Seputih Melati

Seputih Melati
Persalinan


__ADS_3

Sesampainya di klinik, sang dokter mengecek keadaan Melati,


"Wah, ini sudah bukaan dua pak. Tetapi dari riwayat ibunya, beliau pernah asma ya. Ini ada baiknya saya rujuk langsung ke rumah sakit ya pak. Nanti tetap saya yang menangani nya. tetapi tetap saya rujuk ke rumah sakit yang alatnya lebih lengkap. Khawatirnya hal terburuk terjadi. kami harus melakukan tindakan sc." kata dokter Nadira.


"Baik dokter." jawab Dewa.


Sambil menunggu administrasi, Dewa terus mendampingi Melati yabg sesekali merasakan kontraksi. Dengan setia, Dewa terus mendampingi Melati, menyemangati Melati, agar Melati tetap kuat.


Bayangan hampir dua tahun lalu kembali hadir kala itu. Saat itu, Tsania juga merasakan kontraksi dengan posisi sudah mulai pendarahan. Tsania langsung di bawa ke rumah sakit, namun ternyata anaknya bisa selamat, tetapi tidak dengan ibunya yang memiliki riwayat penyakit Jantung.


Dewa mengetahui riwayat penyakit Melati, yaitu asma, sejak SMP dia memang sudah sering sakit, itu sebabnya, Dewa berusaha tegar dan yakin untuk keselamatan Melati.


Pihak Klinik sudah mengurus semua administrasi, dan membawa Melati ke rumah sakit dengan mengendarai mobil ambulance. Sehingga Dewa menelpon Guntur untuk mengurus mobilnya di Klinik, dan menitipkan anak-anaknya kepada Nisa, sedangkan bu Fatma diminta ikut ke rumah sakit demi ketengan hati Melati.


Sesampainya di rumah sakit, Melati langsung di bawa ke ruang persalinan, dan saat di cek, pernapasan Melati semakin melemah.


"Maaf pak, kami harus lakukan tindakan SC, karena frekuensi pernapasan bu Melati semakin lemah." kata dokter Nadira.


"Mohon lakukan yang terbaik dok." kata Dewa dengan muka pucat.


"Baik pak."


Sambil menunggu alat disiapkan, Melati yang sudah dipasangi oksigen di bagian hidungnya, terus menangis sambil menahan rasa sakit karena kontraksi. Dewa yang terus menggenggam tangan Melati, juga tetap berusaha tegar, meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu kuat ya sayang. Mas yakin kamu kuat. Kita jalani bersama, kita asuh anak kita bersama ya sayang. Mas mohon, kamu harus kuat, harus! Ya. Please!" mohon Dewa sambil terus menciumi telapak tangan istrinya.


Melati yang semakin lemah, hanya mampu mengangguk sambil matanya terus mengeluarkan air mata.


"Menangislah jika itu membuatmu lega, menangislah sayang... kamu sama adik bayi harus kuat ya. Mas sangat mencintaimu, jangan biarkan mas menduda lagi, dan jangan biarkan anak-anak kehilangan ibunya lagi, lawan rasa sakit ini ya sayang. Kamu kuat, kamu kuat! Laa haula wala quwwata illa billah, minta kekuatan sama Allah ya sayang. Allah Allah Allah." pesan Dewa saat Melati sudah siap untuk dipindah ke ruang bedah.


Dewa terpaksa harus menunggu di luar, dengan panik Dewa berjalan mondar mandir dengan mulut yang terus komat-kamit melafalkan asma Allah sebisanya, karena saking paniknya. Bayangan Tsania yang harus pergi pasca melahirkan Tsabita kembali hadir, ada sedikit rasa trauma di hatinya, meski dia berusaha menepis dan melawan rasa itu, tetapi tetap saja hadir.


"Wa...Gimana keadaan istri lo?" tanya Guntur.


"Melati dimana nak?" tanya Bu Fatma yang sudah cemas dengan sisa air mata di wajahnya.


"Melati... asmanya mulai kambuh bu, sehingga terpaksa harus melakukan tindakan Secar." jawab Dewa.


"Yaa Allah, elo yang kuat ya bro. Semoga Melati bisa lalui nya dengan kuat, sehat." kata Guntur.


"Thanks bro." jawab Dewa.


"Yaa Allah Melati... Kamu yang kuat ya nak... ibu yakin kamu anak yang kuat." rintih bu Fatma sambil menangis.

__ADS_1


"Ibu tenang ya, Melati anak yang kuat kok." kata Guntur mencoba menghibur bu Fatma.


Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan.


"Alhamdulillahirobbil'alamin..." seru ketiga orang di luar ruang bedah itu bersama. Dewa langsung melakukan sujud syukur, dengan linangan air mata.


Kemudian terdengar pintu terbuka, seorang suster membawa seorang baby yang masih merah.


"Dengan keluarga ibu Melati." sapa perawat.


"Saya suaminya sus."


"Selamat bapak, ini anaknya lahir perempuan." kata perawat itu.


"MaasyaaAllah, Baarokallah. Putriku...Alhamdulillah. Terimakasih suster." kata Dewa penuh haru.


"Saya adzani dulu ya sus." kata Dewa lagi.


"Silakan pak."


Dewapun mengadzani Baby nya dengan semangat dan penuh haru. Hingga setelah selesai, Dewa mengecup baby nya dengan penuh cinta.


"Maaf suster, lalu bagaimana dengan anak saya?" tanya bu Fatma penuh rasa khawatir.


Baby itupun di bawa ke ruang bayi, untuk dibersihkan, tak lama kemudian, perawat kembali dengan membawa baby nya Melati dengan posisi sudah di bedong. Lalu Dokter membawa Melati keluar dari ruang bedah, dan dibawa ke ruang rawat inap.


Sesampainya di ruang rawat inap, Dewa langsung menghujani Melati dengan kecupan di seluruh wajah istrinya yang masih pucat.


"Selamat sayang, selamat. Terimakasih ya sayang, terimakasih, kamu sudah hadirkan buah hati kita dengan perjuangan mu. Kamu Hebat, kamu kuat." kata Dewa.


Melati hanya tersenyum.


Bu Fatma juga terus tersenyum melihat kelakuan anak menantunya yang begitu khawatir akan keadaan Melati. Hal yang wajar memang, apalagi Dewa pernah kehilangan istrinya di saat yang sama seperti ini.


"Ini baby nya ya pak." kata perawat sambil menggendong baby yang Sudja di bedong.


"Yaa Allah sayang, lihat ini baby kita lucu sekali, Cantik kan ya, sama seperti ibunya." kata Dewa sambil menerima baby itu dari tangan perawat dan dibawa ke dekat Melati.


"Bisa dilakukan IMD dulu ya bu." kata dokter yang masih menjaga kondisi Melati dan bayinya.


Setelah melakukan Inisiasi Menyusui Dini, Melati dan Dewa melakukan foto bersama baby Mereka, lalu melakukan video Call dengan Nisa melalui ponsel Guntur. Mereka sudah merindukan Tsabita dan Dirga, dan tak sabar ingin memberikan kabar bahagian untuk kedua anak Dewa itu.


Setelah Video call, tiba-tiba ponsel Melati yang dibwa Dewa berdering.

__ADS_1


๐Ÿ“žZia


"Halo, Assalamualaikum." salam Dewa.


'Wa'alaikumussalam. Pak Dewa. Ehm, saya tadi ke rumah pak, kata orang yang di rumah pak Dewa tadi bilang kalau Melati mau Melahirkan ya pak?' tanya Zia.


"Iya Zia. Alhamdulillah." jawab Dewa.


"Bagaimana keadaan Melati sekarang pak?" tanya Zia.


"alhamdulillah Melati selamat, bayinya juga." jawab Dewa dengan senang.


"Alhamdulillah."


'Oh ya pak, tadi kado nya Melati sudah syaa bawa, ini posisi saya sudah di acara resepsinya Satria pak.'


"Oh, ya Zia, terimakasih ya."


"Sayang, Zia. Mau bicara?" tanya Dewa.


Melati menggeleng.


"Ehm. Zia, maaf ya ini Melati baru saja melakukan proses secar, dan masih lelah, InshaaAllah nanti saya telpon lagi kalau Melati sudah lebih baik lagi kondisinya ya." kaya Dewa.


"Ya pak. Terimakasih pak."


"Ya, sama-sama Zia. Nitip salam ya untuk Satria dan istrinya." kata Dewa.


"Ya pak."


Panggilan dengan Zia terputus, tampak bu Fatma sangat bahagia menggendong cucu pertamanya yang lahir selamat. Dan sesekali bu Fatma juga mengecup kening Melati penuh rasa bangga dengan Melati. Guntur yang sejak tadi tidak ikut masuk ruangan, dan memilih di luar, ijin pulang saat dinyatakan bahwa kondisi keduanya baik-baik saja. Guntur harus kembali untuk pergi bekerja ke PMI, karena sudah waktunya dia masuk kerja.


Melati, Dewa dan bu Fatma bersuka cita di dalam ruangan itu sambil melihat baby Melati yang mungil, karena usianya memang baru delapan bulan di kandungan, sehingga BBnya belum ada tiga kilo. Tetapi sudah tidak termasuk prematur, karena BBnya sudah mencapai 2,8 kg.


"Sholihahya ayah...ayah akan memberimu nama Marwa Syifatul Qolbu. Karena kamu adalah kebahagiaan bagi kami, dan obat segala obat bagi hati kami. Terimakasih sayang, kamu telah hadir ditengah-tengah kami." kata Dewa penuh cinta sambil menciumi bayinya.


"Nama yanh indah mas."puji Melati.


"Tentu. Nama ini sengaja ku simpan, untuk kejutan." kata Dewa.


Ya, Dewa sangat ingat betul, saat dimana Melati merasa sangat sedih ketika dia harus menjanda karena dicerai suaminya, saat bapaknya meninggal, dan saat dia juga harus mengalami keguguran. Selain itu, Dewa juga merasa sakit ini, karena ditinggal pergi bundanya Tsabita saat melahirkan. Dan kini, baby Marwa yang singkatan dari Melati dan Dewa, itu diharapkan bisa menjadi obat hati bagi kedua orang tuanya atas masa lalu mereka. Semoga keluarga Melati dan Dewa bahagia.


๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca cerita kisahnya Melati ya reader... love you full forever๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜ Selamat hari raya idul Fitri๐Ÿ˜โค


__ADS_2