
Seminggu kemudiaan.
Trinngg,,,tring,,,tring.
Suara dering ponsel Aoran berbunyi dipagi hari, Aoran yang masih tidur dibawah selimut mengambil dengan meraba-raba ponselnya diatas meja sebelah kananya.
"Hallo." Suara Aoran.
"Hallo beb kamu kapan pulang, persiapan untuk pernikahan kita hampir sudah selesai." Suara wanita lewat sebrang telpon.
"Aku belum ingin pulang." Saut Aoran.
"Kamu udah berjanji kalau dalam tiga bulan kita akan menikah beb." Suara tangisan wanita itu.
Malas mendengarkan tangisan wanita itu." Baiklah aku akan kembali secepatnya." Ucapnya dengan sedikit kesal.
Tutttt,, Aoran menetup hpnya dan melemparkan ke kasurnya. Dia kembali merebahkan tubuhnya, pikirannya terasa kacau.
"Dari siapa Fritsch." Tanya Evan terbangun ketika mendengar Aoran menelpon.
"Dari tunanganku." Sautnya seadanya.
"Apa persiapan pernikahan kalian udah siap." Tanya Evan kembali.
"Iya." Ucapnya dengan setengah sadar.
"Jadi kapan kita balik kejakarta." Evan yang tadinya tidur tiba-tiba duduk.
"Besok aja kita balik." Membalikkan badan dan menarik selimutnya kembali.
Evan mengambil hp Aoran dan mengecek pesan masuk, didapatinya ada pesan dari Rara tunangannya Aoran. Rara mengirim surat undangan pernikahannnya bersama Aoran. Evan mengirimnya balik ke Wa nya sendiri.
"Terus bagaimana dengan Ardella Fritsch." Meletakkan kembali hpnya ketempat semula.
"Nanti pas balik ke jakarta gue mau batalin pernikahan, terus jemput Ardella dari sini. " Ucap Aoran yakin dengan keputusannya.
"Lu gila, pernikahan kamu sama Rara udah lama dipersiapkan, mungkin cewek lain bisa lu campakkin tapi nggak dengan Rara Fritsch." Nada tinggi dari Aoran.
"Van,,, ini urusan gue jadi lu gk perlu ikut campur." Kata Aoran bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke toilet.
"Tapi Fritsch." Belum selesai bicara Aoran langsung memotong pembicaraan.
"Sebaiknya pesanin aja tiket untuk penerbangan besok, gue mau pergi siap-siap kerumah Ardella."
__ADS_1
Aoran yang bergegas pergi ke rumah Ardella. Sampai dirumah Ardella dia berjalan ke samping rumah dan mendekati jendela. Ardella yang tengah duduk dikursi dan menikmati udara segar pagi hari, berada tepat didepan jendelanya.
Tap,,, tap,,, tap suara langkah mendekati jendela Ardella.
"Kak Aoran, apa yang kak Aoran lakukan pagi-pagi begini. " Tanya Ardella berdiri di jendela.
"Ardella ada yang ingin kukatakan padamu." Sautnya memegang kedua tangan Ardella daengan lembut.
"Apa kak. " Tanyanya dengan rasa penasaran.
Aoran merasa tidak tega meninggalkan Ardella seorang diri, ingin dia membawa Ardella bersamanya, namun Aoran tidak ingin Ardella masuk kedalam masalah keluarganya, dia tidak ingin Ardella dalam bahaya.
"Besok aku akan kembali ke jakarta, tapi kamu tenang aja aku akan kembali secepatnya, sampai dijakarta aku akan mengatakan pada orangtuaku bahwa aku mencintaimu dan setelah itu aku akan membawamu pergi dari sini." Ucap Aoran meyakinkan.
Ardella merasa sedih mendengar itu, dia tak mengucapkan sepatah kata pun dimatanya tertulis kesedihan. Dia menarik tangannya, menunduk menahan agar tidak menangis, dia tidak ingin menatap wajah Aoran dan menunjukkan rasa sedihnya. Kata akan segera kembali dan membawamu pergi sudah pernah terucap dari orang yang dia sayangi, dan hari ini sekali lagi dia mendengar nya dari Aoran kekasihnya.
"Apa kamu takut aku tidak kembali." Tanya Aoran menunduk berusaha melihat wajah Ardella.
"Iya kak." Gumamnya pelan.
"Aku akan segera kembali, tunggu aku Ardella." Ucap Aoran memeluk Ardella dan menegelus dengan lembut.
"Sungguh kak." Tanya Ardella memastikan.
"Muach." Kecupan hangat dibir Ardella. "janji kelingking dikehidupan ini aku hanya mencintai Ardella." Ucap Aoran mengangkat jari kelingkingnya.
"Kalau ada seseuatu, kamu harus secepatnya menghubungi aku." Ucap Aoran.
"Iya Kak." Saut Ardella.
Masih belum cukup berbicara dengan Ardella, Aoran memberikan pesan selama menunggunya. "Selama aku tidak ada disini, kamu harus jaga diri. Makan yang banyak agar kamu tumbuh lebih besar. Terus jangan dekat-dekat sama cowok lain, cukup pikirkan aku." Ucapnya cepat. "Apa lagi ya." Pikir Aoran kembali.
Ardella mencium pipi Aoran, menandakan dia akan menjalankan pesan Aoran.
Aoran beranjak pergi dari rumah Ardella, sesekali dia berbalik kebelakang, melihat Ardella masih berdiri dan melambaikan tangan kecilnya, senyum Ardella terlihat tidak bahagia, begitu juga dengan Aoran dia juga sebenarnya tidak ingin pergi.
Ardella, aku akan segera kembali. Aoran membatin.
Pesan kepergiaan Aoran membuat hati Ardella sedih. Dilihatnya Aoran telah jauh darinya, ingin rasanya dia berlari menahan Aoran untuk tidak pergi dan mengatakan "Jangan tinggalkan aku." tapi Ardella tidak mampu mengatakannya.
***
Keesokan harinya.
__ADS_1
Aoran dan Evan bersiap untuk kembali kejakarta, mereka sudah check out dari penginapan dan pergi menuju ke pelabuhan. Mereka berangkat dengan tergesa-gesa agar tidak ketinggalan pesawat.
Evan yang dari tadi merasa resah dan tidak tenang, sesuatu mengganjal dihatinya. "Fritsch gue balik ke penginapan sebentar ya, kayaknya ada barang tertinggal deh." Ucap Evan memeriksa tasnya.
Aoran Menatap Evan, menyeritkan dahinya, menahan kekesalannya. "Cepat buruan ambil sebelum ketinggalan kapal, gue tunggu disini." Ucap Aoran.
"Ok, jagain barang yang lain ya." Sautnya meletakkan barangnya dan menitipkan kepada Aoran.
Evan berlari bukannya ingin kembali ke penginapan melainkan ke rumah Ardella.
Didepan rumah Ardella dia menarik nafas. Mengatur cara bicara atas pesan yang akan disampaikannya.
Tok,,, tok,,, tok,,,.
"Ardella." Panggil Evan sedikit dengan suara keras.
Tekrekkk suara yang sedang membuka kunci pintu.
Kebutan Leli yang membukakan pintu untuk Evan, dilihatnya laki-laki yang sedang berdiri tidak dikenalnya. "Siapa ya." Tanya Leli.
"Ah, saya Evan temannya Ardella. Saya mau tanya Ardellanya ada mbak." Tanya Evan kembali.
Kesel mendengar nama Ardella. "Ardella tidak ada dirumah, tadi dia pergi gk tau kemana, memangnya ada apa." Kata Leli berbohong.
"Saya ingin memberikan sebuah surat, apa boleh mbaknya aja yang kasih, jika Ardella sudah kembali." Ucap Evan sambil menyerahkan suratnya.
"Ok." Menerima surat dari tangan Evan.
"Terima kasih mbak." Ucap Evan sopan.
"Sama-sama." Saut Leli.
Maaf Ardella gue gk bermaksud nyakitin kamu. Dengan sifat orangtua Aoran gk bakal mungkin mereka menerima kamu. kamu dan Aoran tidak mungkin bersama aku berharap kamu tidak menunggu Aoran kembali. Aku berdoa untuk kebahagiaan kamu disini. Suara hati Evan merasa bersalah.
Evan kembali ke Aoran. Akhirnya perjalanan mereka kembali kejakarta berlanjut. Aoran tidak tahu akan pesan apa yang diberikan pada Ardella.
Ketika kaki Aoran masuk kekapal dia mengingat awal kedatangannya berlibur ke pulau danau toba. "Van, nggak nyangka hari ini kita akan kembali ke jakarta, kayak baru kemarin kita datang kesini. " Ucap Aoran.
Sama halnya dengan perasaan Aoran, Evan juga ikut sedih meninggalkan pulau. "Gk terasa selama tiga bulan kita disini." Ucap Evan kembali.
Aoran dan Evan sedikit merasa sedih meningalkan pulau samosir, mereka berdua masih mengingat kenangan indah selama berada disana. Aoran yang memikirkan Ardella juga ikut merasa sedih.
Ardella aku pasti akan kembali padamu tunggu aku, aku mencintaimu. Aoran membatin.
__ADS_1
πππ
Bersambung