Seputih Melati

Seputih Melati
Jelous


__ADS_3

Saat sampai di sebuah rumah makan, Melati bergandengan dengan Ugi berjalan mengikuti Muna yang mencarikan tempat, sedangkan Satria berjalan di belakang Melati dan Ugi.


"Kuat Sat, kuat. Melihatnya bahagia, harusnya kaupun bahagia, karena dia adalah sahabatmu. Jika kamu menyayangi nya. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya." batin Satria sambil terus berjalan di belakang mereka.


"Kita duduk disini aja ya mas." kata Muna kepada Ugi.


"Iya, terserah kamu aja lah dek." kata Ugi.


Ugi menarik sebuah kursi dan mempersilakan Melati untuk duduk.


"Silakan sayangkuh." kata Ugi.


"Terimakasih mas." jawab Melati dengan penuh senyum.


Satria melihat pemandangan itu dengan tatapan salah tingkah. Hatinya bergemuruh, ingin rasanya dia pergi dari tempat itu, tetapi dia menghargai Muna sahabatnya yang merasa sangat bahagia akan kedatangan kedua kakaknya.


Berbeda dengan Muna yang merasa sangat bahagia melihat keromantisan kedua kakaknya,


"Cie...mas Ugi nih, romantis banget sih. Tiap hari juga begitu mbak?" tanya Muna.


"Ya, begitulah. Sepertinya kamu lebih paham dengan masmu kan Dek?" tanya Melati.


"Ah, iyam Mas ku tuh emang gitu mbak. Luwes banget kalo memuliakan wanita. Aku, adek sama Ibu aja jadi kangen kalo lama ga ketemu mas Ugi mbak." kata Muna.


Tak lama kemudian seorang pelayan datang, membawa daftar menu sekaligus note.


"Maaf kak. Mau pesan apa?" tanya Pelayan.


"Bentar ya mbak. Nanti saya panggil lagi aja ya mbak." kata Muna.


"Baik kak. Kami permisi dulu." kata pelayan.


"Nih mas mbak, mau pesen apa?" tanya Muna menyerahkan daftar menu makanan kepada Ugi dan Melati.


Ugi dan Melatipun dengan kompak melihat dan membaca-baca daftar menu yang ada di rumah makan itu. Lagi-lagi Satria melihat mereka tampak kompak dan sangat romantis, apalagi saat tangan Melati melingkarkan lengannya di lengan Ugi. Dan jari telunjuk Ugi tampak mencolek hidung Melati sambil tertawa.


"Ehem ehem." deheman Muna berhasil membuat Satria mengalihkan pandangannya.


"Jeles ya?" goda Muna sambil mengikut lengan Satria.


"Eng, engga." jawab Satria gugup.


"Jujur aja deh." kata Muna sambil terus menggodanya.


"Apaan sih lo." Satria tampak risih dengan cara Muna menggodanya.


"Nih dek, gantian kalian." kata Ugi menyerahkan daftar menu dan note beserta pulpennya.


"Nih, Sat. Mau pesen apa lo?" tanya Muna.


"Serah lo aja deh. Gue ngikut." kata Satria.


"Heleh, selalu begitu. Ya udah, suka-suka gue lho ya, harus dimakan dan dihabiskan." titah Muna sambil menunjuk muka Satria dengan pulpen di tangan.


"Iya iya. Bawel lo." kata Satria.

__ADS_1


Munapun berjalan menuju bareto untuk menyerahkan note pesanan mereka.


Tak lama kemudian, pesanan sudah datang. Melati dan Ugi sudah mulai makan dengan saling bertukar menu makanan mereka. Satria masih fokus melihat kemesraan kedua sejoli di hadapannya.


"Tak adakah sedikit rasamu untukku Sat? Sampai kakak iparku yang sudah bersuamipun masih kau cemburui." batin Muna saat melihat Satria tampak salah tingkah setiap kali melihat pasangan suami istri dihadapan mereka.


Tiba-tiba ponsel Ugi berdering. Ada sebuah panggilan di sana.


"Maaf, saya ijin angkat telpon dulu ya." kata Ugi.


📞Bang Guntur


'Gi, elo dimana?'


"Lagi di Jogja bang."


'Bini lo?'


"Ya sama. Gue ke Jogja kna nganterin dia bang, dia abis ngisi acara bedah buku."


'Bisa pulang sekarang ga?'


"Kenapa emangnya?"


'Dewa.'


"Kenapa sama mas Dewa?"


'Dewa dirawat di rumah sakit, anak-anak Dewa ga mau ikut siapa-siapa. Tsabita nangis terus. Dirga bilang, Mereka cuma mau sama istri lo.'


"Apa? Ya bang, gue pulang sekarang Tunggu ya bang."


"Okey."


Sambungan telpon terputus. Ugi kembali ke tempat makannya semula.


"Ehm, dek, sorry, mas sama mbak Melati buru-buru. Kita harus balik sekarang juga." kata Ugi.


"Kenapa mas? Ada apam" tanya Melati heran.


"Nanti mas ceritain." kata Ugi.


"Loh, kok buru-buru mas?" tanya Muna.


"Ada sesuatu hal penting yang mengharuskan kita balik. Ini, mas titip buat bayar makan malam kita ini ya. Nanti kalau kurang tambahin dulu, kalo sisan buat jajan kamu aja. Mas balik dulu." kata Ugi sambil menyerahkan beberapa lembar uang berwarna biru.


"Ya mas. Hati-hati deh kalo gitu? Malem-malem gini juga, nekad pulang lho. Jauh mas." kata Muna khawatir.


"InshaaAllah kita gapapa." kata Ugi.


"Yuk mas Satria, saya duluan ya." kata Ugi menyalami Satria.


"Ya mas. Hati-hati." jawab Satria.


"Maaf ya Mun, mbak duluan. Satria, aku duluan. Titip Muna ya Sat." kata Melati menyalami Muna dan Satria.

__ADS_1


Ugi berjalan cepat dengan diikuti Melati di belakangnya. Dengan segera Ugi melakukan motornya meninggalkan kota gudeg bersama istrinya. Ugi menembus angin malam dengan beribu perasaan jadi satu.


"Ada apa sih mas?" tanya Melati saat masih dijalan.


Ugipun menceritakan segala yang disampaikan Guntur kepadanya. Melati sungguh terkejut, namun Melati masih berusaha tetap tenang.


Dua jam perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai juga di rumah Guntur.


"Rumah siapa ini mas?" tanya Melati heran. Karena ini baru pertama dia ke rumah megah itu.


Belum sempat dijawab Ugi, tiba-tiba sebuah suara anak kecil yang tak asing baginya telah datang menghambur ke dalam pelukan Melati.


"Bunda Melati." teriak Dirga yang sudah memeluk kaki Melati.


"Kak Dirga?" tanya Melati heran, Melatipun mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu.


"Kak Dirga kok belum tidur? Ini sudah malam lho. " kata Melati sambil mengelus kepala anak itu.


"Daritadi Dirga ga mau tidur mbak. Maunya nunggu bunda Melati katanya." jawab istri Guntur.


"Oh, ya udah. Kak Dirga bobok sama bunda Melati ya." bujuk Ugi.


"Iya om." jawab Dirga menurut.


"Sayang, mas langsung ke rumah sakit aja yam Mau lihat keadaan mas Dewa dulu. kamu tidur di rumah mas Guntur dulu aja sama istri mas Guntur dan anak-anaknya mas Dewa ya." kata Ugi kepada Melati.


"Ya mas. Hati-hati." kata Melati sambil mencium tangan Ugi dengan khidmat.


"Mbak Nisa, nitip Melati ya." kata Ugi.


"Siap." jawab Nisa.


Ugipun melajukna motornya meninggalkan rumah Guntur menuju rumah sakit.


Melatipun di ajak Nisa masuk rumahnya bersama Dirga, dan menggiring Melati memasuki sebuah kamar yang sudah ada baby Tsabita yang tidur nyenyak disana.


"Kata bang Guntur tadi, Dek Tsabita nangis terus ya mbak?" tanya Melati kepada Nisa.


"Iya dek. Ini juga baru aja tidur, mungkin juga karena sudah terlalu capek nangis terus." kata Nisa.


"Memangnya pak Dewa sakit apa mbak?" tanya Melati yang tadi belum diketahui juga oleh Ugi.


"Belum tau juga sih dek, tapi yang jelas, badannya panas. Sepertinya Dewa sakit demam, tapi dia menahannya, sampai akhirnya dia tumbang." kata Nisa


"Innalillahi." gumam Melati.


"Ya begitulah dek, kalau seorang suami yang ditinggal mati istrinya. Apalagi dia setiap hari juga masih harus mengurus dua anak yang masih balita." kata Nisa.


"Iya sih mbak. Tapi mau gimana lagi? Pak Dewa belum mau menikah ya mbak? Kalo denger-denger sih sudah banyak wanita yang dekat dengan beliau." kata Melati.


"Iya, memang. Tapi Dewa masih menutup hatinya dari wanita lain, selain Tsania." kata Nisa. Melati sudah berhasil menidurkan Dirga sambil bercakap dengan Nisa sejak tadi.


"Sebenarnya, Dirga itu juga udah ngantuk daritadi dek, tapi dia bersikerasmenunggu bunda Melati katanya. Karena sudah telanjur dikasih tau bang Guntur kalau dia akan menelponkanmu." kata Nisa.


"Oh, pantesan..."

__ADS_1


"Yaa udah, istirahatlah dulu Mbak, biar besok bisa fresh menjaga anak-anak. semoga mereka tidak apa-apa nanti malam."


"Ya mbak." jawab Melati menurut.


__ADS_2