Seputih Melati

Seputih Melati
Talak


__ADS_3

"Melati, sekali lagi, mas mohon. Pulanglah sayangku... mas ga mau kamu menderita di sini. Mas ga mau kamu tertekan batin di sini." kata Ugi.


"Engga mas. Kalau memang mas khawatir akan semua itu, maka Melati mohon, mas ikut Melati saja. Kita kembali ke Solo. Kalau mas ga nyaman di rumah Melati, kita cari kontrakan, dan kita tinggal bersama ya mas. Pokoknya Melati akan merawat mas Ugi sampe sembuh, ini kewajibanku mas. Aku berkewajiban merawatmu, karena aku adalah istrimu mas." kata Melati.


"Eh eh eh, enak aja mau diajak pergi dari sini. Ga, ibu ga ngijinin. Ugi ini anakku, aku yang membesarkannya. Yang ada justru istri yang harusnya ikut suaminya, ikut kemanapun suaminya tinggal, bukannya suami yang ikut istri. Dasar, perempuan ga tau aturan kamu ya?" cerca bu Yani.


"Ibu, sudah, cukup. Cukup bu. Cukup!" teriak Ugi.


Seketika semua yang ada di kamar Ugi terbungkam dalam pikiran masing-masing.


"Sejak pertama kali gue ketemu dia. Waktu dia masih SMP, dan gue masih WB di sekolahan dia, sebagai guru TIKnya." Ugi teringat oleh pernyataan Dewa beberapa bulan lalu, saat di rumah sakit. Mendadak dia mendapat solusi untuk keluar dari permasalahan ini.


"Aku ga bisa seperti ini terus, aku ga sanggup Melati terus di cerca ibu, disudutkan ibu, dan aku ga mau orang tuaku bertengkar karena kami. Aku ga mau Melati terbebani karena keadaanku, Melati sudah cukup menderita selama ini, dia harus bahagia. Harus. Sedangkan aku? Laki-laki macam apa aku ini? Aku udah ga bisa menafkahinya, ga bisa menjaganya, ga bisa melindunginya, ga bisa membahagiakannya. Baiklah, inilah keputusanku, agar Melati bahagia nantinya. Semoga, ini pilihanku yang tepat. Maafkan mas Sayangku. Maafkan aku Melati..." batin Ugi.


"Melati..."


"Ya mas?" tanya Melati lembut sambil mengelus kepala Ugi dengan penuh cinta. Wajahnya didekatkan kepada wajah Ugi.


"Bolehkah aku menciummu?" tanya Ugi.


Seketika semua terkejut atas permintaan Ugi yang konyol.


"Cium? Tapi ini kan banyak orang mas..." kata Melati berkeberatan.


"Ku mohon." kata Ugi.


Melatipun menoleh ke semua orang di ruangan itu, Lalu Melati mendekatkan wajahnya ke wajah Ugi. Ugipun mencium kening Melati dengan cukup lama.


"Terimakasih sayang." kata Ugi.


Kemudian Ugi melepaskan pegangannya dari tangan Melati, dan menjauhkan wajahnya dari wajah Melati.


"Aku sudah punya solusi untuk semua ini. Aku ga mau ibu dan bu Fatma saling cekcok lagi, aku ga mau Melati di marahi dan direndahkan sama ibu terus, aku ga mau melihat air mata Melati lagi, aku ga mau merepotkan Melati, aku ga mau merenggut kebahagiaan Melati, aku ga mau menjadi beban hidup Melati." kata Ugi dengan kerongkongan yang tercekat.


"Aku akan membuat kewajibanmu gugur Melati, kamu tak perlu takut jika kamu tak bisa menjalankan kewajibanmu untuk merawat ku." kata Ugi.

__ADS_1


"Maka, aku memutuskan, Hubungan kita cukup sampai di sini." kata Ugi sambil menunduk.


"Apa?" Tanya Melati terkejut. Begitupun dengan semua orang yang ada di ruangan itu, semuanya terkejut dengan pernyataan Ugi. Mereka tak menyangka Ugi akan mengatakan hal itu.


"Apa maksudmu mas?" tanya Melati.


"Aku talak kamu Melati." kata Ugi.


"Engga, Melati ga mau mas. Melati ga mau ditalak. Melati cinta sama mas Ugi, Melati sayang sama mas, Melati akan merawatmu, menjagamu, hingga kamu sembuh mas. Aku mohon, jangan ceraikan aku mas." pinta Melati sambil menangis dan memegang lengan Ugi memohon.


"Engga Melati, keputusan mas udah bulat. Aku rasa, ini adalah keputusan terbaik untuk kita. Untukmu khususnya. Mas ga mau membebani mu Melati " kata Ugi.


"Aku tak merasa keberatan mas." Sergah Melati.


"Aku ga mau membuatmu menderita untuk kesekian kalinya." kata Ugi.


"Aku bahagia bersamamu. Aku ga pernah merasa menderita. Kita jalani semua ini sama-sama mas." jawab Melati.


Lagi-lagi Ugi menggeleng.


Melati menggeleng sambil tergugu dalam tangisan nya


"Engga mas, engga. Aku ga mau mas, aku ga mau." kata Melati dengan tangisan yang menjadi, hingga tubuhnya lemas, dan terkulai di lantai. Bu Fatma dan Zia berusaha menenangkan Melati, mereka memegang pundak Melati untuk bangun.


"Maaf Melati." kata Ugi.


"Keterlaluan kamu Ugi!" umpat Latif.


"Saya benar-benar tidak menyangka, pikiran kamu itu picik!" Latif menghujat Ugi dengan penuh amarah.


Bu Fatma dan Zia juga ikut menangis, mereka berusaha menguatkan Melati.


"Melati, sudah. Ayo kita pulang. Kamu sudah bukan istri pria pengecut ini lagi." kata Latif sambil menarik tangan Melati untuk berdiri dan mengajaknya meninggalkan rumah itu.


Bu Yani dan Laili hanya diam saja, mereka juga sangat terkejut dengan keputusan Ugi. Mereka tak menyangka Ugi akan menceraikan Melati saat itu juga.

__ADS_1


Dengan penuh rasa pilu, Melati dituntun bu Fatma dan Zia menuju mobil, begitupun dengan Latif yang hatinya penuh dengan amarah, tak berniat sedikitpun untuk berpamitan dengan orang-orang yang ada di rumah itu. Latif segera membawa ketiga wanita itu pergi meninggalkan rumah itu.


Ugi masih tergugu dalam tangisan nya. Begitupun dengan Laili yang juga ikut menangis, dia berusaha untuk menenangkan Ugi. Sedangkan bu Yuni masih duduk lemas karena perkataan putranya.


"Ibu puas kan?" tanya Ugi menoleh pada ibunya.


"Apa maksudmu?" tanya bu Yani.


"Ibu senang kan, Melihat aku menceraikan Melati? Ibu ga suka sama Melati kan?" tanya Ugi.


"Lhoh, kenapa jadi ibu yang ditanya. Ini bukan kemauan ibu." kilah bu Yani.


"Tapi ibu selalu menyalahkan Melati, memojokkan dia, dan bahkan ibu beradu mulut dengan ibunya Melati, dengan saudara besan, apa itu pantas bu? Aku malu bu, aku malu. " kata Ugi sambil menangis.


"Sudah Gi...sudah. Sabar." kata Laili mencoba menenangkan.


Bu Yani hanya terdiam, tak berani berkomentar atas kesalahannya yang membuat anaknya mengambil keputusan yang diluar dugaannya.


Ugipun ditenangkan Laili dengan kelembutannya, hingga waktu siang tiba, Laili ijin pulang karena dia harus segera kembali ke Solo.


💞💞💞


Sepanjang perjalanan, Melati terus menangis dalam pelukan ibunya. Begitupun dengan bu Fatma yang juga terus menangis, karena merasakan kepiluan hati putrinya. Sedangkan Zia yang duduk di depan, juga tak henti berkaca-kaca.


Ugi fokus menyetir sambil terus mengumpat, dia sangat marah akan keputusan Ugi secara sepihak tanpa meminta persetujuan Melati.


"Mungkin, memang ini yang terbaik untukmu nak." kata bu Fatma berusaha menenangkan putrinya.


"Kamu yang sabar ya sayangku." kata bu Fatma mengelus kepala Melati yang tertutup jilbab.


Melati hanya mengangguk.


"Yakinlah Melati, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang terbaik untukmu. Kamu yakini itu." kata Bu Fatma.


"Iya bu." jawab Melati lirih masih dalam pelukan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2