
Sekeping hati di bawa berlari Jauh melalui jalanan sepi Jalan kebenaran indah terbentang Di depan matamu para pejuang Sekeping hati dibawa berlari Jauh melalui jalanan sepi Jalan kebenaran indah terbentang Di depan matamu para pejuang Tapi jalan kebenaran Tak akan selamanya sunyi Ada ujian yang datang melanda Ada perangkap menunggu mangsa Sekeping hati dibawa berlari Jauh melalui jalanan sepi Jalan kebenaran indah terbentang Di depan matamu para pejuang Akan kuatkah kaki yang melangkah Bila disapa duri yang menanti Akankah murka mata yang meratap Pada debu yang pastikan hinggap Berharap senang dalam berjuang Bagai merindu bulan di tengah siang Jalannya tak seindah sentuhan mata Pangkalnya jauh ujungnya belum tiba Tapi jalan kebenaran Tak akan selamanya sunyi Ada ujian yang datang melanda Ada perangkap menunggu mangsa.
Setiap manusia yang terlahir ke dunia, pasti membawa cerita hidupnya masing-masing. Perjalanan hidup tiada yang mulus, ada kelokan dan jalan berlubang. Begitupun dengan perjalanan hidup Melati yang penuh liku.
Sudah lima tahun Melati hidup bersama Dewa, dengan dikaruniai dua anak yang lahir dari rahim Melati. Meski begitu, Melati tak pernah membeda-bedakan anak Tsania dan anaknya sendiri, semua anaknya dianggap sama, seperti anaknya sendiri. Melati sangat menyayangi Dirga dan Tsabita seperti saat pertama kali mereka bertemu. Anak kedua Melati laki-laki, yang di beri nama Putra Saghara, yang biasa dipanggil Ghara.
Pagi itu, Saat Dewa sedang asyik bermain dengan Ghara, tiba-tiba ada suara panggilan dari ponsel milik Melati, sedangkan Melati masih asyik di dapur menyiapkan sarapan dengan dibantu Dirga dan Tsabita.
"Ma...mama...Telepon mah." teriak Dewa dari ruang tamu.
Melati tampak berlari tergopoh-gopoh menitipkan masakannya kepada Dirga.
"Halo, assalamualaikum, maaf dengan siapa?." salam Melati saat mengetahui ada nomer baru masuk.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Maaf, selamat pagi. apa benar ini dengan saudara Sekar Melati?"
"Ya benar." jawab Melati.
"Perkenalkan, saya Nayla, saya sekretarisnya pak Tomi, direktur utama PT Surya Media. Kami mendapat kiriman novel dari atas nama Sekar Melati Sukma, dengan nama pena Sekar Melati. Dan setelah kami teliti, selamat, anda lulus seleksi dan Novel anda kami kontrak ya mbak." kata Penelpon.
"Ini, serius bu?" tanya Melati masih tak percaya.
"Ya, kami serius. Dan kami tunggu untuk karya-karya yang lainnya ya."
Mengingat jam terbang Melati yang tinggi, Dewa meminta ijin kepada bunda Hayati, agar Melati mengundurkan diri terlebih dahulu. Dan hal itu mendapat sambutan hangat dari bunda Hayati, dan memakluminya.
"Cie...sekarang nama Melati tu terkenal di mana-mana. Selamat ya Mel." goda Zia.
__ADS_1
"Alhamdulillah..." jawab Melati.
"Berkarya tanpa batas, menebar manfaat sampai tuntas." kata Melati.
"Cakep..." jawab Zia dan Latif bersama.
"Mama...Adek bau eek." teriak Marwa.
Seketika Melati menghampiri baby Ghara dan mengecek bagian belakangnya. Benar saja, Ghara BAB, sehingga Melati langsung mengganti popok Ghara dengan telaten.
Begitulah kehidupan Melati yang kini telah menggapai impiannya untuk menjadi seorang penulis, dan kini Melati hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Bersama suami yang bisa menerimanya apa adanya dan begitu setia. Serta anak-anak yang lucu-lucu.
Terimakasih para reader yang selalu setia membaca novel Dede Seputih Melati. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dan menjadi penyemangat untuk kita semua.
__ADS_1
Ikuti karya Dede yang lainnya ya... love you😘😍