Seputih Melati

Seputih Melati
Baby Tsabita


__ADS_3

Saat Melati melihat orang tua dari si Baby yang akan diasuhnya, ternyata ayah dari baby itu juga menoleh ke arah orang yang dimaksud bu Hanifah.


"Melati?"


"Pak Dewa?"


"Lho? Bapak sudah mengenal bunda Melati?" tanya Bu Hanifah.


Pak Dewa mengangguk.


"Ya bu, kami saling kenal." jawab pak Dewa.


"Pak Dewa ini dulu guru saya bu." jawab Melati.


"Alhamdulillah, berarti lebih enak dong, kan sudah saling kenal, pastinya bapak semakin yakin menitipkan putri bapak pada bunda Melati." kata bu Hanifah.


"Iya bu." jawab pak Dewa sambil menatap putri kecilnya yang masih tertidur.


"Mari pak, biar saya gendong." kata Melati sambil mengambil baby mungil itu dengan hati-hati dari tangan Dewa.


"Ehm, ini tadi masih saya pakein pempers Mel, eh... maksud saya... bu. Ehm, dan ini, pakaian gantinya, ini susunya dan ini dotnya." kata Dewa sambil menunjukkan beberapa barang yang dia bawakan untuk baby nya.


"Baik pak." jawab Melati sambil menerima tas baby berisi pakaian ganti dan susu untuk baby Tsabita.


"Ehm, maaf bu. Karena ini nanti saya ada jam mengajar pagi, kalau begitu saya pamit undur diri dulu. Saya titip anak-anak saya ya bu." kata Dewa berpamitan.


"Baik pak. Kalau ada apa-apa, biar nanti kami hubungi bapak." jawab bu Hanifah.


"Ya bu. Assalamualaikum." salam Dewa.


"Wa'alaikumsalam." jawab Melati dan bu Hanifah bersama.


Sepeninggal Dewa, Melati segera Membawa baby Tsabita ke ruang baby, dan menidurkan nya. Sambil Melati mengasuh baby yang lain, yang usianya sekitar satu tahunan. Melati membantu bu Dwi selaku bunda penanggungjawab kelas penitipan.


Tak terlalu sulit bagi Melati dalam merawat baby Tsabita, karena memang baby berusia satu bulan belum banyak pergerakannya, dan masih banyak tidurnya, sehingga Melati masih bisa fleksibel membantu guru yang lain dalam mengasuh anak-anak didik yang lain.


Hari ini, juga hari pertama Melati masuk sekolah kelas siang yang setara dengan tingkat Menengah Atas. Sehingga saat adzan dzuhur berkumandang, Melati berpamitan pada bu Hanifah untuk berangkat sekolah.

__ADS_1


💞💞💞


Sore itu, sepulang dari SKB, Melati tidak segera pulang, karena saat jam istirahat tadi, dia melihat notif pesan masuk melalui aplikasi hijaunya. Sebuah pesan dari nomer baru, yang saat dibuka, ternyata itu dari pak Dewa, guru baiknya.


Melati, Bisa kita bertemu?


Melati menjawab pesan itu dengan mengiyakan, sehingga sore ini, Melati tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan ke suatu tempat, yang di sharelock Dewa.


Sesampainya di sebuah taman, yang tak jauh dari tempat dia mengajar kalau pagi, tampak seorang laki-laki dengan menghadap kereta bayi sedang menyuapi seorang anak laki-laki yang tak lain adalah Dirgantara di sebuah kursi taman yang tertata melingkari sebuah meja.


"Assalamualaikum pak Dewa." salam Melati.


"Wa'alaikumsalam, Eh, Bu Melati, sudah datang." jawab Dewa.


"Silakan duduk bu." kata Dewa mempersilakan Melati.


"Terimakasih pak. Tapi maaf lho pak, kalau bisa, jangan panggil saya bu ya pak, saya kan belum menikah." pinta Melati.


"Hahaha, berasa tua ya? Gapapa bu, mulai hari ini kan, kamu sudah menjadi seorang guru, ya wajar dong kalau dipanggil bu." kilah Dewa.


"Ya tapi beda pak. Kalau bisa, panggil Bunda aja lah pak, biar sama kaya anak-anak kalau manggil saya." tawar Melati.


"Eh, tapi kalau di luar sekolah, tolong panggil saya Melati gitu aja pak, seperti biasanya saat pak Dewa belum menikah." tawar Melati lagi.


"Okey, baiklah Melati, saya rasa itu lebih baik." jawab Dewa.


Melatipun menyapa Dirga dan Tsabita yang juga masih melek. Awalnya Dirga merasa canggung dan asing dengan Melati, namun perlahan-lahan Dirga bisa menerima kehadiran Melati dengan enjoy.


"Oya pak, Ada apa ya pak Dewa ngajakin Melati ke sini?" tanya Melati penasaran.


"Ehm, ya gapapa. Pingin ngobrol aja. Sharing terkait pengasuhan Tsabita." jawab Dewa.


"Oh, ya pak." jawab Melati.


"Kamu kaget ya? Kalau ayah pemilik baby yang ditinggal meninggal ibunya itu, saya?" tanya Dewa.


"Iya pak. Berarti... mbak Tsania..." kata Melati yang belum berlanjut, namun sudah mendapat jawaban dari Dewa dengan anggukan.

__ADS_1


"Iya Mel. Tsania sudah Meninggal saat melahirkan Tsabita." jawab Dewa dengan wajah berubah Melo.


"Kalau boleh Melati tau, memangnya penyebab meninggalnya apa pak?" tanya Melati.


"Pendarahan." jawab Dewa.


"Hb nya sangat rendah, saat dia memasuki HPL, dan dia memiliki riwayat penyakit jantung, sehingga dia terpaksa kalah dengan babynya." terang Dewa.


"Oh... Melati turut berduka atas kepergian mbak Tsania ya pak." kata Melati dengan raut kesedihan.


"Iya Mel, terimakasih." jawab Dewa.


"Ehm...Sudah berapa lama pak Dewa kembali di sini pak?" tanya Melati heran.


"Baru tiga bulan lalu kok Mel, itupun karena kami mendapat kabar kalau ibunya Tsania jatuh, dan kini beliau stroke. Sepertinya, Tsania yang kehamilannya sudah memasuki HPL, merasa stress sehingga Hbnya anjlok." kata Dewa.


Dewa menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan.


"Ibuku juga sudah meninggal dua tahun lalu, bapakku di sana sudah tua dan dirawat oleh adikku. Di sini, tadinya kami akan merawat ibunya Tsania, tetapi qodarullah, Tsania justru lebih dulu pergi." Dewa bercerita dengan mata berkaca-kaca, sambil menatap putri kecilnya.


"Ingin rasanya saya ikut istriku, tetapi ada dua malaikat kecilku yang harus aku rawat. Tadinya, aku mau menyewa baby sister, tetapi setelah ku pertimbangkan, akan banyak gosip dan suara miring nantinya. Karena aku kan jadi duda baru saja." kata Dewa yang dianggukin Melati.


"Makannya, saya terfikir untuk menitipkan Tsabita di sekolah yang sama dengan kakaknya." kata Dewa sambil mengelus kepala Dirga yang sedang bermain mobil-mobilan.


Melati hanya diam dan mendengarkan dengan sesekali mengangguk tanda dia memperhatikan.


"Mel, saya titip anak-anak saya ya. Maaf jika merepotkan." kata Dewa menatap Melati.


"Tentu pak, InshaaAllah Melati akan menjaga dan merawat mereka dengan suka cita." jawab Melati sambil tersenyum mengambil Tsabita dari kereta dorong, dan di gendong nya.


"Tsabita... ini bunda Melati sayang..." sapa Melati pada baby Tsabita yang belum tidur.


"Mel..."


"Ya pak?"


"Terimakasih ya." kata Dewa.

__ADS_1


Melati mengangguk. Lalu mereka menghabiskan waktu menjelang maghrib di taman dengan bermain bersama.


__ADS_2