Batara sangat syok melihat Ardella, dia menarik Ardella kedalam pelukannya. "Adikku, maafkan kakak." Terisak menangis. Seandainya aku membawamu bersamaku. Maka kamu tidak akan mengalami semua ini.


Andre ikut menangis, sebagai dokter dia sudah banyak menagani kasus penyakit kelainan jiwa, tapi baru kali ini hatinya ikut merasakan kesedihan pasiennya.


Saat itulah, Andre, Batara, Lisa dan Robin memutuskan untuk menjalani pengobatan hipnoterapi. Selama pengobatan berlangsung, hanya Batara dan Andre yang diperbolehkan bertemu dengan Ardella.


Dua minggu setelahnya, Lisa melahirkan.


Jarak umur bayi lisa dan Ardella hanya terpaut dua minggu, karena itu Batara dan Lisa mendaftarkan bayi Ardella menjadi anak biologis mereka. Bayi Ardella diberi nama Edward Saulian.


Kembar, mereka menjadikan Edward dan Erwin anak kembar. Dengan begitu indentitas Edward tidak akan dipertanyakan. Semua dokumen riwayat kelahiran Edward dihancurkan oleh Andre.


Sedangkan untuk Ardella, Dia berada dirumah sakit kejiwaan. Rumah sakit milik Andre sendiri.


๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2