
Semakin hari, Melati semakin dekat dengan Latif. Apalagi semenjak Melati ikut mengajar TPQ, dan juga mengikuti kegiatan kursus komputer. Melati sering pulang dari masjid bersama Latif, dan kalau ada kegiatan kajian remaja ataupun perkumpulan karangtaruna, Latif selalu mendampingi Melati. Ada rasa kekhawatiran pada diri Latif, jika Melati mengikuti kegiatan dengan mandiri tanpa dia awasi. Karena dia berbeda dengan teman seumurannya, ditambah lagi basic pendidikan nya yang kurang diantara teman-temannya.
Suatu sore, saat Melati sedang mengisi cerita untuk adik-adik TPQnya yang balita, sedangkan Latif mengajar mengajar al-Qur'an bagi yang sudah tamat iqro'. Setelah selesai mengajar al-Qur'an, Latif menoleh ke arah Melati yang masih asyik menceritakan kisah para nabi pada jaman dahulu. Bahkan Beberapa santrinya yang tadi belajar al-Qur'an juga tertarik mendengarkan cerita dari Melati yang menggunakan media boneka tangan.
Latif memperhatikan Melati dengan seksama, bahkan tanpa berkedip.
"Sungguh aku tak salah memilihmu Melati. Kamu gadis luar biasa, kamu adalah jelmaan bidadari yang Allah turunkan ke bumi. Senyimanmi bak kuncup bunga yang merkah di, namamu melambangkan hatimu yang putih bersih bagaikan insan tanpa dosa. Benar saja, jika bapakmu memberimu nama Sekar Melati Suka, hatimu memang seputih Melati, hal itu terpancar dari wajahmu yang teduh dan menarik perhatian banyak orang.". batin Latif.
"Mas Latif." panggil seorang santriwati.
"Mas Latif. Mas. Mas Latif." santriwati itu masih memanggil manggil nama Latif. Namun Latif masih belum bergeming dan tatapannya masih pada satu titik, yaitu gadis yang sedang bercerita di hadapan adik-adik TPQnya, yang tak lain adalah Melati.
"Mas Latif..." santriwati itu melambaikan tangannya di depan wajah Latif. Namun Latif masih tetap tak bergeming.
"Mas Latif!" suara itu kembali dia lontarkan dengan volume yang di tambahkan dengan tangan menepuk pundak guru ngajinya itu.
"Astagfirullah." Latif terperanjat.
"Manda. Yaa Allah Manda, ngagetin aja." protes Latif.
"Mas Latif kaget? Ya Allah mas, Manda udah manggilin mas Latif sampe lima kali lho. Tapi ga denger. Mas Latif ngeliatin mbak Melati mulu sampe ga kedip. Hayo...mas Latif suka ya sama mbak Melati. Hayo ngaku." tebak Manda, santriwatinya yang sudah duduk di bang ku kelas enam SD, tentu sudah mengerti cinta-cintaan.
"Apaan sih Manda. Engga kok." elak Latif.
"Halah, mas Latif nih, ga boleh bohong mas. Bohong itu dosa lho." kata Manda.
"Mbak Melati!" panggil Manda, yang seketika tangan Manda digeret Latif, agar tidak menyampaikan prasangka Manda kepada Melati. Dan Melati pun menoleh ke arah Manda. Tetapi justru Latif yang memberi isyarat 'tidak apa-apa' kepada Melati dengan melambaikan tangan. Mandapun di tarik menjauh dari pintu masjid.
"Ada apa Manda manggil mas?" tanya Latif sambil melepaskan tangan santriwatinya.
"Ih. Mas Latif nih. sakit tau mas." omel Manda sambil mengibaskan tangannya yang tadi dipegang Latif.
"Ups, maaf Manda. Mas Latif minta maaf." kata Latif menyesal.
"Hem. Iya mas, gapapa. Tapi bener kan mas Latif suka sama mbak Melati? Hayo ngaku." goda Manda lagi.
"Ck, Manda nih, apaan sih? Engga kok." kata Latif masih mengelak.
__ADS_1
"Engga salah kan mas?" kata Manda yang masih terus menggoda Latif.
"Hm... Manda. Kenapa tadi Manda manggil manggil Mas?" tanya Latif lagi.
"Oh, iya. Lupa. Itu mas, mas Latif dipanggil sama pak Wahid." kata Manda sambil menunjuk rumah pak Wahid.
"Nah kan? Panggilan penting." kata Latif sambil berlalu meninggalkan Manda, menuju masjid.
"Mel, mas Latif tinggal dulu ya. Pak Wahid manggil. Titip adek-adek ya." pamit Latif kepada Melati.
"Iya Mas. Siap." kata Melati menjawab dengan ramah.
Latifpun berjalan menuju ke rumah pak Wahid. Pak Wahid seorang takmir masjid yang rumahnya dekat masjid.
"Assalamualaikum pak Wahid." salam Latif.
"Wa'alaikumsalam warohmatullah. Duduk mas Latif." kata pak Wahid mempersilakan Latif duduk di kursi dekatnya.
"Ya pak. Terimakasih." jawab Latif sambil duduk di kursi sebelahnya pak Wahid.
"Mas Latif. Nanti malam ada acara?" tanya pak Wahid.
"Ehm, begini mas Latif, baru aja saya dapat telpon dari Surabaya, kalau kerabat saya meninggal di Sana, sehingga ini bapak dan sekeluarga mau takziah ke sana mas." kata pak Wahid.
"Innalillahi wainnailaihi Raji'un."
"Nah, masalahnya, nanti malam kan jadwal bapak mengisi pengajian ibu-ibu di masjid, tapi bapak tidak bisa. Bapak memanggil mas Latif, mau minta tolong, supaya mas Latif gantiin bapak mengisi pengajian nanti malam." kata pak Wahid.
"Waduh? Saya pak? Yang lainnya aja lah pak." elak Latif.
"Siapa mas? Mas Fatur? Mas Fatur lagi ada tugas dines keluar kota mas. Pak Hamdan, juga saudaranya lagi hajatan." kata pak Wahid.
Latif tampak galau, dia bimbang. Karena selama ini dia belum pernah mengisi pengajian, hanya beberapa kali saja menemani pak Wahid dan mendampingi pak Wahid. Tetapi belum pernah sekalipun Latif berbicara di depan ibu-ibu pengajian sebagai pengisi materi.
"Tenang, ini bapak siapin materi buat mas Latif." kata pak Wahid memberikan sebuah buku berisi materi kajian nanti malam.
"Oh. iya pak. Tapi..." kata Latif masih ragu.
__ADS_1
"Bapak yakin, kamu bisa." kata Pak Wahid meyakinkan.
"Hem... ya pak." jawab Latif.
"Oh ya, satu lagi mas Latif. Tadi bu Fatma telpon bapak, kalau besok motor yang di pesen bu Fatma akan dikirim kerumah Melati. Minta tolong besok kalau motornya bu Fatma datang, tolong diterima ya mas. Temenin Melati nerima maksudnya, dampingin dia. Karena besok bapak belum bisa pulang. Terus, nanti tolong ajarin dia naik motor ya mas, karena bapak sudah tidak berani mengajari naik motor mas, udah gemeteran." kata Pak Wahid.
"Oh. iya pak. InshaaAllah bisa."
"Baiklah mas Latif, terimakasih banyak ya mas." kata pak Wahid.
"Sudah waktunya adzan mas." kata Pak Wahid.
"Oh, iya pak. Siap."
"Tolong mas Latif adzan ya." kata pak Wahid.
"Ya pak Siap." jawab Latif lagi.
Kemudian Latifpun mengumandangkan adzan maghrib. Setelah menunaikan sholat maghrib, Melati sudah selesai sholat dan keluar dari masjid. Saat mau memakai sandal, Latif datang menghampiri Melati.
"Mel, pulang bareng ya." kata Latif.
"Oh, iya mas."
Merekapun pulang bersama dari masjid, sedangkan kedua adik Melati yang tadi ikut TPQ dan sholat maghrib, sudah ngacir pulang duluan, karena mereka belum berdoa dengan panjang.
"Mel, ibumu beli motor baru ya?" tanya Latif.
"Hehe, iya mas, Alhamdulillah." jawab Melati.
"Ehm, tapi Melati masih takut buat belajar motor mas. Kata ibu, nanti ada pak Wahid, atau mas Latif yang akan ngajarin Melati naik motor. Emang Mas Latif bisa?" tanya Melati.
"Bisa. InshaaAllah. Tadi pak Wahid juga bilang, kalau Mas diminta untuk ngaajarin Melati naik motor. Besok mau langsung dicoba?" tanya Latif.
"Ehm, ngikut mas Latif aja lah. Gimana baiknya." kata Melati.
"Ehm, mending motornya mas bawa ke bengkel dulu ya, biar gas nya jinak dulu. Soalnya kalo ga dijinakin dulu, bahaya." kata Latif.
__ADS_1
"Iya mas, terserah Mas Latif aja." kata Melati.
Latif dan Melatipun sudah sampai rumah masing-masing, dan mereka pun berpisah dijalan.