Seputih Melati

Seputih Melati
Jasa tak Terlupa


__ADS_3

Setelah selesai makan siang bersama, Ugi dan Melati kembali pulang sambil berboncengan mengendarai motor mereka. Melati sudah tidak merasa canggung lagi, dia sudah mulai bisa merasakan kehangatan cinta Ugi, sehingga Melati bisa menikmati suasana hatinya yang berbunga-bunga, menggonceng sambil melingkarkan lengannya di perut suaminya.


"Mas, mas Ugi kenal sama yang namanya pak Dewa ga?" tanya Melati saat dalam perjalanan.


"Pak Dewa?" tanya Ugi sambil mengingat-ingat.


"Iya, pak Dewa. Seorang duda muda, beranak dua. Katanya beliau kenal mas tuh, pas di rumah sakit, saat anaknya lagi sakit." kata Melati.


"Oh, mas Dewa? Temennya mas Guntur?" tanya Ugi.


"Ga tau mas. Melati taunya mas Dewa itu ayah dari anak yang Melati asuh mas." kata Melati.


"Oh ya? Jadi baby yang sayangku asuh di sekolahan itu, anaknya Mas Dewa?" tanya Ugi tak percaya.


"Iya mas. Pas Dirga dirawat di Rumah sakit waktu itu juga, Melati kok yang merawat adiknya Dirga." kata Melati.


"Oh...ternyata dunia tu sempit ya. Iya, mas kenal. Waktu itu sempet ngobrol-ngobrol sih." kata Ugi.


"Iya mas. Dan mas tau ga, istrinya pak Dewa itu, baiiik banget mas. Ya, lolosnya novel Melati di penerbit ini, tak lepas dari peran istrinya pak Dewa yang bernama mbak Tsania mas. Dia yang udah bantuin Melati ngedit tulisan, dan memberi ide, agar Melati mengirimkan novel ini ke penerbit." kata Melati.


"Oh, gitu? Dia penulis juga?" tanya Ugi.


"Bukan sih mas, beliau guru Bahasa Indonesia, tapi beliau juga pecinta Novel, sehingga beliau bisa bimbing Melati sampai Melati bisa menyelesaikan novel ini dengan lancar. Selain peran mbak Tsania, peran pak Dewa juga tak lepas dari kehidupan Melati dulu. Pak Dewa banyak mengajari Melati tentang dunia IT. Karena beliaulah akhirnya Melati bisa mengoperasikan leptop, komputer dan aplikasi di ponsel. Sehingga Melati juga bisa menulis novel di aplikasi." kata Melati.


"Wah, mereka banyak jasa dong ya?"


"Iya mas. Itulah sebabnya, Melati juga merasa sayang sama Dirga dan Tsabita. Apalagi mereka membutuhkan sosok ibu, setelah mbak Tsania berpulang." kata Melati sedih.


"Jika mas ridho, Melati mau minta ijin untuk tetap menjadi pengasuh mereka, sampai pak Dewa menemukan ibu baru untuk mereka." kata Melati.


"Tentu sayangku, selama kegiatanmu itu positif, mas akan selalu dukung, termasuk kedekatanmu dengan anak-anak mas Dewa. Ga masalah bagi mas." jawab Ugi.


"Mas Ugi yakin?"


"Yakin dong." jawab Ugi mantab.


"Biar istriku ini bisa belajar juga sekaligus pemanasan, sebelum punya anak sendiri." kata Ugi.


"Ih, mas Ugi mulai deh." kata Melati sambil mencubit pinggang Ugi.


"Eh, awas sayangku, mas lagi ngemudi ini." kata Ugi yang merasa geli.


"Maaf mas, maaf." sesal Melati.

__ADS_1


Sepanjang jalan merekapun bercerita banyak, saling bertukar cerita masa lalu dan masa depan, hingga tak terasa jam lima sore mereka baru sampai di rumah.


Melati dan Ugi segera membersihkan diri, lalu Melati menyiapkan makan malam untuk suami dna kedua adiknya.


"Mas, ehm, misal kapan-kapan Melati minta dianter berkunjung ke rumah pak Dewa, sekaligus ziarah ke makam mbak Tsania boleh ga mas?" tanya Melati sambil mengambilkan nasi ke piring Ugi.


"Ya boleh lah. Mas siap antar kapan aja." jawab Ugi.


"Kapan minta dianter?" tanya Ugi.


"Ehm, kalo bisa sih, secepatnya mas." jawab Melati.


"Besok?" tanya Ugi.


"Besok Melati bisanya sore mas, pulang dari SKB." jawab Melati.


"Ya gapapa lah."


"Tapi masa' sore sih mas, entar keburu malem, ga jadi ziarah." kata Melati.


"Iya juga sih."


"Ahad pagi aja gimana?" tanya Melati.


"Mbak Melati mah sekarang manja, kemana-mana minta dianter." kata Aldi.


"Karena udah ada yang siap anter jemput dek." jawab Ugi.


"Bener kata nenek berarti ya Dek, nenek nikahin mbak Melati, biar Mbak Melati ga sendirian terus kalo kemana-mana." kata Aldo.


"Terserah kalian lah." kata Melati.


Setelah makan malam, seperti biasa mereka masuk kamar masing-masing untuk beristirahat. Melati membuka leptopnya dan mengerjakan cerpen yang harus dia kirim ke majalah untuk bulan ini. Sedangkan Ugi hari ini masuk malam, sehingga ba'da isya' tadi Ugi berangkat ke kantor PMI.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Hari minggu pagi, Seperti biasa Melati masih melakukan rutinitas nya pergi ke pengajian, tetapi kali ini dia bersama Ugi. Sepulang pengajian, Melati pergi ke rumah Dewa, dengan memberi kabar dahulu sebelumnya.


"Assalamualaikum." salam Melati.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Dewa, dan terdengar suara anak kecil sedang berceloteh.


Tak berapa lama kemudian pintu dibuka oleh tuan rumah.

__ADS_1


"Bunda Melati sama mas Ugi, silakan masuk bun, mas." kata Dewa mempersilakan.


Tiba-tiba seorang anak kecil berlari memeluk Kaki Melati,


"Bunda Melati...." panggil Dirga sambil memeluk kaki Melati. Kemudian Melati merendahkan tubuhnya, mensejajari tinggi Dirga.


"Assalamualaikum kak Dirga." salam Melati.


"Wa'alaikumsalam bunda. Dirga seneng banget bunda ke sini. Itu adek mau ke sini bunda." tunjuk Dirga ke arah adiknya yang sedang merangkak ke arah Melati sambil loncat-loncat.


"MaasyaaAllah, adek pintar sekali, sudah bisa merangkak." kata Melati sambil merangkak juga menyusul Baby Tsabita. Dengan girangnya baby Tsabita mengangkat kedua tangannya minta gendong Melati.


"Nda...nda..." oceh baby Tsabita saat di gendong Melati.


"Yaa Allah, lucu sekali adek." kata Ugi sambil menoel pipi Baby Tsabita yang sudab berada di gendongan Melati.


"Umur berapa sih ini mas?" tanya Ugi kepada Dewa.


"Tujuh bulan mas. Ayo, pengantin baru, segera nyusul bikinin adek buat baby Tsabita." canda Dewa.


"Hahaha, nanti dulu mas. Santai aja, baru pemanasan." jawab Ugi.


Melati tak menghiraukan perbincangan para lelaki dewasa itu, Melati fokus bermain bersama dua balita yang diasuhnya setiap hari di sekolahan. Meski Dirga anak didik Bunda Novi, tetapi Dirga lebih sering bermain ke kamar DayCare untuk bermain bersama adiknya.


Melihat Melati masih asyik bermain bersama kedua anak Dewa, Ugi sedikit mencuplik maksud tujuannya datang ke rumah Dewa.


"Jadi gini mas, Alhamdulillah beberapa hari lalu, Melati tu dapet telpon dari penerbit, mengabarkan bahwa novelnya siap cetak dan diedarkan. Dan di waktu itu juga, Melati menandatangani kontrak." kata Ugi.


"Novel Melati lulus kontrak?" tanya Dewa tak percaya.


"Iya mas." jawab Ugi.


"Alhamdulillah. Akhirnya. Melati memang pantas mendapatkan hadiah itu. Tulisannya sangat bagus, dia memiliki potensi yang sangat bagus." kata Dewa yang teringat akan masa lalu, saat Melati harus menjalani hari-hari beratnya.


"Iya mas. Dia datang ke sini, bermaksud untuk berterimakasih kepada mas Dewa dan ingin berziarah ke makam istri mas, karena menurut dia, peran anda dan istri anda adalah salah satu penyebab dia bisa lulus kontrak. Jasa kalian tak terlupa di ingatan Melati." kata Ugi.


"Saya tau perjalanan hidup Melati seperti apa di masa lalu. Berat, dan jarang ada anak yang bisa menjalaninya dengan kuat. Melati gadis kuat mas, saya titip Melati ya, jangan pernah sakiti dia. Bahagiakan dia, karena sudah terlalu banyak penderitaannya di masa lalu." kata Dewa.


"Ehm, kalau boleh tau, bagaimana masa lalu Melati mas? Karena selama ini, saya hanya mendapat cuplikan dari almarhumah neneknya. Sedangkan dia sendiri tidak pernah mau terbuka pada saya tentang masa lalunya." kata Ugi.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Jawaban Dewa untuk cerita selanjutnya author lanjut di bab berikutnya ya dear😍

__ADS_1


__ADS_2