
Jerman.
Termasuk salah satu negara eropa yang ternama didunia, dinegara jerman banyak sekali bangunan yang dijadikan tepat wisata dari dalam negeri maupun luar negeri. Neuschwanstein siluet yang luar biasa dari kastil inilah yang membuat jerman lebih terkenal, diikuti dengan kota-kota megah lainnya seperti Berlin, masih banyak kota yang lebih menarik untuk dikunjungi ketika berada dijerman.
Pagi ini penerbangan Aoran tiba dijerman, hal paling yang ingin dilakukannya adalah pergi kesebuah tempat.
Ditempat makam umum, dikelilingi pepohonan disekitarnya, dan ditumbuhi dengan rumput hijau di atas tanah pemakaman, tampak Aoran sedang memegang sebuah buket bunga. Berdiri dan memandangi satu makam. Dengan wajah sedih sambil berdiri dan menghela nafas dengan sangat panjang didepan makam itu.
Note : Semua pembicaraan dianggap berbahasa jerman.
"Haiii, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu disana, apa sangat menyenangkan disana hingga kamu tidak pernah mengunjungiku dalam mimpiku." Ucapnya meletakkan bunga itu di atas makam.
"Aku ingin cerita, tolong dengarkan aku." Aoran duduk disamping makam itu, dirinya mengoceh sendiri. Setengah harian dia menghabiskan mengoceh sendirian di pemakaman.
Setelah mengucapkan perpisahan dengan Ardella, Aoran memutuskan bahwa kedatangannya kali ini ke jerman untuk menetap. Semua segala urusan diindonesia telah diselesaikan.
***
Kediaman Aoran dijerman.
Rumah yang ibaratkan istana adalah tempat tinggal Aoran dijerman, sekitar 100 orang pelayan diperkerjkan didalam bangunan megah ini. Begitu megahnya dengan segala tampilan rumah, warna bangunan putih cerah, tepat didepan halaman terdapat air manjur berwarna keemasan.
Saat berjalan dari pagar sekitar 15 menit sampai kedepan rumah. Bukan hanya itu, pintu utamanya terdapat dua bagian. Pintu bagian pertama harus menaiki anak tangga sekitar 20 anak tangga, pintu kedua di bawah basment tempat parkiran mobil mewah dengan menggunakan lift.
Dirumah itu ada tiga lantai, diatas atap kita juga dapat bisa melihat lapangan luas dibelakang halaman, lapangan itu biasanya tempat mendaratnya helipkopter pribadi keluarga Bilton Fritsch ayah Aoran sendiri.
Aoran dengan mobilnya berada didepan gerbang rumah, para bodyguard keluarga Fritsch datang menyambut dan membuka gerbang untuknya. Gerbang dipagar dengan besi setinggi 10 meter menjulang keatas.
"Tuan muda sudah kembali nyonya."
Dengan cctv yang dilengkapi,Β kedatangan Aoran langsung diketahui oleh mama Aoran.
Wanita paruh baya ini seakan tidak percaya bahwa anaknya datang, dia dengan menggunakan dress hijau toska sepanjang lutut dengan renda-renda dilehernya, memakai sandal rumahan dan tanpa riasan berjalan menemui Aoran.
"Aoran anakku, sudah lama aku tidak melihatnya." Gumam mama Aoran bergegas dan menyambut kehadiran anaknya yang lama dirindukannya.
Diruang utama Aoran telah menanjakkan kakinya, dia berjalan langsung menuju kamarnya, hendak melangkah Aoran dijegat oleh mamanya.
"Anakku." Mamanya memeluk dan mencium kedua pipi Aoran.
__ADS_1
Aoran sadar pastinya mamanya sangat merindukannya, sudah lama juga baginya tidak bertemu dengan mamanya, dalam lubuk hatinya Aoran juga merindukan mamanya. "Mama, aku bukan anak kecil." Ucapnya melepaskan kedua tangan mamanya dari pipinya.
"Iya, baiklah mama mengerti. Kenapa kamu tidak bilang bahwa kamu kembali kejerman." Penasaran dengan kehadiran Aoran. Setelah sekian lama Aoran tidak pernah ingin kembali kejerman, mama Aoran begitu ingin tahu alasan kedatangan putranya ini.
"Aku rindu mama." Memberikan alasan seadanya.
Karena tragedi lima tahun lalu, mama Aoran mengurungkan niatnya untuk mencampuri urusan Aoran. Dengan pandangan jarak jauh mama Aoran hanya selalu menerima kabar bahwa Aoran baik-baik saja. Dan itu sudah cukup bagi mama Aoran.
Senyumnya mendengar alasan Aoran. "Mama lebih rindu denganmu, ingin sekali mama berkunjung, tapi takut kamu marah sama mama." Suara mama Aoran seakan lesuh mengucapkannya.
"Ma, aku ingin istirahat sebentar." Aoran ingin mengakhiri pembicaraan. Meninggalkan mamanya, dia beranjak naik keatas kamarnya menggunakan lift yang berada diujung ruangan.
"Sama sekali tidak berubah." Mama Aoran melihat kepergian anaknya dengan menggelengkan kepala.
Aoran berada dikamar lamanya, dia meletakkan barangnya, membuka jaketnya, dia membersihkan diri di kamar mandi. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dia berdiri didepan kaca.
Melihat dirinya, Aoran mengingat seseorang yang dirindukan. Seseorang yang sangat persis dengannya, seseorang yang tidak bisa dia temui lagi.
***
Malam hari.
Mama dan papa Aoran telah berada dimeja makan, tetapi saat ini Aoran belum menunjukkan diri sama sekali, papa Aoran menyuruh pelayan rumah untuk memberitahukan bahwa makan malam sudah siap dan menyuruh Aoran untuk segera turun.
Pelayan itu mengikuti perintah dan langsung menuju kamar Aoran.
Tok, tok, tok.
Pelayan itu mengetuk pintu kamar Aoran dengan hati-hati. "Tuan muda dipanggil untuk makan malam oleh tuan dan nyonya besar." Panggilnya dari luar kamar.
"Sampaikan bahwa aku belum lapar." Sautnya.
Pelayan itu tidak berani untuk mengulangi panggilannya, mengenal sifat Aoran, pelayan itu turun dan menyampaikan pesan Aoran.
"Anak itu benar-benar tidak tau sopan." Papa Aoran marah dan kesal ketika mendengar pesan pelayan itu.
"Pa, sudahlah." Menenangkan, mama Aoran memegang tangan suaminya itu. "Biar mama yang panggil."
Mama Aoran dengan cepat naik keatas, menuju kekamar Aoran. Tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk, didapatinya Aoran sedang terbaring.
__ADS_1
"Sayang." Panggilan untuk Aoran dari mamanya. "Ayo makan, jangan tidur sebelum makan, nanti kamu sakit." Mama Aoran membangunkan dengan menepuk-nepuk tubuh Aoran.
Aoran membuka matanya, melihat mamanya telah berdiri disampingnya. "Ma, aku tidak lapar." Ucapnya membalikkan badan.
"Papa kamu sudah menunggu, tidak baik mengaibakannya seperti ini." Membujuk Aoran.
"Aku masih tidak ingi bertemu denga Pak tua itu." Sautnya.
Hubungan antara Aoran dan papanya sangat kaku. Mama Aoran tetap tidak mau beranjak dari kamar Aoran jikalau Aoran tidak turun.
Aoran juga tidak bisa mengaibakan mamanya yang masih menunggu. "Oke ma aku turun, tapi mama duluan, Aoran nyusul." Ucap Aoran melihat kearah mamanya.
Papa Aoran menunggu dengan kesal, Aoran baru datang dari indonesia sudah diketahuinya sedari tadi, bahkan sejak siang, papa Aoran sudah berharap bahwa Aoran akan datang menemuinya terlebih dulu, tapi Aoran malah cuek terhadapnya.
"Mana anak kurang ajar itu." Tanyanya pada mama Aoran yang baru berjalan dari jarak jauh.
"Pa, anak sendiri jangan dibilang begitu. Nanti Aoran dengar kalian pasti akan bertengkar lagi." Mama Aoran yang melihat dua gunung es disisinya selalu menjadi penengah diantara suaminya dan anaknya sendiri agar tidak terjadi pertengkaran.
Tap, tap, tap.
Aoran dari jarak jauh sudah melangkah menuju meja makan. Dilihat papa dan mamanya sudah menunggu, Aoran menarik kursinya, duduk diam itulah yang dilakukan oleh Aoran tanpa melirik kearah papanya. Berbeda dengan papa Aoran yang melihat dengan tatapan tajam dan bola mata mengerit.
Makan malam yang canggung, udara disekitarnya sangat mencekam. Mama Aoran yang melihat berusaha mencairkan suasana kaku itu. "Anasya kenapa gk ikut." Tanya mama Aoran disaat makan malam masih berlangsung.
"Saat makan jangan bicara." Papa Aoran menyahut dengan suara berat dan bergetar.
Mama Aoran terdiam seketika, tidak melanjutkan bicara, kini suasana menjadi lebih canggung, Aoran melirik papanya. Dulu wajah itu sangat tidak disukai oleh Aoran, tapi sekarang melihat kerutan dikantung mata, dahi yang mulai mengendur di wajah papanya, Aoran mulai mengurangi rasa kebenciannya. Papanya yang selalu bersikap dingin itu tidak asing dimatanya walaupun sudah bertambah tua.
Makan malam berlangsung dengan cepat, selesai makan Aoran langsung ingin pergi.
"Aku ingin bicara, ikut aku keruangan kerjaku." Ucap papa Aoran dengan wajah datar mendahului Aoran berjalan.
Dari belakang, Aoran melihat kearah papanya yang sudah jauh dari pandangannya.
"Sayang jika papamu bicara cukup dengarkan, jangan membantahnya." Kecemasan mama Aoran meningkat ketika suaminya itu ingin berbicara berduan dengan Aoran.
πππ
Bersambung
__ADS_1