Seputih Melati

Seputih Melati
Tamu ku


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Hubungan Melati dengan Dewa semakin hari semakin romantis, Dewa yang tipikal laki-laki yang suka merayu, dan humoris, bisa meluluhkan hati Melati yang masih kaku dan sering canggung.


Usia Tsabita sudah menginjak 1,5 tahun dan dia sudah mulai aktif berjalan, dan suka berbicara meski belum jelas. Dirga juga sudah akan memasuki kelas barunya, yaitu tingkat TK A. Pernikahan Melati dengan Dewa sudah memasuki bulan keempat, suatu sore saat mendandani duo bocilnya, Melati mencium bau minyak telon merasa mual.


"Ugh..."


"Maaf sayang, bunda tinggal dulu." kata Melati sambil menutup hidung dan mulutnya menahan diri agar tidak muntah di depan anak-anak.


"Mas, tolong dandani anak-anak dulu ya." kata Melati sambil berlari ke kamar mandi.


Dewa yang tadinya duduk di ruang TV, menunggu kedua malaikat kecilnya datang kepadanya dan bermain bersama, ternyata belum apa-apa, sedangkan Melati tampak sedang tidak baik-baik saja.


Dewapun ke kamar anak-anak, dan mendandani Dirga dan Tsabita.


"Mama kenapa kak?" tanya Dewa kepada Dirga.


"Ga tau yah, tadi mama kaya mau mutah gitu." kata Dirga.


Dewa bertanya-tanya, apa Melati sakit? Tetapi Dewa berusaha terus mendadani anak-anaknya sampai selesai. Lalu Dewa menyusul Melati ke kamar mandi.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dewa saat Melati sudah keluar kamar mandi dengan wajah pucat. Namun Melati hanya menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Kamu sakit?" tanya Dewa sambil menempelkan telapak tangannya di kening Melati.


"Engga demam." gumam Dewa.


"Aku ga papa mas. Cuma ga enak badan aja. Ini badan berasa sakit semua. Sama tadi tu, aku bau minyak telon nya anak-anak kok kaya ga enak gitu, malah mau muntah, jadi aku minta mas Dewa untuk dandani anak-anak." kata Melati.


"Mungkin kamu kecapekan kali." kata Dewa.


"Iya kali ya mas?"


"Ya udah, rehat dulu aja. Biar anak-anak mas yang ajak mereka main." kata Dewa.


"Ya mas." jawab Melati sambil diantar Dewa menuju kamarnya dan menidurkan Melati di kasur lalu diselimutinya.


"Istirahat dulu aja, lekas membaik ya." kata Dewa sambil mengecup kening Melati.


"Makasih mas." jawab Melati.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu diketuk,


Tok tok tok


"Assalamualaikum." salam suara seorang wanita.


"Wa'alaikumussalam." jawab Dewa, lalu membukakan pintu utama.


"Pak Dewa." sapa seorang laki-laki di samping wanita itu dengan membungkukkan badan.


"Kamu, Satria ya?" sapa Dewa.


"Iya pak." jawab Satria.


"Masuk, masuk. Ada perlu apa ini?" tanya Dewa ramah.


"Ayah... ayah...siapa tamunya?" tanya Dirga sambil berlari-lari ke arah Dewa.

__ADS_1


"Yah...ayah..." suara melengking dari si kecil Tsabita pun ikut bergabung di sana, sambil berjalan ala robot ke arah ayahnya.


"Ini, ada mas Satria sama mbak...siapa?" tanya Dewa pada Muna.


"Muna pak." jawab Muna.


"Mbak Muna." lanjut Dewa setelah mengetahui nama Muna.


"Ehm, maaf, tadi mau ada perlu apa ya?" tanya Dewa.


"Ehm, kami ke sini...mau ketemu sama Melati pak." kata Satria sungkan.


"Oh, Melati? Sebentar ya, saya panggilkan dulu." kata Dewa ramah.


"Silakan duduk dulu Satria, mbak Muna." kata Dewa mempersilakan.


"Adek sama kakak di sini dulu ya, temani mas Satria sama mbak Muna, ayah mau panggil mama dulu." kata Dewa.


"Ya ayah." jawab Dirga.


"Yah...ayah..." rengek Tsabita minta gendong.


"Adek mau ikut ayah?" tanya Dewa sambil menggendong Tsabita.


"Ya ya." jawab Tsabita.


"Okey, kakak disini dulu ya." kata Dewa.


"Okey ayah." jawab Dirga.


"Masih ga enak badan mah?" tanya Dewa sambil menggendong Tsabita.


"Eh, ayah. Engga yah, ini udah mendingan." jawab Melati.


"Alhamdulillah kalau gitu. Ehm, itu ada tamu buat kamu mah." kata Dewa.


"Siapa?"


"Satria sama temennya, cewek. Siapa ya tadi...ehm..." jawab Dewa sambil mengingat-ingat.


"Muna?" tanya Melati.


"Aah iya. Muna." jawab Dewa.


"Ngapain mereka ke sini nyariin aku?" tanya Melati.


"Entahlah." jawab Dewa sambil mengangkat kedua pundaknya bersamaan.


Sempat Melati berfikir, ada urusan apa mereka mencari Melati sore-sore begini.


"Udah sana, ditemui dulu. Kasian mereka menunggu lama." kata Dewa.


"Ya mas." jawab Melati beranjak dari duduknya.


"Mama..." rengek Tsabita pada Melati.


"Ya udah, tolong kamu gendongin Tsabita aja dulu, ayah buatin minum dulu buat mereka ya." kata Dewa.

__ADS_1


"Oh. ya mas." jawab Melati sambil menggendong Tsabita.


Tak berapa lama kemudian, Melati sudah muncul dari dalam menuju ke ruang tamu sambil menggendong Tsabita.


"Assalamualaikum." salam Melati ramah.


"Wa'alaikumussalam." jawab Muna dan Satria bersamaan.


Munapun langsung menyalami Melati, sedangkan Satria hanya mengangguk sebagai isyarat salam.


"Apa kabar Muna, Satria?" tanya Melati.


"Alhamdulillah mbak, baik." jawab Muna.


"Kamu juga baik kan Sat?" tanya Melati.


"Iya. Alhamdulillah." jawab Satria.


"Kalian sudah mau lulus kan? Apa jangan-jangan kalian ke sini mau ngasih undangan nikah ya?" tanya Melati dengan setengah menggoda.


"Ih, apaan sih mbak Melati ni...Engga kok... lagian kami juga belum selesai kok mbak. Skripsi aja baru ngajuin judul." kata Muna tersipu malu.


"Oh.. kirain..."gumam Melati.


"Ehm, kalo gitu, kok tumben sekali ini kalian main ke sini bareng berdua? Biasanya juga kalau ada perlu, Muna telpon atau kalau ga Satria ngajak janjian di rumah ibu kan ya?" tanya Melati.


Muna dan Satriapun saling toleh, lalu mereka kembali fokus pada tujuan mereka.


"Mbak... ehm... Muna ke sini...mau..." kata Muna ragu-ragu.


Melati tampak memfokuskan mata dan pendengaran nya sambil mengelus-elus rambut Tsabita yang anteng bermain boneka kelinci yang dibawanya. Sedangkan Dirga sudah asyik bermain dengan temannya di luar rumah.ss


"Ini, diminum dulu ya." kata Dewa yang sudah datang sambil membawa nampan berisi empat cangkir berisi teh hangat dan dua stoples camilan yang dibuat Melati sendiri selagi ada waktu luang. Lalu di sambut Melati dan di letakkan di meja.


"Oh, ya pak. Terimakasih. Jadi ngerepotin." kata Satria sungkan.


"Santai aja." jawab Dewa yang kemudian duduk di sebelah Melati dengan pengan kanannya merangkul pundak Melati.


"Oya gimana? Ada apa ini kok tumben nyariin aku sampe ke sini?" tanya Melati sekali lagi, karena masih penasaran.


"Ehm. Jadi gini mbak, kedatangan kami ke sini, kami mau kasih kabar, kalau... mas Ugi besok mau nikah lagi mbak." kata Muna ragu.


"Nikah?" tanya Melati.


"Iya mbak." jawab Muna.


"Menikah lagi? Setelah kemarin dia menceraikan aku karena dia takut ga bisa bahagian aku karena keadaannya. Terus, ini dia mau nikah lagi dalam keadaan seperti itu? Apa maksudnya coba?" batin Melati agak dongkol.


"O...oh... ya...Ya Alhamdulillah dong." kata Melati tergagap.


"Mbak Melati, ga marah kan?" tanya Muna.


"Marah? Kenapa harus marah?" tanya Melati sambil berpura-pura baik-baik saja. Namun sesungguhnya, jauh didalam hatinya dia protes, kenapa Ugi menceraikan nya, jika kini dia akan menikah lagi.


"Ya, maksud Muna, Muna tu khawatir Mel sama kamu, takutnya kamu akan marah sama mas Ugi, kamu ga terima atas sikap mas Ugi yang udah menceraikan kamu gitu aja. Hingga kamu harus kehilangan anakmu." kata Satria membantu untuk menjelaskan.


"Oh gitu maksudnya? Ya, ya bagus dong kalau dia akan menikah lagi. Karena aku juga udah move on kok, Alhamdulillah aku udah dapet suami yang baik, dan anak-anak yang baik. Aku diterima dengan baik di keluarga besar suamiku, jadi ga membebankan Pikiranku." kata Melati dengan kerongkongan yang terasa tercekat.

__ADS_1


__ADS_2