Seputih Melati

Seputih Melati
Bapak


__ADS_3

Di luar ruangan ICU, nenek Melati terus memaki cucunya yang ada di dalam, dengan suara batinnya. Sambil berjalan bolak balik di depan ruang tunggu pasien. Sedangkan pak Wahid dan Latif mencoba mencari informasi terkait keadaan pak Yudi dan Melati. Karena, pak Wahid Yang diamanahi ibunya Melati untuk mengurus semua urusan rumah sakit.


Zia dan ibunya juga masih setia di sana, menunggu Melati keluar dari ruang ICU bersama dokter yang baru mereka kenal.


"Zi, kamu kenal sama dokter tadi?" tanya bu Laras.


"Belum pernah ketemu sih bu, tapi sepertinya itu dokter yang sering Melati ceritain sama Zia bu. Selama ini kan Melati terapi tangan sama dokter Syaraf bu. Biasanya Melati memang nyebutnya dokter Arifin gitu." jawab Zia.


"Oh..."


"Bu. Kenapa nenek Melati bersikap dingin sama Melati kaya tadi?" tanya Zia.


"Kamu kaya ga kenal neneknya Melati saja. Neneknya Melati kan memang begitu. Sejak Melati lahir, dan mengetahui keadaan Melati, nenek kan memang tidak suka dengan Melati. Apapun yang dilakukan Melati, dianggapnya salah." kata bu Laras.


"Ehm, gitu? Kasian Melati ya bu?" komentar Zia.


"Iya. Makannya kamu jangan suka pilih-pilih teman, Melati itu teman yang baik. Tidak ada alasan untuk mu menjauhinya." kata Bu Laras.


"Iya bu." jawab Zia.


Di dalam ruang ICU.


Beberapa menit berlalu, Melati terus merutuki dirinya sendiri, atas permintaannya pada bapak nya yang akhirnya membuat mereka berada di gedung ini. Tiba-tiba pandangan Melati kabur, kepalanya terasa pusing, dan tanpa sadar kepalanya di gelengkan untuk mengusir rasa itu. Seketika, dokter Arifin melihat gelagat Melati.


"Melati Pusing?" tanya dokter Arifin menatap wajah gadis kecil itu.


Namun, belum sempat menjawab, Melati sudah tidak sadarkan diri, dengan wajah yang pucat. Kepalanya yang lemah, langsung ditangkap dokter Arifin. Dokter Arifin pun menggendong Melati keluar ruang ICU, dengan meninggalkan kursi roda di dalam begitu saja. Sesampainya di luar ,dokter Arifin langsung di kerumuni orang-orang yang menunggu di luar ruang ICU.


"Apa yang terjadi dokter?" tanya Pak Wahid panik.


"Melati Pingsan, saya harus membawanya ke ruang perawatan." kata dokter Arifin sambil segera melangkah membawa tubuh Melati yang lemah menuju ruang perawatan.


"Suster, sepertinya Melati drop." kata Dokter Arifin kepada perawat yang mengantarkan Melati ke ruang ICU tadi. Seketika Perawat itu mengikuti langkah dokter Arifin, diikuti juga Oleh Zia dan bu Laras.


"Saya ke dalam dulu ya mas." kata pak Wahid kepada Latif.


"Ya pak." jawab Latif.


"Pak Wahid, saya juga mau lihat keadaan anak saya pak." kata nenek Melati yang merengek minta ikut masuk ruangan.

__ADS_1


"Ehm. nenek tunggu saja dulu, saya hanya mengecek saja, sebentar lagi saya keluar lagi." kata pak Wahid langsung masuk ruang ICU untuk melihat keadaan pak Yudi.


Namun, keadaan pak Yudi masih sama, suara mesin medis juga masih sama, tak ada perubahan, dan tak ada yang mencurigakan. Perawat dan dokter jaga di ruang ICU juga ternyata sudah mengecek keadaan pak Yudi.


Kemudian, pak Wahid kembali keluar ruang ICU. Sudah ada nenek Melati yang menyambutnya.


"Bagaimana keadaan Yudi anakku?" tanya nenek Melati.


"Alhamdulillah, tidak ada masalah apapun nek." jawab pak Wahid tenang.


"Aku mau lihat anakku." kata nenek Melati yang bernama bu Sri.


"Silakan nek." kata Pak Wahid memberikan jalan.


"Mas Latif, nanti kalau bu Laras dan Zia pulang, tolong kamu jagain Melati dulu ya. Karena bapak harus stay di sini. Kamu tau kan sifat neneknya Melati, pasti dia tidak akan mau menjaga cucunya. Tadi saat Melati drop saja, dia tetap tidak peduli." kata pak Wahid.


"Baik pak." jawab Latif.


Latif adalah ketua remaja masjid, sekaligus guru TPQnya Melati, dan dia juga menjadi salah satu pengurus LAZIS di kampung nya. Latif adalah seorang wiraswasta, dia sudah memiliki usaha sendiri, di beberapa tempat. Sudah banyak karyawan yang bekerja dengannya, sehingga banyak waktu yang bisa di pakai untuk membantu keluarga pak Yudi, tetangga dekatnya. Melati juga sudah dianggap nya sebagai adiknya sendiri.


Sesampainya di ruang rawat, dokter Rafa yang diberi kabar langsung menangani Melati. Melati kelelahan, sehingga tensi darahnya turun drastis yang menyebabkan dirinya drop. Dokter Rafa dan dokter Arifin segera melakukan tindakan, agar Melati segera kembali membaik.


Dua hari sudah Melati dan pak Yudi dirawat di rumah sakit. Keadaan Melati sudah kembali membaik setelah kemarin ditangani dokter. Namun, tetap saja Melati tidak boleh banyak bergerak dan banyak fikiran, sehingga Melati harus terus ditemani dan diawasi.


Sedangkan keadaan pak Yudi belum ada perkembangan sama sekali. Pak Wahid yang setiap saat selalu memberi kabar bu Fatma, ibunya Melati, dengan keadaan anak dan suaminya. Sedangkan Nenek, dijemput orang rumah, karena harus istirahat dirumahnya.


Sore itu, setelah ashar, pak Wahid kembali dari mushola, saat tiba di depan ruang ICU, perawat mencarinya.


"Maaf, keluarga pak Yudi?" tanya perawat.


"Saya sus."


"Anda dipanggil dokter pak." kata perawat.


"Ya sus." jawab pak Wahid.


"Mari saya antar pak." kata perawat.


"Baik sus."

__ADS_1


Sesampainya di ruang dokter, dokter mengatakan bahwa pak Yudi sudah tidak ada harapan lagi. Keadaannya semakin menurun, pak Yudi bisa bertahan hanya karena bantuan alat, sebaiknya diikhlaskan. Pak Wahid tak mampu berkata-kata. Pak Wahid pun mohon ijin untuk menelpon bu Fatma, istri dari pasien.


📞Bu Fatma


'Halo pak, bagaimana keadaanmu suami dan anak saya?'


"Dek Fatma... tolong keikhlasan hatimu ya... ini suamimu sudah tidak ada harapan lagi. kata dokter, sebaiknya diikhlaskan."


'Innalillahi wainnailaihi Raji'un. Mas Yudi ga bisa ditolongin lagi pak? Dilakukan tindakan yang lain pak.' kata Bu Fatma. Dokter yang menangani pak Yudi pun memohon ijin untuk berbicara dengan istri pasien.


"Kami sudah melakukan yang terbaik untuk pak Yudi bu. tetapi mohon maaf, Tuhan lebih menyayangi beliau." kata dokter Indra.


"Mohon keikhlasan ibu, agar kami melepas alat medisnya." lanjut dokter Indra.


'Baik dokter... Bismillah, saya ikhlas.' kata bu Fatma dari seberang.


Setelah mendapat persetujuan dari bu Fatma, dokter melakukan tindakan kepada Pak Yudi. Dan pak Wahid segera menelpon Latif untuk membawa Melati ke ruang ICU.


📞Latif


'Assalamualaikum pak. Ada apa pak?'


"Wa'alaikumsalam. Tif, Melati lagi tidur tidak?" tanya pak Yudi.


'Tidak pak. Kenapa pak?'


"Tolong kamu ajak dia ke ruang ICU sekarang." kata pak Wahid.


'Baik pak.'


Tak lama kemudian, Melati sudah tiba bersama Latif. Melati kemudian diajak masuk ruang perawatan pak Yudi bersama Latif, Karena pak Wahid sudah berada di dalam. Namun, betapa terkejut nya Melati saat melihat wajah bapaknya sudah di tutup selimut.


"Bapak..." rintih Melati, yang kemudian kursi roda itu di dekatkan pada tubuh pak Yudi oleh Latif.


"Bapak... bapak!!!" teriak Melati sambil tangan kirinya yang tertancap infus menggoyang-goyang tubuh kaku bapaknya.


Latif yang melihat itu tampak pilu. air matanya tak dapat dibendung. Pak Wahid dengan sigap segera mencoba untuk menenangkan Melati yang syok atas kepergian bapaknya. Hingga, Melati tak sadarkan diri lagi, dan dengan sigap pak Wahid menggendong tubuh Melati ke luar ruang ICU.


"Astagfirullah, Melati." kata pak Wahid seketika terkejut dengan keadaan Melati yang lemah.

__ADS_1


__ADS_2